You are on page 1of 50

DILEMA ETIKA DAN PROFESI DOKTER

DI ERA PELAYANAN JKN

DOSEN PEMBIMBING:
Dr. Arif Rahman Sadad Sp. F, SH, M.Si.Med, DHM

RESIDEN PEMBIMBING:
Dr . Agung Hadi Pramono
ANGGOTA KELOMPOK

• Marcella Angelica Putri Yosvara FK TRISAKTI


• I Nyoman Herlian Budiman FK TRISAKTI
• Dana Tri Asmara FK UNDIP
• Alkhonsa Adibah FK UNDIP
• Adventina Silalahi FK UNDIP
• Donna Eveline Pandu FK UKI
• Eka Wahyu Apriana FK UKI
• Vincentia Liny Alwina FK UKI
LATAR BELAKANG
Etika medis  kepedulian+tanggung jawab moral
dokter

Hubungan dokter-pasien

Profesi dokter dan BPJS


Rumusan Masalah
• Bagaimana dilema etika dan profesi dokter di era pelayanan JKN?

Tujuan
• Tujuan umum:
• Mengetahui dilema etika dan profesi dokter di era pelayanan JKN.
• Tujuan khusus:
• Mengetahui apa yang dimaksud dengan dilema etika profesi dokter.
• Mengetahui hak dan kewajiban dokter dan pasien.
• Mengetahui pedoman pelaksanaan JKN serta masalah yang terjadi.
• Mengetahui penerapan bioetika profesi dokter dalam pelayanan di era JKN.

Manfaat
• dapat memberikan informasi dan meningkatkan wawasan mengenai dilema etika dan profesi
dokter di era pelayanan JKN bagi pembaca pada umumnya serta dapat meningkatkan
kemampuan dalam menulis referat ilmiah bagi penulis khususnya.
DEFINISI DILEMA
Dilema
• Situasi sulit  mengharuskan orang 
menentukan pilihan

Dilema etik profesi


• Situasi  pekerja profesional menentukan
pilihan bertentangan secara arahan etika.
DEFINSI ETIKA
• Disiplin ilmu yang mempelajari baik buruk
Etika suatu sikap/ perbuatan, dilihat dari moralitas

• Deontologi
Teori etika • Teleologi
KAIDAH DASAR MORAL
a. Kaidah utama
b. Kaidah lainnya
DEFINSI PROFESI DOKTER

Orang yang memiliki


kewenangan+izin  pelayanan
kesehatan (memeriksa+mengobati
penyakit)  menurut hukum .
ETIKA PROFESI DAN DISIPLIN
KEDOKTERAN
Pengawasan dan penilaian etika
profesi :
• IDI
• MKEK
• Komite Medis Rumah Sakit
• Makersi
Pelanggaran Pelanggaran
Etika disiplin

Sanksi Disiplin
Pembinaan

MKDKI

MKEK
HAK DAN KEWAJIBAN
Dokter Pasien

• Hak dokter • Hak pasien


• Kewajiban dokter • Kewajiban pasien
• Kewajiban umum
• Kewajiban dokter terhadap
pasien
• Kewajiban dokter terhadap
teman sejawat
• Kewajiban dokter terhadap
diri sendiri
APA itu JKN ???

Wajib
SJSN JKN
(mandatory)

UU No. 40 Tahun 2004 tentang SJSN


TUJUAN JKN

Memberikan perlindungan kesehatan 


pemeliharaan kesehatan dalam rangka memenuhi kebutuhan
dasar  diberikan kepada setiap orang yang telah membayar
iuran / dibayar oleh pemerintah
PENYELENGGARA JKN
UU N0 40/2004 tentang SJSN & UU No.24/2011 tentang BPJS
Membuat dan supervisi
PESERTA implementasi regulasi
Menyelenggarakan JKN tentang pola dan besaran
dengan mengembangkan tarif, besaran iuran,
sistem pelayanan paket benefit, dll.
kesehatan, sistem kendali
mutu pelayanan dan
sistem pembayaran.

REGULATOR

BPJS
FASKES
KESEHATAN
Memberikan
pelayanan
PRINSIP – PRINSIP PENYELENGGARAAN
Kegotongroyongan

Nirlaba
Keterbukaan, Kehati-hatian, Akuntabilitas, Efisiensi, Dan
Efektivitas
Portabilitas

Kepesertaan Bersifat Wajib

Dana Amanah

Hasil Pengelolaan Dana Jaminan Sosial


HAK PESERTA
• 1. Mendapatkan nomor identitas tunggal peserta.
• 2. Memperoleh manfaat pelayanan kesehatan di fasilitas
kesehatan yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan.
• 3. Memilih fasilitas kesehatan tingkat pertama yang bekerja
sama dengan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial
Kesehatan (BPJS Kesehatan) sesuai yang diinginkan.
• 4. Mendapatkan informasi dan menyampaikan keluhan
terkait dengan pelayanan kesehatan dalam Jaminan
Kesehatan Nasional (JKN).
KEWAJIBAN PESERTA
• 1. Mendaftarkan diri dan membayar iuran.
• 2. Mentaati prosedur dan ketentuan yang telah
ditetapkan.
• 3. Melaporkan perubahan data kepesertaan
kepada Badan Penyelenggara Jaminan Sosial
Kesehatan (BPJS Kesehatan) dengan
menunjukkan identitas peserta pada saat pindah
domisili, pindah kerja, menikah, perceraian,
kematian, kelahiran dan lain-lain.
MANFAAT JAMINAN KESEHATAN
Pelayanan kesehatan di FKTP

Pelayanan kesehatan di FKRTL

Pelayanan promotif dan preventif

Pelayanan alat kesehatan


PEMBIAYAAN JKN
Sumber pendanaan
• Iuran peserta PBI
• Iuran peserta bukan PBI
Mekanisme pembayaran
• Mekanisme pembayaran iuran
• Mekanisme pembayaran ke fasilitas kesehatan
• Mekanisme pembayaran kapitasi
• Mekanisme pembayaran klaim non kapitasi
• Mekanisme pembayran INA CBGs
• Mekanisme pembayaran di luar paket INA CBGs

Metode pembayaran
• Retrospektif
• Prospektif
Peserta

Penyedia
KECURANGAN Petugas
obat dan
JKN BPJS
alat

Pemberi
pelayanan
TINDAKAN KECURANGAN JKN

Pemberi
pelayanan

• FKTP
• FKRTL
FKTP
a. Memanfaatkan dana kapitasi tidak sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan
b. Memanipulasi Klaim dan pelayanan yang dibayar secara
nonkapitasi
c. Menerima komisi atau rujukan ke FKTRL
d. Menarik biaya dari peserta yang seharusnya telah dijamin dalam
biaya kapitasi dan/atau nonkapitasi sesuai dengan standar tarif
yang ditetapkan
e. Melakukan rujukan pasien yang tidak sesuai dengan tujuan
untuk memperoleh keuntungan tertentu
f. Tindakan kecurangan JKN lainnya selalain huruf a sampai dengan
huruf e.
FKRTL
a. Penulisan kode diagnosis yang berlebihan/upcoding
b. Penjiplakan klaim dari pasien lain/cloning
c. Klaim palsu/phantom billing
d. Penggelembungan tagihan obat dan alkes/inflated bills
e. Pemecahan episode pelayanan/services unbundling or fragmentation
f. Rujukan semu/selfs-referals
g. Tagihan berulang/repeat billing
h. Memperpanjang lama perawatan/ prolonged length of stay
i. Memanipulasi kelas perawatan/type of room charge
j. Membatalkan tindakan yang wajib dilakukan/cancelled services
k. Melakukan tindakan yang tidak perlu/no medical value
l. Penyimpangan terhadap standar pelayanan/standard of care
m. Melakukan tindakan pengobatan yang tidak perlu/unnecessary treatment
n. Menambah panjang waktu penggunaan ventilator
o. Tidak melakukan visitasi yang seharusnya/phantom visit;
RUMAH SAKIT
UU No. 44 tahun 2009

HOSPITAL
HOSPITAL
OBLIGATIONS
RIGHTS ???
???
Hak: pasal 30
• menentukan jumlah, jenis dan kualifikasi sumber
daya manusia sesuai dengan klasifikasi Rumah
Sakit;
• menerima imbalasan jasa pelayanan serta
menentukan remunerasi, insentif dan
penghargaan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan;
• melakukan kerjasama dengan pihak lain dalam
rangka mengembangkan pelayanan;
• menerima bantuan dari pihak lain sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan;
• menggugat pihak yang mengakibatkan kerugian;
• mendapatkan perlindungan hukum dalam
melaksanakan pelayanan kesehatan;
• mempromosikan layanan kesehatan yang ada di
Rumah Sakit sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan;dan
• mendapatkan insentif pajak bagi Rumah
• Ketentuan lebih lanjut mengenai promosi layanan kesehatan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf g diatur dengan
Peraturan Menteri.
• Ketentuan lebih lanjut mengenai insentif pajak sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf h diatur dengan Peraturan
Pemerintah.
• Rumah Sakit di Indonesia yang tergabung dalam Perhimpunan
Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) telah menyusun Kode Etik
Rumah Sakit Indonesia (KODERSI), yang memuat rangkuman nilai-
nilai dan norma-norma perumahsakitan guna dijadikan pedoman
bagi semua pihak yang terlibat dan berkepentingan dalam
penyelenggaraan dan pengelolaan perumahsakitan di Indonesia.
Kewajiban: pasal 29
• Setiap Rumah Sakit mempunyai kewajiban:
– memberikan informasi yang benar tentang pelayanan
Rumah Sakit kepada masyarakat;
– memberi pelayanan kesehatan yang aman, bermutu,
antidiskriminasi, dan efektif dengan mengutamakan
kepentingan pasien sesuai dengan standar pelayanan
Rumah Sakit.
– memberikan pelayanan gawat darurat kepada pasien
sesuai dengan kemampuan pelayanannya;
– berperan aktif dalam memberikan pelayanan kesehatan
pada bencana, sesuai dengan kemampuan pelayanannya;
• menyediakan sarana dan pelayanan bagi masyarakat tidak mampu atau
miskin;
• melaksanakan fungsi social antara lain dengan memberikan fasilitas
pelayanan pasien tidak mampu/miskin, pelayanan gawat darurat tanpa
uang muka, ambulan gratis, pelayanan korban bencana dan kejadian luar
biasa, atau bakti social bagi misi kemanusiaan;
• membuat, melaksanakan, dan menjaga standar mutu pelayanan
kesehatan di Rumah Sakit sebagai acuan dalam melayani pasien;
• menyelenggarakan rekam medis
• menyediakan sarana dan prasarana umum yang layak antara lain sarana
ibadah, parker, ruang tunggu, sarana untuk orang cacat, wanita menyusui,
anak-anak, lanjut usia;
• melaksanakan sistem rujukan;
• menolak keinginan pasien yang bertentangan dengan standar
profesi dan etika serta peraturan perundang-undangan;
• memberikan informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai hak
dan kewajiban pasien;
• menghormati dan melindungi hak-hak pasien;
• melaksanakan etika Rumah Sakit;
• memiliki sistem pencegahan kecelakaan dan penanggulangan
bencana;
• melaksanakan program pemerintah di bidang kesehatan baik secara
regional maupun nasional;
• membuat daftar tenaga medis yang melakukan praktik
kedokteran atau kedokteran gigi dan tenaga kesehatan
lainnya;
• menyusun dan melaksanakan peraturan internal
Rumah Sakit (hospital by law)
• Melindungi dan memberikan bantuan hukum bagi
semua petugas Rumah Sakit dalam melaksanankan
tugas;dan
• memberlakukan seluruh lingkungan rumah sakit
sebagai kawasan tanpa rokok.
• Pelanggaran atas kewajiban sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dikarenakan sanksi
administrative berupa:
• teguran;
• terguran tertulis;
• denda dan pencabutan izin Rumah Sakit.
• Ketentuan lebih lanjut mengenai kewajiban
Rumah Sakit sebagaimana dimaksud pada pasal
(1) diatur dengan peraturan Menteri.
PEDOMAN PENILAIAN PELANGGARAN
ETIK KEDOKTERAN
Ciri dan
hakekat Tradisi luhur
Pancasila Prinsip-prinsip
pekerjaan kedokteran
profesi

Hak dan Hukum


kewajiban kesehatan KODEKI LSDI
dokter terkait

Hak dan Pendapat rata- Pendapat pakar-


kewajiban rata masyarakat pakar dan praktisi
penderita kedokteran kedokteran senior.
BENTUK SANKSI
• Hukuman disiplin ringan • Teguran lisan
• Hukuman disiplin sedang • Teguran tulisan
• Hukuman disiplin berat • Pernyataan tidak puas
Jenis secara tertulis
Tingkat
hukuman
hukuman
disiplin
disiplin
ringan

Jenis Jenis
hukuman hukuman
disiplin disiplin
• Penurunan pangkat berat sedang
• Pembebasan dari jabatan • Penundaan kenaikan gaji
• Pemberhentian dengan hormat • Penurunan gaji
• Pemberitahuan tidak dengan hormat • Penundaan kenaikan gaji
DASAR HUKUM
Undang-undang Republik Indonesia No. 29 Tahun 2004 Tentang Praktik
Kedokteran

Kode Etik Kedokteran Indonesia Tahun 2012

Surat Edaran Direktur Jenderal Pelayanan Medik No.YM.02.04.3.5.2504 Tahun


1997 tentang pedoman Hak dan Kewajiban Pasien, Dokter dan Rumah Sakit

PMK No.28 Tahun 2014 tentang Pedoman Pelaksanaan JKN

PMK No. 36 tahun 2015 tentang pencegahan kecurangan (fraud) dalam


pelaksanaan program jaminan kesehatan pada sistem jaminan sosial nasional

Undang-undang No. 44 tahun 2009 tentang hak dan kewajiban rumah sakit

PP no. 30 tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Sipil


Medical Discipline
• Medical discipline is a set of rule and/or clause in application
within service regulation that has to be followed by clinicians
and dentists
• Medical discipline enforcement of rules and/or clause of service
regulation that has to be followed by clinicians and dentists
• Regulated by Bab II KEPUTUSAN KONSIL KEDOKTERAN
INDONESIA nomor 17/KKI/KEP/VIII/2006 tentang Pedoman
Penegakkan Disiplin Profesi Kedokteran
• Form of medical discipline violation according to Keputusan
Konsil Kedokteran Indonesia :
Form of Medical Discipline Violation
• 1. Incompetence in practice
• 2. Not referring a patient to a more competent clinician
• 3. Delegation of duty to a not competent clinician
• 4. Providing unsuitable replacement clinician which don’t have
competence
• 5. Doing clinical practice in a physical or mental condition that can
compromise the patient and resulting in an incompetent practice.
• 6. Doing what shouldn’t have been done or not doing what a
clinician should do according to professional responsibility and
resulting in patient danger
Cont…
• 7. Doing excessive examination or therapy that doesn’t
suit patient needs
• 8. Not giving an honest, ethical, and adequate information
to the patient and family
• 9.Doing medical measures without consent from the
patient or custodian
• 10. Deliberately not writing or keeping medical records
• 11. bmeasures with purpose of ending pregnancy without
indications which are written in Undang-undang and
profession ethics
Cont…
• 12. Doing measures that can end a patient’s life from
his/her own will or from the patient’s family
• 13. Running clinical practice with knowledge or skills or
technology that haven’t been accepted or outside clinical
practice procedures.
• 14. Doing research using human as the subject without
ethical consent
• 15. Not doing first aid according to humanity in a
condition without danger to the rescuer, except there is
another person in charge or more competent person,
Cont…
• 16. Refusing or stopping therapy to a patient without adequate
and valid reasons that is regulated in Undang-Undang or
profession ethics
• 17. Revealing medical secret
• 18. Making medical statement not based on clinical findings
• 19. Participation in torture act or death penalty
• 20. Prescribing or giving narcotics, psychotropics, and other
addicting drugs improperly according to Undang-Undang and
profession ethics
• 21. Doing sexual harassment, intimidating action, or violence in
clinical place
• 22. Using academic or profession title which are not his or her
rights
• 23. Accepting bribery
Cont…
• 24. Advertising skills or services, written or spoken, which
are not right and misleading
• 25. Addiction to drugs, psychotropics, alcohol, and other
addicting drugs
• 26. Doing practice without registration letter or practice
license or having unauthorized certificate of competence
• 27. Dishonesty about medical service
• 28. Not giving information, document, or other evidence
that counsel needs to do an examination of complaints of
alleged violations of discipline.
KASUS 1

Kasus seperti ini sering terjadi akibat ketakutan dari


tenaga kerja di fasilitas kesehatan tingkat I terhadap
Nn. SY 26 tahun mengalami demam hilang timbul teguran BPJS. Sistem rujukan BPJS terlalu ketat dan
selama kurang lebih 1 bulan disertai hilang nafsu dapat memberatkan pasien, karena apabila terlambat
makan dan merasa nyeri di seluruh tubuhnya terutama melakukan rujukan dapat memperburuk keadaan
saat menapakkan kaki ke lantai. Kadar Hb : 8 gr/dl, pasien dan dapat memberatkan biaya pasien. Hal
dokter tidak memberikan rujukan karena sesuai aturan tersebut sebenarnya bisa dihindari jika pemerintah
Sistem Rujuk BPJS, agar dapat dirujuk, kadar Hb harus dapat memilah sistem rujukan BPJS agar tidak
dibawah 7 gr/dl. memberatkan pasien dan dokter, dan dilakukan
pemantauan pada dokter agar tidak terlalu mudah
mengeluarkan surat rujukan.
KASUS 2

Dokter memiliki persepsi bahwa BPJS hanya akan


membuat kerugian bagi negara. Sehingga dokter
tersebut tidak optimal dalam memberikan pelayanan,
Ny. RH (60 tahun) mengidap penyakit tifus. Dokter termasuk dalam melakukan tes laboratorium karena
tidak mau memberikan pelayanan dengan alasan harus berkoordinasi terlebih dahulu dengan pihak BPJS.
pasien adalah pasien BPJS dan telah membuat Negara Kaidah dasar moral yaitu beneficence dan justice,
rugi besar. Dokter tidak memberikan izin untuk dimana seorang dokter yang beretika akan
pemeriksaan laboratorium dengan alasan belum mementingkan kebaikan pada pasien serta berlaku adil
berkordinasi dengan pihak BPJS. untuk semua pasien. Akan tetapi pada kasus diatas
dokter tersebut terbentur oleh sistem dalam
pelaksanaan JKN. Karena tiap pelayanan dokter sudah
diatur dan dibatasi oleh sistem BPJS tersebut.
Kasus 3

Pada era JKN pembiayaan kesehatan benar-


benar diatur sesuai INA-CBG’s, setiap rumah
Tindakan medis yang paket tarifnya dalam INA
sakit terlebih rumah sakit swasta dituntut
CBG’s tergolong minim. Mengingat jumlah
untuk dapat menghemat biaya pelayanan tanpa
pasien JKN semakin banyak untuk mendapat
menurunkan kualitas pelayanan itu sendiri..
pelayanan, pihak rumah sakit berupaya agar
Salah satu cara menjaga kualitas RS adalah
kualitas pelayanan tetap terjaga. Caranya,
dengan membatasi jumlah pasien, padahal
seorang dokter dibatasi hanya melayani paling
menurut kaidah dasar moral beneficence tentu
banyak 40 pasien dalam sehari.
seorang dokter yang beretika tidak pantas
untuk menolak pasien.
KESIMPULAN
Adanya jaminan kesehatan bagi para warga negara  langkah awal 
mendapatkan pengobatan.

JKN  mempengaruhi kualitas dan kuantitas kerja dokter di Indonesia.

Rumah sakit dan pemerintah belum memiliki solusi  sebagai seorang dokter, yang
memiliki pengetahuan dan intelektualitasmenemukan solusi atas dilema ini

Jangan sampai merugikan pasien.


SARAN
Pembenahan dari seluruh aspek  memperkecil
kerugian yang dialami oleh semua pihak baik
dokter, pasien dan rumah sakit y.

Diperlukan dewan pertimbangan klinik benteng


pertama untuk penyelesaian suatu masalah

Pengenalan sistem JKN tentang bagaimana


tatacara pelayanan prosedur.