You are on page 1of 18

Denara Eka Safitri 04054821719031

Pembimbing: dr. Afriani, Sp.S

afasia juga terjadi pada mereka yang mengalami cedera otak. dan emosi  gangguan  AFASIA  Di Amerika. . dan terutama pasien neurodegeneratif  Pasien tidak mampu untuk mengerti lingkungan dan mengekspresikan diri sehingga dokter harus waspada dalam menangani karena setiap penyakit yang terdapat pada pasien agar dapat terdiagnosis dan ditatalaksana dengan baik. kognisi.BAB I PENDAHULUAN  Bahasa adalah fungsi luhur yang paling utama bagi manusia selain fungsi daya mengingat. tumor. persepsi. afasia banyak dijumpai pada 20% penderita stroke. Namun tidak menutup kemungkinan.

maupun tertulis atau ketidakmampuan untuk memahami komunikasi tersebut atau hilangnya kemampuan berbahasa This Photo by Unknown Author is licensed under CC BY-NC-ND . BAB II TINJAUAN PUSTAKA DEFINISI Afasia didefinisikan sebagai hilangnya kemampuan berkomunikasi dengan lisan. isyarat.

ANATOMI DAN FISIOLOGI .

.  Afasia banyak ditemukan pada usia pertengahan dan lebih banyak didapatkan pada wanita dari pada laki-laki.000 orang setiap tahunnya menderia afasia akibat penyakit stroke.  80.000 kasus afasia setiap tahun nya di USA dan sekitar 1 juta orang atau 1 dari 250 orang saat ini menderita afasia.EPIDEMIOLOGI  Berdasarkan laporan National Institute on deafness and other communication disorder (NIDCD) tahun 2015 didapatkan 180.

ETIOLOGI  Stroke  Tumor otak  Sindrom Landau-  Cedera otak  Demensia Kleffner traumatik  Alzheimer  Sindrom afasia  Perdarahan otak epilepsi acquired.  Parkinson disease akut  Obat-obatan .

.

Penderita tidak dapat mengerti bahasa sehingga tidak dapat berbicara kembali. tetapi isi bicara tidak bermakna dan tidak dapat dimengerti artinya. Gambaran klinisnya ialah:   Keluaran bicara yang lancar   Panjang kalimat normal   Artikulasi dan irama bicara baik   Terdapat parafasia   Kemampuan memahami pendengaran dan membaca buruk   Repetisi terganggu   Menulis lancar tadi tidak ada arti . artikulasi dan irama baik.LANCAR  Pada afasia ini penderita bicara lancar.

menyebut nama benda buruk .  Gambaran klinisnya ialah:   Pasien tampak sulit memulai bicara   Panjang kalimat sedikit (5 kata atau kurang per kalimat)   Gramatika bahasa berkurang dan tidak kompleks   Artikulasi umumnya terganggu   Irama bicara terganggu   Pemahaman cukup baik.TIDAK LANCAR  Pada afasia ini. Penderita menggunakan kalimat pendek dan bicara dalam bentuk sederhana. tapi sulit memahami kalimat yang lebih kompleks   Pengulanan (repetisi) buruk   Kemampuan menamai. output atau keluaran bicara terbatas. Sering disertai artikulasi dan irama bicara yang buruk.

KLASIFIKASI .

Wernicke AFASIA Broca Global Konduktif Transkortikal Talamik Anomik .

AFASIA Motorik Sensorik Transkortikal motorik Transkortikal sensorik .

Anamnesis Pemeriksaan fisik Pemeriksaan penunjang AFASIA .

menggantikan sel-sel yang telah obat yang digunakan untuk penyakit rusak. dan stimulan telah dicoba.Medikamentosa Non Medikamentosa  Pengobatan afasia dianggap  Penanganan yang paling efektif untuk eksperimental. obat dopaminergik. Salah satu rehabilitasi untuk Alzheimer belum terbukti bermanfaat mengatasi gangguan berbicara dan berbahasa adalah dengan speech therapy . melakukan terapi wicara/bina wicara namun tidak ada manfaat yang jelas  Tujuan dari rehabilitasi ini adalah yang ditunjukkan pada percobaan untuk melatih sel-sel yang tidak rusak besar. Pada afasia progresif primer. mengobati afasia adalah dengan kolinergik.

Sebagai contoh. .  Stimulation-Fascilitation Therapy Jenis terapi afasia ini lebih fokus pada semantik (arti) dan sintaksis (sususan kalimat) dari bahasa. Termasuk gambar gambar dan musik. beberapa latihan akan mengharuskan pasien untuk menginterpretasikan karakteristik dari suara dengan nada emosi yang berbedabeda. peningkatan kemampuan berbahasa akan lebih baik jika dilakukan dengan pengulangan." Latihan-latihan seperti ini akan membantu pasien mempraktekkan kemampuan komprehensif sementara tetap fokus pada pemahaman komponen emosi dari bahasa. Prinsip terapi ini yaitu. Ada juga yang meminta pasien mendeskripsikan arti kata seperti kata "gembira.  Program stimulus Jenis terapi ini menggunakan berbagai modalitas sensori. Stimulus utama yang digunakan selama terapi adalah stimulus audio. Terapi kognitif linguistik Bentuk terapi ini menekankan pada komponen-komponen emosional bahasa.

Benda-benda ini akan digunakan oleh pasien sebagai sumber ide untuk dikomunikasikan dalam percakapan. jenis terapi ini akan menggunakan lukisan- lukisan. pasien disediakan konteks sosial untuk mempraktekkan kemampuan berkomunikasi yang telah mereka pelajari selama sesi pribadi. Selain itu. mereka juga akan mendapatkan umpan balik dari para terapis dan pasien lainnya. pasien akaan terlibat percakapan dengan terapis. serta benda-benda visual. Terapi kelompok (group therapy) Dalam terapi ini. Dengan menekan fungsi dari bagian otak tersebut.  Transcranial Magnetic Stimulation (TMS). maka pemulihan diharapakan akan semakin cepat. Terapi ini dilakukan dengan mendekatkan magnet langsung ke area otak yang diduga menghambat pemulihan kemampuan berbahasa setelah stroke. Pasien dan terapi secara bergiliran akan menyampaikan ide-ide mereka. Untuk menstimulus komunikasi yang spontan.  PACE (Promoting Aphasic's Communicative Effectiveness). . Dalam terapi ini. gambar.

Suatu tumor otak dapat dihubungkan dengan angka harapan hidup yang kecil. sedangkan afasia dengan stroke minor mungkin memiliki prognosis yang sangat baik. . Prognosa hidup untuk penderita afasia tergantung pada penyebab afasia.

Terapi utama dari afasia adalah terapi berbicara. tumor otak. seorang dokter harus dapat mendiagnosa afasia dengan tepat. baik dari segi pembuatan diagnosis afasia maupun dari segi mengklasifikasikan afasia tersebut karena setiap jenis afasia dapat membutuhkan penatalaksanaan yang berbeda. . dan penyakit neurodegeneratif. cedera kepala.BAB III KESIMPULAN Afasia merupakan penyakit penyerta dari berbagai penyakit neurologis lain seperti stroke.