You are on page 1of 5

Prinsip 5 B

Breathing
Pasang pipa orofaring yang bertujuan untuk
mencegah tersumbatnnya jalan nafas oleh lidah
penderita yang jatuh ke belakang
Jika terdapat banyak lendir yang menyumbat jalan
nafas pasien maka kita dapat melakukan
penghisapan lendir
Berikan oksigen sungkup maupun kanul untuk
dapat mencukupi kebutuhan oksigen tubuh
terutama kebutuhan oksigen otak
Brain
Cegah terjadinya batuk dan keinginan mengedan
karena dapat meningkatkan tekanan intrakranial
Letakkan penderita dalam posisi terlentang atau
miring bergantian dengan kepala sedikit diekstensikan
Penderita dibaringkan dengan kepala diletakkan lebih
tinggi 20-30 derajat yang bertujuan untuk
memperlancar aliran pengosongan vena otak,
menurunkan tekanan intrakranial, dan mencegah
edema otak lebih lanjut.
Blood
Sehingga penurunan tekanan darah hendaknya dikerjakan dengan hati-hati
dan pada prinsipnya diturunkan sedikit dibawah tekanan darah sebelum
stroke (pada stroke hemoragik) dan sedikit diatas tekanan darah sebalum
stroke (pada stroke non hemoragik)
Pertahankan MABP 120-140 mmHg atau menurunkan tekanan darah jangan
melebihi 20-25% pada penderita stroke dengan tekanan darah sistolik lebih
dari 200 mmHg
Pada penderita dengan tekanan darah diastolik >140 mmHg diperlakukan
sebagai penderita hipertensi emergensi dengan diberika drip kontinu
nikardipin, diltiazem, nimodipin, dan lainnya
Jika tekanan darah sistolik >220 mmHg dan / atau tekanan darah diastolik
>120 mmHg berikan labetolol IV selam 1-2 menit. Pengobatan alternatif yang
memuaskan selain labetolol adalah nifedipin oral 10 mg setiap 6 jam atau 25
mg kaptopril setiap 8 jam
Batas penurunan tekanan darah sebanyak-banyaknya sampai 20-25 % dari
tekanan darah arterial rerata pada jam pertama
Brain
Berikan cairan isotonis seperti 0,9 % salin dengan tujuan menjaga
euvolemi. Tekanan vena central dipertahankan antara 5-12 mmHg.
Pada umumnya kebutuhan cairan 30ml/kgBB/hari (parenteral maupun
enteral). Pada stroke direkomendasikan mempergunakan larutan
saline normal (osmolaritas 308 mOs/L)
Hemodilusi yang isovolemik dilaksanakan secepatnya, yaitu 12 jam
(12-24 jam) setelah stroke pada penderita dengan hematokrit 42%.
Hemodilusi dilakukan hingga hematokrit mencapai 35%311,15.
Penatalaksaan brain ini bertujuan untuk mengurangi dan mencegah
timbulnya edema otak serta mencegah dan menanggulangi kejang
Pada penderita stroke bila terjadi tanda-tanda peningkatan tekanan
intrakaranial berupa penurunan kesadaran sebaiknya diberikan
manitol
Bila kejang berikan diazepam bolus lambat IV 5- 20 mg dan diikuti
fenitoin
Bladder
Perhatikan fungsi ginjal dengan melihat produksi urin dan pengukuran
keseimbangan cairan
Pada kasus dengan retensio urin dapat dipasang folley kateter,
sedangkan pada pria dapat dipasang kondom kateter
Bowel
Memberikan makanan yang memenuhi jumlah kalori (2000 kkal),
elektrolit, dan vitamin
Nutrisi harus sudah diberikan dalam 48 jam dan nutrisi oral diberikan
bila hasil tes menelan baik
Bila ada gangguan menelan harus dipasang pipa nasogastrik
Dianjurkan pemberian cairan dalam bentuk koloid, kristaloid atau
darah
Jika ada febris tingkatkan jumlah cairan yang diberikan. Pada kenaikan
suhu 10C cairan ditambahkan 12-15 %