You are on page 1of 81

Blok IV FK UMY

Bambang Djarwoto
PEMERIKSAAN KEPALA DAN
LEHER
Tujuan
• Apa
• Mengapa
5 star doctor (WHO)
1. Care provider who considers the patient holistically, as an
individual and as part of family and a community, and who
provides high quality continuing care within a doctor-patient
relationship based on mutual respect and trust.
2. Decision maker who choose which technologies to apply in
enhancing care in an ethical and cost-effective fashion.
3. Communicator who is able to promote healthy life – style by
effective explanation and advocacy appropriate to the cultural
and economic context, then by empowering individuals and
groups to improve and protect their health.
4. Community leader who having gained local respect and trust,
can reconcile individual and community health requirements and
initiate action on behalf community.
5. Manager who can work efficiently and harmoniously with
individuals and organizations inside and outside the health care
system to meet the needs of patients and communities.
Clinical Steps
Pendekatan Pengumpulan Anamnesis
pada Data Pemr. Fisik
Penderita Pemr. Jang
Analisis
Data

Wartawan Sintesis Pencatatan


Detektif Data Data
Seniman
Arsitek Diagnosis
Terapi

Pencatatan perkembangan data


S, O, A, P
Tujuan Hidup
Target masa depan

Target jangka panjang (> 10 th)

Target menengah (5-10 th)


Target jangka pendek (2-5 th)

Disiplin yang rutin

Target emergensi
The learning pyramid
(www.arl.org)
• 10% of what they read
• 20% of what they hear
• 30% of what they see
• 50% of what they see and hear
• 70% of what they talk over with others
• 80% of what they use and do in real life
• 95% of what they teach someone else to do
Taksonomi Tujuan Psikomotor
Harrow

NATURALIZATION
ARTICULATION
PRECISION
MANIPULATION
IMMITATION

Melakukan
Merangkaikan aktivitas scr
Melakukan berbagai teratur dan
Menggunakan aktivitas dg teliti aktivitas scr efisien
Meniru aktivitas konsep tsb utk dan benar berkesinam-
yg telah diamati melakukan bungan
aktivitas

P1 P2 P3 P4 P5
(Hersey & Blanchard)

Hubungan tinggi Hubungan tinggi


Tugas rendah Tugas tinggi

PARTISIPASI KONSULTASI
HUBUNGAN

DELEGASI Hubungan rendah Hubungan rendah INSTRUKSI


Tugas rendah Tugas tinggi

TUGAS Tinggi
M4 M3 M2 M1
Mampu & mau Mampu & Tidak mampu & Tidak mampu &
Tidak mau mau Tidak mau
Sikap
Konsep Kaizen:
Konsep hidup yang dihayati orang Jepang
sebagai ”melakukan perbaikan-perbaikan
kecil yang kelihatannya remeh namun
berkesinambungan, terus menerus”.
.. Is the concept many Japanese live by: small,
seemingly insignificant, continual and never
ending improvements.( Bobby De Porter: Quantum Teaching,
1999)
KEPALA
 Anatomi & Fisiologi
 Inspeksi, Palpasi
 Ekspresi wajah: menunjukkan watak dan
emosi, keadaan kesakitan
 Simetri muka: asimetri biasa tampak pada
pasien dengan paresis N.VII
 Warna
 Pertumbuhan rambut (alopesia areata)
RAMBUT
 Alopesia  kerontokan rambut disertai tidak tumbuhnya
rambut (kebotakan).
 Alopesia universalis  bila aloplesia mengenai seluruh tubuh
 Alopesia totalis  bila hanya mengenai seluruh rambut kepala.
 Alopesia areata  kebotakan timbul setempat dan berbatas
tegas.
 Alopesia Androgenika  pada laki2  ditandai kerontokan
rambut kepala secara bertahap mulai dari verteks dan frontal
sejak umur 30  dahi terlihat lebar.
 Efluvium  kerontokan tanpa disertai kebotakan
contoh : setelah pengobatan sitostatika.
 Hipertrikosis kelebatan rambut bertambah pd
tempat yang biasa ditumbuhi rambut

 Pasien miksederma akibat hipotiroidisme 


rambut jarang, kasar, kering dan tampak tak
bercahaya.

 Kanitis senilis uban karena usia tua

 Kanitis prematur uban pada usia muda

 White forelock  uban hanya di jambul dahi,


Alopesia totalis Efluvium

White forelock
WAJAH
 Pucat, ikterus , sianosis  segera tampak pada wajah

 Sianosis  tampak pada kelainan jantung bawaan dg


shunt dari kanan ke kekiri, PPOK, atau hipoksia lainnya.

 Pada pasien lupus eritematosus  eritem kedua pipi


(ruam malar/ Butterfly rash).

 Pasien Lepra  infiltrasi subkutan dahi, pipi, dagu


disertai pendataran dan pelebaran hidung  mirip
singa (facies leonina)
 Pembesaran adenoid  ekspresi wajah dengan mulut
tergantung menganga dagu sedikit kebelakang.

 Dehidrasi  ekspresi orang susah, mata cekung, kulit


kering, telinga dingin  fasies Hipocratic

 Parkinsonisme  wajah tanpa ekspresi (muka topeng).

 Tetanus  spasme tonik pada otot wajah  alis


terangkat, sudut mata luar tertarik keatas, sudut mulut
tertarik kesamping  membentuk wajah risus
sardonikus (muka setan).
• Bells palsy  paralisis N.VII asimetri muka 
tidak bisa siul, saat dahi dikerutkan dahi pada sisi
lumpuh tetap rata, mata sisi lumpuh tidak bisa
menutup.

• Tanda chovstek  kontraksi sudut mulut / sekitar


mata bila dilakukan perkusi pada garis antara
sudut mulut dan telinga  pd pasien spasmofilia.

• Tic fasialis  otot wajah bergerak spontan tak


terkendali.
Periksa sensibilitas wajah  fungsi sensorik N.Trigeminus
(N.V) terdiri:

 Ramus oftalmik  mengurus sensibilitas dahi, mata,


hidung, selaput otak, sinus paranasal dan sebagian
mukosa hidung.

 Ramus maksilaris  sensibilitas rahang atas, bibir atas,


pipi, palatum durum, sinus maksilaris, mukosa hidung.

 Ramus mandibularis  rahang bawah, gigi bawah, bibir


bawah, mukosa pipi, 2/3 bagian depan lidah, telinga
luar, selaput otak.
HIDUNG
 Lakukan pemeriksaan dari kiri dan kanan

 Pemeriksaan luar  perhatikan bentuk  deviasi, depresi


septum, pembengkakan

Pada sifilis  erosi tulang hidung  hidung pelana yang khas

Pada Lupus Eritematosus khas tampak ruam kupu kupu pd


hidung yang sayapnya membentang hingga kedua pipi.
………..hidung

Pemeriksaan rongga hidung  rinoskopi anterior 


spekulum hidung
Untuk hidung bagian belakang  rinoskopi posterior
kaca nasofaring  dapat dilihat sekret dari hidung ke
nasofaring (post nasal drip)
Epistaksis  perdarahan hidung  merupakan gejala 
hipertensi, infeksi, neoplasma, kelainan darah, infeksi
sistemik, dll
……hidung

SINUS PARANASAL  sinus maksilaris, frontalis, etmoidalis,


sfenoidalis  bermuara di hidung

 Pemeriksaan Inspeksi, palpasi, trasnluminasi


 Inspeksi  pembengkakan pipi, kelopak mata bawah (S.
maksilaris), kelopak mata atas (S.frontalis)
 Nyeri tekan pada pipi dan nyeri ketok gigi (S.maksilaris),
medial atap orbita (S.frontalis), kantus medialis (S. etmoidalis)
 Transluminasi  S.maksilaris & S. frontalis
bila gelap pd infra-orbita S. maksilaris terisi pus, menebal
/neoplasma.
S.frontalis  meragukan sinus tidak berkembang baik.
Sinus Paranasal
MULUT
Bibir dan Mukosa Mulut
 Perhatikan warna  pucat, merah atau sianosis
 Bibir tebal  akromegali dan miksederma.
 Bibir kering  demam, avitaminosis
 Luka sudut mulut  ariboflavinosis
 Morbili bercak koplik bercak kecil warna birukeputihan tepi
merah pada mukosa pipi berhadapan gigi molar dekat muara
kelenjar parotis.
 Stomatitis aftosa 1-3 ulkus bundar dangkal, nyeri, dan tidak
mengalami indurasi.
 Oral thrush infeksi kandida albikans  bercak membran putih
 perdarahan jika diangkat .
……mulut

GIGI GELIGI

 Gigi Hutchinson gergaji  sifilis kongenital


 Intokiskasi timah hitam garis timah warna kebiruan
 pd batas antara gusi dan gigi.
 Radang gusi  ginggivitis
 Hiperplasi gusi  leukemia monoblastik akut atau
pengobatan fenitoin
 Pada air minum banyak mengandung fluroida  gigi
berlubang kecil-kecil dan berwarna kuning.
Lidah
 Ukuran lidah  normal, besar (makrofagus), kecil
(mikrofagus).
 Lingua bifida  lidah bercabang
 Parese N. VII  jika dijulurkan belok
 Anemia  lidah pucat
 Dehidrasi  lidah kering,
 Uremia  lidah kering warna kecoklatan
 Demam tifoid  lidah kotor tepi hiperemis, tremor bila
dijulurkan perlahan.
 Demam skarlatina  lidah merah berselaput tipis dengan
papil yang besar  strawberry tongue.
 Depresi sering terdapat bercak seperti peta  geographic
tongue
BAU PERNAFASAN

• Bau nafas aseton  ketoasidosis diabetik /


kelaparan.
• Pada uremia  nafas bau amoniak
• Pada abses paru / higine mulut buruk  bau
busuk (ganggren)
• Ensefalopatik hepatik  bau apek  fetor
hepatikum
• Alkoholisme  bau alkohol
• Kanker rongga mulut busuk yang spesifik
FARING DAN LARING

 Perhatikan tonsil  ukurannya bila fosa tonsil kosong


T0, tonsil normal T1, tonsil > fossa T2, sangat besar
hingga uvula T3.

 Infeksi rongga mulut / saluran nafas atas  komplikasi


abses leher dalam meliputi
‒ abses peritonsil
‒ abses retrofaring
‒ abses parafaring
‒ abses submandibula
‒ angina ludovici (stomatitis ulseromembranosa)
MATA (1)
Pemeriksaan mata dilakukan dengan inspeksi, palpasi dengan
bantuan alat-alat seperti pen-light, funduskopi dan peta
Snellius
• Eksoftalmus: bola menonjol keluar karena fisura palpebra
melebar, misal pada tirotoksikosis
• Enoftalmus: bola mata tertarik ke dalam, misal pada sindrom
Horner
• Tekanan bola mata: naik (glaukoma), turun (dehidrasi)
• Gerakan
• Deviation conjugee: keadaan bola mata keduanya selalu
melihat ke satu jurusan & tidak dapat dilirikkan
• Nistagmus: bola mata bergerak secara ritmis
• Nistagmus yang tidak ritmis (pendular)
MATA (2)
• Kelopak
 Ptosis: kelopak mata tampak jatuh, fissura palpebrae
menyempit. Tampak bengkak muka pada penyakit ginjal
 Xantelasma: bercak kekuningan pada kelopak mata
 Blefaritis: radang pada kelopak mata
 Edema: kelopak mata bengkak, kadang tertutup
 Perdarahan: akibat trauma
• Pupil
 Miosis: pupil mengecil (pinpoint)
 Midriasis: pupil dilatasi
MATA (3)
• Konjungtiva
 Pinguekula: bercak putih kekuningan pada kedua sisi
kornea
 Flikten: nodul kecil, warna abu-abu agak kuning
 Bercak Bitot: bercak segitiga pada kedua sisi kornea, warna
pucat keabu-abuan
 Radang: warna merah, mengeluarkan air mata
 Anemia: warna pucat
• Kornea
 Xeroftalmia: akibat lanjut avitaminosis A, kering & lunak
 Arkus (anulus): garis lengkung putih keabu-abuan
melingkari kornea
 Ulkus: terdapat awan disertai radang
MATA (4)
o Lensa
 Katarak: lensa keruh seperti awan
 Sklera: diperiksa ikterus tidaknya
o Fundus
 Retinopati
 Edema
 Hemoragi
o Visus
 Emetrop: penglihatan sempurna
 Hipermetrop/mata jauh: bayangan jatuh dibelakang retina
 Miop/mata dekat: bayangan jatuh di depan retina
 Presbiop: menurunnya daya akomodasi
 Buta warna: tidak mengenali satu atau beberapa warna
o Lapangan penglihatan
 Hemianopsia: penyempitn lapangan penglihatan
 Skotoma: daerah tidak dapat dilihat pada lapangan penglihatan
xantelesma
TELINGA
• Daun telinga: defomitas, tanda radang, tofi
• Tofi: benjolan keras timbunan Na-biurat pada rawan
telinga
• Liang telinga: serumen, sekret, deskuamasi
• Selaput/gendang telinga: utuh/tidak
• Nyeri tekan di prosesus mastoideus
• Pendengaran: uji bicara keras atau berbisik, garpu
penala
 Tes Rinne
 Tes Weber
MULUT & TENGGOROK (1)
Pemeriksaan dilakukan dengan inspeksi, mencium
bau nafas, bantuan alat (spatula lidah)
• Bibir: pucat, sianosis, fisura, angioedem
 Keilitis: tanda radang pada bibir
 Herpes: vesikula sebesar jarum pentul
• Selaput lendir
 Stomatitis: akibat infeksi
 Afte: lesi kecil (1-10 mm)
 Leukoplakia: bercak keputihan akibat epitel menebal
• Gigi geligi: jumlah, macam karies, abses alveoli
• Lidah:
- berselaput PUTIH: kandida, AIDS
- bergetar,
- basah atau kering
- halus
- berambut
- fisura
- ulser
- karsinoma
• Faringitis eksudativa
• Abses peritonsiler
• Paralisis unulateral N. Vagus
MULUT & TENGGOROK (2)
• Langit-langit
 Palatoskisis: celah pada garis tengah akibat kegagalan
prosesus palatum saling bersatu
 Torus palatinus: ada benjolan pada garis tengah
 Sarkoma Kaposi’s (AIDS)
• Bau pernafasan
 Aseton: pada DM ketoasidosis, kelaparan
 Amoniak: koma uremikum
 Gangren: bau makanan busuk
 Foetor hepatik: koma hepatik
LEHER (1)
Pemeriksaan berorientasi pada Anatomi & Fisiologi :

• M. sternokleidomastoideus
• Trakea
• Manubrium sterni
• Organ-organ arteri/vena/kelenjar di sekitar leher
LEHER (2)
Pemeriksaan Inspeksi, Palpasi, Auskultasi leher:

• Asimetri karena pembengkakan: merata (peny.


Grave’s, Tiroiditis Hashimoto, Goiter),
multinoduler (ggan metabolik), tunggal (kista,
tumor, kanker)
• Pulsasi yang abnormal
• Terbatasnya gerakan leher
• Tumor
• Tortikolis
• Kelenjar limfe
• Kelenjar gondok
• Trakea
Saidel, HM; Ball, JW; Dains, JE; and Benedict, GW. Mosby’s Guide to Physical Examination. Sixth Edition. Mosby
Elsevier.Canada 2006:256.
KELENJAR GETAH BENING

• Pemeriksaan dilakukan dengan inspeksi dan palpasi


untuk menentukan adanya pembesaran kelenjar
getah bening di daerah kepala, leher, supraklavikula,
aksila, lipat paha
pulsasi v. jugularis
terlihat tepat di atas
clavicula
Jarvis, C. Physical Examination & Health Assessment. Fifth Edition. Saunders Elsevier. Canada 2008:283.
Jarvis, C. Physical Examination & Health Assessment. Fifth Edition. Saunders Elsevier. Canada 2008:282.
Jarvis, C. Physical Examination & Health Assessment. Fifth Edition. Saunders Elsevier. Canada 2008:282.
Jarvis, C. Physical Examination & Health Assessment. Fifth Edition. Saunders Elsevier. Canada 2008:283.
Saidel, HM; Ball, JW; Dains, JE; and Benedict, GW. Mosby’s Guide to Physical Examination. Sixth Edition. Mosby
Elsevier.Canada 2006:257.
Swarts, MH. Textbook of Physical Diagnosis History and Examination. Sixth Edition. Saunders Elsevier. America 2010:202.
Saidel, HM; Ball, JW; Dains, JE; and Benedict, GW. Mosby’s Guide to Physical Examination. Sixth Edition. Mosby
Elsevier.Canada 2006:275.
Kelenjar tiroid
Swarts, MH. Textbook of Physical Diagnosis History and Examination. Sixth Edition. Saunders Elsevier. America 2010:202.
Swarts, MH. Textbook of Physical Diagnosis History and Examination. Sixth Edition. Saunders Elsevier. America 2010:202.
Saidel, HM; Ball, JW; Dains, JE; and Benedict, GW. Mosby’s Guide to Physical Examination. Sixth Edition. Mosby
Elsevier.Canada 2006:275.
Arteri Karotis

o Denyut nadi karotis kanan diraba dengan ibu jari


tangan kiri yang diletakkan di samping laring
dekat m. sternokleido-mastoideus.
o Selain itu  diraba dari belakang dengan 4 jari
pada tempat yang sama.
o Pada stenosis aorta  denyut teraba lebih lemah
o Pada insufisiensi aorta  denyut teraba kuat dan
keras.
Saidel, HM; Ball, JW; Dains, JE; and Benedict, GW. Mosby’s Guide to Physical Examination. Sixth Edition. Mosby
Elsevier.Canada 2006:256.
 Pemeriksaan arteri karotis
dengan jempol

Pemeriksaan arteri
karotis dengan cara
lain.
Trakea

o Perhatikan letak  ditengah, atau kesamping.

o Palpasi trakea  letakkan jari tengah pada suprasternal


notch  hati-hati geser jari ke atas dan agak
kebelakang sampai trakea teraba.

o Bila trakea bergeser salah satu ruang di sisi


kontralateral trakea akan lebih luas.

o Pada aneurisme aorta  tracheal tug, yaitu tarikan


tarikan yang teraba sesuai dengan sistole jantung
dengan sedikit dorongan ke atas os krikoid
Saidel, HM; Ball, JW; Dains, JE; and Benedict, GW. Mosby’s Guide to Physical Examination. Sixth Edition. Mosby
Elsevier.Canada 2006:264.
Saidel, HM; Ball, JW; Dains, JE; and Benedict, GW. Mosby’s Guide to Physical Examination. Sixth Edition. Mosby
Elsevier.Canada 2006:264.
Measurement device

Aneroid
sphygmomanometer Simple mercury
sphygmomanometer

Automated bp device
Sebutkan minimal 15 kesalahan!
Referensi

Jarvis, C. Physical Examination & Health Assessment.


Fifth Edition. Saunders Elsevier. Canada 2008:282-
283.
Saidel, HM; Ball, JW; Dains, JE; and Benedict, GW.
Mosby’s Guide to Physical Examination. Sixth Edition.
Mosby Elsevier.Canada 2006:256-275.
TERIMA KASIH