You are on page 1of 22

OSTEOPOROSIS

Sovy Sultanah

Pembimbing
Dr. Abidin, Sp.OT

OSTEOPOROSIS

Penyakit yang ditandai dengan
rendahnya massa tulang, kelainan ini
menyebabkan kerapuhan tulang
sehingga terjadi peningkatan risiko
fraktur (WHO, 1991)

.

7 juta orang dan diperkirakan angka ini akan terus meningkat hingga mencapai 6. . EPIDEMIOLOGI Angka kejadian fraktur akibat osteoporosis di seluruh dunia mencapai angka 1.7% dari jumlah lansia atau sekitar 3.6 juta orang diantaranya menderita osteoporosis.3 juta orang pada tahun 2050 dan 71% kejadian ini akan terdapat di negara- negara berkembang (WHO. 1994). Di Indonesia 19.

yang dikarakteristikkan dengan adanya penurunan osteoblast dalam pembentukan matrix dan peningkatan osteoclast atau resorbsi tulang . namun struktur tulang masih dalam batas normal 0 Diartikan sebagai “porous bone”. dimana terjadi penurunan kepadatan atau densitas massa tulang yang sudah melewati ambang fraktur. OSTEOPOROSIS 0 Gangguan metabolisme tulang.

Komposisi tulang: .Mineral .Organik .

.

PATOFISIOLOGI Primer: Proses OSTEOCLAST degeneratif Penghancur tulang Sekunder: 0 Disuse 0 Obat-obatan 0 Diet 0 Idiopatik 0 Kelainan genetik OSTEOBLAST 0 Penyakit kronis Pembentuk 0 Keganasan tulang 0 Kelainan hormon .

Pada osteoporosis. sehingga darah menyerap kalsium dari: 0 Tulang >> mengaktifkan kerja osteoclas 0 Ginjal >> menyerap kembali kalsium yang akan dibuang 0 Usus >> menyerap kalsium yang bersumber dari diet . terjadi kekurangan kalsium kronis dalam darah.

Osteoporosis Ditandai dengan: • Massa tulang yang berkurang • Kemerosotan struktur tulang (mikroskopis) Tulang rapuh  risiko fraktur  Bila terjadi fraktur: • Nyeri • Tidak mampu berjalan / bekerja • Deformitas (misalnya jadi bungkuk) .

dibagi 2 Osteoporosis Sekunder: Osteoporosis Osteoporosis yang Primer: disebabkan oleh .OSTEOPOROSIS. gizi buruk . keganasan.osteoporosis pasca penyakit lain seperti menopouse metabolik. pemakaian .Osteoporosis senilis kortikosteroid.

•Gejala .Nyeri punggung lanjut: .Punggung semakin membungkuk timbul .Patah tulang .Berkurangnya tinggi badan pada tahap . GEJALA KLINIS Osteoporosis → “silent disease” Proses kepadatan tulang berkurang secara perlahan dan progresif selama bertahun-tahun tanpa disadari dan tanpa gejala.

.

Sex dan umur • Status Kesehatan Anamnesa • • Gaya hidup ( alkohol. merokok) Aktivitas fisik (olah raga) • Riwayat penggunaan kortikosteroid yang lama Pemeriksaan • Ekstremitas dan tulang belakang : Apakah ada deformitas Fisik atau tidak Pemeriksaan • Memeriksa kalsium total dan massa tulang • Pemeriksaan absorpsiometri (densitometri DXA) Penunjang • CT – Scan . Diagnosis • Ras.

Densitometri DXA (dual- energy x-ray-absorptiometry) • Melakukan pengukuran massa tulang • Mempunyai paparan radiasi yang rendah • Berdasarkan volume tulang (hanya menggunakan 2 dimensi yaitu tinggi dan lebar) .

.

CT (COMPUTED TOMOGRAPHY) • Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan dengan memeriksa biokimia CTx (C-Telopeptide) • Dapat menilai kecepatan pada proses pengeroposan tulang • Kepadatan tulang belakang dan tempat biasanya terjadi patah tulang dapat diukur dengan akurat .

PENGOBATAN Secara teoritis osteoporosis dapat diobati dengan cara menghambat kerja osteoklas dan atau meningkatkan kerja osteoblas .

PENATALAKSANAAN Jika ada fraktur: atasi dulu frakturnya Tulang belakang >> proteksi (body jacket) Pinggang >> pakai lumbal korset Beri pain killer bila perlu .

mengurangi resorpsi tulang oleh sel osteoklast 0 Kalsitonin dianjurkan untuk diberikan kepada orang yang menderita patah tulang belakang yang disertai nyeri 0 Estrogen . PENGBATAN 0 Kalsium dosis tinggi dan vitamin D: Mengoptimalkan meneralisasi osteoid setelah proses pembentukan tulang oleh sel osteoblas 0 Bifosfonat: Mengikat hidroksi apatit.

tinggi protein. mengkonsumsi makanan yang mengandung kalsium dan vitamin D. olah raga teratur) 0 Pola makanan yang sehat. serta minum susu dengan kadar kalsium yang tinggi . rendah lemak. PENCEGAHAN 0 Menerapkan pola hidup sehat (cukup tidur.

TERIMAKASIH .