You are on page 1of 24

1.

PRE EKLAMPSIA
Hipertensi yang muncul pada usia kehamilan di atas 20 minggu dan
disertai minimal salah satu dari kriteria proteinuria, disfungsi organ
maternal, atau disfungsi uteroplasenta
DEFINISI
PREEKLAMSIA

Tranquili et al., 2014

Primipara
Usia maternal ekstrem (<20 atau >35 tahun)
Kehamilan multifetal, mola hidatidosa, polihidramnion
Riwayat PE sebelumnya
FAKTOR RISIKO
Riwayat PE keluarga
Kondisi medis yang ada sebelumnya Obes, Ht kronis, DM, APS
Ras Afrika-Amerika
Pare et al., 2014
Abnormalitas Maladaptasi Aktivasi sel Faktor
invasi trofoblas toleransi imun endotel genetik

Gangguan remodelling arteri


(Cunningham et al., 2014)

Hipoksia plasenta
ETIOPATOGENESIS

Pelepasan debris plasenta dan sitokin inflamasi

Pelepasan sitokin inflamasi

ET1 & TXA2 NO & PGI2 sFlt-1 AT1-AA


VGEF, PlGF
Cedera endotel
Ketidakseimbangan
Vasospasme
faktor angiogenik

Hipertensi
1 TD sistolik 140 mmHg dan/atau TD diastolik 90 mmHg

2 Proteinuria 300 mg/24 jam atau tes urin dipstik minimal


+1
3 Jika tidak didapatkan proteinuria, hipertensi dapat disertai:
KRITERIA
DX Trombositopenia trombosit <100.000 sel/l
MINIMAL Insufisinesi renal sCr >1,1 mg/dl, oligouria
(POGI, 2016)
Gangguan hepar transaminase, nyeri RUQ
Edema pulmonal
Gejala neurologis eklamsia, nyeri kepala berat, ggn
visual
Gangguan uteroplasenta FGR, oligohidramnion
Berdasarkan usia kehamilan

Early onset
Late onset

Berdasarkan derajat keparahan


KLASIFIKASI
PE ringan
PE berat jika terdapat minimal 1 dari kriteria:
TDS 160 mmHg dan/atau TDD 110 mmHg
Adanya minimal 1 disfungsi organ maternal
dan/atau uteroplasenta
Redman dan Sargent, 2005 ; Sibai, 2011
FETAL MATERNAL

FGR
HELLP syndrome
Oligohidramnion
Eklamsia
BBLR
DIC, hemolisis
Stillbirth atau late
AKI
intrauterine fetal
Edema pulmoner
death
KOMPLIKASI Cardiopulmonary
Lahir prematur
PREEKLAMSIA arrest
risiko infant RDS,
Risiko penyakit
perdarahan
kardiovaskular di
intraventrikel,
kemudian hari
sepsis, displasia
IHD,
bronko-pulmoner,
tromboemoboli, Ht
gangguan
neurodevelopment
Harmon et al, 2015; Davies et al., 2016 ; Tranquilli et al., 2014; Chaiworapongsa et al., 2014
Prediksi memperhitungkan parameter klinis,
ultrasonografis, dan laboratoris untuk memprediksi kemungkingan
PREDIKSI DAN PENCEGAHAN
terjadinya preeklamsia sejak awal kehamilan.

Marka janin/plasenta
dan marka maternal

Didasarkan pada
Kombinasi >1 marka = nilai
teori
prediktif dan prognostik lebih baik
etiopatogenesis
Pencegahan dengan kombinasi
L-arginine dengan vitamin C dan
E. Aspirin dapat diberikan sejak
<16 minggu
Tranquilli et al., 2014 ; Valenzuela et al., 2013 ; Rana et al., 2012 ; Forest et al., 2012 ; Chaiworapongsa et al., 2014
2. PARTUS NORMAL
Leopold 1
Maneuver pertama untuk mengidentifikasi presentasi janin yang menempati
funsuf uterus.
Leopold 2
Manuever kedua untuk mengidentifikasi posisi punggung dari bayi.
DIAGNOSIS Leopold 3
Maneuver yang dilakukan untuk mengetahui apakah bagian terendah janin
PRESENTASI sudah memasuki jalan lahir dari ibu atau belum.
DAN POSISI Leopold 4
JANIN Maneuver yang dilakukan untuk mengetahui rincian dari maneuver
sebelumnya

Cunningham et al., 2014


Persalinan kala 1
Fase laten
Titik ketika ibu mengalami kontraksi regular, untuk sebagian besar perempuan
berakhir pada dilatasi 3 dan 5 cm
Fase laten memanjang merupakan fase laten yang >20 jam pada nulipara dan >14
jam pada multipara. Faktor yang dapat memengaruhi durasi dase laten meliputi
KARAKTERISTIK sedasi; kondisi serviks yang tidak baik, yaitu tebal, tidak mendatar, atau tidak
berdilatasi; dan persalinan palsu.
PERSALINAN
NORMAL Fase aktif
Batas untuk persalinan aktif dapat ditunjukkan dengan dilatasi serviks 3-5 cm atau
lebih disertai dengan kontraksi uterus. Rata-rata durasi persalinan fase aktif pada
nulipara adalah 4,9 jam, akan tetapi mempunyai standar deviasi yang cukup panjang
yaitu 3,4 jam, sehingga secara statistic nilai maksimumnya adalah 11,7 jam.

Cunningham et al., 2014


Persalinan kala II
Fase ini dimulai ketika dilatasi serviks lengkap dan berakhir dengan pelahiran
janin.

Persalinan kala III


Tanda-tanda pelepasan plasenta:
Uterus menjadi globular dan lebih kaku
KARAKTERISTIK Umumnya sering keluar sejumlah darah yang banyak dan tiba-tiba
PERSALINAN Uterus naik di dalam abdomen karena plasenta
Tali pusat menonjol lebih jauh keluar vagina
NORMAL
Persalinan kala IV
Plasenta, membrane dan tali pusat harus diperiksa kelengkapannya dan ada
tidaknya anomali

Cunningham et al., 2014


3. PARTUS PATOLOGI
Distosia merupakan persalinan yang sulit dan ditandai dengan kemajuan persalinan
yang lambat. Keadaan ini diakibatkan empat abnormalitas, yaitu:
a. Abnormalitas kekuatan mendorong
b. Abnormalitas presentasi, posisi, atau perkembangan janin
c. Abnormalitass tulang panggul ibu
d. Abnormalitas jaringan lunak saluran reproduksi yang menjadi penghambat
untuk penurunan bayi
PARTUS
PATOLOGI

Cunningham et al., 2014


Pola persalinan Nulipara Multipara Penatalaksanaan Penatalaksanaan khusus
Kriteria diagnostik distosia pilihan
Kelainan karena >20 jam >14 jam Tirah baring Oksitosin atau pelahiran
perpanjangan sesaruntuk masalah yang
Fase laten yang memanjang mendesak
Kelainan karena
perlambatan

1) Dilatasi fase aktif yang <1,2 cm/jam <1,5 cm/ jam


melambat
2) Penurunan yang <1 cm/jam <2 cm/jam Menunggu Pelahiran sesar untuk
melambat dukungan CPD
Kelainan karena berhenti 1) Istirahat jika
PARTUS kelelahan
1) Fase deselerasi yang 2) Pelahiran sesar
PATOLOGI memanjang >3 jam >1 jam
2) Berhentinya dilatasi Evaluasi utnuk
sekunder CPD:
3) Berhentinya penuruna CPD: pelahiran
4) Kegagalan penurunan >2 jam >2 jam sesar
Bukan CPD:
oksitosin
>1 jam >1 jam

Tidak ada
penurunan pada
fase deselerasiCunningham et al., 2014
4. ANEMIA
Anemia dalam kehamilan adalah kondisi ibu dengan kadar hemoglobin di bawah
11gr% pada trimester 1 dan 3 atau kadar <10,5 gr% pada trimester 2, nilai batas
tersebut dan perbedaannya dengan kondisi wanita tidak hamil, terjadi karena
hemodilusi, terutama pada trimester 2

Anemia yang sering dijumpai pada kehamilan adalah anemia akibat kekurangan zat
besi yang diakibatkan kurangnya asupan unsur besi dalam makanan. Wanita hamil
butuh zat besi sekitar 40 mg/hari atau 2 kali lipat kebutuhan kondisi tidak hamil.
Jarak kehamilan sangat berpengaruh terhadap kejadian anemia saat kehamilan.
DEFINISI DAN Kehamilan yang berulang dalam waktu singkat akan menguras cadangan zat besi
ETIOLOGI ibu. Pengaturan jarak kehamilan yang baik minimal 2 tahun menjadi penting untuk
diperhatikan

Cunningham. F, 2005 ; Mardiyanti, 2006


Anemia Defisiensi Besi
Defisiensi besi pada wanita hamil berkaitan dengan asupan besi yang tidak
adekuat. Anemia defisiensi besi ditandai dengan penurunan cadangan besi,
konsentrasi hemoglobin atau nilai hematokrit yang menurun. Pada kehamilan,
kehilangan zat besi terjadi akibat pengalihan zat besi maternal ke janin untuk
eritripoiesis, kehilangan darah pada saat persalinan dan laktasi yang jumlah
keseluruhannya dapat mencapai 900 mg atau setara dengan 2 liter darah

Anemia Megaloblastik
JENIS ANEMIA
Defisiensi asam folat sangat umum terjadi pada kehamilan dan merupakan
KEHAMILAN penyebab utama anemia megaloblastik pada kehamilan. Anemia megaloblastik
terjadi karena gangguan sintesis DNA dan ditandai dengan adanya sel-sel
megaloblastik yang khas. Defisiensi asam folat ringan dikaitkan dengan anomali
kongenital janin, terutama defek pada neural tube, kelainan pada jantung,
saluran urine, ekstremitas, dan organ lainnya.

Cunningham. F, 2005 ; Prawirohardjo, 2010


Anemia Hipoplastik
Anemia ini disebabkan oleh hipofungsi sumsum tulang dalam membentuk sel
darah merah baru.

Anemia Hemolitik
Adalah anemia yang disebabkan penghancuran atau pemecahan sel darah
merah yang lebih cepat dari pembuatannya. Wanita dengan anemia hemolitik
akan susah hamil. Apabila ia hamil, maka anemianya biasanya menjadi lebih
JENIS ANEMIA berat.

KEHAMILAN
Anemia-anemia lain
Penyebab-penyebab lain dari anemia antara lain karena malaria, cacing
tambang, penyakit ginjal kronik, penyakit liver, TB, tumor ganas dan sebagainya.
Pada kondisi anemia seperti itu akan menjadi lebih berat pada kehamilan. Hal
ini akan mempengaruhi ibu dan janin.

Cunningham. F, 2005 ; Wiknjosasro, 2002


a. Selama kehamilan kebutuhan tubuh akan zat besi meningkat sekitar 800-
1000mg. Pada kehamilan terjadi peningkatan jumlah sel darah merah yang
dalam prosesnya membutuhkan 300-400 mg zat besi. Janin membutuhkan zat
besi sekitar 100-200 mg dan sekitar 190 mg terbuang selama melahirkan.
Dengan demikian jika cadangan zat besi sebelum kehamilan berkurang, maka
pada saat hamil akan mudah mengalami kekurangan zat besi

b. Anemia defisiensi besi terjadi apabila jumlah zat besi yang diabsorbsi tidak
PATOFISIOLOGI mencukupi kebutuhan tubuh. Pada tahap awal, tubuh akan mengatasi
ANEMIA ketidakseimbangan ini dengan menggunakan cadangan besi. Pada saat
cadangan ini habis maka akan muncul tanda dan gejala anemia defisiensi besi.
KEHAMILAN

Riswan, 2003
c. Berkembangnya anemia dapat melalui 4 tahap:
Tahap pertama disebut dengan kurang besi laten yaitu suatu keadaan
dimana kadar cadangan besi yang berkurang di bawah normal namun besi
di dalam sel darah merah dari jaringan kadarnya masih normal.
Tahap kedua disebut anemia kurang besi dini yaitu penurunan besi
cadangan terus berlangsung hingga hampir habis tetapi zat besi di dalam sel
darah merah dan jaringan belumm berkurang.
Tahap ketiga disebut anemia kurang besi lanjut yaitu besi di dalam sel darah
PATOFISIOLOGI merah sudah mengalami penurunan namun besi di dala jaringan belum.
ANEMIA Tahap keempat disebut dengan kurang besi dalam jaringan yaitu cadangan
besi dalam jaringan sudah banyak berkurang.
KEHAMILAN

Lubis, 2003
a. Pemeriksaan fisik
Gejala yang khas pada anemia kehamilan adalah cepat lelah, sering pusing,
mata berkunang-kunang, malaise, lidah luka, nafsu makan turun, konsentrasi
hilang dan nafas pendek jika sudah parah.

b. Pemeriksaan Laboratorium
Bila kadar Hb <7gr% maka gejala dan tanda anemia akan semakin jelas. Nilai
PENEGAKAN ambang yang digunakan untuk menentukan status anemia ibu hamil
DIAGNOSIS berdasarkan kriteria WHO 2001 ditetapkan 3 kategori yaitu:
a) Normal : 11gr/dl
ANEMIA
b) Anemia ringan : 9-10 gr/dl
KEHAMILAN c) Anemia sedang : 7-8 gr/dl
d) Anemia berat : <7 gr/dl

WHO, 2001
a. Diet tinggi zat besi dan nutrisi yang adekuat
Pada dasarnya zat besi pada makanan terbagi menjadi 2 bentuk. Yang
pertama ada bentuk zat besi heme (didapat dari sumber hewani), kedua
adalah zat besi no heme (didapat dari sumber nabati).

PENATALAKSA b. Pemberian zat besi oral


NAAN Preparat zat besi oral yang biasa diberikan pada ibu hamil adalah ferrous
ANEMIA sulfonat, glukonat dan fumarat. Tujuan pemberian preparat zat besi oral
ini adalah untuk mencapai nilai hemoglobin normal dan memperbaiki
KEHAMILAN cadangan zat besi di dalam tubuh (Riswan, 2003).

WHO, 2001
a. Komplikasi pada wanita hamil: c. Komplikasi anemia pada saat
berat badan kurang persalianan
plasenta previa inersia uteri primer dan
Eklampsia sekunder
ketuban pecah dini janin lahir dengan anemia
tenaga ibu untuk mengejan
menjadi lemah karena ibu cepat
b. Komplikasi pada neonates lelah
KOMPLIKASI Premature
ANEMIA apgar scor rendah
gawat janin
KEHAMILAN
partu premature
perdarahan antepartum
IUGR
asfiksia intrapartum sampai
kematian

Mansjoer et al., 2008


Prognosis anemia kehamilan umumnya baik bagi ibu dan janin. Persalinan
dapat berlangsung seperti biasa tanpa perdarahan banyak atau komplikasi
lainnya

PROGNOSIS
ANEMIA
KEHAMILAN

Wiknjosasro, 2002