You are on page 1of 21

MADE ADIKOSHA PRANATA

16710087

Latar Belakang
 Retina dan jaras-jaras penglihatan anterior
sering memberi petunjuk diagnostik penting
untuk berbagai gangguan sistem saraf pusat.
 Penyakit intrakranial sering menyebabkan
gangguan penglihatan karena adanya
kerusakan atau tekanan pada salah satu bagian
dari jaras-jaras opticus.
 Pada pembahasan ini akan dijelaskan tentang
kerusakan yang mengenai nervus opticus
karena peradangan.

 Studi epidemiologi dari Sweden dan Denmark menunjukan kejadian neuritis optikus berkisar 4-5 per 100. neuritis optikus biasanya bersifat unilateral dan lebih banyak pada wanita (2:1). .  Pada predileksi umur dewasa muda 20-45 tahun.000 populasi.  Dari segi ras. ras kaukasian lebih banyak terkena dibanding ras lain. dengan insidensi tertinggi pada populasi yang tinggal di dataran tinggi.

A. Anatomi .

Penyakit intracranial: meningitis. Etiologi  Demielinatif (Idiopatik. Sifilis. Penyakit sinus.B. Lupus eritematosus sistemik)  Infeksi langsung (Herpes zoster. Penyakit orbita. Tuberculosis)  Penyakit peradangan sekitar (Peradangan intraocular. ensefalitis) . Sklerosis multiple)  Diperantarai imun (Neuritis optik pascainfeksi virus. Neuritis optik pascaimunisasi.

sama seperti MS. Aktivasi sel T menyebabkan pelepasan sitokin dan agen-agen inflamasi yang lain. tetapi mekanisme spesifik dan antigen targetnya belum diketahui.  Dipercaya bahwa demielinisasi yang terjadi pada Neuritis optikus diperantarai oleh imun. . Patofisiologi  Dasar patologi penyebab neuritis optikus paling sering adalah inflamasi demielinisasi dari saraf optik. Aktivasi sel B melawan protein dasar mielin tidak terlihat di darah perifer namun dapat terlihat di cairan serebrospinal pasien dengan  Neuritis optikus. Neuritis optikus juga berkaitan dengan kerentanan genetik.  Aktivasi sistemik sel T diidentifikasi pada awal gejala dan mendahului perubahan yang terjadi didalam cairan serebrospinal.C.

.  Hampir semua defek lapangan pandang dapat terjadi. tetapi dengan perimetri manual.1. dengan awitan terbanyak pada decade ketiga dan keempat kehiduan. berkembang setelah 2-7 hari.  Hilang penglihatan umumnya bersifat subakut. neuritis optik demielinatif idiopatik biasanya bersifat unilateral dan terutama mengenai wanita (3:1). Neuritis Optik Demielinatif Idiopatik  Pada orang dewasa.  Rasa nyeri di bagian mata didapatkan pada lebih dari 90% kasus dan sekitar 50% pasien melaporkan bahwa nyeri diperburuk dengan pergerakan mata. Berdasarkan etiologinya 1.D. yang paling sering terlihat adalah skotoma sentral. Klasifikasi D.

penyebabnya tidak diketahui. dapat timbul serangan berulang.  Selain gangguan pada mata. inkoordinasi tungkai dengan tremor intensi.2. Neuritis Optik-Sklerosis Multipel  Sklerosis multipel khasnya adalah suatu penyakit demielinasi pada sistem saraf pusat yang sering kambuh dan remisi. mungkin ditemukan kelemahan motorik disertai tanda-tanda piramidal. gangguan berkemih dan/atau buang air besar dan gangguan sensorik. disartria. khususnya parestesia. ataksia. .  Neuritis optic mungkin merupakan manifestasi yang pertama.

 Pada papil terlihat perdarahan. Papillitis  Papilitis merupakan radang pada serabut retina saraf optic yang masuk pada papil saraf optic yang berada dalam bola mata. dengan perubahan pada pembuluh darah retina dan arteri menciut dengan vena yang melebar.  Terdapat tanda defek pupil aferen bila mengenai satu mata atau kelainannya tidak sama berat pada kedua mata. . Berdasarkan Lokasi 1.2. eksudat.  Penglihatan pada papilitis akan tergangu dengan lapangan pandang yang menciut. skotoma sentral. sekosentral.D. bintik buta melebar.

 Rekurensi dari papilitis dapat berakhir dengan gangguan fungsi penglihatan yang lebih nyata.  Pada proses penyembuhan kadang-kadang tajam penglihatan sedikit menjadi lebih baik atau sama sekali tidak ada perbaikan. .  Kedua atrofi ini memperlihatkan papil yang pucat dengan batas yang kabur akibat terdapatnya jaringan fibrosis disertai dengan arteri yang menciut berat dengan selubung perivascular. Bila terjadi atrofi papil pasca papilitis akan sukar dibedakan dengan atrofi papil akibat papil edema.

. Neuritis Retrobulbar  Neuritis retrobulbar adalah radang saraf optic dibelakang bola mata. Rasa sakit akan bertambah bila bola mata ditekan yang disertai dengan sakit kepala.  Bola mata bila digerakkan akan terasa berat di bagian belakang bola mata. anemia pernisiosa.2.  Biasanya berjalan akut yang mengenai satu atau kedua mata. penyakit myelin saraf.  Neuritis retrobulbar dapat disebabkan sklerosis multiple.

 Diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan lapangan pandang dan turunnya tajam penglihatan yang berat.  Pada pemeriksaan lapangan pandang ditemukan skotoma sentral. parasentral . Neuritis retrobulbar mempunyai gejala seperti neuritis akan tetapi dengan gambaran fundus yang normal.

E. Diagnosis Gejala Subjektif :  Tajam penglihatan mendadak turun (jam-hari)  Biasanya pada 1 mata saja (unilateral)  Usia : 18-45 tahun  Nyeri di orbita terutama saat pergerakan mata  Bisa disertai gejala neurologi (kelemahan. kekakuan pada ekstremitas) atau infeksi virus .

Gejala Objektif :  Visus yang turun mendadak dalam hitungan jam-hari  Defek lapangan pandang. adanya Relative afferent pupillary defect (RAPD)  Penglihatan warna defisiensi  Persepsi intensitas cahaya menurun. . biasanya berupa skotoma sentral atau sentrosekal  Refleks pupil.

4. 3. Pungsi lumbal bersama dengan MRI biasanya untuk dilakukan pada pemeriksaan sklerosis multipel. Pungsi lumbal dan pemeriksaan darah  Pemeriksaan darah untuk melihat adanya proses infeksi atau inflamasi. Perimeter. . MRI (magnetic resonance imaging)  MRI diperlukan untuk melihat nervus opticus dan korteks serebri.Pemeriksaan Penunjang 1. Swinging Flash Light Test  Untuk memeriksa adanya Relative afferent pupillary defect (RAPD). 5. Pemeriksaan lapangan pandang  Uji Tangent screen. Hal ini dilakukan terutama pada kasus- kasus yang diduga terdapat sklerosis multipel. Funduskopi 2.

Tumor Orbita.F. Neuropati Optik 3. Papiledema Iskemik 2. . Diagnosa Banding 1.

tapering dosis. dilanjutkan dengan prednison oral/mg/kgBB/hari selama 11 hari.G. Penatalaksanaan 1. . Visus ≥ 20/40 (6/12) : Observasi 2. Visus ≤ 20/50 (6/15) :  Observasi atau  Metilprednisolon 250 mg IV tiap 6 jam selam 3 hari.

Prognosis  Pada neuritis optic demielinatif idiopatik. kekambuhan dan remisi merupakan ciri khas penyakit ini. memiliki prognosis yang lebih baik. tanpa terapi. .  Visus yang lebih buruk pada serangan akut berhubungan dengan hasil penglihatan yang lebih buruk.H. penglihatan secara khas mulai membaik dalam 2-3 minggu setelah awitan dan kadang-kadang membaik dalam beberapa hari. Sklerosis multipel yang manifestasi awalnya adalah neuritis optik dan bukan penyakit batang otak atau medula spinalis.  Perjalan penyakit sklerosis multipel ini sulit ditebak.

neuritis optikus seringkali unilateral. diskus optik terlihat hiperemis dan membengkak. Adanya defek pupil aferen relatif merupakan gambaran umum dari neuritis optikus. persepsi warna yang terganggu. yang menyebabkan penurunan tajam penglihatan secara akut dan biasanya melibatkan satu mata (unilateral). Terdapat subtipe dari neuritis optikus.Kesimpulan  Neuritis optik merupakan peradangan atau inflamasi pada saraf optic.  Pasien mengeluh adanya pandangan yang turun mendadak adanya bintik buta. perbedaan subjektif pada terangnya cahaya. yaitu neuritis retrobulbar dan papilitis. serta ada juga yang beberpa keadaan atau penyakit yang penyebab dari neuritis optikus yaitu penyebab idiopatik. . multipel sklerosis (MS).

kekambuhan dan remisi merupakan ciri khas penyakit ini. . Pengobatan neuritis optikus dapat dilakukan dengan pemberian kombinasi steroid oral. serta interferon  dan glatiramer acetat disesuaikan dengan tingkat keparahan penyakit. memiliki prognosis yang lebih baik. penglihatan secara khas mulai membaik dalam 2-3 minggu setelah awitan dan kadang-kadang membaik dalam beberapa hari. Sklerosis multipel yang manifestasi awalnya adalah neuritis optik dan bukan penyakit batang otak atau medula spinalis. Perjalan penyakit sklerosis multipel ini sulit ditebak.  Pada neuritis optic demielinatif idiopatik. intravena. tanpa terapi.