You are on page 1of 156

STERILISASI

SUGIYARTONO

• 1 Pharmaceutical Practice 1991 Michael E ,
Aulton Churchill Livingstone, New York

• 2. Sterile Dosage Form, 3 rd Edition 1993
Salvatore Turco, Robert E. King Lea and Febiger,
Philadelphia

• 3. Dispensing for Pharmaceutical Students 12 th ed
1975 Cooper and Gun’s

• 4. Desinfection, Sterilisation and Preservation, 2 nd ed
1977 Seymor E Block Lea and Febiger,
Philadelphia

• 5. Quality Control in the Pharmaceutical Industry, Vol 1
dan 2 1972 Murray S, Cooper (editor)

• 6. Pharmaceutical Dosage Forms, Parenteral
Medications Kenneth E Avis Marcell Dekker, New
York

• 7. Farmakope Indonesia edisi IV 1995 Depkes RI

• 8. Parenteral Quality Control 1985 Akers M.J.

• 9. The Pharmaceutical Codex 1995 Pharmaceutical
Press

• 10. Dispensing of Medication Martin EW Mack
Publishing Company

KINETIKA KEMATIAN SEL BAKTERI 100 (102) sel 10 (101) sel 1 (100) sel 0.1 (10-1) sel .

5th Ed.0001 0.01 0.09 0.000 10.000009 0.00001 -5 12 0.0009 0.001 0.000 4 3 10.0001 -4 11 0.000 5 2 100.) Count Survivors Minute 1 1. chapter in Block SS. Bond WW.000 900 100 2 5 100 90 10 1 6 10 9 1 0 7 1 0.000001 -6 Adapted from: Favero MS.000 900.00009 0. 2001 .009 0.000 3 4 1.000.00001 0.1 0.000 1.001 -3 10 0.01 -2 9 0.000 9.000 100.000 90.1 -1 8 0. Inaktivasi populasi bakteri Bacteria Remaining Time Initial Bacterial Bacterial Logarithm of Count Killed in 1 (mins.9 0.

. termasuk spora bakteri  Desinfeksi Proses fisika atau kimia yang dapat memusnahkan atau eliminasi semua mikroorganisme hidup. kecuali spora bakteri Desinfektan Produk yang digunakan untuk melakukan proses desinfeksi. DEFINISI  Sterilisasi Proses fisika atau kimia yang dapat memusnahkan atau eliminasi semua mikroorganisme hidup.

• Antiseptik Produk yang merusak atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme yang ada di dalam jaringan hidup. • Aseptik Keadaan dimana tidak ada mikroorganisme patogen. .

MEKANISME PEMBINASAAN BAKTERI Kriteria kematian sel bakteri secara umum disebabkan oleh : hilangnya kemampuan sel untuk reproduksi Pemanasan menyebabkan kerusakan sel bakteri dalam beberapa tingkat Bakteri yang rusak dapat mengalami recovery bila berada dalam bahan dengan kadar nutrisi tinggi. .

RNA) 4. Bahan seluler (DNA. Sasaran Sterilan pada Mikroorganisme : 1. Membran sel 3. Protein . Dinding sel 2.

.

Asam Nukleat dan sebagainya. mencerna atau merusak permukaan. Rusak nya dinding sel akan menyebabkan kandungan sel . Efek Sterilan Pada Dinding Sel Dinding sel memelihara integritas struktur mikroorganisme Panas tinggi dan beberapa tipe agen kimia merusak dinding sel dengan menghambat sintesis. keluar dari sel . seperti Asam Amino. Nukleotida.

Dengan struktur ini membran akan tidak terlalu mudah dilewati molekul dari luar yang akan masuk ke dalam sel. sedangkan bagian nonpolar menjulur saling berhadapan. Panas Tinggi dan Bahan surfatctan dapat merusak membran tersebut. hidroflik) yang menghadap ke luar. Efek Sterilan Pada Membran Sel Semua mikroorganisme mempunyai membran sel yang tersusun atas lipid dan protein dua lapis (lipid bilayers) Struktur lipid bilayer merupakan molekul dengan bagian polar (bagian yang larut dalam air. .

. Kerusakan membran sel membuat kebocoran masuk dan ke luar sel. Molekul surfactan Lipid bilayers Sitoplasma Sitoplasma Cara kerja surfactan pada membran sel.

Efek Sterilan Pada Protein
Protein merupakan kemponen utama sel,
sehingga dengan terganggunya sintesis protein
pada sel tersebut akan merusak struktur dan fungsi
sel tersebut. Protein tsb. hanya berfungsi bila
mereka tetap dalam bentuk konfigurasi tiga dimensi
yang normal (konformasi), contohnya adalah enzim.

Denaturasi menyebabkan perubahan lipatan bentuk
sekunder dan tersier protein, sehingga bentuk
kumparan atau tekukannya tidak seperti aslinya.
Denaturasi dapat terjadi karena panas basah
atau pengaruh bahan-bahan kimia pelarut organik
kuat (mis.: alkohol, asam, dan fenol)

Hal-hal yang mempengaruhi sterilisasi panas:
Keasaman (pH): membantu sterilisasi.
2% Na-bicarbonate dalam air untuk merebus
peralatan.

Bahan organik (gula, protein dan lemak)
konsentrasi tinggi meningkatkan resistensi
mikroorganisme.

Konsentrasi garam dapat menaikkan atau
menurunkan tergantung jenis mikroorganismenya.

METODE STERILISASI

1. Inaktivasi M.O Pada Akhir Proses Produksi
(Na Sterilisasi)
- Sterilisasi Panas
- Sterilisasi Gas
- Sterilisasi Radiasi

2. Pemisahan M.O Sebelum Filling
(Proses Aseptik)
- Sterilisasi Filtrasi

Sterilisasi Panas Kering .STERILISASI PANAS : A. Sterilisasi Panas Basah B.

STERILISASI PANAS BASAH Mekanisme : • Koagulasi protein. • Denaturasi protein . A. .

Pendidihan dengan zat anti mikroba. Pendidihan dalam air tanpa zat antimikroba 2.Pemanasan Bertahap (tindalisasi) 4. 3.Pemanasan pada suhu < 1000 C 5. CARA STERILISASI BASAH 1. 6. Pemanasan dengan uap air jenuh tekanan tinggi (> 1 atm). . Pemanasan dengan uap air 1 atm.

Alat kedokteran gigi. jarum. . PENDIDIHAN TANPA ZAT ANTIMIKROBA • Pada 100°C Vegetatif : Mati dalam beberapa menit Spora : Mati dalam 1 jam atau lebih • Jaminan Sterilitas : Kurang • Penggunaan : .1. alat bedah).Alat kedokteran (alat suntik. • Waktu sterilisasi dihitung mulai saat air mendidih .

PENDIDIHAN DENGAN ZAT ANTIMIKROBA • Aktivitas antimikroba naik dengan naiknya suhu • Syarat anti mikroba :  Tidak toksis bagi pasien  Tidak OTT  Stabil dan aktif pada berbagai pH  Stabil selama pemanasan dan penyimpanan .2.

100°C) .Alat sederhana Kerugian : Clostridium perfringens dan Clostridium botulinum tetap hidup meskipun direbus selama beberapa jam .Keuntungan .Suhu relatif rendah (98° .

3. Pemanasan bertahap (Tindalisasi) Pemanasan bertahap dilakukan bila media atau bahan kimia tahan terhadap uap 1000C Dilakukan dengan cara memanaskan pada suhu 100 0 C selama 15-30 menit. Diulang 3 kali Waktu inkubasi diantara dua proses pemanasan sengaja diadakan supaya spora dapat bergerminasi menjadi sel vegetatif sehingga mudah dibunuh pada pemanasan berikutnya . Selajutnya dibiarkan > 8 jam dan dipanaskan lagi pada suhu 100 0 C.

dipertahankan 15 detik. .Flash pasteurization: Suhu dinaikan dengan cepat ke 71 oC. cepat didinginkan. Pemanasan suhu < 100°C (Pasteurisasi) Pasteurisasi hanya bentuk vegetatif mati spora tidak .4. -Batch pasterization: dipanaskan 63-66 oC selama 30 menit.

24 jam.1 jam. Pasteurisasi dilakukan bertahap : Cara : 70° .65°C . 3 hari berturut- turut 60° .24 jam.80°C .Untuk mematikan bentuk spora. 5 hari berturut- turut .1 jam. Dinginkan 30°C . Dinginkan 30°C .

PEMANASAN DENGAN UAP AIR 1 ATM (UAP AIR MENGALIR)  Daya pembunuhan M.5.O besar dalam waktu singkat dan suhu relatif rendah karena :  Kapasitas kalor besar  Pemindahan kalor cepat Alat : Steamer Kegunaan : Obat / alat tak tahan panas tinggi .

PEMANASAN DENGAN UAP AIR JENUH TEKANAN TINGGI (> 1 atm) Sterilisasi dipengaruhi oleh suhu dan waktu . .Perlu sterilisator dengan dinding kuat.Jaminan sterilisasi paling tinggi merupakan pilihan pertama selama dimungkinkan baik dari sudut stabilitas sediaan / alat.6. . .Suhu tinggi dicapai dengan tekanan yang tinggi (tekanan > 1 atm. air mendidih > 100°C).

Kelembaban .FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI STERILISASI UAP 1. Kontak 4. Suhu 2. Waktu 3.

Suhu Titik didih akan meningkat dengan meningkatnya tekanan sehingga peningkatan tekanan akan meningkatkan suhu uap air.1 2 275. Tabel tekanan uap air pada berbagai suhu SUHU TEKANAN SATURASI SATURASI °F °C Atm 250.0 121.0 3 .1.0 135.

0 0.2.0 275 135.5 . Harga D 250°F = 2 menit SUHU WAKTU (MENIT) °F °C 240 115.6 250 121. Waktu Makin tinggi suhu makin cepat waktu sterilisasi Tabel waktu yang dibutuhkan untuk membunuh satu juta spora Bacillus stearothermophillus.6 42.1 12.

237 kalori . 1 g uap 100°C  1 g air 100°C + 536 kalori 1g udara 100°C  1 g udara 99° + 0. Kontak : Uap dan M.3.O harus maksimal Uap yang kontak dengan M.O yang pada awal proses suhunya lebih dingin akan terjadi kondensasi.

Kelembaban Uap air harus jenuh (RH 100 %) Bila uap dalam keadaan jenuh (saturasi) mengenai obyek dingin  supersaturasi  kondensasi .4.

. Tipe prevakum. Tipe gravitasi : pengeluaran udara berdasarkan gaya gravitasi 2. dimana udara dikeluarkan dari sterilisator oleh pompa vakum.Dua tipe sterilisator uap : 1.

Tahap Jatuh 6.Tahap Keseimbangan 4.Fase siklus sterilisasi uap : 1.Tahap Pendinginan .Tahap Pemanasan 3.Tahap Pembinasaan 5.Tahap Pengusiran 2.

SUMBER UAP : 1. = dry saturated steam. Pada skala besar : Uap air dialirkan melalui pipa dari boiler yang terpisah  uap air jenuh kering. 2. Pada skala kecil : Uap air diperoleh dari air yang mendidih dalam sterilisator tersebut  uap air jenuh basah = wet saturated steam (ada tetes-tetes air). (tidak ada tetes-tetes air). .

Membentuk kondensat : .Melepas kalor yang tinggi dan kelembaban (air) diperlukan untuk koagulasi protein M.170°C .EFEKTIVITAS UAP AIR JENUH : 1.90°C 6 145°C 0 160°C .O Hubungan suhu koagulasi albumin telur dengan % air % AIR SUHU KOAGULASI 50 56°C 25 77°C 18 80 .

3. Pada saat kondensasi terjadi kontraksi volume Pada 121°C : 865 ml uap  1 ml air  terjadi tekanan negatif  uap air mengisi daerah yang tekanannya negatif  penetrasi cepat.2. Panas sensibel : 417 kj / kg (fase tetap) 2. Jumlah kalor tinggi Ada 2 kalor : 1. Panas laten : 2258 kj / k (fase berubah) .

Pada saat terjadi perubahan fase.Pada suhu 1210C.Pelepasan energi termal (panas laten) yang sangat besar . misalnya pada saat kondensasi terjadi pelepasan entalpi 2198 joules per gram kondensat . uap air mempunyai entalpi sebesar 2706 joules per gram masa .

Superheated Steam Adalah uap air murni (tanpa air sebagai sumber uap air) yang dipanaskan sehingga suhu lebih tinggi dari pada suhu uap air jenuh. penetrasi uap air juga rendah Wet Steam Adalah uap ar dengan kondensat yang cukup besar Penetrasi Uap Air berkurang dan Bahan yang disterilkan basah . tetapi tekanan lebih rendah Sterilisasi Tidak Optimal karena tekanan rendah.

Superheated Water 3.Uap Jenuh di bawah tekanan 2.Untuk bahan/alat yang tidak tahan tekanan tinggi Disterilkan dengan Otoklaf : 1.Steam-Air Mixture .

Transportable steam sterilizer .1. Otoklaf Uap Jenuh Di Bawah Tekanan .Portable Autoclave ( Bench Sterilizer) Otoklav paling sederhana Tidak memiliki jaket pemanas Air sebagai sumber uap berada di bagian dasar dari otoklaf Mempunyai klep pengatur tekanan .

Pendinginan mudah. Ada sisa air 2.2. Keseragaman suhu bagus 2. Otoklaf Superheated Water Spray Air pada suhu tinggi disemprotkan dari atas pada bahan yang disterilkan Keuntungan : 1. Pengeringan sulit 3. Wadah tidak boleh menyerap dan berinteraksi dengan air . dengan menyemprotkan air steril dingin Kerugian : 1.

Otoklaf Steam – Air Mixture Air dan udara disemprokan dari bagian bawah otoklaf .3.

.Udara dalam otoklaf dihindari karena udara melapisi barang yang disterilkan.Udara dikeluarkan diganti uap air. 2.Pemakaian Otoklaf : 1. . Pengeluaran udara : . Pengisian : Diatur sehingga distribusi uap panas merata.Udara konduktor panas yang jelek  penghalang penetrasi panas. .

Panaskan sesuai waktu yang dibutuhkan Pada suhu tertentu. . * Paling penting untuk pencapaian hasil akhir sterilitas bahan atau alat / sediaan. 4. Alirkan uap air jenuh Paling baik uap air jenuh kering.3. (sumber uap terpisah).

Pompa vakum : Hasil bagus.5.Pendinginan pelan dan lama karena kapasitas panas besar.Setelah sterilisasi  basah harus segera dikeringkan. . .Bila sterilisator dibuka dalam keadaan panas tinggi wadah bisa meledak. Pendinginan : Cara pendinginan tergantung jenis barang yang disterilkan. . b) Barang yang porous : . air berbentuk uap dan air terkondensi bisa hilang. .Oven : awas gosong !! suhu rendah hasil tak memuaskan .Disemprot kabut (air) 50 – 100 Mm. a) Wadah berisi cairan : .

STERILISASI PANAS BASAH

PENUNJUK TEKANAN

AUTOKLAF

AUTOKLAF

AUTOKLAF DI INDUSTRI .

sterilizing water time above defined temperature limits. Secondary ( noncritical) parameters adalah : tekanan pada chamber . atau rata rata rata suhu sterilisasi . 4. 3. 1. jumlah air . F0 dapat digunakan sebagai parameter kritis hanya bila hubungan antara suhu dan waktu telah ditetapkan. Dwell temperature: suhu puncak sterilisasi. Dwell time limits: batas waktu minimum dan maksimum untuk proses 2. and perbedaan tekanan resirkulasi pompa air . Parameter kritis : Adalah parameter yang yang secara mutlak dapat menjamin tercapainya PNSU=10 -6.

Rubber stopper Sterilization (Close system).Class III .

Autoclave. EOG Sterilizer and VHP Sterilizer ) – Class III .Sterile Preparation ( Dry Heat Oven.

Vial feeding (Class IV) .

Vial washing and Sterilization (Close system).Class III .

Filling process (Close system).Class I & II .

Alcaping process Class II .

In Process Control (IPC) Class IV .

Vial out side washer Korocon Inspect Class IV .

Visual inspect Class IV .

Packaging process (Class IV) .

Packaging process Class IV .

SO4= . BEBAS PIROGEN . NH4 + .0 – 7.. TIDAK BERWARNA 3. PH = 5.0 6. TIDAK BERBAU 4. CA 2+ . TIDAK MENGANDUNG CL. LOGAM BERAT DAN SENYAWA ORGANIK TERTENTU 7. KANDUNGAN PADATAN TOTAL < 10 PPM 5. BERSIH 2.SPESIFIKASI UAP UNTUK PROSES STERILISASI (=AIR UNTUK INJEKSI) 1.

Injeksi Volume Kecil b. Larutan Irigasi e. Injeksi Volume Besar c. Suspensi f.Sediaan Farmasi : a. Sediaan Obat Mata d. Emulsi .Aplikasi Sterilisasi panas basah : 1.

2. Bahan Lain : a. Plastik b. Media Kultur . Membran filter b. Wadah : a. Karet 3. Gelas c.

Fase siklus sterilisasi uap untuk Otoklaf Pre Vakum :
1. Fase pemanasan (conditioning)
- Proses pemvakuman  untuk menghilangkan
udara.
- Proses pemanasan.

2. Fase pemaparan uap (exposure)
- Proses peningkatan tekanan  peningkatan
suhu.
- Proses pembunuhan M.O

3. Fase pembuangan (exhaust)
Setelah holding time (waktu pembunuhan
M.O)
- Proses pengeluaran uap
- Proses penurunan tekanan

4. Fase pengeringan :
Proses pemasukan udara steril / pengeringan.

B. STERILISASI PANAS KERING :

Mekanisme : Dehidrasi yang dilanjutkan dengan
proses oksidasi
Efek panas kering < panas basah
 suhu > tinggi
waktu > lama

1. Oven
2. Pemijaran

termasuk distribusi ke dalam sel mikroorganisme dilakukan dengan metode konduksi . dengan cara konveksi dan didistribusikan ke seluruh bagian dari alat atau bahan yang disterilkan.Pada sterilisasi panas kering. udara panas didistribusikan ke seluruh sudut ruangan.

Peristiwa konveksi ini diperlukan untuk distribusi panas secara merata dalam seluruh permukaan ruang sterilisator ( oven ). . Udara yang ada dalam oven dapat bergerak dari udara panas ke udara dingin karena tekanan udara dingin lebih rendah dibanding udara panas.• Konveksi adalah peristiwa berpindahnya kalor dalam suatu medium yang disertai dengan perpindahan partikel mediumnya. Perpindahan partikel medium terjadi karena adanya perbedaan suatu massa jenis.

jika salah satu ujung logam dipanaskan maka ujung logam yang lain juga akan terasa panas karena kalor/panas merambat di dalam logam. Contohnya seperti ini.• Konduksi adalah peristiwa berpindahnya kalor melalui medium (zat perantara) tanpa disertai dengan perpindahan partikel medium tersebut. . Konduksi biasanya dapat terjadi pada zat padat seperti berbagai jenis logam dan gelas.

.

(tidak tergantung letak). OVEN Udara kering daya hantar pada 250°F : 1/12 x UAP AIR Syarat Oven : .1. .Variasi suhu kecil. .Suhu sterilisasi dapat dicapai cepat. .Panas merata.

. .Dapat untuk alat yang tertutup rapat.Tidak merusak gelas. Contoh : minyak . Keuntungan : .Dapat untuk bahan padat.Suhu tinggi + waktu lama  banyak obat.Karena barang dibungkus  Efesiensi (penetrasi suhu) . Kerugian & Keuntungan Oven : Kerugian : .Dapat untuk bahan tak tahan lembab. . karet plastik tak tahan. .Hasil kering.

Waxes.• Sterilisasi dengan panas kering ( Oven ) Bahan yang disterilkan di kenakan udara panas ( 160 0 C) selama 1 jam. Oven mempunyai elemen elektrik sebagai sumber panas dan kipas angin yang berfungsi untuk mendistribusikan panas Oven tanpa kipas. alat gelas. salap. berbahaya Digunakan untuk : logam. minyak. Powders .

Suhu dan lama sterilisasi tergantung pada : • 1.Stabilitas bahan atau alat yang disterilkan .Jumlah bahan yang disterilkan • 2.Kapasitas pemanasan • 4.Sifat penghantar panas dari bahan • 3.Bagaimana alat yang akan disterilkan tersebut dibungkus • 5.

WAKTU DAN SUHU STERILISASI (BP): • Min 180°C < 30 menit • Min 170°C < 1 jam • Min 160°C < 2 jam .

Pemijaran :  Pijar dengan api langsung  Cepat .B. 20 detik .

. 2. kaca arloji. mulut wadah. stamper. NaCl. spatel. Talk. mortir. 3. Logam : Pinset. Gelas : Pengaduk. ZnO.  dalam krus. tang.Pemakaian terbatas : 1.

60°C 7 – 24°C Rata-rata 21°C 10°C B. Pada 125°C : 5’ – 58’ – 5 jam Bacilus yang sangat resisten : D125° : 139 jam. Coli : 54°C . Harga Z : Penelitian Molin 1982 : Harga Z Panas kering : Basah : rentang 10° .Harga D pada sterilisasi kering : Spora bakteri : Ketahanan berbeda-beda  variasi besar. Subtilis : 20°C E.

Harga F pada sterilisasi panas basah disebut F0 dan harga F pada sterilisasi panas basah disebut FH diaplikasikan sama halnya pada sterilisasi panas basah. Nilai F = (Equivalent Sterilization Time) adalah jumlah menit yang dibutuhkan pada suatu suhu tertentu untuk memperoleh efektivitas pembunuhan mikroorganisme yang sama dengan pemanasan atau sterilisasi panas kering pada suhu 1700 C (pada suhu121° C untuk sterilisasi panas basah). walaupun ada beberapa keterbatasan .

• FH = Δ t x laju letalitas • Keterangan : Laju letalitas = 10T – Tb / Z • F = letalitas H • T = suhu siklus aktual • Tb = suhu basis (170o C) • Z = konstanta laju kematian mikroorganisme .

dan kaitannya dengan oven yang digunakan untuk sterilisasi mempunyai 2 macam.• TIPE OVEN • Untuk sterilisasi dengan metode panas kering. Oven dengan tipe konveksi secara gravitasi • 2. digunakan oven. yaitu: • 1. Ada beberapa jenis oven. Oven dengan tipe konveksi secara mekanis. .

. Alat yang digunakan adalah oven atau steriliser batch. dan mempunyai kecepatan pemanasan yang rendah.• Konveksi Gravitasi Pemanasan : udara mengembang dan memiliki densitas lebih rendah Terjadi pengusiran udara dingin Konduksi gravitasi ini menghasilkan suhu yang tidak konsisten di dalam ruang sterilisasi.

Alat sterilisator sering disebut: Sterilizer Continous atau Tunnel. Menjamin : pemerataan temperatur dan keseragaman transfer panas Konveksi mekanis ini lebih efisien. .• Konveksi Mekanis • Oven dengan tipe mekanis: • blower yang secara aktif mendorong udara panas untuk mengisi seluruh bagian ruang sterilisator.

yang sebelumnya sudah disaring melalui HEPA (High Efficiency Particulate Air) Filter. memerlukan sejumlah besar udara panas. akhirnya lolos dan gagal disaring .• Sterilisator konveksi mekanik.995%) • Suhu berubah : • filter membran akan mengalami kontraksi atau mungkin mengembang. • Berakibat terjadinya perubahan pori membran sehingga partikel yang ada di udara. yaitu penyaring udara dengan efisiensi yang tinggi ( 99.

.

.

2.NaCl : Menghilangkan pirogen. Minyak dan lemak Termasuk injeksi larutan minyak. Alat gelas : Harus dicuci dulu dalam air bebas pirogen. . Serbuk Bahan alam : .Aplikasi Sterilisasi panas kering : 1.Talk : Spora resisten. 3. 4. Porselin dan alat logam. .

PEMBUNGKUS ITEM YANG DITSERILKAN DENGAN PANAS KERING • 1. Gelas seperti misalnya cawan petri • 2. Cotton wrappers atau aluminum foil dapat digunakan bila temperatur tidak lebih dari 204° C (400° F) . Panci stainless steel • 4. Tabung reaksi dan jars kecil • 3.

Lag Time (waktu tunggu) untuk mencapai suhu sterilisasi 2. Waktu pendinginan : waktu untuk sampai suhu kamar . Hold Time (waktu tahan/waktu sterilisasi) : waktu untuk mencapai keadaan steril 3. SIKLUS STERILISASI MELIPUTI : 1.

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Sterilisasi Panas Kering 1. Lingkungan yang mengandung glukosa dan pepton akan mempersulit sterilisasi spora dengan metode panas kering 4. Jumlah Mikroorganisme Awal 2. Spora yang mengandung air menjadi resisten dengan sterilisasi panas kering 3. Air . Atmosfer : Udara diam lebih efektif dibanding udara yang mengalir. Gas nitrogen membantu pengeringan mikroorganisme saat steerilisasi dengan panas kering .

Biologi . MONITORING Monitoring dan jaminan sterilitas Harus dilakukan monitoring proses sterilitas secara ketat.Mekanik . untuk memberikan jaminan bahwa parameter yang telah ditentukan terpenuhi dengan baik.Kimia . Monitoring dengan menggunakan indikator : Indikator : .

. . Tidak dapat menunjukkan keadaan sterilitas.Memberi petunjuk bahwa obyek yang disterilkan. . udara.Indikator Mekanik : . tekanan. Suhu. waktu. panas. Indikator Kimia : . EO). . Harus dikalibrasi.Telah terpapar oleh sterilan (uap.Ada dua macam indikator kimia : * Eksternal * Internal .

yaitu: internal dan eksternal. Indikator kimia ada 2 macam. Warna hijau akan berubah menjadi hitam setelah pemanasan pada suhu 1600 C atau lebih .• Indikator kimiawi: indikator kimiawi dalam bentuk label atau tape harus dapat memonitor bahwa objek yang disterilkan telah terpapar oleh sterilan.

.Multi parameter : suhu dan waktu Indikator Eksternal : diletakkan pada kemasan (diluar bahan/alat yang disterilkan) Bereaksi cepat. sehingga tidak menunjukkan kondisi suhu merata .Single parameter : suhu .Indikator Internal : diletakkan didalam kemasan bahan/alat yang disterilkan Bereaksi lambat.

• Indikator Kimia Sterilisasi 1. atau 15 menit (tipe 2) atau pemanasan pada suhu 1600 C selama 1 jam (tipe 3) 2. Bowie-Dick autoclave tape test for steam penetration . Brownie’s tube indicator = Larutan akan berubah dari merah menjadi hijau bila dipanaskan pada suhu 1150 C selama 25 menit (tipe 1).

.

Indikator Kimia .

.

dan harus dibuat dari spora yang resisten terhadap pemanasan. • Preparasi: kultur dibiakkan secara aerobik pada nutrient agar selama 5 hari. Satu strip kertas saring dicelupkan ke dalam suspensi tersebut. . dan disuspensikan pada air steril sehingga didapatkan spora dengan konsentrasi 106 cfu/ml. dikeringkan pada suhu kamar dan dikemas dalam amplop.• Indikator biologis: merupakan indikator yang sangat direkomendasikan.

• Indikator biologis ini diletakkan di tengah- tengah bagian oven yang paling luas atau yang paling banyak objek yang disterilkan dan juga pada bagian yang paling dingin dari oven .

Indikator biologis .

.

O tertentu dalam bentuk spora yang resisten terhadap beberapa parameter yang terkontrol dan terukur dalam suatu proses sterilisasi.EO dan panas kering : Bacillus subtilis. .Indikator Biologis Suatu sediaan berisi M. . .Sterilisasi uap : Bacillus stearothermophilus.

Pengeluaran udara berdasarkan gravitasi a. d. Indikator kimia  eksternal dan internal setiap siklus. Tes thermocouple b. . Indikator biologis : seminggu sekali. Thermograph atau temperature chart record :121°C – 15 menit c.Monitoring sterilisasi uap : 1.

Air removal indicator (Bowie-Dick) setiap hari. b. g. Tes kebocoran > 1 mm Hg tiap 10 menit. e. c.2. Thermocouple test. Indikator biologis setiap minggu. . Sterilisator prevakum a. Thermograph atau temperatura chart : 121°C – 15 menit / 134°C – 3 menit f. Indikator kimia : eksternal dan internal setiap siklus. Air detector test. d.

. Monitoring Sterilisasi panas kering a. Indikator kimia dipakai pada setiap siklus.3. d. Indikator biologis : seminggu sekali. Suhu dimonitoring setiap hari dibandingkan dengan master temperature recorder (MTR). Holding time : 160°C – 1 jam / 180°C – 30 menit b. c.

Of Nikroorganisme Growth period Death Periode Lag periode Time (HOURS) Siklus pertumbuhan dan kematian mikroorganisme . Stationary periode No.

 Validasi proses terdiri atas 4 bagian yang berbeda. to ensure111 system performance. Software Validation 2. System Suitability (The checking of a system. Method Validation 4. Hardware/InstrumentationValidation/Qualification 3. peralatan atau sistem berfungsi/berjalan dan akan selalu memberikan hasil sesuai dengan yang diharapkan secara konsisten. Validasi  Validasi:Tindakan pembuktian yang terdokumentasi bahwa suatu prosedur. before or during analysis of unknowns. material. proses. 1.“) .

KUALIFIKASI Suatu pembuktian bahwa perlengkapan/mesin yang digunakan dalam suatu proses akan selalu memberikan hasil yang memenuhi kriteria yang diinginkan secara konsisten Tahap -tahap kualifikasi 1. Design Qualification. Installation Qualification 3. Operational Qualification 4. Performance Qualification 112 . 2.

Kualifikasi Design : Merupakan unsur pertama dalam melakukan validasi sistim atau peralatan baru Proses pembuktian yang terdokumentasi bahwa sistim . alat atau bangunan yang akan dipasang memenuhi spesifikasi yang telah ditetapkan Dilakukan sebelum instalasi/pemasangan alat .

Kualifikasi Instalasi : Proses pembuktian yang terdokumentasi bahwa sistim . alat atau bangunan yang sudah dipasang/ diinstal sesuai dengan spesifikasi yang telah ditetapkan Dilakukan pada saat instalasi/pemasangan alat .

alat atau bangunan yang dipasang memenuhi spesifikasi operasional yang telah ditetapkan Dilakukan setelah instalasi/pemasangan alat .Kualifikasi Operasional : Proses pembuktian yang terdokumentasi bahwa sistim .

Kualifikasi Performance/Kinerja : Proses pembuktian yang terdokumentasi bahwa sistim . alat atau bangunan yang dipasang memenuhi spesifikasi performance yang telah ditetapkan Dilakukan setelah instalasi/pemasangan alat .

KUALIFIKASI KINERJA OTOKLAF .

Panaskan sampai suhu 1210 C .PROSEDUR 1. Kalibrasi termokopel sebelum dan sesudah kualifikasi .Memasukkan secara bersamaan semua termokopel dalam gelas beker yang berisi minyak silikon dilengkapi dengan termometer standar atau termokopel standar.

.Termokopel : sensor suhu yang banyak digunakan untuk mengubah perbedaan suhu dalam benda menjadi perubahan tegangan listrik (voltase). Termokopel yang sederhana dengan batas kesalahan pengukuran kurang dari 1 °C.

.

catat hasil dari 5 kali pengukuran pada waktu yang berbeda ..Setelah 10 menit dari pencapaian suhu 1210C .Hitungan perbedaan pada suhu tertinggi dan terendah dengan menggunakan rumus sbb: .Tentukan suhu tertinggi dan terendah pada setiap pengukurannya .dT maks(1)= Maks dari (Tx(maks)-Ty(min) :tremokopel x dan y .

Tentukan perbedaan terbesar antara termokopel yang sedang diukur dengan termokopel sesuai standar rumus : .Perbedaan tertinggi (maksimum) suhu antara semua termokopel (rata-rata dT maks (1)) tidak boleh lebih dari 1.00 C ..dT maks(2)= Maks dari (Tstd(t)-Tx(min) std=standar x=termokopel Kriteria penerimaan : .

• Perbedaan tertinggi (maksimum) suhu antara sebuah termokopel dan termokopel standar (rata-rata dT maks(2) tidak boleh lebih dari 0.50 C .

3 kPa/10 menit .Nilai absolut vakum < 7 kPa .2.Rata-rata kebocoran tidak boleh lebih dari 1. Uji Kebocoran : Membaca tekanan absolut pada keadaan vakuum Kriteria penerimaan : .

Letakkan termokopel 8. Distribusi Panas pada Otoklaf dalam keadaan kosong .Letakkan termokopel 1.5.Letakkan termokopel 12 di bagian pembuangan Gunakan steritape untuk melekatkan termokopel .Letakkan termokopel 11 pada rak no 2 tengah berdekatan dengan termokopel dari otoklaf .6 dan 7 pada bagian tengah depan dan belakang otoklaf .3 pada bagian depan diagonal .10 pada bagian belakang diagonal .9.2.3.Letakkan termokopel 4.

Panaskan 15 menit Tiap 1-2 menit catat suhu dari semua termokopel Kriteria penerimaan : Perbedaan suhu antara terpanas dan tedingin tidak boleh melebihi 30 C (semua berkisar 121-1240 C .Letakkan termokopel standar pada alat pemanas dan atu suhu 1210 C Otoklaf tetap kosong.

7.Panaskan suhu 1210 C . 3. Distribusi panas pada otoklaf dengan muatan . 10 dan 11 letakkan dibagian dalam muatan . 5.Letakkan termokopel standar .Letakkan muatan pada rak no 2 dan 1 .Letakkan termokopel seperti ketentuan 3 dan untuk termokopel 2.Setiap 1-2 menit. catat suhu . 9.4.Atur secara merata .

.Perbedaan suhu terdingin dan terpanas tidak boleh melebihi 30 C .Tentukan titik terendah(terdingin) dan trtinggi (terpanas) Kriteria Penerimaan : .

5. biakkan semua strip spora bersamaan dengan 2 strip spora yang tidak diproses (kontrol +) . tetapi letakkan 10 – 12 strip spora (Bacillus stearothermoplillus > 106 / strip) berdekatan dengan 12 termokopel .Hitung untuk titik terpanas dan terdingin.Ulangi prosedur no 4. Penetrasi panas pada otoklaf dengan muatan . harga Fo .Setelah selesai.

121) : Z T(t=x) = suhu pada waktu x menit T(t=x+2) = suhu pada waktu x+2 menit z = 10 .Fo = 2 x 10A A = ({ T(t=x) + T(t=x+2) } / 2 .

Nilai kumulatif Fo > 12 untuk titik terendah . Hitung semua nilai Fo untuk suhu terendah dan tertinggi selama 15 menit Kriteria Penerimaan : .Semua strip spora tidak menunjukkan pertumbuhan .Suhu didalam otoklaf > 1210 C tidak boleh kurang dari 12 menit untuk menjamin Fo >12 menit .

dan 6 harga Fo Harga Fo masing-masing = 2x10121+121:2 – 121/10 2 menit Kumulatif = 2 x 6 = 12 menit .Contoh : Data titik terdingin dari 12 termokopel adalah 121o C Data tiik terpanas dari 12 termokopel adalah 1210 Pemeriksaan selama 15 menit. jadi ada 12 titik. setiap 2 menit.

. Sterility assurance level penurunan jumlah mikroba minimal 6 log (metodeoverkill ) Penurunan endotoksin minimal 3 log dengan reference standard endotoksin E.coli Pada muatan maksimum Pada wadah/barang yang paling sukar menerima panas Pada daerah terdingin.KUALIFIKASI KINERJA STERILISATOR PANAS KERING Menjamin parameter yang digunakan pada sterilisasi dan depirogenasi telah cukup efektif dan efisien.

Lakukan 3 kali pengukuran. • Ukur partikel pada tiga titik di depan masing- masing HEPA Filter (ada tiga HEPA filter) dengan menggunakan Particle Counter. • Lampirkan data yang diperoleh dalam Dokumen Kualifikasi • Kriteria penerimaan: Jumlah partikel dalam oven harus memenuhi persyaratan untuk kelas A .Pemeriksaan Jumlah Partikel dalam Oven • Prosedur: • Hidupkan oven tanpa pemanasan.

Verifikasi Kebocoran Oven • Prosedur: • Tutup pintu oven • Set oven pada temperatur rendah (400 C) dan nyalakan oven • Uji kebocoran dengan menggunakan asap dari smoke stick disepanjang sela-sela pintu. baik ke ruangan nonsteril maupun ruangan steril . • Kebocoran ditandai dengan hembusan angin dari sela-sela pintu yang menghalau asap. • Kriteria penerimaan: tidak ada kebocoran dari dalam oven.

Kalibrasi Termokopel • Kalibrasi Termokopel harus dilaksanakan segera sebelum dan sesudah kualifikasi kinerja oven. • Kalibrasi dilakukan dengan cara memasukkan secara bersamaan semua termokopel ke dalam gelas piala yang berisi minyak silikon yang dilengkapi dengan termometer standar dipanaskan dengan menggunakan pelat pemanas dan pengaduk otomatis sampai suhu 230 0 C • Setelah suhu 2300 C tercapai selama 10 menit. catat hasil dari 5 kali pengukuran pada waktu yang berbeda .

x=termokopel • . std=standar.• Tentukan temperatur tertinggi dan terendah pada setiap pengukuran Lakukan penghitungan perbedaan antara temperatur tertinggi dan temperatur terendah dengan menggunakan rumus sebagai berikut : dT maks (1) = Maks dari (Tx (max) –Ty(min)) : Tentukan juga perbedaan hasil pengukuran terbesar antara termokopel yang sedang diukur dan termokopel standar sesuai dengan rumus: • dT maks (2) = Maks dari (Tstd(t) – Tx(min)).

• Kriteria penerimaan: • a.50 C . Perbedaan terbesar (maksimum) temperatur antara semua termokopel (rata-rata dT) maksimum (1) tidak boleh lebih dari 1. Perbedaan terbesar (maksimum) temperatur antara sebuah termokopel dan termokopel standar (rata-rata dT maks (2) tidak boleh lebih dari 0.00 C • b.

• Prosedur: • Pasang minimal 10-12 buah termokopel dalam chamber secara horizontal.• Pengamatan Distribusi Panas dalam keadaan kosong • Tujuan: untuk mengetahui distribusi panas atau keseragaman panas didalam oven kosong. Hasil Pengamatan dan Perhitungan) . vertikal dan lateral pada titik-titik yang ditunjuk • Hubungkan termokopel dengan recorder • Mulai siklus pemanasan • Catat hasil pada Lembar Kerja (lampiran 2.

• Perhitungan • Rata-rata suhu dari setiap termokopel T rata-rata = ( T1 + T2 + T3 + …….TN ) : T = Bacaan temperatur dari masing-masing termokopel N= Jumlah termokopel yang digunakan pada suhu distribusi .

• Perbedaan suhu daerah tertinggi dan daerah terendah dari setiap termokopel • T = T hot – T cold • T = Perbedaan suhu terbesar • T hot = Suhu tertinggi • T cold = Suhu terendah .

• Perbedaan suhu terendah dan temperatur setting pada setiap termokopel • T = T cold – T set point • T = perbedaan suhu terkecil • T cold = Suhu terendah • T set point = Suhu yang diatur pada alat .

Lakukan 3 kali pengamatan • Kriteria penerimaan: • Perbedaan antara suhu tertinggi ( hottest point) dan suhu yang terrendah (coldest point) maksimal 50 C .

• Pasang termokopel pada oven pada posisi yang sama dengan yang digambarkan pada Butir 11. • Jalankan oven dan mulai sterilisasi pada setting 2300 C selama 90 menit • Catat suhu pada saat program tersebut dimulai sampai dengan siklus sterilisasi automatis dimulai .Pengamatan Distribusi Panas dengan Muatan • Tujuan: Untuk menentukan daerah dengan temperatur terendah pada tiap jenis muatan oven/peralatan yang disterilkan • Prosedur: • Masukkan ampul 2 ml kosong ke dalam oven sampai penuh (konfigurasi muatan 1)).

• Tentukan titik terrendah dan titik tertinggi. Tentukan perbedaan suhu setiap waktu tertentu . catat suhu sampai siklus sterilisasi berakhir.• Pada saat siklus sterilisasi dimulai.

• Lakukan minimal 2 kali pengamatan • Kriteria Penerimaan: • a. Perbedaan temperatur antara suhu tertinggi dengan suhu terendah tidak boleh melebihi 150 C pada siklus depirogenasi. Perbedaan suhu terendah dengan temperatur setting tidak boleh lebih dari 20 C. . • b.

Pengamatan penetrasi panas dengan muatan maksimal ( dapat dilakukan bersamaan dengan Uji Tantang Endotoksin) • Prosedur : • Letakkan peralatan/ vial/ ampul/ tangki yang akan disterilkan dalam oven yang • dikualifikasi • Masukkan probe thermocouple ke dalam setiap perlengkapan /alat/vial/ampul • atau bahan yang disterilkan .

• Jalankan oven dan mulai sterilisasi pada setting 2300 C selama 90 menit • Catatan suhu pada saat program tersebut dimulai sampai dengan siklus sterilisasi otomatis dimulai • Setelah tercapai suhu sterilisasi /depirogenasi (2300 C) catat temperatur tiap 5 menit pada tabulasi • Tentukan titik terrendah dan titik teringgi • Hitung L dari tiap termokopel • .

– Hitung Lethal Rate ( L ) dari temperatur terendah dan tertinggi dari tiap termokopel • L = 10 (t-170)/z • t = suhu yang dibaca • 1700 C = suhu dasar • Z = temperatur incremental untuk oven .

– Hitung Lethal Rate ( L ) dari temperatur terendah dan tertinggi dari tiap termokopel • L = 10 (t-170)/z • t = suhu yang dibaca • 1700 C = suhu dasar • Z = temperatur uncremental untuk oven .

• Hitung acumulative lethality (Fh) • Fh = Δ T × Σ L • L = lethal rate dari tiap waktu pengamatan • Δ T = interval waktu pengamatan .

3×12=40 menit . pengurangan lebih dari 12 log .Lakukan 3 kali pengamatan Kriteria penerimaan: • a.Fh (1700 C) > 40 menit • (Berdasarkan Bacillus subtilis: D (1600C) 10 menit.Suhu dalam oven 2200 C – 2350 C selama minimal 60 menit • b.Perbedaan suhu terendah dan tertinggi tidak boleh lebih dari 100 C • c. Z=20) • Maka Fh ( 1700C) = 3. prinsip overkill.

5 = 3.3 Maka Fh(170) = 3.3x12= 40 menit .Dasar perhitungan : L = 10(t-170)/z = 10(160-170)/20 = 100.

Uji tantang endotoksin Uji dilakukan bersamaan dengan uji penetrasi panas dengan mendekatkan endotoksin di dekat semua termokopel Atau bila dilakukan setelah pengamatan penetrasi panas. endotoksin ditempatkan dekat dengan 50% termokopel dengan suhu terendah .

Tentukan kadar endotksin sebelum digunakan .Prosedur : .Gunakan minimal 10 buah indikator biologi endotoksin untuk masing-masing pengujian .Letakkan minimal 50% endotoksin pada daerah yang diketahui temperaturnya terrendah dan didalam item yang disterilkan dekat dengan ujung termokpel .

Kontrol positif endotoksin menunjukkan jumlah minimal 1000 EU • .• Lakukan 3 kali pengamatan • Kriteria penerimaan : • .Kontrol negatif tidak menunjukkan adanya endotoksin .Penurunan jumlah endotoksin tidak kurang dari 3 log atau 100EU pada tiap lokasi • .