You are on page 1of 25

IMAGING IN ACUTE

STROKE
Disusun oleh :
Melyana Habibie 105070107111035
Meidhyan Ricca Alvinca 105070103111001
Mirban 105070100111091
Danny Rivaldi 1050

Pembimbing :
Dr.
Abstrak

Gambaran radiologis pada stroke akut sangat penting


bagi dokter
American College of Radiology secara kontinu
memperbaharui guideline
Bertujuan membahas secara umum sebagai identifikasi
awal dan tatalaksanan pada pasien stroke
COMPUTED TOMOGRAFI NON-
KONTRAS
Evaluasi cepat memegang peranan
penting.
CT Scan masih menjadi modalitas
utama.
Infark arteri serebri media kiri. CT
aksial memperlihatkan fokus
hipoatenuasi pada sisi white matter
kiri(panah) dan penipisan sulkus pada
ACM kiri, sesuai dengan gambaran
infark.
Tiga Fase pada Stroke
Akut

Subakut

Kronik

CT Scan Non-kontras
• High Attenuating  bekuan, massa,
• Low Attenuating  CSF,cairan
Perdarahan masif subarachnoid dan
intraventrikel. CT aksial
memperlihatkan daerah “terang” luas
atau hiperatenuasi perdarahan
subarachnoid melewati sisterna
perimesenphalic (panah)

Hematoma intraparenkim Karena


hipertensi. CT aksial memperlihatkan
hematoma luas pada basal ganglionik
kanan (*) berisi cairan (panah)
Hematoma intraparenkim dengan
herniasi subfalsin. CT aksial
menunjukkan perdarahan basal
ganglionik kanan (8) dengan efek
massa dan p[ergeseran midline atau
herniasi subfalsin ke kiri (panah)

Hematoma intraparenkim dengan


herniasi subfalsin. Rekonstruksi CT 2-
dimensi coronal dengan angiogram
memperlihatkan herniasi tranfalsin
(panah) ke kiri karena perdarahan
intraparenkim kanan.
Aneurisma arteri basilar. CT angiogram
aksial memperlihatkan aneurisma
arteri basilar (panah)

Aneurisma arteri komunikan


anterior (AcoA). A. CT
angiogram dengan proyeksi
permukaan tengkorak
memperlihatkan aneurisma
arteri komunikan anterior. B.
meperlihatkan gambaran
angiogram secara lebih jelas.
Perdarahan SAH dan intraventrikular
akibat malformasi vaskular. Potongan
sagital angiogram memperlihatkan
malformasi vaskular yang merupakan
penyebab perdarahan intraventrikuler.
Computed tomography
perfusion
Berguna untuk identifikasi area otak yang masih reversibel dalam
kasus ischemic penumbra.

Ischemic penumbra —> penurunan CBF (cerebral blood flow) namun


CBV (cerebral blood volume) normal/meningkat

Saat terjadi stroke —> penurunan CBF (cerebral blood flow) dan CBV
(cerebral blood volume). Penurunan CBF total —> mengindikasikan
adanya area iskemik yang ireversibel.

CT perfusion juga berguna dalam kasus:

Onset stroke yang tidak diketahui


Tidak dapat berkomunikasi saat onset (afasia)
Computed tomography
perfusion
CT perfusion juga berguna dalam kasus:
Untuk evaluasi vasospasme sekunder pada pasien
dengan SAH persisten

Gangguan perfusi pada lobus frontalis dan


temporalis kiri (corak warna menurun)
Computed tomography
perfusion
Kekurangan CT perfusion:
Memerlukan multidetector CT (MDCT) dan paket
perangkat lunak khusus
Harus diatur oleh pakar teknologi terlatih
Jumlah paparan radiasi yang dihasilkan cukup
besar. Apabila setting alat tidak diatur dengan tepat
—> dosis radiasi yang dihasilkan sangat besar
Magnetic Resonance
Imaging (MRI)
MRI konvensional —> kurang bagus untuk deteksi edema sitotoksik atau intrasel
(biasanya muncul dalam kasus stroke akut)

MRI Standar (T1 dan T2) —> bagus dalam mendeteksi edema vasogenik (Muncul
dalam fase stroke subakut)

Fast spin Echo T2-weighted —> menggambarkan area edema yang tidak tamapk dengan
CT

Fluid Attenuation Inversion Recovery (FLAIR) —> menekan sinyal cairan serebrospinal
sehingga bisa tampak dalam kondisi gelap (untuk kasus SAH).

Gradient Recalled Echo (GRE) —> mendeteksi produksi darah (darah akan tampak
berwarna hitam pada gambaran GRE).
MAGNETIC RESONANCE
IMAGING (MRI)
Gambaran Fast spin echo T2-weighted: ada
peningkatan intensitas sinyal dan effacement di
lobus temporalis kanan (sesuai dengan gambaran
infark subakut).

Gambaran GRE MRI menunjukkan


hipointensitas fokal atau yang
dikenal dengan istilah “blooming”
Magnetic Resonance
Diffusion
 MR difusi merupakan suatu diffusion weighted
images (DWI) -> mengukur gerakan molekul air antar
sel.
 DWI -> mendeteksi perubahan iskemik yang terjadi
pada awal-awal (dalam beberapa menit dari onset
struk) -> struk akut; perubahan iskemik awal; edema
sitotoksik
 Hasil yang lebih memuaskan dari MRI -> GOLD
STANDARD kasus struk akut
Manfaat bagi dokter: Pencitraan MR difusi memungkinkan dokter
yang mengevaluasi pasien kompleks dengan defisit neurologis ->
membedakan antara mana yang sebenarnya mempunyai struk
iskemik akut dengan mereka yang tidak -> membedakan struk
dengan penyakit dengan gejala yang mirip dengan struk seperti
hemiplegic migraine headache, Todd’s paralysis (seizure) dan
gangguan saraf kranial atau tepi.
 Sel neuron normal yang tidak mengalami kerusakan -
> mengadakan pertukaran air antar sel yang sehat.
 Struk iskemik akut -> kerusakan sitotoksik ->
kemampuan difusi air pada sel menurun -> akumulasi
air intrasel dalam sel yang mengalami kerusakan.
 Perbedaan kandungan air sel, difusi air antara sel-sel
yang mengalami kerusakan dan sel yang sehat dan
sel iskemik -> MRI difusi.
 Untuk membantu mengidentifikasi daerah yang
iskemik, digunakan apparent diffusion coefficient
(ADC) map.

 Restricted diffusion (ex: infark akut) -> ADC ->


low ADC value (intensitas rendah) -> gelap -> DWI
-> sinyal tinggi (ex: edema vasogenik) -> terang

Hambatan difusi air pada


daerah infark mengakibatkan
peningkatan intensitas sinyal
pada gambaran diffusion-
weighted (A) dan penurunan
sinyal pada pencitraan
diffusion coefficient (B).
Magnetic Resonance Imaging
Perfusion
 Pencitraan perfusi dari otak adalah salah satu
keunggulan dari MR-perfusi

 Identifikasi dari penumbra yang iskemik ->


membantu memandu terapi struk iskemik di
masa
Magnetic Resonance
Angiography
 Magnetic resonance angiograpghy (MRA) dapat dilakukan
kombinasi dengan MRI otak
 Dapat mendeteksi lesi aterosklerosis yang grade tinggi
pada leher dan kepala.
 Membantu mendeteksi penyebab yang tidak umum dari
struk -> diseksi arteri karotis dan vertebrae, dysplasia
fibromuskular, dan thrombosis vena.
 Kontraindikasi: Pasien dengan alat pacu jantung, implant
logam, alergi terhadap kontras, dan pada mereka dengan
Claustrophobia berat.
SONOGRAFI
Transkranial doppler (TCD) dan doppler pembuluh darah —>
modalitas tambahan untuk evaluasi stroke akut

Terutama berguna untuk pasien yang tidak stabil.

Arteri yang dapat dievaluasi dengan paling baik adalah yang


terletak di dasar batang otak (a.serebralis anterior, sifon
karotis, a.vertebralis, a.basilaris, a.oftalmikus).

Fungsi utama TCD:


Mendeteksi dan menghitung stenosis pembuluh darah intrakranial
Mendeteksi oklusi pembuluh darah intrakranial
SONOGRAFI
Fungsi utama TCD:
Mendeteksi aliran darah kolateral
Mendeteksi adanya kejadian emboli
Mendeteksi adanya vasospasme serebral
(terutama setelah terjadi sah)
SONOGRAFI

Gambaran TCD normal. Gambaran doppler berwarna di


a.serebral media kiri menunjukkan aliran dan gelombang
normal, dengan puncak velositas 1.28 m/s/
KESIMPULAN
CT scan tanpa kontras tetap menjadi pilihan modalitas utama dalam
mengevaluasi pasien stroke

CT scan tanpa kontras digunakan sebagai kriteria inklusi untuk


menyingkirkan diagnosa banding pendarahan

CT angiografi —> memberi informasi tambahan perihal stenosis dan


sumbatan pembuluh darah

CT dan MRI perfusion —> menentukan area reversibel dalam kasus


ischemic penumbra

CT dan MRI perfusion —> digunakan saat onset kejadian pasien tidak
diketahui
KESIMPULAN
MRI konvensional —> masih penting untuk evaluasi stroke subakut
(karena kontras jaringan lunaknya yang sempurna)

MRI khusus —> penting untuk menyingkirkan diagnosa banding


pendarahan pada pasien yang dicurigai SAH

Sekuens MRI yang direkomendasikan: T1, T2, FLAIR, GRE

MRA —> mendeteksi penyebab stroke iskemia yang lebih jarang


(misal: diseksi a.karotis dan a.vertebralis, fibromuscular dysplasia, dan
trombosis vena).

Sonografi —> modalitas tambahan untuk evaluasi stroke pada


berbagai kondisi
KESIMPULAN
Sekuens MRI yang direkomendasikan:
T1
T2
FLAIR
GRE (untuk darah)
DWI (untuk iskemia akut)
MRA
PWI (untuk gambaran penumbra)
TERIMA KASIH