You are on page 1of 52

oleh

:
drg. Setiadi W. Logamarta Sp.Ort

PENDAHULUAN
 Berbentuk homopolymer dari methyl methacrylate
atau copolymers
 Tersedia dlm berupa polymer dan monomer dlm btk
powder & liquid, menjadi adonan stabil.
 3 macam :
1. Heat curing -----polimerisasi >60°C.
2. Cold curing ----- polimerisasi krn reaksi kimia
3. Light curing----- polimerisasi dengan sinar

Syarat-syarat ideal Dental resins:
1. Harus jernih dan dapat diberi warna sehingga dapat
meniru jaringan mulut yang perlu diganti.
2. Tidak boleh berubah warna di dalam maupun di luar
mulut.
3. Tidak boleh expansi atau kontraksi selama
processing.
4. Harus kuatdan tahan terhadap abrasi.
5. Tidak boleh menyerap cairan mulut.
6. Makanan tidak mudah melekat pada Resin dan
harus mudah dibersihkan.

7. Harus tak memberi rasa, tak berbau dan tak
mengiritasi jaringan mulut.
8. Tidak boleh larut dalam cairan yang dapat dimakan
9. Harus merupakan penghantar panas yang baik.
10. Titik leleh harus lebih tinggi dari semua makanan
dan minuman yang masuk mulut.
11. Harus mudah direparasi bila rusak.
12. Harus dapat dikerjakan dengan alat yang sederhana.

Plastik:
 setiap bahan yang dapat bentuk sesuai keinginan.
 Berasal dari bahan organik (karbon) dengan berat
molekul tinggi /high polimers.
 Dapat berupa serat berbentuk plastis / keras -------->
sintetik resin.
 Berat molekul : 5000 – 50.000.000.
 Makromolekul : ± 0,01 mm.

 Temperatur rendah -------> padat kembali .  Temperatur naik ---------> molekul merenggang -------> efek ikatan inter atomic berkurang ----- --> polimer padat melunak perlahan-lahan. stelon. Mis: kallodent.Klasifikasi plastik.  Thermosoftening / thermoplastic  Terdiri dari linier polymers.

. Mis: denture base resin epoxolon. Tidak dapat dilunakkan dengan pemanasan. Tidak dapat larut. ---------> cross-linking  Sifat: 1. 2.  Dengan pemanasan ------> bahan mengeras secara kimia. Thermohardening / thermosetting / thermoset. 3. Tidak dapat dibuat plastis.  Mempunyai ikatan interatomic langsung bersatu secara berantai.

Polimerisasi.  Reaksi antara zat dengan berat molekul rendah ---------> menghasilkan berat molekul tinggi dengan molekul rantai panjang (polymer) & dengan hasil tambahan (air).  Hanya terjadi dari tambahan molekul2 sejenis --------> membentuk molekul polimer rantai panjang. .  Polimerisasi kondensasi.  Polimerisasi tambahan.

.  Initiator yang digunakan -------> benzoil peroxide.  Reaksi yang sudah berhenti dan masih ada sedikit molekul monomer yang tidak diplimerisasi -----> residual monomer. Termination.Initiation. R – COO – OOC – R  > 60° c -------> pecah 2 phenyl radical aktif & 2 CO2  Radical aktif ---------> mulai polimerisasi.

Inhibitor.006%. . Copolymerisasi.  Polimerisasi tambahan dari 2 / lebih monomer.  Mencegah terjadinya polimerisasi spontan monomer ---------> ditambah inhibitor (penghambat)  Inhibitor -------> hydroquinon 0.

• derivat asam acrylic: ethyl acrylate. • Styrene. ethyl methacrylate. • ------> membentuk copolymer wkt curing .l.HEAT CURING • Liquid: – Methyl methacrylate (monomer) – Dpt di + bbrp monomer lain a.

.– Zat cross-linking yg sering digunakan : ethylene glycol dimethacrylate. spontan selama penyimpanan. • Sifat: .mempercepat pelarutan.>5 % kekuatan aklilik turun.01%) • Mencegah terjadinya polimerisasi sec. . – Inhibitor : hydroquinone (< 0.

.

• Powder: – Poly methyl methacrylate berbentuk partikel bulat halus. jumlahnya 0.5 – 1 % shg butir-butir copolymer lbh mudah larut wkt proses doughing. . – Initiator : benzoyl peroxide.

• Cairan minyak yg sulit menguap & sulit larut dlm air. – Pigment : pink / jernih. • Berfungsi menambah sifat moulding. • Jumlah < 10 % . kl > 10 % ---> resin lemah setelah dimasak. . • Cocok utk denture base. • Penting : mengaduk powder & liquid sampai rata. Warna pink berada diluar partikel. – Plasticizer: dioctyl phthalate.

.

Perbandingan : powder : liquid = 3 / 3 ½ : 1 menurut takaran masing-masing. Proses dough stage berjalan cepat menuju ke rubbery stage. . Manipulasi: 1. Monomer menembus polymer. Doughing proses.  Working time : waktu adonan dalam keadaan dapat dikerjakan. Penting :  Doughing time : waktu dari adonan sampai dough stage. Sebelum dough stage tercapai. Tingkatan proses adonan: pasir basah – sticky – stringy (berserabut) – dough stage tercapai. adonan tidak boleh dilakukan moulding.

Partikel kecil lbh cepat larut. Copolymer methyl methacrylate (ethyl acrylate) atau mengandung plasticizer ----> Doughing time lbh cepat . Kecepatan larut berbanding terbalik dgn berat molekul. Untuk mendapat working time yang cukup dilakukan pengaturan: – Oleh pabrik: 1. Bentuk & ukuran partikel polymer. .i. Partikel kasar & tdk beraturan lbh cepat larut. Doughing time singkat ----> working time singkat. 3. Tergantung lamanya pemanasan pembuatan polymer. Doughing time. 2. Berat molekul polymer.

working time juga singkat. 2. Tergantung temperatur. Mixing jar dihangatkan -----> doughing time singkat. Beberapa bahan ada doughing time singkat & working time panjang pada suhu normal. – Oleh pemakai / operator: 1. ii. Working time. . Contoh: stelon MP. Liquid ditambah doughing time panjang --> sifat adonan terpengaruh ------> tidak dianjurkan.

. Mould lining. Contohnya: sodium atau amonium alginate. untuk mencegah monomer merembes ke dalam gypsum serta mencegah air merembes ke dalam resin. Cold mould seal dioleskan pada gypsum mould. Mould lining yang terbaik adalah tinfoil (0. Mengisolasi gypsum mould terhadap adonan resin selama curing. dengan cepat membentuk endapan film tipis dari calcium alginate.001 inch) ---> sulit digunakan. berupa cairan alginate yang dapat larut.2. Gantinya adalah alginate separating media(cold mould seal).

3. Polimerisasi terjadi ketika initiator pecah membentuk radikal bebas diatas 60° C. 2. . Tekanan di dalam mould cavity mencapai ± 600 lb/inch². Curing cycle. Thermal expansi dari gypsum mould. Thermal expansi dari akrilik resin dough di dalam mould cavity. Saat flask dipanaskan akan terjadi perubahan sbb: 1. 3.

5. Temperatur resin mencapai puncak sampai 140°C waktu air dipanaskan sampai 100°C. terjadi penyusutan volume adonan resin sampai 7% saat polimerisasi. Waktu temperatur naik. Tekanan turun sampai ± 20 lb/inch². 6. . Temperatur yang paling tinggi terjadi pada resin yang paling jauh dari dinding flask dan bagian yang paling tebal.4.

Proses pendinginan dilakukan secara perlahan- lahan dengan membiarkan flask tetap terendam dalam air tersebut sampai dingin. waktu memasak /memanaskan adonan resin sebaiknya dibawah titik didih monomer. kemudian suhu dinaikkan sampai 100°C selama 1 jam.Untuk mencegah terjadinya porosity. Curing cycle yang singkat adalah flask dimasukkan dalam air hangat 70°C selama 1½ jam. .

Residual monomer yang terjadi biasanya akan hilang waktu direndam dalam air atau waktu dipoles. Denture sore mouth (inflamasi pada daerah yang tertutup denture) terjadi karena adanya trauma mekanis. sedangkan karena reaksi allergi akrilik resin jarang terjadi. .

Stability dimensional gigi tiruan. Sebaiknya gunakan pemanasan pada 70°C menghasilkan dimensi yang lebih baik. .4. 5. Pendinginan yang cepat menyebabkan terjadinya perubahan dimensi lebih besar dengan penyusutan pada denture. bila pendinginan dilakukan perlahan-lahan maka perubahan dimensi terjadi lebih rendah. Ketelitian dimensi denture dan bebas dari porosity. Penyusutan yang besar terjadi pada pemanasan sampai 100°C. Akrilik resin bila direndam dalam air akan menyerap air sehingga dimensi dan beratnya bertambah. Adanya penyusutan selama pemasakan curing resin.

Terjadi pada permulaan pemanasan adonan resin. . Ada 2 jenis :  Gaseous porosity. Gas yang terjadi menimbulkan celah-celah bulat dalam resin setelah dipanaskan.6. Mencegah terjadinya porous adalah dengan mengatur panas exothermal 70°C waktu permulaan curing dan tidak melebihi 100°C. karena panas yang terjadi melebihi titik didih monomer. Porositet. Porositet terjadi di daerah akrilik yang tebal.

Porous terjadi dengan penyusutan besar karena kontraksi polimerisasi dan membentuk celah-celah besar dan tidak teratur. .  Shrinkage porosity. letaknya dipermukaan. Pencegahan dapat dilakukan dengan cara mengisi mould sampai penuh dengan adonan resin dan menggunakan tekanan yang cukup. Terjadi kalau mould diisi adonan resin kurang padat atau adonan tidak homogen.

.

Packing dilakukan dengan menggunakan tekanan yang cukup agar tidak terjadi shrinkage porosity.  Working time : Diharapkan paling sedikit 5 menit pada suhu 23°C. Sebelum pemanasan selesai. – Doughing time:  Diperlukan konsistensi yang cocok untuk melakukan packing (dough stage).  Konsistensi adonan. Sifat-sifat: 1.  Adonan resin dinyatakan mencapai dough stage bila dapat dilepas tanpa lengket dari dinding mixing jar.  Doughing time : 20 – 30 menit dan tidak lebih dari 40 menit pada suhu 23°C . . Dengan kekentalan yang cukup sehingga memungkinkan adonan dapat masuk ke dalam mould space.

• Sifat mekanis: – Akrilik resin harus cukup kuat. keras. . 2.75 mm. Setelah selesai pemanasan. Adonan harus dapat melalui lubang dengan ø 0. karena itu adonan tidak boleh terlalu kaku sehingga tidak dapat mengalir. Kawat penguat ----> memperlemah resin. Frame / lingual bar stainless steel ------> memikul beban dan akrilik resin hanya memberi bentuk saja. kaku dan tidak aus.

. Kekuatan yang diberikan secara tiba-tiba dengan kekuatan yang sama dapat menyebabkan akrilik resin fraktur. Kekuatan yang diberikan secara perlahan-lahan masih dapat ditanggung akrilik resin sehingga tidak patah. • Sifat fisik: – Fatique strength. Stress / beban yang diberikan berkali-kali dapat menyebabkan akrilik resin fraktur.  Impact strength. Pada daerah lekukan / notch merupakan daerah titik dengan stress tertinggi dan kegagalan fatique dimulai dari sini.

– Gravitasi. umumnya dengan diamond pyramide indenter. Heat curing akrilik sekarang mempunyai stabilisasi warna yang sangat baik. Akrilik mempunyai sifat yang ringan . menguntungkan untuk protesa rahang atas. Akrilik resin memiliki resistensi terhadap abrasi yang rendah sehingga mudah aus selama pemakaian. . – Resistensi terhadap abrasi. Kekerasan indentation dapat ditest dengan beberapa cara.– Kekerasan. – Stabilisasi warna.

hal ini memperngaruhi ketelitian dimensi.– Penyerapan air. Akrilik resin yang kering bila direndam akan menyerap air dan memuai.5% dari beratnya. . Kadar air dalam akrilik resin dapat mencapai 2. bila diletakkan ditempat kering kembali maka air akan hilang dan menyusut.

ethyl acetate. methyl methacrylate monomer. Akrilik resin bila diberi pelarut organik berulang- ulang akan menjadi lunak. Zat lainnya dalam resin dapat larut dalam pemakaian.– Kelarutan. chloroform. » Dalam pelarut lain. Poly methyl methacrylate tidak larut dalam air. . Berguna untuk reparasi atau relining prothesa akrilik resin agar terjadi sambungan yang baik. Contoh: acetone. Akrilik resin larut dalam pelarut organik. » Dalam air.

.

.

.

.

Polimerisasi terjadi dengan reaksi kimia dengan mengaktifkan benzoyl peroxide pada temperatur ruangan. Aktivator yang sering digunakan dimethyl – p – toluidine di dalam monomer sebanyak 0.• Cold curing akrilik resin / self curing. – Komposisi: Berbentuk powder & liquid. .3 – 0.8%.

. Cold curing mengeras <30 menit.– Manipulasi: Polimerisasi terjadi setelah powder & liquid dicampur Doughing time singkat. Adonan lebih encer dibandingkan dengan heat curing. flask dipress dengan kekuatan & dibiarkan dalam temperatur ruangan. Polimerisasi berjalan lambat . sebaiknya flask dibuka setelah 3 jam / lebih. Curing cycle dilakukan dengan cara packing.

Curing dikerjakan tanpa tekanan & dibiarkan dalam temperatur kamar. karena itu untuk bahan ini tidak dilakukan proses packing dalam mould gypsum. Proses mengeras sangat cepat .  Sebagai bahan reparasi cold curing akrilik resin. Sifat-sifat: Kurang kuat & kurang kaku dibandingkan heat curing. .

.

.

.

.

.

dimana flask dimasak langsung dengan merendam dalam air mendidih 100°C selama 20 menit tanpa ada resiko terjadi gaseous porositet /porous. Rapid cure denture base material. Banyak dipakai sekarang . kemudian Flask langsung didinginkan. .

.

LIGHT CURED RESIN. Proses curing dibantu dengan penyinaran sinar ultra violet. Butir resin akrilik dimasukkan sbg bahan pengisi organik. Digambarkan sebagai komposit yang memiliki matrik uretan dimetakrilat. silika ukuran mikro & monomer resin berat molekul tinggi. . Sinar sbg aktivator & camphoroquinone sbg pemulai polimerisasi.

Setelah proses pembentukan model sudah akurat.Resin ini merupakan komponen tunggal yang kemas dalam bentuk lembaran & dibungkus dalam kantung kedap cahaya. . Resin tidak dimasukkan dalam mould di flas / kuvet seperti yang lain. resin disinar dengan intensitas tinggi.