You are on page 1of 18

Asuhan keperawatan pada klien

EKSTRAKSI VAKUM DAN


FORCEPS
Disusun oleh:
Bayu Laksono
Gayuh Widya Utami
Kamelia Firadusi
Imam wahyudi
Sandi F. U
Definisi
Ekstraksi adalah satu persalinan buatan
dimana janin dilahirkan dengan ekstraksi
vakum pada kepalanya. Menurut mansjoer
Arif (1999) tindakan ini dilakukan dengan
memasang sebuah mangkuk (Cup) vakum
dikepala janin dan tekanan negatif. Ekstraksi
vakum adalah tindakan obstetri yang
bertujuan untuk mempercepat kala
pengeluaran dengan sinergi tenaga mengedan
ibu dan ekstraksi pada bayi (Cuningham F,
2002).
Etiologi
1. Kelelahan pada ibu
2. Pastur tak maju
3. Gawat janin
Indikasi
Adanya beberapa faktor baik faktor ibu maupun janin
menyebabkan tindakan ekstraksi porcef/ ekstraksi vakum
dilakukan. Ketidakmampuan mengejan, keletihan,
penyakit jantung (eklampisia), section screa pada
persalinan sebelumnya, kala II yang lama, fetal distress
dan posisi janin oksiput posterior atau oksiput tranverse
menyebabkan persalinan tidak dapat dilakukan secara
normal. Untuk melahirkan secara pervaginaan, maka
perlu tindakan ekstraksi vakum/ menyebabkan terjadinya
toleransi pada serviks uteri dan vagina ibu. Di samping
itu terjadi leserasi pada kepala janin yang dapat
mengakibatkan perdarahan intracranial (Mansjoer, 1999).
Syarat Dari Ekstraksi Vakum
 Janin eterm
 Janin harus dapat lahir pervaginaan (tidak dapat
disproporsi)
 Pembukaan serviks sudah lengkap
 Kepala janin sudah engangaed
 Selaput ketuban sudah pecah atau jika belum,
dipecahkan.
 Harus ada kontraksi uterus atau his dan tenaga
mengejan ibu.
Komplikasi Ekstraksi Vakum
Pada ibu
ekstraksi vakum dapat menyebabkan
perdarahan, trauma jalan lahir dan infeksi.
Pada janin
ekstraksi vakum dapat menyebabkan
ekskoriasi kulit kepala, cepal hematoma,
sublageal hematoma
Definisi Ekstraksi porceps
Ekstraksi porceps adalah tindakan
obstetric yang bertujuan untuk
mempercepat kala pengeluaran dengan
jalan menarik bagian terbawah janin
(kepala) dengan alat porceps. Tindakan ini
dilakukan karena ibu tidak dapat
mengedan efektif untuk melahirkan janin
(Menurut Sumber Dari Buku Pelayanan
Kesehatan Maternal&Neonatal)
Klasifikasi
Pada tahun 1998, ACOG mengeluarkan klasifikasi ekstraksi forsep yaitu:
 Oulet Forsep
1. terlihat pada introitus tanpa memisahkan labia
2. Kepala bayi telah mencapai dasar panggul
3. sutura sagitalis pada posisi anteropposterior atau ubun-ubun kecil kiri/
kanan depan atau belakang
4. Kepala bayi pada perineum
5. Rotasi tidak melebihi 45 derajat
 Low Forsep
1. Kepala pada station ≥+ 2, namun tidak pada dasar panggul
2. Rotasi kurang dari 45 derajat (ubun-ubun kecil kiri/ kanan depan atau
kiri/ kanan belakang atau belakang)
3. Rotasi lebih dari 45 derajat
4. Midforsep
5. Station diatas =2 namun kepala engaged
6. High
7. Tidak di masukkan ke dalam klasifikasi
Indikasi Ekstraksi forceps
 1.Indikasi ibu
 Ruptura uteri mengancam, artinya lingkaran retraksi patologik band
sudah setinggi 3 jari dibawah pusat, sedang kepala sudah turun
sampai H-III-HIV
 Adanya oedema pada vagina atau vulva. aAdanya tanda-tanda infeksi,
seprti suhu badan meninggi , lochia berbau.
 Eklamsi yang mengancam
 Indkasi pinard, yaitu kepala sudah di H IV, pembukaan cervix lenkap,
ketuban sudah pecah atau 2 jam mengedan janin belum lahir juga.
 Pada ibu-ibu yang tidak boleh mengedan lama, misal ibu dengan
decompensasi cordis, ibu dengan cor pulmonal berat, ibu dengan
anemmia berat (Hb 6 gr % atau kurang), pre eklamsia berat, ibu
dengan asma bronchial.
 Partus tidak maju-maju
 Ibu sudah kehabisan tenaga
Next …
2. Indikasi janin gawat janin
Tanda gawat janin antara lain:
 Cortonen menjadi cepat takhicardia 160x/m
dan tidak teratur
 DJJ menjadi lambat bradikardhia < 160x/m
dan tidak teratur.
 Adanya meconium (pada janin letak kepala)
prolapsus funikulli, walaupun keadaan anak
masih baik.
Kontra indikasi Forceps
Kontraindikasi dari ekstraksi forceps meliputi
 Janin sudah lama mati sehingga sudah tidak
bulat dan keras, sehingga kepala sulit
dipegang oleh forcep
 Anencepalus
 Adanya disprporsi cepalo pelvic.
 Pembukaan belum lengkap.
 Pasien bekas operasi vesiko vagina fistel.
 Jika lingkaran kontraksi patologi badl sudah
setinggi pusat atau lebih.
Syarat dilakukan ekstraksi forcep
 Kepala janin enggaged
 Selaput ketuban sudah pecah
 Pembukaan sudah lengkap
 Anak hidup termasuk keadaan gaeat janin
 Penurunan H III atau H IV (puskesmas H IV atau dasar panggul)
 Kontraksi baik
 Ibu kooperatif
 Posisi janin diketahui dengan pasti
 Panggul telah dinilai adekuat
 Terdapat anestesi yang sesuai
 Operatir mempunyai keterampilan dan pengatahuan mengenai peralatan
 Adanya kemauan untuk membatalkan tindakan bila ekstraksi forcep tidak
lancar
 Informed concent baik verbal maupun tertulis
Komplikasi ekstraksi forceps
a. Komplikasi yang dapat terjadi pada ibu
dapat berupa;
 Perdarahan
 Dapat disebabkan karena atonia uteri,
retensio plasenta serta trauma jalan lahir
yang meliputi rupture uteri, rupture
cerviks, robekan forniks, kolporeksis,
robekan vagina , hemtoma luas, robekan
perineum.
ASUHAN KEPERAWATAN TEORI
Pengkajian
 Sirkulasi
 Makanan dan cairan
 Neurosensori
 Nyeri, ketidaknyamanan
 Keamanan
 Seksualitas
Diagnosa Keperawatan
1. Kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan kemajuan tepat
dari persalinan; kurang peralatan yang diperlukan.
2. Resiko tinggi infeksi yang berhubungan dengan invasive berulang,
trauma jaringan, persalianan lama, dan pecah ketuban.
3. Ansietas (ketakutan) yang berhubungan dengan krisi situasi
ancaman yang dirasakan pada ibu atau janin, penyimpangan yang
tidak di antisipasi dan harapkan.
4. Resiko tinggi cedera terhadap janin yang berhubungan dengan
persalinan yang lama, malpresentasi janin, abnormalitas pelvis ibu
dan efek merugikan terhadap intervensi trapeutik.
5. Resiko tinggi defisit volume cairan yang berhubungan dengan
kehilangan vascular berlebihan.
6. Kurang pengetahuan mengenai prosedur ang berhubungan dengan
kurang pemahaman atau tidak mengenal sumber informasi
kesalahan interpretasi informasi.
Intervensi Keperawatan
1. Kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan kemajuan tepat dari
persalinan; kurang peralatan yang diperlukan.
Intervensi:
 Kaji kembali tentang lesi, bentuk, ukuran, jenis, dan distribusi lesi.
 Anjurkan klien untuk banyak istirahat
 Pertahankan integritas jaringan kulit dengan jalan mempertahankan
kebersihan dan kekeringan kulit.
 Laksanakan perawatan kulit setiap hari .untuk mencegah pecahnya vesikel
sehingga tidak terjadi infeksi sekunder, diberikan bedak salisil 2%. Bila
erosive dapat diberikan kompres terbuka.
 Pertahankan kebersihan dan kenyamanan tempat tidur.
 Jika terjadi ulserasi, kolaborasikan dengan tim medis untuk pemberian salep
antibiotic.
Intervensi Keperawatan
2. Resiko tinggi infeksi yang berhubungan dengan invasive berulang, trauma
jaringan, persalianan lama, dan pecah ketuban.
Intervensi:
 Jelaskan tentang penyakit herpes simpleks, penyebab, cara penularan, dan akibat
yang ditimbulkan.
 Anjurkan klien untuk menghentikan kegiatan hubungan seksual selama sakit
dan jika perlu menggunakan kondom
 Beri penjelasan tentang pentingnya melakukan kegiatan seksual dengan satu
orang (satu sama lain saling setia) dan pasanagan yang tidak terinfeksi
(hubungan seks yang sehat).
 Lakukan tindakan pencegahan yang sesuai:
 Cuci tangan sebelum dan sesudah ke semua klien atau kontak dengan
specimen.
 Gunakan sarung tangan setiap kali melakukan kontak langsung dengan klien.
 Anjrkan klien dan keluarga untuk memisahkan alat-alat mandi klien, dan tidak
menggunakannya bersama (handuk, pakaian, baju dalam, dll)
 Kurangi transfer pathogen dengan cara mengisolasi klien selama sakit (karena
penyakit ini disebabkan oleh virus yang dapat menular melalui udara).
Intervensi Keperawatan
3. Ansietas (ketakutan) yang berhubungan dengan krisi situasi
ancaman yang dirasakan pada ibu atau janin, penyimpangan
yang tidak di antisipasi dan harapkan.
 Intervensi:
 Kaji tingkat kecemasan pasien baik ringan sampai berat.
 Berikan kenyaman dan ketentraman hati
 Kaji intervensi yang dapat menurunkan ansietas
 Berikan aktivitas yang dapat mengurangi kecemasan/
ketegangan.
 Dorong percakapan untuk mengetahui perasaan dan tingkat
kecemasan pasien terhadap kondisinya.
 Dorong pasien untuk mengakui masalah dan mengekspresikan
perasaan.
 Identifikasi sumber / orang yang dekat dengan klien