You are on page 1of 20

APENDISITIS AKUT

Mohamad Hisyamuddin Bin Abd. Kadir C 111 12 816


Siti Nur Wardah Binti Mustapa Kamil C 111 12 848

Pembimbing:
dr. Alifiah Ayu Delima
STATUS PASIEN

IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn. RH
Jenis kelamin : Laki-laki
Umur : 27 tahun
Alamat : Jl. Perintis Kemerdekaan
Agama : Islam
Pekerjaan : Swasta
Tanggal periksa : 12 Oktober 2017
Anamnesa

Keluhan Utama
Nyeri perut kanan bawah dialami sejak 1 hari yang
lalu. Pasien mempunyai riwayat maag (+),mual (-),
muntah (-), demam (+) dua hari yang lalu, hilang
timbul. Pasien pernah periksa USG pada bulan
Agustus dan hasilnya adalah normal. Nafsu makan
berkurang.Batuk tidak ada, sesak tidak ada,BAB
lancar, BAK nyeri.
Riwayat Penyakit Dahulu :
Pasien mengatakan belum pernah merasakan sakit yang
sama sebelumnya.
Pemeriksaan Fisik

Ku : sedang, composmentis, tidak anemis


TD : 120/80 ; N: 88 ; RR : 16 ; t0 C : 36,6
Status Generalis
Kepala : conjunctiva anemis (-/-), pupil isokor.
Leher : tidak ada pembesaran kelenjar limfonodus dan kelenjar tiroid.
Thorax : pernapasan kanan dan kiri simetris, retraksi (-)
Jantung : S1-S2 reguler, bising (-)
Paru : vesikuler +/+, wheezing (-), ronkhi (-)
Abdomen : NT (+), MT (-) peristaltik (+)
Ekstremitas : Tidak ada gangguan gerak dan oedema
Status Lokalis
Abdomen :
Inspeksi : tidak ada tanda peradangan dan bekas luka
Auskultasi : bising usus (+) normal
Palpasi : nyeri tekan bagian perut kanan bawah, tidak
teraba massa, nyeri tekan lepas (+)
Perkusi : timpani
Tes laseque (+)
Nyeri titik Mac Burney (+)
DIAGNOSA

Appendisitis

Penatalaksanaan :
Paracetamol 3x1
Cefadroxyl 2x1
APENDISITIS
APENDISITIS

Apendisitis adalah peradangan dari apendiks


vermiformis dan merupakan
kegawatdaruratan bedah abdomen yang
paling sering ditemukan.

INSIDENSI
negara berkembang > negara maju
kejadian tertinggi pada usia 20-30 an
laki- laki > wanita
Diagnosis banding
Gastroentritis
Batu ureter kanan
Kehamilan ektopik
Kista ovarium terpuntir

ETIOLOGI
Obstruksi
hiperplasia kelenjar limfonodi,
timbunan fekalit, cacing askaris.
Infeksi
kelanjutan proses dari obstruksi
patofisiologi
Obstruksi pada appendiks

Pengaliran mukus terhambat

Peningkatan tekanan intra lumen


Appendisitis
akut Appendisitis
Edema, invasi bakteri, ulserasi supuratif
mukosa akut
Obstruksi vena, edema +, invasi
bakteri ke luar appendiks
Peradangan stempat Nyeri kanan
peritoneum bawah
Appendisitis
ganggrenosa Aliran arteri terganggu
ganggren

Appendisitis eksarsebasi
Gejala klinis
Demam, nyeri epigastrik dan
berpindah pada kanan bawah,
muntah,

Diagnosis
Anamnesis
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan radiologi
Pemeriksaan fisik

PSOAS sign

Pemeriksaan rectal toucher pada


apendisitis

rovsing sign
Pemeriksaan radiologi Pemeriksaan laboratorium

Leukositosis dan
peningkatan segmen
Penatalaksanaan
Antibiotik profilaksis
Apendiktomi
laparaskopy
insisi mac burney

Komplikasi
Peritonitis
Perforasi
APENDIKTOMI DENGAN INSISI MAC BURNEY

1. Pasien berbaring terlentang dalam anastesi umum


ataupun regional. Kemudian dilakukan tindakan
asepsis dan antisepsis pada daerah perut kanan
bawah.
2. Dibuat sayatan menurut Mc Burney sepanjang
kurang lebih 10 cm (gambar 40.1.a) dan otot-otot
dinding perut dibelah secara tumpul menurut arah
serabutnya, berturut-turut m. oblikus abdominis
eksternus, m. abdominis internus, m. transversus
abdominis, sampai akhirnya tampak peritoneum
(gambar 40.1.b).
3. Peritoneum disayat sehingga cukup lebar untuk
eksplorasi (gambar 40.2.a)
4. Sekum beserta apendiks diluksasi keluar (gambar
40.2.bm
5. Mesoapendiks dibebaskan dann dipotong dari
apendiks secara biasa, dari puncak kearah basis
(gambar 40.3.a dan 40.3.b)
6. Semua perdarahan dirawat.
7. Disiapkan tabac sac mengelilingi basis apendiks
dengan sutra, basis apendiks kemudian dijahit
dengan catgut (gambar 40.4.a)
8. Dilakukan pemotongan apendiks apical dari jahitan
tersebut (gambar 40.4.b)
9. Puntung apendiks diolesi betadine
10. Jahitan tabac sac disimpulkan dan puntung
dikuburkan dalam simpul tersebut. Mesoapendiks
diikat dengan sutra (gambar 40.5.a dan 40.5.b)
11. Dilakukan pemeriksaan terhadap rongga peritoneum
dan alat-alat didalamnya, semua perdarahan dirawat.
12. Sekum dikembalikan ke abdomen.
13. Sebelum ditutup, peritoneum dijepit dengan minimal 4
klem dan didekatkan untuk memudahkan
penutupannya. Peritoneum ini dijahit jelujur dengan
chromic catgut dan otot-otot dikembalikan (gambar
40.6)
PEMBAHASAN

Setelah pasien terdiagnosis dengan appendisitis,


dilihat dari gejala yang menyertai, yaitu demam,
nyeri abdomen kanan bawah. Kemudian dari
pemeriksaan fisik didapatkan nyeri titik mc burney,
psoas dan obturator sign yang positif. Dari
pemeriksaan penunjang, didapatkan adanya
leukositosis dan peningkatan segmen, dan dari usg
abdomen bawah, didapatkan lumen appendiks yang
melebar yang dicurigai sebagai appendisitis.
Sehingga operasi apendiktomi adalah operasi yang
tepat sebagai penatalaksanaan.
Terima Kasih