You are on page 1of 17

CONSERVATION

hachery (penyu hijau & jenis2 ikan lainnya) © 2014 R Taufan Unsoed . In situ Ex situ In situ:  Pelestarian insitu adalah pelestarian yang dilakukan di habitat aslinya. Ex: Kawasan Konservasi Laut Ex situ:  Pelestraian ex situ adalah pelestarian yang dilajukan di luar habitat aslinya.  Ex : kebun binatang.

.In-situ  Pada metode konservasi in situ spesies target dijaga di dalam ekosistem di mana spesies berada secara alami.  tataguna lahan terbatas pada kegiatan yang tidak memberikan dampak merugikan pada tujuan konservasi habitat.  regenerasi spesies target tanpa manipulasi manusia.

analisis biologi. pembibitan atau perbanyakan benih/bibit. berbagai kajian teknik pembenihan. . analisis vegetasi dan kajian ekofisiologinya.  Ex situ. In situ :dapat berupa survey langsung di habitat aslinya.

The advantages of in situ conservation  The species will have all the resources that it is adapted too  The species will continue to evolve in their environment  The species have more space  Bigger breeding populations can be kept  It is cheaper to keep an organism in its natural habitat © 2014 R Taufan Unsoed .

g. However there are problems  It is difficult to control illegal exploitation (e. Illegal fishing)  The environment may need restoring and alien species are difficult to control © 2014 R Taufan Unsoed .

.

.

.

Unregulated (IUU) .Illegal. Unreported.

.

Kebutuhan ikan dunia (demand) meningkat Pasokan ikan dunia menurun.Secara garis besar faktor penyebab illegal fishing dapat dikategorikan menjadi beberapa faktor : 1. . Hal ini mendorong armada perikanan dunia berburu ikan di manapun dengan cara legal atau illegal. terjadi overdemand terutama jenis ikan dari laut seperti Tuna.

Fishing ground Fishing ground di negara-negara lain sudah mulai habis. sementara di Indonesia masih menjanjikan. 3. Disparitas (perbedaan) harga Harga ikan segar utuh (whole fish) di negara lain dibandingkan di Indonesia cukup tinggi sehingga membuat masih adanya surplus pendapatan.2.  . padahal mereka harus mempertahankan pasokan ikan untuk konsumsi mereka dan harus mempertahankan produksi pengolahan di negara tersebut tetap bertahan.

Kemampuan Pengawasan Rendah Laut Indonesia sangat luas dan terbuka. Luasnya wilayah laut yang menjadi yurisdiksi Indonesia dan kenyataan masih sangat terbukanya ZEE Indonesia yang berbatasan dengan laut lepas (High Seas) telah menjadi magnet penarik masuknya kapal-kapal ikan asing illegal fishing.4. . di sisi lain kemampuan pengawasan khususnya armada pengawasan nasional (kapal pengawas) masih sangat terbatas dibandingkan kebutuhan untuk mengawasai daerah rawan.

Hal ini kurang cocok jika dihadapkan pada kondisi faktual geografi Indonesia.5. . Sistem pengelolaan perikanan dalam bentuk sistem perizinan saat ini bersifat terbuka (open acces). pembatasannya hanya terbatas pada alat tangkap (input restriction). khususnya ZEE Indonesia yang berbatasan dengan laut lepas.

Hal ini. Sebagai gambaran. baru terdapat 578 Penyidik Perikanan (PPNS Perikanan) dan 340 ABK (Anak Buah Kapal) Kapal Pengawas Perikanan. Terbatasnya SDM dan Sarana Prasarana Masih terbatasnya sarana dan prasarana pengawasan serta SDM pengawasan khususnya dari sisi kuantitas. . tentunya sangat belum sebanding dengan cakupan luas wilayah laut yang harus diawasi.6. sampai dengan tahun 2008. Jumlah tersebut. lebih diperparah dengan keterbatasan sarana dan prasarana pengawasan.

dan komitmen operasi kapal pengawas di ZEE. terutama dalam hal pemahaman tindakan hukum.7.. . Persepsi dan langkah kerjasama aparat penegak hukum masih dalam penanganan perkara tindak pidana perikanan masih belum solid.