You are on page 1of 26

SKRINING FITOKIMIA DAN UJI AKTIVITAS

ANTIOKSIDAN SENYAWA AKTIF PADA
TEMULAWAK (Curcuma xanthorrhiza Roxb.)

Oskar Samuel Howay (168114010)
Stefanny Shella A (168114011)
Sinta Susanti (168114012)

Apa saja kandungan kimia yang terdapat
dalam simplisia temulawak (Curcuma
xanthorrihiza Roxb) ?

Apa senyawa aktif dari fraksi yang memiliki
aktivitas antioksidan pada rimpang
temulawak (Curcuma xanthorrihiza Roxb)?

Apakah fraksi dan ekstrak temulawak
(Curcuma xanthorrihiza Roxb) memiliki
aktivitas antioksidan ?

Apa syarat-syarat simplia yang baik?

• Sebagai bahan informasi mengenai cara pembuatan simplisia temulawak (Curcuma xanthorrihiza Roxb) • Sebagai bahan informasi mengenai karakterisasi dari simplisia temulawak (Curcuma xanthorrihiza Roxb). • Sebagai bagan informasi mengenai kandungan kimia dari temulawak (Curcuma xanthorrihiza Roxb) • Mengetahui cara fraksinasi simplisia temulawak (Curcuma xanthorrihiza Roxb) untuk mendapatkan senyawa aktifnya. • Mengetahui cara monitoring kandungan kimia ekstrak dan fraksi-fraksi dari ekstrak dengan metode kromatografi lapis tipis (KLT) • Mengetahui cara menentukan IC50 ekstrak dan fraksi temulawak (Curcuma xanthorrihiza Roxb) .

Senyawa golongan alkaloida • e). • 2. Melakukan uji aktivitas antioksidan dengan bahan uji berupa ekstrak dan fraksi bahan alam.1. Senyawa golongan fenolik dan polifenolik • f). Melakukan monitoring kandungan kimia ekstrak dan fraksi-fraksi dari ekstrak dengan metode kromatografi lapis tipis (KLT) • 7. Mengidentifikasi : • a) Senyawa golongan flavonoid • b). • 3. • 6. • 4. dan menentukan nilai IC50 ekstrak dan fraksi bahan alam. Senyawa minyak atsiri • 5.Melakukan uji karakterisasi simplisia (Curcuma xanthorrihiza Roxb). Melakukan pemisahan/fraksinasi ekstrak tanaman untuk mendapatkan senyawa aktif dari temulawak (Curcuma xanthorrihiza Roxb). Melakukan pembuatan simplisia temulawak (Curcuma xanthorrihiza Roxb). Senyawa golongan antrakinon • c). Melakukan pembuatan serbuk dari simplisia temulawak (Curcuma xanthorrihiza Roxb). . Senyawa golongan saponin (steroid dan triterpenoid) • d).

Temulawak simplisia Ekstrak Antioksidan dan Radikal Bebas Fraksinasi Kromatografi Metabolit sekunder .

mempengaruhi bagian perut khususnya pada lambung. Didalam tubuh manusia sebenarnya memiliki antioksidan dalam bentuk enzim yaitu superoxidedismutase (SOD) dan Gluthatione peroxidase (POD). menghentikan pendarahan dan mencegah penggumpalan darah. merangsang. Rimpang Temulawak mempunyai manfaat seperti: menghangatkan badan. pengembangan produksi tanaman obat semakin pesat. Antioksidan adalah senyawa yang berperan dalam menghambat oksidasi yang diperantai oleh oksigen. Salah satu tanaman obat yang dimanfaatkan sebagai obat oleh masyarakat Indonesia adalah tumbuhan Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxbh) Bagian yang digunakan untuk pembuatan obat adalah bagian umbinya atau rimpangnya (Rhizoma). Temulawak memiliki kandungan kurkumin yang memiliki efek antioksidan. Dalam rangka memahami proses standarisasi mutu suatu simplisia tanaman dan untuk mengetahui senyawa aktif serta jenis aktivitas yang dimiliki suatu tanaman akan dibahas dalam tulisan ini. Pada era modern ini. Hal ini dapat dilihat melalui penggunaan tumbuhan untuk memelihara kesehatan dan pengobatan penyakit kronis yang tidak dapat disembuhkan dengan obat kimiawi (obat herbal) . vitamin A. maka penulis mencoba untuk melakukan penelitian terhadap serbuk simplisia rimpang Temulawak untuk mengetahui kemurnian dan kandungan kimianya dalam Temulawak yang dapat digunakan sebagai pengobatan secara alami. dan lain-lain. hal ini dipengaruhi oleh kesadaran masyarakat yang meningkat tentang manfaat tanaman obat. Pemanfaatan tumbuhan sebagai obat merupakan hal yang sering dilakukan sejak dahulu dan juga telah banyak dikembangkan dalam waktu yang cukup lama. . Faktor lain yang mendorong masyarakat lebih memlilih tanaman obat adalah risiko efek sampingnya jauh lebih kecil dibandingkan dengan obat-obat yang mengandung senyawa kimia (sintetis). Masyarakat semakin sadar akan pentingnya obat-obat yang berasal dari alam dengan memanfaatkan bahan-bahan alami. Tumbuhan merupakan salah satu sumber dari berbagai jenis senyawa kimia yang dimana sebagian besar memiliki khasiat sebagai obat. Berdasarkan uraian di atas. melepaskan gas di usus yang berlebih. Namun antioksidan didapat lebih banyak lagi dari luar tubuh seperti vitamin c. membersihkan. Secara khusus akan membahas rimpang temulawak yang digunakan sebagai bahan untuk distandarisasi dan dilakukan skrining senyawa aktifnya yaitu kurkuminoid. Antioksidan dapat mencegah pengaruh buruk dari senyawa radikal bebas.

alkaloid. kering.o Kandungan Kimia yang terdapat dalam simplisia temulawak adalah flavonoid. tanin. polifenol. mudah dipatahkan. bakteri dan lain sebagainya. aman untuk dikonsumsi. dan minyak atsiri o Senyawa aktif dari fraksi dan ektrak temulawak yang memiliki aktivitas antioksida pada rimpang temulawak adalah kurkumoid o Fraksi dan ekstrak temulawak memiliki akativitas antioksidan o Syarat-syarat simplisia yang baik yaitu kadar air kurang dari 10%. . tidak mengandung kontaminan seperti jamur.

Rancangan percobaan yang akan dilakukan meliputi : pembuatan simplisia. Variabel Pengacau Variabel pengacau terkendali : tempat tumbuh tanaman. Variabel pengacau tak terkendali : usia tanaman. ekstrak dan fraksi rimpang temulawak (Curcuma xanthorriza Roxb). Variabel terikat : kadar kurkumin dan aktivitas antioksidan rimpang temulawak (Curcuma xanthorriza Roxb). kondisi tanah . ekstraksi dan fraksinasi serta uji antioksidan pada rimpang temulawak(Curcuma xanthorriza Roxb). Variabel Utama Variabel bebas : hasil simplisia.Jenis penelitian yang dilakukan adalah jenis penelitian ekperimental murni dan bersifat eksploratif karena mencari senyawa aktif dalam rimpang temulawak (Curcuma xanthorriza Roxb) yang dilakukan di Laboratorium Farmakognosi Fitokimia Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma.

Keadaan simplisia Keadaan simplisia Keadaan simplisia Keadaan simplisia pada hari ke 2. mulai kering tetapi mengering tetapi belum sudah mengering belum semua merata. A. temulawak pada hari 4. agar panas matahri mengalir boleh tipis dan tidak boleh di taruh di nyiru dan tidak tidak langsung mengenai tebal boleh saling Rimpang temulawak bertumpukan. dimana simplisia keadaan basa. potongan. Hasil Pembuatan Simplisia Temulawak Berat total = 99. Irisan temulawak di tutupi sortasi basa dengan sudah bersih. temulawak pada hari k simplisia masih dalam dimana simplisia sudah dimana simplisia sudah 5. dilakukan potongan Rimpang dengan kain berwarna menggunakan air pengirisan.86 gram (penimbsngsn derbuk simpliaisa ) = 147. cukup di patah dan di sempurna remah. dimana temulawak hari ke 3. .16 gram (penimbsngsn derbuk simpliaisa 1) + 47.02 gram Rimpang temulawak di Rimpang temulawak yang Setelah di iris. dimana tidak temulawak di tatah rapih/ hitam. Hasil dan Pembahasan. sehinggadapat di patah dan di remah. Hasil 1.

2. selanjutnya di sehingga bisa mendapat hasil timbang untuk di buat menjadi serbuk simplisia yang halus serbuk. dan bersih . Hasil Pembuatan Serbuk Simplisia Temulawak Rimpang temulawak di sortasi Dilakukan penyerbukan Serbuk yang telah halus dan basa dengan menggunakan simplisia kering dengan alat bersih ditimbang lalu air mengalir Hasil Simplisia penyerbuk dan menghasilkan dimasukan dalam wadah yang rimpang temulawak yang serbuk simplisia. Kemudian dilakukan sortasi penyaringan juga bertujuan kering untum membuang sisa. Disimpan ditempat yang yang sudah kering (mudah dengan tapisan untuk kering dan terlindung dari sinar dipatahkan serta bisa memisahkan partikel-partikel matahari remahkan). Kemudian tertutup baik dan diberi silica dibuat pada praktikum ke 2 dilakukan penyaringan gel. untuk memisahkan pengotor sisa pengotor yang masih yang berukuran besar tertinggal. serbuk berukuran besar.

ukuran homogen Rasa : Pahit . ringan. Serbuk Simplisia Temulawak Warna : Kuning Bau : Khas aromatik Bentuk : Serbuk halus. bundar permukaan rata Rasa : Pahit B. Pemeriksaan Karakteristik Simplisia 2. tidak rata Rasa : Pahit C. berkerut.Simplisia Temulawak (sebelum kering) Warna : Kuning Bau : Khas aromatik Bentuk : Keping tebal.1 Pemeriksaan Makroskopis A. rapuh saat dipatahkan.Simplisia Temulawak (kering) Warna : Kuning kecokelatan Bau : khas aromatik Bentuk : Keping tipis.

0422 g Berat abu sisa pijar = bobot pemijaran akhir – berat wadah = 32. 0.0420)/2 =32.1073 gram)/(2 gram) x 100% = 5.05365 g ← digunakan untuk penetapan kadar abu tidak larut asam dan kadar abu yang larut air . 2.0415 g ≈32.9347 g = 0.1073 g Kadar = (berat abu sisa pijar)/(berat simplisia) x 100% = (0.2 Penetapan kadar abu Rata-rata bobot = (32.365 % Abu yang sudah dipijarkan dibagi dua untuk digunakan dalam penetapan kadar abu yang tidak larut asam dan penetapan kadar abu yang larut air.0422 g – 31.0423+32.1073/2=0.

12% 5 𝑔𝑟𝑎𝑚 𝑥 20 2.1812 𝑔𝑟𝑎𝑚 𝑥 100 Kadar sari larut dalam etanol = x 100% = 18.3 Penetapan kadar abu yang tidak larut asam 𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑠𝑎𝑟𝑖 𝑥 100 Kadar = x 100% 𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑠𝑖𝑚𝑝𝑙𝑖𝑠𝑖𝑎 𝑥 20 0.48 % 5 𝑔𝑟𝑎𝑚×20 2.1248×100 Kadar sari larut air = × 100% = 12. 2.5 Penetapan kadar air dengan destilasi toluene Kadar air yang dihasilkan setelah destilasi = 1.8 ml 1.4 Penetapan kadar sari yang larut dalam etanol 𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑠𝑎𝑟𝑖 𝑥 100 Kadar = x 100% 𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑠𝑖𝑚𝑝𝑙𝑖𝑠𝑖𝑎 𝑥 20 0.8 𝑚𝑙 Destilasi = × 100% = 18 % 10 .

aringan gabus. dibakar diatas api. sklerenkim. dijemur. Jaringan gabus simplisia yang belum lalu diamati pada mikroskop untuk dijemur/kering. serabut. . yang sudah melihat berkas pengangkut. dan serbuk simplisia. Kadar abu tidak larut asam dilakukan 6 kali dan kadar abu larut air dilakukan sebanyak 5 kali. Serabut sklerenkim Butir amilum Parenkim korteks Serbuk temulawak yang A. Hasil Karakterisasi Simplisia Temulawak dan Pembuatan Ekstrak Temulawak Pemeriksaan makroskopis Serbuk simplisia temulawak yang ditetesi Berkas pengangkut. Irisan temulawak di tutupi rimpang temulawak pada air dan kloral hidrat. parenkim. kortex. Kadar abu tidak larut dipijarkan hingga asam didapatkan bobot tetap. Kemudian dipijarkan sampai mendapat bobot tetap. 3. Setelah dibagi menjadi Dilakukan sebanyak 8 2. dan butiran amilum. Kadar abu larut air sudah digerus B. masing-masing kali ditambahkan air dan asam.

A2. 4. Tabung Effendorf A1. A. B sebelum Perlakuan 2. ditambahkan etanol dan diadiamkan selama 6 jam dan diambil hasil filtrat maserasinya. Kadar sari larut dalam etanol toluen. Kadar sari larut dalam air Penetapan kadar air dengan destilasi Pembuatan ekstrak temulawak B.8 ml.Hasil Identifikasi Kandungan Kimia Temulawak Uji Alkaloid A1 A2 B B A2 A1 1. Kadar air yang dihasilkan dimana serbuk simplisia yang sudah adalah sebanyak 1. Tabung setelah Perlakuan A1 : Ada endapan (+) mengandung alkaloid A2 : ada Endapan (+) mengandung Alkaloid B1 : ada endapan (+) mengandung Alkaloid .

Tabung Sebelum Perlakukan 1. hasil negatif sehingga tidak adanya menunjukan polifenol. Uji Saponin Hasil dari saposisfikasi adalah negatif hal ini menunjukan tidak ada saponin yang terlihat dari adaya buih sepanjang 3 cm. Tabung sebelum perlakukan a. . dengan ekstrak sebagai penyaring mengandung antrakinon 2. Uji Antrakinon Uji Polifenol 1. Dan hasilnya negatif warnannya bening sehingga tidak mengandung polifenol b. Dengan sebagai perlakukan 2 Tabung sesudah perlakukan berwarna putih kuning (-) b. Dengan etanol sebagai penyaring. Tabung sesudah perlakukan a. Dengan air sebagai penyaring.

96 𝑦 11.8 Larutan I 𝑅𝑓 = = 0. Uji kualitatif secara KLT Larutan I (y = 10) Larutan II (y = 11.1 8 Larutan III 𝑅𝑓 = = 0.0. dimana setelah di panaskan di hasilkan aroma khas (berbau Aromatis).8 10 .1) Larutan III (y = 10) 9. Uji Steroid Hasil ynag di dapat negatif hal ini di karenakan pencambusan simplisia dengan reagen tidak sesuai.98 10 𝑥 10.7 𝑅𝑓 = Larutan II 𝑅𝑓 = = 0. Uji minyak Atsiri Hasil uji yang di dapatkan yaitu posiitif.

.Uji Kualitatif secara KLT untuk Alkaloid Tidak dapat diitung nilai Rf nya karena tidak terlihat arak elusinya.

ekstrak d. Plate KLT yang telah ditotolkan. . b. Plate KLT dibawah UV 254nm e. c. ekstrak. Fraksi 1-10. Plate KLT dibawah UV 365nm c. e. Hasil Uji Fraksinasi dan Identiikasi Kandungan Kimia Ekstrak Temulawak Ekstrak temulawak yang digunakan untuk membuat fraksi dan uji kuantitatif kurkumin/penetapan kadar kurkuminoid dengan KLT densitometri a. dilihat dari UV 365 nm b. dan standar. Plate KLT dielusi dalam chamber berisi fase gerak heksan:etil asetat (7:3) a. Hasil plate KLT setelah dielusi dari kiri ke kanan berturut-turut yaitu fraksi 1-10. d.5.

Plate hasil KLT densitometri .Larutan uji (ekstrak) untuk uji kuantitatif kurkumin dengan KLT densitometri.

5 96 0 0.3 Konsentrasi .5 Linear (Series1) 97 96.054x + 97.542 r = 0.15 0.25 0.275 98.5 99 y = 3.5 98 %S Series1 97. Kurva Konsentrasi Fraksi 1 vs %S 99.05 0.2 0.1 0.

4 99.922 r = 0.9963x + 98.8 99.557 99.2 %S Series1 99 98. Konsentrasi Fraksi 2 vs %S 100.6 y = 0.05 0.6 98.25 0.15 0.1 0.4 98.2 98 0 0.8 Linear (Series1) 98.3 Konsentrasi .2 100 99.2 0.

15 0.2 0.398 r = -0.991 98.4 98.25 0.2512x + 99.2 98 0 0.1 0.6 Linear (Series1) 98.4 99.8 %S Series1 98. Konsentrasi fraksi 3 vs %S 99.3 KONSENTRASI .05 0.2 99 y = -4.

6 Series1 Linear (Series1) 98.15 0.228 r = -0.3 konsentrasi .4 99.2 99 y = -2.2 98 97.1 0.8 97.8 %S 98.439 98.6 99.25 0.6 0 0.8271x + 99.4 98.2 0. Konsentrasi ekstrak vs %S 99.05 0.

Larutan uji berupa fraksi dan ekstrak dibuat 5 variasi konsentrasi berbeda yaitu : 0. 0. Hasil Uji Antioksidan Ekstrak dan Fraksi Temulawak Larutan standar kurkumin yang dibuat dalam 5 seri dengan kadar : 20 µg/ml. 40 µg/ml. 0. . 0. 80 µg/ml.6.2 ml. 100 µg/ml.5 ml. 0. Ekstrak ditimbang sebanyak 20 mg dan ditambahkan pelarut hingga 10 ml (20 mg/ml) untuk pembuatan larutan uji.7 ml kemudian masing-masing ditambakan pelarut 5 ml.3ml. 60 µg/ml.1 ml.

B. PEMBAHASAN .