You are on page 1of 18

Stroke non

hemoragik
Ezra Senna P
Identitas pasien

Nama : Tn. K
Usia : 39 th
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Suku : Jawa
Alamat : Karanganyar
Bangsal : Flamboyan
Tanggal Masuk RS : 26 Maret 2017
Tanggal Keluar RS : -
definisi
Stroke atau serangan otak adalah sindrom klinis yang awal
timbulnya mendadak, progresif, cepat, berupa defisit neurologis
fokal dan atau global, yang berlangsung 24 jam atau lebih atau
langsung menimbulkan kematian, dan semata-mata di sebabkan
oleh gangguan peredaran darah otak non traumatik.

Stroke non hemoragik didefinisikan sebagai sekumpulan tanda


klinik yang berkembang oleh sebab vaskular. Gejala ini
berlangsung 24 jam atau lebih pada umumnya terjadi akibat
berkurangnya aliran darah ke otak, yang menyebabkan cacat atau
kematian.
epidemiologi
Insidensi serangan stroke pertama sekitar 200 per 100.000
penduduk per tahun. Insiden stroke meningkat dengan
bertambahnya usia. Konsekuensinya, dengan semakin
panjangnya angka harapan hidup, termasuk di Indonesia, akan
semakin banyak pula kasus stroke dijumpai. Perbandingan
antara penderita pria dan wanita hampir sama.
klasifikasi
1. Stroke non hemoragik yang mencakup
a. TIA (Transient Ischemic Attack)
b. Stroke in-evolution
c. Stroke trombotik
d. Stroke embolik
e Stroke akibat komperesi terhadap arteri oleh proses di luar
arteri seperti tumor, abses, granuloma.
2. Berdasarkan subtipe penyebab
a. Stroke lakunar
b. Stroke trombotik pembuluh besar
c. Stroke embolik
etiologi
Stroke non hemoragik bisa terjadi akibat suatu dari dua
mekanisme patogenik yaitu trombosis serebri atau emboli
serebri.
Trombosis serebri menunjukkan oklusi trombotik arteri karotis
atau cabangnya, biasanya karena arterosklerosis yang
mendasari.
Emboli serebri terjadi akibat oklusi arteria karotis atau
vetebralis atau cabangnya oleh trombus atau embolisasi
materi lain dari sumber proksimal, seperti bifurkasio arteri
karotis atau jantung.
Pemeriksaan fisik
GEJALA KLINIS
Gejala akibat penyumbatan arteri karotis interna.
Buta mendadak (amaurosis fugaks).
Ketidakmampuan untuk berbicara atau mengerti bahasa lisan (disfasia)bila
gangguan terletak pada sisi dominan.
Kelumpuhan pada sisi tubuh yang berlawanan (hemiparesis kontralateral)dan
dapat disertai sindrom Horner pada sisi sumbatan.

Gejala akibat penyumbatan arteri serebri anterior.


Hemiparesis kontralateral dengan kelumpuhan tungkai lebih menonjol.
Gangguan mental.
Gangguan sensibilitas pada tungkai yang lumpuh.
Ketidakmampuan dalam mengendalikan buang air.
Bisa terjadi kejang-kejang.

Gejala akibat penyumbatan arteri serebri media.


Bila sumbatan di pangkal arteri, terjadi kelumpuhan yang lebih ringan. Bila
tidak di pangkal maka lengan lebih menonjol.
Gangguan saraf perasa pada satu sisi tubuh.
Hilangnya kemampuan dalam berbahasa (aphasia)
Gejala akibat penyumbatan sistem vertebrobasilar.
Kelumpuhan di satu sampai keempat ekstremitas.
Meningkatnya refleks tendon.
dalam koordinasi gerakan tubuh.
Gejala-gejala sereblum seperti gemetar pada tangan (tremor), kepala berputar
(vertigo).
Ketidakmampuan untuk menelan (disfagia)
Gangguan motoris pada lidah, mulut, rahang dan pita suara sehingga pasien sulit
bicara (disatria).
Kehilangan kesadaran sepintas (sinkop), penurunan kesadaran secara lengkap
(strupor), koma, pusing, gangguan daya ingat, kehilangan daya ingat terhadap
lingkungan (disorientasi).
Gangguan penglihatan, sepert penglihatan ganda (diplopia), gerakan arah bola mata
yang tidak dikehendaki (nistagmus), penurunan kelopak mata (ptosis), kurangnya daya
gerak mata, kebutaan setengah lapang pandang pada belahan kanan atau kiri kedua
mata (hemianopia homonim).
Gangguan pendengaran.
Rasa kaku di wajah, mulut atau lidah.
Gejala akibat penyumbatan arteri serebri posterior
Koma
Hemiparesis kontra lateral
Ketidakmampuan membaca (aleksia).
Kelumpuhan saraf kranialis ketiga.
Anamnesis
DIAGNOSIS
Akan ditemukan kelumpuhan anggota gerak sebelah badan, mulut mencong atau
bicara pelo dan tidak dapat berkomunikasi dengan baik. Keadaan ini timbul sangat
mendadak. Juga perlu ditanyakan faktor-faktor resiko yang menyertai stroke. Dicatat
obat-obat yang sedang dipakai. Juga ditanyakan riwayat keluarga dan penyakit
lainnya.
Beberapa gejala umum yang terjadi pada stroke meliputi hemiparese, monoparese,
atau qudriparese, hilangnya penglihatan monokuler atau binokuler, diplopia, disartria,
ataksia, vertigo, afasia, atau penurunan kesadaran tiba-tiba. Meskipun gejala-gejala
tersebut dapat muncul sendiri namun umumnya muncul secara bersamaan.
Penentuan waktu terjadinya gejala-gejala tersebut juga penting untuk menentukan
perlu tidaknya pemberian terapi trombolitik
Pemeriksaan penunjang
Kemajuan teknologi kedokteran memberi kemudahan untuk membedakan antara
stroke hemoragik dan stroke iskemik diantaranya : Computerized Tomograph scanning
(CT Scan), Cerebral angiografi, Elektroensefalografi (EEG), Magnetic Resonance Imaging
(MRI), Elektrokardiografi (EKG), pemeriksaan laboratorium dan lainnya.


PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan umum
Ditujukan terhadap fungsi vital : paru-paru, jantung, ginjal, keseimbangan
elektrolit dan cairan, gizi, higiene.

Penatalaksanaan khusus
Anti agregasi platelet : Aspirin, tiklopidin, klopidogrel, dipiridamol, cilostazol
Trombolitik : Alteplase (recombinant tissue plasminogen activator (rt-PA))
Anti koagulan : heparin, LMWH, heparinoid (untuk stroke emboli)
Neuroprotectan