You are on page 1of 38

REFERAT

RHINORRHEA
IGNATIUS ABIMANYU PUTRA
1420221154
FAKULTAS KEDOKTERAN UPN “VETERAN” JAKARTA
KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN THT –KL
RSUP PERSAHABATAN

Rhinorrhea
• ‘Rhinos’ yang berarti hidung dan ‘rrhea’ yang berarti
cairan.

• Rinorrhea dapat didefinisikan sebagai keluarnya cairan
dari hidung atau sering disebut pilek.

• Sering muncul dari alergi atau penyakit tertentu dan
menjadi gejala umum dalam demam atau common cold.

• Cairan yang keluar dapat berwarna jernih, hijau ataupun
coklat.

Patofisiologi
• Secara histologis, mukosa hidung dilapisi dengan epitel
kolumnar yang bersilia dan mengandung sel goblet
serta kelenjar serosa dan mukosa.
• Apabila terjadi peradangan, akan terjadi hipersekresi
dan kerja silia terganggu.
• Pada fraktur basis cranii akan terjadi bocornya cairan
serebrospinal yang akan mengalir ke hidung

Klasifikasi • Infeksi • Non Infeksi dan Non – Penyebab: alergi • Bakteri – Rhinitis Vasomotor • Virus – Rhiniris • Jamur Medikamentosa – Rhinosinusitis – Rhinitis Hipertrofi – Rhinitis ec cairan serebrospinal • Alergi – Rhinitis Alergi – Sinusitis .

Anatomi .

.

.

.

dan sepertiga atas septum. sel basal dan sel eseptor penghidu. • Mukosa dilapisi oleh epitel torak berlapis semu tidak bersilia. yaitu sel penunjang. • Mukosa pernapasan terdapat pada sebagian besar rongga hidung dan permukannya dilapisi oleh epitel torak berlapis semu yang bersilia dan diantaranya terdapat sel-sel goblet. . • Epitelnya dibentuk oleh tiga macam sel. konka superior. • Mukosa penghidu terdapat pada atap rongga hidung. Histologi • Rongga hidung dilapisi:mukosa pernapasan (respiratori) dan mukosa penghidu (olfaktorius).

Histologi • Daerah mukosa penghidu berwarna coklat kekuningan. menjadi sel epitel skuamosa. kelenjar mukosa dan jaringan limfoid. . • Dalam keadaan normal. Pada bagian yang lebih terkena aliran udara mukosanya lebih tebal dan kadang- kadang terjadi metaplasia. • Di bawah epitel terdapat tunika propria yang mengandung pembuluh darah. mukosa respiratori berwarna merah muda dan selalu basah karena diliputi oleh palut lendir (mucous blanket) pada permukaannya.

.

Rhinitis Virus • Etiologi – Myxovirus – Virus Coxsackie – Virus ECHO • Gejala Klinis – Hidung kering. panas dan gatal – Bersin berulang – Hidung tersumbat – Ingus encer apabila kental sudah terjadi infeksi sekunder oleh bakteri – Demam – Nyeri kepala • Penatalaksanaan – istirahat – obat simtomatis – antibiotik jika terinfeksi skunder bakteri .

Rhinitis Jamur • Etiologi – Aspergillus – Candida – Histoplasma – Fussarium • Gejala Klinis – non-invasif • menyerupai rinolit (gumpalan jamur) dengan inflamasi mukosa yang lebih berat • tidak terjadi destruksi kartilago dan tulang – invasif • ditemukan-nya hifa jamur di lamina propria • perforasi septum atau hidung pelana • sekret mukopurulen • ulkus/perforasi pada septum dan disertai dengan jaringan nekrotik berwarna kehitaman (Black Eschar) .

Rhinitis Jamur • Pemeriksaan – Secret mukopu-rulen – Ulkus – Perforasi septum disertai nekrotik kehitam-an (black eschar) • Penatalaksanaan – pembedahan – debridement – Antifungal  Amfoterisin B .

Rhinosinusitis • Inflamasi pada mukosa hidung dan sinus paranasal : • Bisa terdapat nyeri pada muka/tekanan • Bisa terdapat penurunan penghidu • Terdapat salah satu tanda endoscopi: – Polip nasal – Cairan mukopurulen dari meatus medius – Edem/obstruksi mukosa primer pada meatus medius • Bisa terdapat hasil CT-Scan: – Perubahan mukosa dengan kompleks osteomatal dan atau sinus .

Rhinosinusitis – Rhinosinusitis akut (RSA). jika memenuhi kriteria sebagai berikut: • Gejala berlangsung <12 minggu • Terdapat 2 atau lebih dari gejala: – Gejala hidung tersumbat – Keluar sekret pada hidung – Nyeri pada wajah – Berkurangnya fungsi penghidu .

– Rhinosinusitis Post Viral Akut apabila setelah 10 hari penyembuhan fase akut terjadi perburukan dan bertahan setelah 5 hari atau persisten selama lebih dari 10 hari. – Rhinosinusitis viral akut (common cold). .• Penyebab rhinosinusitis akut dibedakan menjadi virus dan bakteri. umumnya durasi < 10 hari.

– Rhinosinusiti bakteri. secara klinis dapat ditegakkan apabila ditemukan minimal tiga gejala atau lebih tanda berikut: • Ingus purulen (umumnya unilateral) • Nyeri berat lokal (biasanya unilateral) • Demam >380 • Peningkatan laju endap darah (LED) atau C-reactive protein (CRP) • Adanya perburukan gejala setelah 5 hari .

berkurangnya fungsi penghidu. Gejala lainnya nyeri pada wajah. . Disebut rhinosinusitis kronik jika memenuhi kriteria berikut: • Gejala >12 minggu • Terdapat 2 atau lebih gejala dengan salah satunya terdapat hidung tersumbat atau keluarnya sekret dari hidung.– Rhinosinusitis Kronik.

rinore. Gejala dari rhinitis adalah bersin-bersin. . rasa gatal dan tersumbat dan postnasal drip yang muncul secara spontan atau pada pengobatan. Rhinitis Alergi • Hipersensifitas hidung dengan gejala yang diperantai oleh imun (tersering IgE) yang menyebabkan inflamasi setelah pajanan dari membran mukosa hidung. Dapat juga disertai konjungtivitis alergi.

Diagnosa (anamnesa) • Bersin berulang (terutama pagi hari) • Kontak dengan debu • Rinore encer dan banyak • Hidung tersumbat • Hidung dan mata gatal (dapat disertai lakrimasi) .

bekerja. belajar dan hal lain yang mengganggu • Sedang-Berat – Terdapat satu atau lebih gangguan diatas . gangguan aktivitas harian. • Presisten: gejala muncul ≥ 4 hari dalam seminggu lebih dari 4 minggu. – Keparahan • Ringan – Tidak ditemukan gangguan tidur. bersantai. Klasifikasi Rhinitis Alergi – Durasi • Intermiten: gejala muncul kurang dari 4 hari dalam seminggu kurang dari 4 minggu. olahraga.

Diagnosa (Px Fisis) • Rinoskopi anterior: – Mukosa edema – Basah – Berwarna pucat – Sekret encer yang banyak – Persisten : mukosa inferior tampak hipertrofi • Mulut sering terbuka dengan lengkung langit-langit tinggi: gangguan pertumbuhan gigi geligi • Dinding posterior faring tampak granuler dan edema • Dinding lateral faring menebal • Geographic Tongue .

basofil > 5 sel/lap (alergi makanan). Diagnosa (Px penunjang) • Eosinofil meningkat • Serum IgE meningkat (tes RAST atau ELISA) • Sitologi: Eosinofil banyak (alergi inhalan). sel PMN (infeksi bakteri) • Uji Kulit: SET untuk alergi inhalan. . IPDFT untuk alergi makanan.

alergi. dan pajanan obat. Neurogenik 2. eosinofilia. Rhinitis Vasomotor • Keadaan idiopatik yang didiagnosa tanpa adanya infeksi. Neuropeptida 3. Trauma . Nitrit Oksida 4. • Etiologi dan patofisiologi belum diketahui dengan pasti namun ada hipotesis: 1. perubahan hormonal.

bergantian kanan dan kiri • Rinore mukoid/serosa • Gejala memburuk pagi hari waktu bangun tidur • Bersin • Pencetus: rangsangan non spesifik (asap. makanan pedas.DIAGNOSIS RHINITIS VASOMOTOR Anamnesa: • Hidung tersumbat. udara dingin) Pemeriksaan: • Mukosa hidung edema • Konka berwarna merah gelap/merah tua • Permukaan konka licin/hipertrofi • Rongga hidung terdapat sekret mukoid sedikit/serosa banyak Penunjang: • Eosinofil jumlah sedikit • Uji Kulit Negatif • IgE normal . bau menyengat.

Medikamentosa: • elektrokauter • dekongestan oral • konkotomi parsial konka inferior • obat cuci hidung • kauterisasi konka • Kortikosteroid . Operasi: • Bedah beku 2. Hindari stimulus 3. Penatalaksanaan Rhinitis Vasomotor 1.

• Etiologi penggunaan obat vasokonstriktor topikal jangka lama dan berlebihan . Rhinitis Medikamentosa • Kelainan hidung berupa gangguan respon normal vasomotor yang diakibatkan pemakaian vasokonstriktor topikal jangka lama dan berlebihan menyebabkan sumbatan hidung menetap.

edema konka tidak berkurang . Diagnosis Rhinitis Medikamentosa Anamnesa: • Hidung tersumbat terus menerus dan berair Pemeriksaan: • Konka hipertrofi/edema • Sekret hidung berlebihan • Pemberian tampon adrenalin.

Dekongestan oral . 2. Kortikosteroid jangka pendek dan dosis Tappering off 3. Penatalaksanaan Rhinitis Medikamentosa 1. Menghentikan pemakaian obat tetes/semprot vasokonstriksi hidung.

Rhinitis Hipertrofi • Perubahan mukosa hidungg pada konka inferior yang mengalami hipertrofi karena infeksi primer atau sekunder • Etiologi: – Infeksi Berulang di hidung/sinus – Lanjutan rinitis alergi/vaso-motor .

permukaan berbenjol-benjol karena mukosa hipertrofi Penatalaksanaan • Sesuai penyebab • Kauterisasi konka . Diagnnosis dan Penatalaksanaan Rhinitis Hipertrofi Anamnesa: • Sumbatan hidung • Sekret banyak (mukopurulen) • Nyeri kepala Pemeriksaan: • Konka hipertrofi.

yang merupakan jalan keluar cairan serebrospinal (CSS) ke rongga hidung. yang ditandai dengan adanya pembukaan pada arachnoid.Rhinorrhea akibat cairan serebrospinal • Rinorea Cairan Serebrospinal (RCS) :suatu keadaan adanya hubungan yang tidak normal antara ruang subarachnoid denganrongga hidung. • Penyebab: rusaknya semua pertahanan yang memisahkan antara ruang subarachnoid dengan rongga hidung. . dura dan tulang.

.

Tes ini tidak spesifik untuk mengetahui sisi kebocoran. • Hiposmia atau anosmia merupakan keluhan tambahan lainnya yang terjadi pada 60% .80% kasus rinore CSS sebagai akibat kerusakan saraf olfaktori akibat fraktur fossa kribriformis. oligodendrocytes. dan choroids pleksus dalam SSP. . Diagosis RCSF • Gejala utama rinore CSS adalah adanya cairan bening yang mengalir dari hidung. • Protein Beta-Trace juga dikenal sebagai prostaglandin D sintase. dengan sensitivitas 92% dan spesifisitas 100%. protein ini disintesis terutama di sel arachnoid. Tes ini telah digunakan untuk mendiagnosa CSF rhinorrhea dalam beberapa studi.

– Mencegah timbulnya batuk. .• Penatalaksanaan pada rinore CSS: – Istirahat di tempat tidur denganmeninggikan kepala 15-30 derajat. drainase lumbal kontinu berulang dilakukan untuk mengeluarkan CSS 150 ml/hari. nasal blowing dan mengejan. – Apabila tidak terdapat perbaikan dalam 72 jam. – Pencahar – Antitusif dan antiemetik. bersin.

. • Kelebihan: penutupan defek pada dura secara rapat dan penutupan kebocoran multipel. • Komplikasi yang sering anosmia akibat cedera terhadap saraf olfaktori yang tidak dapat dihindari.• Operasi pada RCSF: – Intrakranial • Kraniotomi frontal atau kraniotomi fossa media memiliki morbiditas dan mortalitas yang lebih tinggi serta perawatan yang lebih lama.

TERIMA KASIH  .