You are on page 1of 13

ADAM’S chp.

16

Seizure
Kejang: kondisi di mana terjadi pelepasan • Berdasarkan etiologi: primer/sekunder. Bds
lokasi asal, bentuk klinis: generalisata/fokal. Bds
impuls elektrik terus menerus yg frekuensi: isolated, cyclic, atau berulang atau
menyebabkan otot berkontraksi terus adanya sekuens yg mendekati status epileptikus.
menerus. • Harus dibedakan antara klasifikasi kejang itu
sendiri dgn klasifikasi epilepsi atau sidrom
epilepsi.
• Generelazed seizure dibagi menjadi 2: convulsive
(biasanya tonic-clonic) dan noncovulsive (yg
biasanya kehilangan kesadaran sesaat atau
absence alias bengong termasuk fenomena
motorik minor seperti myoclonic ringan, atonic,
atau kejang tonic).
• Epilepsi: biasanya dimulai dgn kejang lokal dan
berkembang menjadi kejang generalisata yg
tonic-clonic, sering disebut kejang generalisata
tonic-clonic sekunder, secara umum tidak ada
komponen genetik dan merupakan hasil dari
penyakit mendasar – penyakit otak – baik
didapat, kelainan malformasi kongenital atau
kelainan metabolik.
• Kejang fokal – adanya fitur tambahan seperti
pengalaman subjektif yang spesifik (aura),
berhubungan dgn motorik, autonomik, dan gg
kesadaran; yg kemudian disebut sbg kejang
parsial kompleks.
Generalized Seizure
• Generalized tonic-clonic seizure (grand mal)
 Biasanya didahului oleh ‘warning’ kecil atau tidak ada
sama sekali.
 Beberapa kali pasien bisa merasakan saat2 akan
kejang dgn merasakan beberapa fenomena
subjektif (aura) focal s.
 u/beberapa jam pasien tampak apathetic, depresi,
iritabel, atau sebaliknya – terlalu aktif – walaupun
yg terakhir ini jarang terjadi.
 Pada pasien dgn epilepsi generalisata (biasanya
jevenile myoclonic epilepsy)satu atau lebih sentakan
pada lengan atau tungkai pada pagi hari saat
bangun tidur bisa memicu serangan epilepsi di
siang hari.
 Pada lebih dari separuh kasus kejang generalisata,
ada gerakan tertentu selama beberapa detik
sebelum hilang kesadaran (memutar [mungkin
menengokan] kepala dan mata atau sentakan
berselang pada tungkai) yg mana pasien tidak ingat
akan kejadian tersebut.
 Harus dibedakan antara primer dan sekunder, dapat
ditegakan dgn EEG. Kejang generalisata sekunder
ada lesi fokal pada otak. Biasanya pasien kehilangan
kesadaran mendadak, terjatuh, dan bisa
menimbulkan luka pada wajah atau gigi.
• Tanda motorik awal: fleksi lengan,
mulut dan mata terbuka, mata
mendelik ke atas. Lengan terangkat
ke atas terabduksi, sikut sedikit fleksi,
tangan pronasi. Hal2 tsb diikuti dgn
ekstensi protraksi dimulai dari
punggung dan leher, kmd lengan dan
kaki. Bisa terdengar adanya rintihan
yg melengking. Pada spasme tonik,
otot2 pernapasan juga terkena
imbasnya kurang O2  sianosis,
pupil ditalasi dan tidak reaktif thd
cahaya. Berlangsung 10-20’’.
• Ada perubahan fase dari tonik mjd
konik pada tipe convulsion. Ada
tremor generalisata ringan (yg
merupakan relaksasi dari fase
tonik) terjadi gerakan kelojotan
seluruh tubuh disertai dgn ekspresi
wajah ‘menyeramkan’. Denyut
jantung sgt cepat, TD meningkat,
pupil dilatasi, salivasi dan keringat
meningkat, tekanan vu menigkat 6x
lipat dari biasanya. Pasien apneu
sampai fase klonik berhenti. Sentakan
klonik (amplitudo dan frekuensinya)
menurun setelah lewat periode 30’’.
Hal2 di atas dapat dipersingkat dgn
obat2an antikonvulsif.
Absence, Petit Mal Seizure • Serangan yg berlangsung berjam2 tanpa
ada kembalinya status mental di antara
• Singkat, onset cepat, adanya fase tsb  absence/ petit mal status.
penghentian aktivitas motorik. • Berdasarkan temuan EEG absence dpt
Terkadang pasien tidak sadar akan dibagi mjd absence tipikal, atipikal, dan yg
hal tsb sedangkan orang lain melihat unik y.i myoclonic jerk atau eyelid
seolah pasien berpikiran kosong atau myoclonic.
bengong.
• Lennox Gastaut Syn. Biasanya di antara
• Serangan terjadi tiba2, interupsi
kesadaran tiba2. usia 2-6 th, atonik/statik, biasanya diikuti
dgn kombinasi minor motor, tonic-clonic,
• 10% benar2 motion less. Terobservasi
kejang parsial, dan bisa terjadi kelainan
adanya klonik halus (myoclonic) pada
kelopak mata, otot muka, atau jari, intelektual.
atau gerakan sinkron kecil kedua • Kejang myoclonic kontraksi muskular yg
lengan dgn rate 3x/s. singkat dan tidak terlalu berlebihan
• Pasien tidak jatuh, masih melakukan (sekedarnya) pada beberapa otot saja
aktivitas kompleks seperti berjalan (misal otot kelopak mata saja) atau
kaki atau naik sepeda. Pasien tiba2 bahkan bisa sampai seluruh
blank (bicara terputus tiba2, atau tungkai/lengan atau bahkan separuh
menulis terhenti tiba2) dan dalam tubuh.
10-20’’ kembali sadar. Pasien bisa
melanjutkan apa yg sedang dilakukan • Juvenile myoclonic epilepsy pada
sebelumnya bisa juga tidak (cth: remaja biasanya usia sekitar 15 th,
menulis – absence – nulis lagi tapi biasanya pada pagi hari dan bisa terkena
isinya nggak nyambung sama yg seluruh tubuh, generalized tonic-clonic
sebelumnya ditulis). saat bangun pagi terjadi sentakan
myoclonic, absence mungkin ada.
• Kejang fokal terjadi akibat adanya lesi fokal pada
• Kejang fokal yg berkarakteristikan perubahan
korteks otak di baagian2 tertentu. Perbedaan lokasi
kesadaran atau renspon lebih mengarah pada
lesi dapat menyebabkan perbedaan tingkat
perubahan tingkah laku tiba2 yg dapat kembali ke
penurunan kesadaran (kembali/tidaknya). Ditandai
keadaan semula. Pasien biasanya lupa dgn
pula dgn EEG abnormal yg hanya pada daerah
perubahan tingkah laku yg terjadi. Beberapa efek
tertentu pada otak.
emosional dapat terjadi seperti sedih, takut, marah,
• Kejang lobus frontalis (focal motor and Jacksonian dll. Pasien bisa saja berjalan dengan tatapan kosong
seizures) terjadi akibat adanya lesi pada lobus atau melakukan hal2 di luar batas kewajaran (buka
frontalis  kepala dan mata berputar ke arah baju di depan umum, bicara ngawur, dsb) dan pasien
sebaliknya dari lobus yg teriritasi, dan adanya secara jelas tidak berhubungan dengan
ekstensi tonik pada ekstremitas yg berlawanan dgn lingkungannya. Kejang jenis ini bisa terjadi karena
hemisfer yg terdapat lesi, setelah itu bisa diikuti adanya lesi pada lobus temporal.
dgn gerakan klonik generalisata. Bisa juga terjadi
• Amnesic seizures terjadi kehilangan ingatan
hilang kesadaran.
sesaat, manifestasi dari epilepsi lobus temporal.
• Kejang Somatosensoris  kurang peka, tingling,
• Kelainan perilaku dan psikis dgn epilepsi
persaan seperti tertusuk jarum, perasaan seperti
ditemukan adanya hubungan antara penyakit
ada yg merangkak (mungkin perasaan seperti ada
kelainan psikis (depresi, anxiety, dll) dgn epilepsi.
sesuatu yg merangkak di tubuh), kesetrum, atau
Ada beberapa ciri kepribadian yg mengarah pada hal
gerakan dari salah satu anggota tubuh.
tsb di atas seperti sifat yg terlalu kaku, kurang rasa
• Olfactory hallucination  lesi pada lobus temporal humor, emosional, dll.
bag medial
• SUDEP meninggal mendadak yg tidak bisa
• Gustatory hallucination lesi pada lobus temporal dijelaskan karena epilepsi. Hal ini banyak terjadi pada
• Visual seizure lesi di dekat striate cortex di lobus masa dewasa dibandingkan masa kanak2. kematian
occipital bukan dikarenakan luka akibat jatuh yg disebabkan
• Auditory hallucination lesi biasanya di lobus kejang. Biasanya terjadi pada pasien dewasa yg
temporal terutama bag posterior terkena kejang saat tidur dan tidak diawasi atau
• Vertiginous sensation  lesi biasanya di ditata-laksana dgn baik. Kematian bisa dicegah dgn
superoposterior lobus temporal penggunaan obaat anti-epilepsi yg adekuat.
• Rolandic E., Sylvian E. (benign e. of childhood • Febrile Seizure (Kejang Demam) bayi
w/ centrotemporal spikes) unik, self limiting usia 6 bl hgg anak2 usia 5 th, ada riwayat
walaupun EEG sgt abnormal, autosomal keluarga, biasanya tunggal, terjadi kejang
dominan, dimulai antara usia 5-9 th, biasanya motorik generalisata di saat suhu tubuh
nocturnal tonic-clonic seizure dgn onset fokal. mencapai titik tertinggi. Biasanya hanya
Selanjtunya kejang akan berubah mjd bentuk beberapa menit dan EEG biasanya tidak
kontraksi klonik pada satu sisi wajah, jarang ada abnormalitas dan pemulihan baik.
pada satu tangan atau kaki, EEG menunjukan Suhu tubuh biasanya di atas 38o C bisa
high-voltage spikes pada kontralateral lower karena infeksi virus atau bakteri. Harus
rolandic/ centrotemporal area. Kejang dapat dibedakan dgn demam dan kejang akibat
dikontrol dgn antikonvulsan tunggal dan infeksi pada otak (meningitis, ensefalitis)
perlahan menghilangpada dewasa. yg EEG menunjukan abnormalitas baik
• E. w/ occipital spikes benign, tidak ada fokal maupun generalisata.
penyimpangan intelektual, biasanya pada masa • Reflex E.  kejang dapat ‘dibuat’ dengan
dewasa. Gejala klinis tersering: visual beberapa stimuli pada beberapa orang.
hallucination. Gejala lain: perasaan adanya Stimuli tsb al penglihatan (flickering light,
gerakan pada mata, tinnitus, atau vertigo. visual pattern, specific colors (es. Red)),
• Infantile spasm (west syn.) pada bayi dan pendengaran ( startle, suara tertentu,
awal masa kanak2, berulang, single or brief epi. tema musik, dan suara manusia),
Gerakan fleksi yg kasar pada ekstremitas, atau somatosensori (hal2 yg berhubungan dgn
gerakan ekstensi (lebih jarang). Pertama kali tubuh yg dilakukan mendadak misalnya
dilaporkan o/ West pada pertengahan abad 19. ditepuk mendadak), menulis/membaca
memberikan respon baik pada treatment ACTH, beberapa kata/angka (mungkin ada
kortikosteroid atau benzodiazepin ( yg sering beberapa pattern kata atau angka yg
digunakan clonazepam). dibuat sedemikan rupa yg dapat
menimbulkan kejang), dan makan.
• Epilepsia Partialis Continua berupa
gerakan klonik yg terjadi pada sebagian
anggota tubuh seperti wajah, lengan atau
kaki yg dapat terjadi dalam hitungan jam,
hari, bahkan bulan tanpa menjalar ke area
tubuh lain. Otot2 pada bagian distal lebih
sering terkena (misalnya jari2 tangan/ kaki
lebih sering daripada lengan atas/ paha).
Pada EEG ditunjukan adanya abnormalitas
fokal.
• Rasmussen sy.  lesi yg biasanya karena
autoantibodi ensefalitis fokal kronik
intractable focal epylepsi dalam
hubungannya dgn hemiparesis progresif.
Pada korteks otak ditemukan adanya
infiltrasi ringan agen inflamasi di
meningeal dan adanya proses ensefalitis
ditandai dgn penghancuran neuronal,
gliosis, neuronophagia, beberapa derajat
nekrosis jaringan, dan penyempitan
perivaskular. Tata laksana dapat diberikan
kortikosteroid (penelitian Chincilla dkk. 5
dari 8 orang berespon baik dgn terapi
kortikosteroid).
Kejang dgn underlying disease • Global arrest of circulatoin: cardiac arrest,
• Withdrawal seizures: kejang terjadi akibat tercekik/ kegagalan pernapasan, keracunan CO,
konsumsi suatu substansi yg dapat memengaruhi atau hal2 lain yg dapat menyebabkan
kerja otak seperti alkohol, barbiturat, dan ensefalopati hipoksik dapat menyebabkan
benzodiazepin dan beberapa oba2an sedatif terjadinya diffuse myoclonic jerk.
lainnya.
• CVD: tidak umum terjadi serangan kejang pada
• Infection and inflammatory immune conditions: kasus2 CVD (bisa terjadi tapi sangat jarang).
kejang merupakan salah satu tanda klinis pada
kasus meningitis bakterial baik pada anak2 • Seizures w/ acute head injury: umum terjadi
maupun dewasa. Dapat segera didiagnosa dgn pada pasien yg baru mengalami truma kepala.
pemeriksaan fisik y.i demam, saki kepala, dan Biasanya berupa clonic twitching tapi bisa
kaku kuduk. terdapat tonic phase di dalamnya. EEG yg
diperiksa beberapa jam atau hari setelahnya
• seizures in metabolic encephalopathy: uremia
normal dan imaging juga memberikan hasil
sudah dibuktikan sebagai salah satu agen
konvulsif yg dapat mencetuskan kejang. Salah
normal kadang ditemukan adanya kontusio kecil
satu penyakit berkaitan uremia seperti acute (akibat trauma).
anuric renal failure, secara umum dari acute • Seizure in pregnancy: ada 2 jenis pasien:
tubular necrosis, tapi kadang dikarenakan memang memilki penyakit epilepsi atau baru
penyakit glomerular. pernah mengalami kejang pada saat kehamilan.
• Medication as a cause of seizures: dikarenakan Ibu2 dgn epilepsi mungkin bisa terkena
toxic blood level yg tinggi. Beberapa obat yg serangan epilepsi yg tidak berbeda ketika dia
dapat menyebabkan kejang al: imipenem, tidak hamil (namun banyak kasus yg bebas
penggunaan penisili congener dan linezolid dosis kejang).
yg sgt besar, cefepime dalam dosis tinggi, lidokain • Seizures w/ eclampsia: dikarenakan TD terlalu
& aminofilin jika diberikan terlalu cepat, dan obat tinggi ensefalopati hipertensif. Biasanya di
yg digunakan sebagai antikonvulsan pada terapi trimester III, ibu dianjurkan melahirkan dgn op
status epileptikum; propanolol anastetik (delayed caesarean.
effect).
• Status epileptikum: Kejang
generalisata berulang yg
menghalangi kembalinya kesadaran
pada interval di antara kejang
masalah serius epilepsi. Angka
mortalitas keseluruhan 20-30% tapi
mungkin sudah berkurang dalam
beberapa tahun terakhir.
Meninggalnya pasien dikarenakan
kejang yg tidak terkontrol, komplikasi
dari penyakit dasarnya, peningkatan
suhu tubuh, asidosis, hipotensi, dan
gagal ginjal.
• Kejang yg berlangsung lama (>30’)
dapat meningkatkan risiko kerusakan
neurologis.
• Etiologi status epileptikum beragam
pada tiap2 kelompok umur. Pada
orang dewasa: ensefalitis viral atau
paraneoplastik, trauma kepala, dan
epilepsi dgn retardasi mental berat.
Stroke dan tumor otak jarang
menjadi penyebab.