You are on page 1of 10

MEMAHAMI PERTANIAN DAN MASALAH

MEMAHAMI PERTANIAN DAN


USAHA TANI INDONESIA
MASALAH USAHA TANI INDONESIA

KELOMPOK 9

DWI KIKI NINGRUM D1B015038


AHYAR Suheri D1B015041
MEMAHAMI
LILIS OKVITA PERTANIAN DAN MASALAH USAHA TANI INDONESIA
SARI D1B05050
MAWAR TAMARA D1B015060 KELOMPOK 9
DWI KIKI NINGRUM
AHYAR SIREGAR
LILIS OKVITA SARI
MAWAR TAMARA
A. PENGANTAR

Konsep pertanian rakyat digunakan untuk membedakannya dengan pertanian besar


yang sudah maju dengan sistem manajemen formal dan modern. Pertanian rakyat di
pedesaan secara umum menghadapi dua masalah, pertama sifat komoditi pertanian
yang mudah rusak (untuk tanaman pangan) dan proses produksi yang memerlukan
waktu panjang untuk komoditi perkebunan.
B. Pertanian rakyat dan Masalah
Usaha tani

1. Petani Pangan dengan Ciri Komoditi Mudah Rusak


Berbeda dengan proses produksi industri di perkotaan, bahwa pertanian
diusahakan di alam terbuka, tergantung pada kondisi iklim, cuaca, tanah,
serta flora dan fauna yang ada di lingkungannya. Selain itu, adanya faktor
ekonomi yang antara lain penurunan harga usaha tani juga menjadi
ancaman lain yang dihadapi petani
2. Petani Perkebunan dengan Masalah Investasi jangka Panjang
Untuk tanaman perkebunan yang komoditinyatidak begitu cepat rusak atau
dapat disimpan beberapa hari persoalannya muncul dari aspek lain, yaitu
investasi diperlukan dalam jumlah besar dan proses produksi cukup lama
dengan kehidupan petani yang diambang kemiskinan. Akhirnya, petani
tersebut bergantung pada seorang pedangan atau yang disebut dengan
toke atau tengkulak.
C. Masalah Internal Usaha Tani di Indonesia

1. Kecilnya Luas Penguasaan lahan di Indonesia


Jumlah penduduk terus bertambah sehingga perbandingan tanah dan
manusia (man and ratio) tidak menguntungkan. Luas usaha tani yang
kecil sedangkan jumlah penduduk terus bertambah. Hal ini menyulitkan
dalam pembangunan pertanian di Indonesia di masa mendatang.
2. Kekurangan Modal
Petani di pedasaan biasanya tidak memiliki simpanan dalam betuk uang,
baik di bank maupun dilembaga keuangan lainnya. Para petani yang
tidak memiliki simpana akan meminjam kepada pedagang dimana
mereka menjual hasil pertaniannya (toke)
3. Kesukaran dalam Menerapkan Tekonologi
Para petani harus hati-hati dalam menerima teknologi baru (Scott, 1981),
karena suatu teknologi baru biasanya mengundang resiko kegagalan.
Oleh kerena itu, petani cenderung untuk mempertahankan teknologi
lam yang keberhasilannya sudah terbukti.
Lanjutan

4. Perangkap Kemiskinan
Kebanyakan petani terperangkap oleh kondisi kemiskinan. Bahwa
kemiskinan di sektor pertanian buakn hanya masalah ekonomi melainkan
juaga masalh sosial budaya, dimana para keluarga petani terperangkap
ke dalam lingkaran hutang terselubung.
5. Kurangnya Sarana Pendukung
Hal ini terjadi kebanyakan usaha tani berlokasi di pedesaan yang letaknya
jauh dari kota yang menyediakan sarana produksi yang diperlukan.
Termasuk kepada sarana produksi penting adalah bibit unggul, pupuk
buatan, obat-obatan dan alat pertanian
6. Kemampuan Manajerial Petani Rendah
Kurangnya kemampuan manajerial dalam bertani menyebabkan para petani
kurang mampu meningkatkan produksi secara optimal, kurang mampu
melakukan efesiensi dengan penggunaan input yang tepat,
mengkombinasikan satu bidang usaha tani dengan beberapa bidang
usaha tani secar terpadu sehingga diperoleh hasil yang lebih tinggi dan
biaya pengeluaran lebih rendah.
7. Usaha Tani Merupakan Usaha Ruamh Tangga
8. Pengangguran Tersembunyi
Lanjutan

7. Usaha Tani Merupakan Usaha Ruamh Tangga


Tujuan utam usaha tani adalah memenuhi kebutuhan rumah tangga akan
makanan, kesehatan, pakaian dan sebgainya. Persoalan dalam usaha
tani keluarga muncul dalam pengelolaan keuangan, dimana
pendapatan usaha tani disamakan dengan pendapatan keluarga.
8. Pengangguran Tersembunyi
Pengangguran tersembunyi adalah tenaga kerja dimana mereka tidak
bekerja secra penuh dari waktu ke waktu. Pengangguran ini
disebabkan oleh beberapa hal, yaitu:
a. Luas usaha tani kecil
b. Tenaga kerja keluarga berlebihan
c. Produksi musiman
d. Industri kecil pedesaan tidak berkembang
D. Ancaman Eksternal Terhadap Pertanian Indonesia

D. Ancaman Eksternal Terhadap Pertanian Indonesia


1. Persaingan Dalam harga Komoditi
Dalm pasar bebas AFTA dan CAFTA khususnya
komoditi pangan seperti beras dan sayur-sayuran
Indonesia akan menghadapi persaingan ketat
dalam hal harga.
2. Persaingan Dalam Kualitas Komoditi
Kualitas komoditi pertanian yang dihasilkan petani
Indonesia masih relatif rendah bahkan sulit
memenuhi standar kualitas yang ditetapkan
negara-negar ASEAN.
3. Persaingan dalam Jenis Komoditi
Rendahnya kualitas komuditi pertanian yang
dihasilkan petani di Indonesia menyebabkan
konsumen kelas menengah ke atas bisa beralih ke
komuditi lain yang lebih baik.
E. Masalah Kemiskinan dalam Pembangunan Pertanian

1. Kemiskinan Sebagai Suatu masalah Sosial


Kemiskinan dapat dibedakan kedalam beberapa bentuk, yaitu:
a. Kemiskinan absolut
Kemiskinan absolut adalah kondisi penduduk diamana tingkat konsumsi
pendapatannya di bawah kebutuhan fisik minimum (KFM)
b. Kemiskinan Relatif
Kemiskinan relatif dalah kondisi penduduk / golongan masyarakt dimana tingkat
konsumsi/pendapatannya berad di bawah rata-rat konsumsi/pendapatan
kelompok masyarakat sekitarnya, walaupun telah melebihi KFM.
c. Kemsikinan Struktural
Kemiskinan struktural adalah kemiskinan yang disebabkan oleh kondisi struktur
masyarakat yang menempatkn seseorang berada pada posisi yang kurang
menguntungkan disebut juga kemiskinan keturunan.
d. Kemiskinan Budaya
Kemiskinan budaya dalah kemiskinan yang disebabkan nilai-nilai budaya yang dianut
seperti pesimistis, apatisme, percaya pada nasib, dan lain-lain
Lanjutan

2. Tingkat Kemiskinan
Kriteria kemiskinan bermacam-macm yang digunakn oleh para ahli diantaranya ada
yang ukuran subjektif dan ada yang ukuran objektif. Masri Singarimbun (1971)
misalnya mengatakan bahwa Seseorang dikatakan miskin bila menurut yang
bersangkutan penghasilan yang dia terima belum mencukupi untuk memenuhi
kebutuhan hidup sehari-hari.
3. Perkembangan Penduduk Miskin di Indonesia
Perkembangan penduduk miskin di Indonesia dapat merupakn indikator
pembangunan, dimana pembangunan itu diukur dari keberhasilannya dalam
menurunkan angka kemiskinan.