You are on page 1of 161

Daftar Pustaka

1. Sujono, S., Kensaku, T. Hidrologi untuk Pengairan,
Jakarta,1977
2. Barren Vrisman, P. dkk., Introduction to Hidrology,
London, 1977
3. Ray. K. L. Mau A. K., Joseph L. P., Hidrologi untuk
Insinyur, Jakarta,1989
4. Ersin Seyhan, Dasar-Dasar Hidrologi, Gajah Mada
University Pres, 1990
5. C. D. Soemarto, Hidrologi Teknik, Surabaya, 1986
6. Sri Harto, Analisis Hidrologi, Jakarta 1993
7. Yusron Lubis, Hidrologi untuk Bangunan Air,
Bandung, 1984

3/20/2018 1

8. Santosh Kumar Garg, Water Resources and
Hydrology, New Delhi, 1979
9. Victor, M. P., Engineering Hydrology (Principles
and Practices), Prentice Hall, Englewood Elipps,
New Jersey, 1989.
10. Dept. PU. Ditjen Pengairan, Cara Menghitung
Design Flood, Jakarta 1980.
11. Charles T. Harn, Statistical Methods in Hydrology ,
Iowa, 1977
12. G. W. Kite, Frequency and Risk Analisis in
Hydrology, USA, 1988.
13. Soewarno, Aplikasi Metode Statistik untuk Analisis
Data Hidrologi, Bandung, 1995
14. A.T. Hjilmfelt, Jr.
J.J. Cassidy, Hydrology for Engineers and
Planners, Iowa State University Press/ Ames,
3/20/2018 IOWA, 1975 2

Sesi Perkuliahan I

Pengenalan
Hidrologi

3/20/2018 3

Pengenalan Hidrologi ilmu yang berkaitan dengan air di bumi.  terjadinya. peredaran. 1974) 3/20/2018 4 . dan agihannya sifat-sifat kimia dan fisikanya. reaksi dengan lingkungannya. termasuk hubungannya dengan makhluk-makhluk hidup (International Glossary of Hidrologi.

debit pengaliran dan tinggi air • Hydrometri : • menyangkut pengukuran dan pendataan aliran sungai. saluran- saluran dan pengaliran yang melewati suatu waduk/danau • Hydrogeologi : • mempelajari gerakan-gerakan dan sifat-sifat pengaliran di dalam tanah yang ditinjau dari sudut pandang ahli geologi 3/20/2018 5 . Ilmu lain yang berkaitan : • Hydrography : • menyangkut kegiatan-kegiatan survei. sungai. pendataan.

• Klimatologi :  tentang iklim. Ilmu Pendukung : • Meteorologi :  ilmu cuaca. penguapan • Soil science :  antara keadaan tanah dan gerakan air baik. terhadap temperatur udara. tentang perubahan-perubahan di atmosfera. run off maupun aliran bawah tanah • Mekanika fluida :  sifat-sifat gerakan air • Statistik :  menganalisa untuk mendapatkan kumpulan dari suatu hasil pendataan 3/20/2018 6 . kelembaban. hujan.

3/20/2018 7 .Hidrologi dibedakan menjadi 2 bagian: • Surface hidrologi : • yaitu hidrologi yang mempelajari air permukaan • Sub surface hidrology : • yaitu ilmu hidrologi yang mempelajari air di bawah tanah.

Kegunaan Hidrologi : • Meramalkan debit banjir sungai • Menentukan kebutuhan air bagi tanaman • Menentukan kapasitas bangunan • Menentukan pilihan dan berbagai alternatif bangunan sehingga secara teknis dan ekonomis menguntungkan 3/20/2018 8 .

Awan Penyebab Hujan 11. Siklus Hidrologi (Hidrologic Cycle) 5 7 2 4 6 3 8 9 1 10 12 11 13 Laut (1) & (3) Evaporation 8. “Overland Flow” 4. Transpiration 9. Penguapan sebelum sampai tanah 13. Percolation 3/20/2018 7. Interflow 6. Awan 10. Infiltration 5. Presipitasi 12. Hujan 2. Air Tanah 9 .

Agihan Vertikal Air Tanah SOIL MOISTURE ZONE ZONE OF AERATION INTERMEDIATE BELT (UNSATURATED) CAPILARY ZONE UNDER HYDROSTATIC ZONE OF PRESSURE SATURATION 3/20/2018 10 .

Akuifer SUMUR ARTESIS RECHARGE AREA GRS SUMUR DANGKAL PIESOMETRIK MA BL BAS IMPERVIOUS LAYER PREVIOUS LAYER IMPERVIOUS LAYER “Unconfined” dan “Confined Aquifer” 3/20/2018 11 .

Skema “Water Balance” SR P E DARATAN GWF LAUT 3/20/2018 12 .

1967) Awan Infiltrasi .Diagram disederhanakan dari daur hidrologi (Ward.

1975) Transpirasi Evaporasi Presipitasi Permukaan Cadangan detensi Limpasan Infiltrasi permukaan Mintakat aerasi Kapasitas lapangan Perkolasi yang Kenaikan kapiler dalam Saluran Air tanah sungai Perembesan ke saluran 3/20/2018 14 . Model Daerah Aliran Sungai Rekayasa (Allen.

Water Balance untuk Lautan berlaku persamaan : P  E  SR  S  GWF • Dengan : • P = presipitasi (hujan) • E = penguapan (evaporsi) • S = “ change in storage” • SR = “surface run-off ” • GWF = “Ground Water run-off ” aliran air tanah 3/20/2018 15 .

Water Balance untuk Daratan berlaku persamaan : P  E  SR  S  GWF – Dengan : • P = presipitasi (hujan) • E = penguapan • ∆S = perubahan dalam tampungan (storage) • SR = aliran permukaan (surface run-off) • GWF = aliran air tanah 3/20/2018 16 .

Dengan memperhatikan persamaan diatas secara umum Ven Te Chow (1964) menuliskan : • Dengan IO   s ∆ •I = Aliran masuk “in flow” • O = Aliran keluar/kehilangan “out flow” • ∆S = “change in storage’ 3/20/2018 17 .

Water balance untuk sebuah waduk  Untuk S > 0   1 + 2 + 3 = 4 + 5 + 6  S S Untuk S < 0  1 + 2 + 3  S = 4 + 5 + 6   Dengan :  = “surface run-off”  = “sub-surface run-off”  = presipitasi (hujan)  = evaporasi (penguapan)  = kebutuhan air (irigasi. tenaga listrik)  = kebutuhan /rembesan 3/20/2018 18 .

Beberapa istilah • Interception • Depression storage • Surface detention • Infiltrasi • Soil moisture • field capacity 3/20/2018 19 .

oleh Hoyt (1939)dijelaskan dengan lima fase : Fase 1 Merupakan fase akhir musim kemarau. 3/20/2018 20 . Pada fase ini tidak terdapat masukan sama sekali. yang mengakibatkan penurunan muka air pada akuifer. yang berarti “ soil moisture defficiency” (perbedaan antara “field capacity” dengan kelembaban nyata) makin besar.Proses peredaran air yang terjadi. yang berarti pengatusan dari akuifer. yaitu penguapan dan limpasan. Akibat penguapan yang terjadi di bagian atas tanah. sehingga proses yang ada semata-mata merupakan keluaran dari DAS. kelembaban makin menurun. Selama itu akibat aliran (Aliran dasar) sungai terjadi terus menerus.

Demikian pula bila limpasan dapat terjadi. Selebihnya akan masuk ke dalam tanah sebagai air infiltrasi. yang berarti aliran dasar tidak berubah. Jumlah hujan ini sebagian besar tertahan sebagai intersepsi (interseption).Fase II Merupakan fase pada permulaaan musim hujan. dengan jumlah hujan yang masih sedikit. Air ini masih akan digunakan untuk mengembalikan tanah ke kapasitas lapangan (field capacity). masih akan tersimpan sebagai tampungan sebagai tampungan cekungan (depression storage) sehingga belum 3/20/2018menambah aliran di sungai 21 . sehinggaada air yang mencapai akuifer.

Intersepsi telah mencapai nilai maksimum. 3/20/2018 22 . Jumlah air perkolasi (percolation) menaikkan kandungan air akuifer yang menyebabkan kenaikan aliran dasar sungai. Demikian pula limpasan memberikan sumbangan pada perubahan debit sungai. kondisi tanah telah berada pada kapasitas lapangan. Fase IV dan Fase V adalah fase musim kemarau. dengan keadaan yang hampir sama dengan fase I. dan kehilangan air akibat tampungan cekungan sangat kecil. Fase III adalah fase pertengahan musim hujan. Jumlah air hujan telah cukup besar.

0 3 5 % S e b a g a i a ir d i a tm o s fe r 0 .3 % A ir d i d a n a u 0 .Distribusi Kuantitatif Air Menurut Wolman(1962) 75 % S e b a g a i e s d a n g la c i e r 24 % A ir d i b a w a h ta n a h 0 .0 3 % D i s u n g a i-s u n g a i 3/20/2018 23 .0 6 % S e b a g a i “ s o il m o is te re ” 0 .

Hidrologi Sesi Perkuliahan II 3/20/2018 24 .

• Curah hujan jam-jaman (hourly-rainfall) • Curah hujan harian (daily-rainfall) • Curah hujan bulanan dan tahunan (monthly and annual rainfall) • Hujan rata-rata • Hujan titik dan hujan daerah (point rainfall and areal rainfall) • Intensitas curah hujan 3/20/2018 25 .

Hal-hal yang perlu diperhatikan pada curah hujan adalah : • Intensitas curah hujan • Sifat penyebaran • Frekuensi Stasiun Pencatat Curah Hujan : • Pencatat curah hujan otomatis • Pengukur curah hujan biasa (ordinary rain gauge) Penempatan Stasiun Pencatat Curah Hujan : • Mengenai pemasangannya • Mengenai distribusinya pada suatu daerah 3/20/2018 26 .

antaranya : 1. Weighing bucket 3/20/2018 27 . dibutuhkan pula intensitasnya (jumlah hujan dalam mm tiap jam).Untuk berbagai keperluan dan analisis. Tipping bucket 2. sehingga untuk keperluan itu harus digunakan “rain recorder” yang akan mencatat terus-menerus Ada beberapa tipe recorder. Syphon 3.

akan terjungkir dan signal akan diteruskan pada recordernya Pada ”syphon”. yang apabila telah penuh. yang akan mengosongkan air apabila muka air mencapai ketinggian tertentu 3/20/2018 28 . air hujan dari corong akan masuk ke dalam salah satu ruang dalam “bucket”-nya. Untuk tipe “tipping bucket”. tipping bucket digantikan dengan sistem sipon.

Contoh hasil catatan dari suatu rainfall-recorder yang disederhanakan corong grill Bejana Ukur brush tinggi Ground level Standard Raingauge Raingauge MANNUAL RAINGAUGE 3/20/2018 29 .

ke recorder Automatic raingauge (rain-recorder) Rekaman “rain -recorder” 3/20/2018 30 .

• Debit Spesifik ( Specific Discharge ) • Debit Banjir Rencana ( Design Flood Discharge ) Besar Debit Spesifik : q = Q/A dimana q : debit spesifik Q : debit A : luas water shed 3/20/2018 31 .

1974 ) Return period untuk beberapa bangunan air : • Earth / rockfill dam Tr = 1000 th • Masonry / concrete dam Tr = 500 .10 th 3/20/2018 32 .100 th • Flood diversion tunnel Tr = 20 .50 th • Tanggul Tr = 10 .20 th • Drainage canal sawah Tr = 5 . Dari hasil perumusan Seminar Rainfall Run-off Relation and Design Flood ( diselenggarakan di Bandung.1000 th • Weir Tr = 50 .

Mountainous regions of temperate.250 250 . and 100 . tropical zones II. yaitu besar luasan DAS yang diwakili satu stasiun • Pola penempatan stasiun-stasiun hujan tersebut dalam DAS Jaringan pengukur hujan minimum ( menurut WMO ) Area in sq km per station Type of region Normal condition Difficult condition I. Arid and polar zones 1500 . jaringan (network) terdiri dari : • Kerapatan jaringan (network-density).1000 tropical zones III. mediterranean.3000 mediterranean.10000 - 3/20/2018 33 . 600 . Pada dasarnya.900 900 . Flat region of temperate.

Tinggi corong di atas permukaan tanah harus sedemikian sehingga pengaruh angin sekecil mungkin 2. pohon) yang terdekat 3. Syarat-syarat teknis alat harus dipenuhi 7.Syarat-syarat teknis pemasangan stasiun hujan : 1. Diusahakan dekat dengan tenaga pengamat 6. Harus dilindungi terhadap gangguan dari luar (orang. Syarat lain yang menyangkut kerapatan jaringan 3/20/2018 34 . Pengukur hujan harus diletakkan minimal 4 x tinggi rintangan (bangunan. binatang) 5. Jangan “over exposed” ataupun “under exposed” 4.

Pengaruh tinggi corong terhadap ketelitian pengukuran : Tinggi (inches) 0 2 4 6 8 12 18 30 (mm) 0 51 102 154 203 305 457 762 % ketelitian terhadap 108 105 103 102 101 100 99 98 tinggi standard Hubungan antara kecepatan angin dengan pengurangan pengukuran : Kecepatan angin % pengurangan km / jam pengukuran 0 0 10 8 20 21 30 32 40 41 60 47 80 50 3/20/2018 35 .

sedangkan untuk keperluan analisis. yang diperlukan adalah data hujan daerah aliran (areal rainfall / catchment rainfall) 3/20/2018 36 . Hujan Rata-rata DAS Pengukuran yang diperoleh dari masing-masing pengukur hujan adalah data yang merupakan data hujan “lokal” (point rainfall).

dalam mm 3/20/2018 37 . II. X2.X3. Cara Rata-Rata Aljabar (Arithmatic Mean Method) Hitungan dilakukan dengan membagi rata pengukuran pada semua stasiun hujan dengan jumlah stasiun dalam daerah aliran sungai yang bersangkutan Hujan rata-rata : I X1  X 2  X 3  X 4 P 4 II III IV Dengan X1. III. dan X4 adalah tinggi hujan pada stasiun I. dan IV.

sehingga membentuk segitiga- segitiga. Cara Poligon THIESEN (THIESEN POLIGON METHOD) Cara ini memperhitungkan luas daerah yang diwakili oleh stasiun yang bersangkutan. Kemudian menarik garis-garis sumbu III masing-masing segitiga II 3/20/2018 38 . untuk digunakan sebagai faktor koreksi (weighing factor) dalam menghitung hujan rata-rata Poligon didapat dengan cara menarik I garis hubung antara masing-masing stasiun.

pengamatan luas % luas pengamatan X (mm) (ha/km2) berbobot X1 y1 I1 X1I1 X2 y2 I2 X2I2 X3 y3 I3 X3I3 X4 y4 I4 X4I4 y XI X1 adalah hujan rata-rata untuk daerah aliran sungai tersebut 3/20/2018 39 .

Cara Isohiet (Isohyetal Method) Isohiet (Isohyet) adalah garis yang menghubungkan tempat-tempat yang mempunyai tinggi hujan yang sama P1 P2 I Cara ini menggunakan isohiet P3 sebagai garis-garis yang membagi P4 daerah aliran sungai menjadi daerah- II daerah. yang luasnya dipakai sebagai faktor koreksi (weighing factor) III dalam perhitungan IV P5 3/20/2018 40 .

dengan pengertian bahwa : P1  P2 P2  P3 X1  X2  2 2 P3  P4 P4  P5 X3  X4  2 2 Dan I1.I2.I3. Cara perhitungan sama dengan Cara Poligon Thiesen di atas.I4 adalah luas relatif masing-masing daerah antara dua isohiet 3/20/2018 41 .

Menurut Whitmore (1960). hujan rata-rata diperhitungkan dengan : i (2a  b) r  B  3a  b dengan : r = hujan rata-rata. dalam km a = panjang dari isohiet yang tinggi (A). dalam mm 3/20/2018 42 . dalam mm B = panjang dari isohiet yang rendah (B). dalam km i = interval isohiet (A-B).

“Inverseh Square Distance” atau “Reciprocal Method” Normal Ratio Method (Linsley. Paulhus . “Normal Ratio Method” II.PC = hujan pada saat yang sama dengan hujan yang dipertanyakan pada stasiun A.NB. dan C.B.NC = hujan tahunan normal pada stasiun A. dalam mm 3/20/2018 43 . 1958) 1  Nx Nx Nx  Px   PA  PB  PC  3  NA NB NC  Px = hujan yang diperkirakan pada stasiun X. Kohler.B. dan C. dalam mm Nx = hujan tahunan normal pada stasiun X.PB. dalam mm NA. dalam mm PA. Perkiraan Data Hilang I.

B. dan C dalam km 3/20/2018 44 . dalam mm PA.PC = tinggi hujan pada stasiun-stasiun di sekitarnya. dalam mm dXA. Inverseh Square Distance atau Reciprocal Method atau Metode Rata-rata Aritmetik 1 1 1 P A P B PC 2 2 2 (dXA) (dXB) (dXC) PX  1 1 1 2  2  (dXA) (dXB) (dXC) 2 Px = tinggi hujan yang dipertanyakan.PB.dXC = jarak dari stasiun X ke masing-masing stasiun A.dXB.

. . hujan kumulatif stasiun x (mm) . . rata-rata kumulatif beberapa stasiun (mm) Double Mass Curve 3/20/2018 45 . . . . . . . ... . ..

10 tahun lama hujan (jam) Hubungan antara tinggi hujan. T. dan kala ulang 3/20/2018 46 . 50 tahun tinggi hujan (mm) T. lama hujan. 100 tahun T.

lama hujan. Intensitas (mm/jam) T = 100 tahun T = 50 tahun T = 10 tahun lama hujan (jam) Hubungan antara intensitas. dan kala hujan 3/20/2018 47 .

luas. 6 jam luas 12 jam 18 jam tinggi hujan Hubungan antara tinggi hujan. dan lama hujan 3/20/2018 48 .

antara lain : Mononobe. Talbot. Sherman. dan Ishiguro 3/20/2018 49 . INTENSITAS HUJAN Untuk mendapatkan intensitas hujan dapat digunakan rumus-rumus.

Rumus Mononobe 2 R24  24  3 I   24  t  Keterangan : I = intensitas hujan (mm/jam) t = waktu curah hujan (jam) R24 = curah hujan maksimum dalam 24 jam (mm) 3/20/2018 50 .

t I  a a NI 2   I I  I tb b I I . Rumus Talbot I .t  NI 2   I I  3/20/2018 51 . t I 2   I 2 . t   NI 2 .

Rumus Sherman a I n t dengan penjelasan : log a    log I   log t  2 log t.log I  n N  log t  2   log t  log t  3/20/2018 52 .logI log t  N  log t  2 log t log t   log I  log t   N log t.

vt  a b   N I 2  I  I    I  I  N I2 keterangan : I = intensitas curah hujan (mm/jam) t = waktu curah hujan (menit) a. vt  I   I  I. vt  I 2 I 2 . a Rumus Ishiguro I vt  b  I .b.vt   N I 2 .n = konstanta N = jumlah data 3/20/2018 53 .

Intensitas Hujan. I (mm/jam) Intensity Duration Frequency (IDF) (Halim Perdana Kusumah . t (jam) 3/20/2018 54 .Jakarta) 400 I100 300 I50 I25 200 I10 I5 100 0 30 60 120 180 240 300 360 Lamanya Hujan.

Hidrologi

SESI PERKULIAHAN
III & IV

3/20/2018 55

INFILTRASI

• Infiltrasi
• Laju Infiltrasi
• Kapasitas Infiltrasi Kondisi permukaan,
struktur tanah, tumbuh-
tumbuhan, dan suhu

• Limpasan • Intensitas hujan
• kapasitas infiltrasi

3/20/2018 56

Kurva Kapasitas Infiltrasi
Kurva kapasitas infiltrasi limpasan permukaan
Bagian atas curah hujan lebih limpasan
detensi permukaan
Bagian bawah curah hujan yang meresap ke tanah

fo

f

fc

t Standard ICC

3/20/2018 57

1930 : f  fc  fo . Horton.t k kecil kecepatan infiltrasi i < fp fo k besar i > fp fc fc t t Liku infiltrasi Variasi Infiltrasi dengan harga k f = kapasitas infiltrasi pada suatu saat t (cm/jam) fo = kapasitas infiltrasi permulaan fc = kapasitas infiltrasi setelah mencapai harga tetap k = konstante t = waktu dihitung dari permulaan hujan 3/20/2018 58 . e  k.fc . Kecepatan Infiltrasi (Infiltration Rate) Kurve Infiltrasi .

e  k.fc .t cm/jam f : kapasitas infiltrasi pada suatu saat t fo : kapasitas infiltrasi permulaan fc : kapasitas infiltrasi setelah mencapai harga tetap k : konstante t : waktu dihitung dari permulaan hujan 3/20/2018 59 . Persamaan Kurva Kapasitas Infiltrasi Horton : f  fc  fo .

t log e 1 t log  f  f c   log  f o  fc  K log e 1 log  f  fc   log  f o  fc  1 t K log e K log e 3/20/2018 60 .e  kt log  f  f c   log  f o  f c   K .t log e log  f  f c   log  f o  f c    K . f  f c   f o  f c .

Bentuk Umum : y  mx  c 1 m K log e x  log  f  f c  log  f  f c  1 c K log e  Persamaan linear  Slope  negatif  Jika t bertambah maka inf. berkurang 3/20/2018 61 .

1 m - K log10 e Log10(f-fc) 3/20/2018 62 .

Dianalisis Stasiun pengamat Data limpasan 3/20/2018 63 . Langsung Alat ukur infiltrasi Infiltro meter Rain simulator Data hujan 2.Cara menentukan kapasitas infiltrasi : 1.

Analisis Hidrograf Grafik hubungan antara waktu dan distribusi run off Basin kecil ( < 10 ha ) ICC Basin besar Basin kecil Data curah hujan Intensitas H Data pengukur debit Akibat curah hujan di atas 3/20/2018 64 .

limpasan permukaan • Antara waktu mulai hujan dan waktu mulai terjadi limpasan suatu lag • Infiltrasi dimulai pada saat mulai ada hujan lebih dan terus terjadi meskipun hujan itu berhenti • Pada akhir hujan lebih. infiltrasi terjadi pada seluruh daerah lama-lama berkurang secara konstan selama periode tertentu 3/20/2018 65 . Penting • Infiltrasi Selisih curah hujan .

Prosedur menentukan ICC Horner & Lloyd 1. Cari infiltrasi selama periode tersebut F=P-Q 6. Data pengukuran debit hidrograf (digambar di bawah 1 skala sama) 3. Cari lama waktu terjadi infiltrasi t periode ekstra t  waktu selama hujan lebih  3 F 7. Cari f  plot sebagai ordinat pada jarak t/q dari saat terjadinya hujan t lebih pada gambar intensitas hujan 3/20/2018 66 . Cari besar hujan yang menyebabkan limpasan P 4. Cari besar limpasan luas daerah di dalam hidrograf dibagi luas daerah Q 5. Data curah hujan intensitas hujan pola intensitas hujan 2.

cm/jam 60 Luas Catchment Area = 0.Intensitas hujan.8 15.5 hektare 50 40 30 • Curva infiltrasi 20 • fa 10 fb 0 10 20 30 40 50 10 20 30 40 waktu 11. m3/detik A = 100 m3 B = 150 m3 22 51 15 55 waktu 3/20/2018 67 .8 Run off.

 5   5   10  Pa   40 x    50 x    60 x   17.5 cm  60   60   60   15   10  Pb   45 x    35 x   17.08 cm  60   60  100 Qa  100 m 3  x 100  2 cm 5000 150 Qb  150 m 3 x 100  3 cm 5000 Fa  Pa .2  15.5 .Qa  17.5 cm 3/20/2018 68 .

3 cm/jam ta 23.3  14.84 menit fa    39.40 ta  20   23.445 cm/menit tb 31.67 menit 3 Fa 15.67  26.40 cm/jam 3/20/2018 69 .Qb  17.08 .5 ta/2  11.08 fb    0.35 tb  25   31.84 menit Fb 14.67 menit 3 tb/2  15. 51 .67 Fb  Pb .08 cm 55 .

Basin besar • Periode ekstra kecil. dibanding dengan waktu terjadinya hujan lebih diabaikan • Hidrograf tidak sensitif mengikuti variasi curah hujan Ada 3 metode • Data hujan dan data aliran cukup • Data hujan. data aliran kurang cukup untuk analisis infiltrasi indeks Q Basin Recharge.Ia • Index W Lama wakt u hujan (memisahkan kehilangan permulaan dari infiltrasi) 3/20/2018 70 .

tentukan intensitasnya. tentukan base flow dan aliran langsung • Jumlahkan aliran langsung. jumlahkan hujan yang ada • Ubah aliran langsung tebal air • Basin recharge : R . dan gambar sebagai pola intensitas hujan • Gambarkan hidrograf dari data aliran.Q • Cari lama hujan yang mungkin menyebabkan aliran langsung misal t R -Q Index Q  t • Kontrol apakah indeks Q hujan efektif yang terjadi = aliran langsung ?? Jika tidak sama : • Trial t baru hujan eff = aliran langsung • Gambarkan indeks Q pada pola intensitas hujan (sebagai kontrol) 3/20/2018 71 . Langkah-langkah penyelesaian indeks Q • Dari data hujan.

3 0 2 350 200 3/20/2018 jam 72 .18 1 17 200 4 280 6 18 .21 12 20 425 7 210 2 1 21 490 8 200 0 21 .19 11 18 200 5 260 5 4 19 .43 Q 20 .20 8 19 265 6 230 3 2. 12 Luas catchment area = 250 km2 11 10 mm/jam Hujan mm jam m3/dt jam m3/dt 9 8 16 .24 4 23 455 10 200 jam 500 24 .17 0 16 200 3 315 7 17 .1 2 24 425 m3/dt 1 .23 5 22 500 9 200 17 18 19 20 21 23 24 1 2 3 23 .2 1 1 390 2 .

12.1 mm 3 /jam 9 2 350 200 150 Hujan di bawah 2.0254 m 250 x 10 6 18 200 200 0 19 265 200 65  25.6 .1 5 260 200 60 = 40 .25.6 6 230 200 30 = 27.6 1 390 200 190 Index Q   2.1 mm/jam tidak efektif 3 315 200 115 4 280 200 80 Kontrol hujan eff : 40 . 2.40  25.4 7 210 200 10 8 200 200 0 14 1770 3/20/2018 73 . Waktu Aliran Aliran Aliran (Pukul) Dasar Langsung 1770 x 3600 m3/dt m3/dt m3/dt Aliran langsung :  0.4 = 18.6 mm 24 425 200 225 18.4 mm 20 425 200 225 21 490 200 290 22 500 200 300 Trial t = 9 jam 23 455 200 255 Basin recharge : 44 .

2.43 mm 3 /jam dapat dipergunakan dengan hujan selama t  6 jam (sebagai kontrol plot pada pola intensitas) 3/20/2018 74 .43 mm 3 /jam 6 Hujan di bawah 2.6 Index Q   2.43 mm/jam tidak efektif Kontrol hujan efektif : 40 .14.6 .58 : 25.43 : 40 .4 mm Index Q  2.4 = 14.42 25.Trial t = 6 jam Basin recharge : 40 .25.6 mm 14.

Sesi V PENGANTAR EVAPORASI Pengertian : Evaporasi Transpirasi Faktor yang berpengaruh .Radiasi matahari .Angin .Kelembaban .Suhu 3/20/2018 75 .

Pengukuran Evaporasi dan Evapotranspirasi • Atmometer • Panci Evaporasi 3/20/2018 76 .

Perkiraan besarnya evaporasi • Cara budget air •E = P + I  U – O  S • Cara budget energi • Persamaan empiris • Thornthwite • Blaney – Criddle • Penman • Turc – Langbein – wundt 3/20/2018 77 .

Contoh Perhitungan dengan cara Penman • Data yang diperlukan • Lokasi (garis lintang) • Ketinggian (elevasi) • Suhu udara (o C) • Kelembaban relatif • Kecepatan angin ( h = 2m) • Raiso keawanan (n/N) • Koefisien dan parameter empiris 3/20/2018 78 .

Prosedur Perhitungan a.8) c3. data suhu udara (t) menghasilkan a1.  kemiringan tekanan uap jenuh (tabel 3-18) a3. Koefisien pemantulan/albedo(air bebas r = 0. Suhu absolut kelvin Ta = toC + 273 b. data lokasi atau gariis lintang (LS atau LU) didapat c1. Tekanan uap jenuh ea (atau e sat) (tabel 3-17) a2. Tekanan uap air ed = h * ea c. Harga konstanta a dan b ( a = 0. data kecepatan angin b1. b=0.6) 3/20/2018 79 . Harga radiasi maksimal RA (lihat tabel 3 –19) c2. Lama kecerahan sinar matahari yang mungkin atau albedo (lihat tabel 3 – 20) c4.2.

47 – 0. Perhitungan • d1.077/ed) (0. Radiasi yang dipantulkan kembali RB =  Ta 4 (0. Jumlah bersih tenaga matahari yang tertinggal H = RI – RB • d5. d. Parameter dari aliran uap (Ea) Ea = 0.5+0. Radiasi benda hitam steven boleman Ta4 = 118.2 + 0.0 * 10-9 * Ta • d2.54 U2) • d1.35(ea-ed) * (0. Radiasi bersih disimpan di tanah RI RI = RA (1-r) (a + b* n/N) • d3.8 * n/N) • d4. Evaporasi air bebas  H/60 + *Ea Eo = --------------------- + 3/20/2018 80 .

SESI PERKULIAHAN VI ALIRAN SUNGAI 3/20/2018 81 .

HIDROMETRI :

•Ilmu utk mengukur air
•Ilmu utk mengumpulkan data dasar
bagi analisa hidrologi
•Data dasar :
Tinggi Muka Air (TMA)
DEBIT aliran

3/20/2018 82

Tinggi Muka Air (TMA)
- Dengan Papan Duga (staff gauge)

Papan Duga Vertikal Papan Duga Vertikal

3/20/2018 83

Tinggi Muka Air (TMA)
- Dengan alat ukur otomatik
(Automatic Water Level recorder/AWLR)

Banjir ! !
?

3/20/2018 84

Pengukuran Debit : Area-Velocity method : Q = A.V Current Meter A = luas tampang basah V = kecepatan aliran yang diukur dg current meter 3/20/2018 85 .

Rating Curve : Grafik hub antara kedalaman air (H) dan debit (Q) H (m) Rating Curve dimana ?. Q ( m3/detik) 3/20/2018 86 .

Istilah penting : Hidrograf : hub antara tinggi/debit dengan waktu waktu A Aliran Dasar: Time Of Concentration: Debit minimum yg masih ada waktu yg dibutuhkan oleh air krn adanya aliran keluar dari utk mengalir dr titik yg terjauh aquifer sampai statiun pengukuran A 3/20/2018 87 .

a. << dasar sungai Q t 3/20/2018 88 . SUNGAI : • EPHEMERAL RIVERS: .aliran pd saat hujan saja .Berdasarkan kontinuitas aliran.m.t.

t. << dasar sungai pd musim kering Q hujan kering t 3/20/2018 89 .aliran selama musim hujan dan tidak mengalir selama musim kering (kecuali kalau ada hujan) .m.a.• INTERMITTEN RIVERS: .

selalu >> dasar sungai banjir dong ! Q t 3/20/2018 90 .t. • PERENNIAL RIVERS: . rawan .m.mengalir sepanjang tahun -> wouw….a.

SESI VII-VIII • MID SEMESTER • KUNJUNGAN LAPANGAN 3/20/2018 91 .

SESI PERKULIAHAN IX Penelusuran Banjir (FLOOD ROUTING) 3/20/2018 92 .

• Tujuan : – pendugaan bajir jangka pendek – perhitungan hidrograf satuan berbagai titik berdasarkan hidrograf satuan di suatu titik – pendugaan kelakuan sungai akibat perubahan palung sungai – derivasi hidrograf sintetik . Penelusuran banjir : • Penelusuran : pendugaan hidrograf di suatu titik pada suatu aliran atau bagian sungai yang didasarkan atas pengamatan hidrograf di titik lain.

Macam penelusuran banjir : • Penelusuran banjir lewat sungai : penyelesaiannya berdasarkan hukum kontinuitas (I=O) • Penelusuran banjir lewat waduk : penyelesaiannya menggunakan waduk sebagai tampungan yang mempunyai fungsi aliran keluar (outflow)  kontinuitas tapi lebih eksak .

Penambahan /pengurangan air diabaikan H diket H=? A 3/20/2018 B 95 . Penelusurn Banjir Di Sungai TUJUAN  Menentukan UH dibeberapa lokasi bedasarkan UH dari tempat lain di sungai yang sama  Peramalan banjir jangka pendek METODE MUSKINGUM Penelusuran banjir sungai dengan assumsi .Tidak ada anak sungai yang masuk .

3/20/2018 96 ..O =  S . 2 2 I1 & I 2 diket dari hidrograf / debit yang diukur O1 & S1 diket dari periode sebelumnya O2 & S2 ? (dibutuhkan persamaan lain)......... S  S 2  S1 2 2 I 1 I 2 O1  O2  ......................... t  .....Persamaan kontinuitas : I . t  S 2  S1 ...  Untuk interval waktu  t I 1 I 2 O1  O2 I .O  ...............

.......5......5.. I2 + ( 1 ... x  0.5............. I + ( 1 ........... O2 = C0I2 + C1I1 + C2O1 Yang mana : C0 + C1 + C2 =1 K ....t Co   K  Kx  0.5.S = K { x .. .....t 3/20/2018 97 .... I1 + ( 1 ....................t C2   K  Kx  0......... .......t K ...  Kx  0...... x  0..... S2 = K { x ......5................t C1  K  Kx  0. K = koefiien tampungan ( jam/hari) x = faktor penimbangan yang mempengaruhi S S1 = K { x .................x ) O 1} ..........5..t K ...x ) O 2} ..x ) O } .....

dt x ( I )  (1  x )O 3/20/2018 98 .... grafik hubungan antara S dan XI + ( 1 ...x ) O  yang berupa garis lurus S m3 X = X3 X = X1 X = X2  xI + (1-x)O m3/dtk S K = tg    .. X dan K diperoleh dr.. .....

(lihat Hidrologi teknik . Contoh I Pada bagian sungai A .CD Soemarto hal 182-188) 3/20/2018 99 .B A I = debit masuk di A data O = debit keluar di B data B O Hitung K dan X dari ke-2 data tersebut Hitung hidrograf debit keluar di B jika diketahui I di A pada lain periode.

Penelusurn Banjir Di Waduk ds/dt ds I I O  dt S O I = inflow O O = outflow S = Storage I1  I 2 O1  O2 S 2  S1   2 2 t 3/20/2018 100 .

2S2 2 S1  O2  I1  I 2   O1 t t Unknown Known (belum diketahui) (sudah diketahui) Outflow hidrograf inflow hidrograf kondisi awal (base flow dan storage) kondisi fisik waduk aturan operasi waduk 3/20/2018 101 .

S1 2 2 .Penelusuran banjir lewat waduk : • Rumus umum (berlaku di sungai dan wa- duk) adalah : dS I-Q= dapat diubah menjadi : dt I1 + I2 Q1 + Q2 . = S2 .

• Dalam penelusuran waduk persamaan di atas menjadi : I1 + I2 Q1  t + (S1 . )= ( + ) 2 t 2 t 2 ϐ1=1 α2=2 . t) = 2 2 Q2 (S2 + t) atau 2 I1 + I2 S1 Q1 S2 Q2 +( .

Maka rumus di atas menjadi

I1 + I 2 2
+ 1 =
2

• I1 & I2 = diketahui dengan t ditentukan
• S1 = tampungan waduk pada permulaan periode
penelusuran (dihitung dari datum outlet)
• Q1 = debit keluaran pada awal periode
penelusuran
• Untuk pelimpah mengikuti R.U. : Q = C B H3/2

Elevasi (m)
I Hidrograf inflow
Elevasi (m)

Puncak spillway
0
volume

I1 I2 Lengkung kap.wd
Dasar waduk
t
t Vol.waduk (106m3)

Contoh soal :
• Fasilitas pelepasan suatu bendungan berupa ba-
ngunan pelimpah tidak berpintu dan tidak berpilar,
dengan puncak ambang yang berelevasi 272.70 m
dan panjang ambang 32 m. Koefisien debit diam-
bil konstan C = 2 m1/2/det. Pada saat permulaan
terjadi banjir (t=0) elevasi air waduk setinggi am-
bang bangunan pelimpah. Bila diketahui besar
tampungan pada elevasi-elevasi tertentu dan hi-
drograf aliran masuk ke waduk, maka elevasi
waduk maksimum dan debit keluar maksimum,
periode penelusuran, t = 0,5 jam dan pada saat t
= 0 jam, debit keluar dianggap 6 m3/det.

5501 3083 181 3173 2992 274.9 0. HUB.5262 292 6 295 289 273.7283 1516 64 1548 1484 273. H-S-Q Elev.5 0.8 4.8 2.2823 1824 84 1866 1782 274.6203 900 30 915 885 273.1189 3399 209 3503 3294 275. H S S/ t Q phi psi (m) (m) (10^6m^3) (m^3/det) (m^3/det) (m^3/det) (m^3/det) 272.3 0.4 6.1 1.4 1.1 0.1743 1208 46 1231 1185 273.7083 3727 238 3846 3608 275.4 3.6 1.8437 2135 106 2188 2082 274.2 0.3183 4066 268 4200 3932 .4125 2451 129 2516 2387 274.6 4.1 2.9 1.3 1.5 1.7 1 2.0663 592 16 600 584 273.2 3.3 2.7 2 5.7 0 0 0 0 0 0 272.6 7.9 2.2 6.9813 2767 155 2845 2690 274.

21 6 1.5 7 7 309 316 0.71 38 4 441 431 1025 1455 0.5 432 437 1394 1830 1.92 170 .97 61 4.64 134 6 313 338 2295 2633 1.5 25 18 313 331 0.25 8 2.5 261 287 2481 2768 1.5 182 130 367 496 0.22 6 2 77 51 324 375 0.23 87 5 402 417 1743 2160 1.48 21 3.21 6 0.78 151 6.21 6 1 11 9 310 319 0. t I (I1 + I2)/2 psi 1 phi 2 H Q jam (m^3/det) (m^3/det) (m^3/det) (m^3/det) (m) (m^3/det) 0 6 0.45 112 5.5 362 382 2047 2429 1.33 12 3 299 241 484 725 0.5 420 360 703 1063 0.87 163 7 215 238 2605 2843 1.

45 112 5.64 134 6 313 338 2295 2633 1.5 261 287 2481 2768 1.Penelusuran banjir lewat waduk dengan bangunan pelimpah dt = 0.71 38 4 441 431 1025 1455 0.5 132 144 2694 2837 1.23 87 5 402 417 1743 2160 1.97 61 4.91 170 9 114 123 2668 2791 1.5 99 107 2625 2732 1.78 151 6.84 160 .88 165 9.92 170 7.93 172 8.5 420 360 703 1063 0.94 172 8 155 168 2698 2866 1.5 432 437 1394 1830 1.48 21 3.5 jam t I (I1 + I2)/2 psi 1 phi 2 H Q jam (m^3/det) (m^3/det) (m^3/det) (m^3/det) (m) (m^3/det) 3 299 241 484 725 0.87 163 7 215 238 2605 2843 1.5 181 198 2673 2871 1.5 362 382 2047 2429 1.

Hidrograf debit masukan dan keluaran 500 Imaks = 441 m^3/det 450 400 350 I.Q (m^3/det) 300 Imaks = 441 m^3/det 250 200 Qmaks = 172 m^3/det 150 100 50 0 Qmaks = 172 m^3/det t (jam) debit masukan debit keluaran .

coef debit = Cd = 1.lebar spillway = 10 m .Elevasi puncak Spillway = + 1070 m . Engineering Hydroogy. Ponce.Base Flow 17 m3/dtk . hal 261-263) 111 .7 .Elevasi awal waduk = + 1071 m * Dengan melakukan routing. berapa elevasi maximum muka air waduk? * Gambar outflow hidrograf (lihat Victor 3/20/2018 M.Contoh Reservoir routing melalui pelimpah Diketahui : .Elevasi puncak Dam = + 1076 m .

Sesi perkuliahan X 3/20/2018 112 .

SIFAT-SIFAT DAERAH ALIRAN (CATCHMENT) KECIL DISTRIBUSI HUJAN DIANGGAP SAMA SEPANJANG WAKTU DAN TEMPAT DURASI HUJAN LEBIH LAMA DARI “CONCENTRATION TIME” HUJAN (TERUTAMA) DARI ALIRAN PERMUKAAN PROSES PENAMPUNGAN HUJAN DIABAIKAN 3/20/2018 113 .

Pengertian : Banjir Aliran yang relatif lebih tinggi  tidak tertampung lagi oleh alur sungai / saluran Debit banjir maksimum tahunan Q Puncak debit / hidrograf tertinggi selama 1 tahun pencatatan  m3 / dt t Banjir rata-rata tahunan 3/20/2018 Jumlah banjir maksimum tahunan dibagi jumlah tahun 114 .

faktor keamanan. ekonomi. mis : 5 tahunan. dan115 sosial . 10 tahunan Probabilitas kejadian banjir Kemungkinan terjadinya banjir pada sembarang tahun (p) Debit banjir rencana Debit maksimum dari suatu sungai yang besarnya didasarkan kala ulang tertentu Debit desain Debit banjir maksimum yang ditentukan 3/20/2018 berdasarkan kala ulang. Kala ulang Selang waktu pengulangan banjir pada kurun waktu tertentu (T) .

Metode rational • Untuk daerah yang belum memiliki data hujan / debit (ungauged sites) • Untuk daerah pengaliran sungai yang kecil (small catchments) 3/20/2018 116 .

A  m m /ja m ha l/d t 2 Q = 0 .2 7 8 C . I .0 0 8 C . A I = Intensitas hujan rata-rata A = Luas catchment I A Q Q = 2 . I . I . A  m m /ja m km m 3/d t Q = 1 . A  in c i/ ja m acre C fs = f3/d t U S S U A L L Y N E G L E C T E D 3/20/2018 117 . Qp = Puncak debit C = Koefisien run off Qp = C .7 8 O C . I .

6 km2 CA = 0. CB = 0. 7 . AB = 0.3 A tcA = 20 menit . tcB = 60 menit B Gunakan assumsi kala ulang (t) = 10 tahun dengan fungsi IDF 3/20/2018 1000 T 0 .4 km 2 .6 . 2 I  118 (t r  20 ) 0 . Aplikasi Metode Rasional Beberapa Qp pada area 1 km2 dengan karakteristik sbb : AA = 0.

3 x 0.4 + 0.7 6 0 .5 0 0 .8 3 0 .4 50 8 0 .6 x 0.83 (0.6 Qp = 0. SOLUSI L a m a h u ja n tr I n te n s ita s H u ja n K o n tr ib u s i a r e a B ( m e n it) ( m m /ja m ) (k m 2) 20 1 1 9 .278 x 119.2 2 0 .3 40 9 0 .2 30 1 0 2 .9 9 0 .2 ) = 10 m3/dt Kontribusi area B dihitung dengan assumsi bahwa konsentrasi aliran linear ke outlet 119 3/20/2018 .5 60 7 3 .

Sesi Perkuliahan XI ANALISA FREKUENSI 3/20/2018 120 .

Normal 2.ANALISA FREKUENSI Analisa yang dilakukan berdasarkan sifat statistik data yang tersedia untuk memperoleh probabilitas besar air hujan (debit) di masa yang akan datang Sifat statistik data yang akan datang dianggap sama dengan sifat statistik data yang tersedia Jenis distribusi frekuensi yang sering digunakan 1. Pearson tipe III 3. Gumbel 3/20/2018 121 . Log.

I. DISTRIBUSI NORMAL Px Luas dibawah kurva = 1  P(  x  )   P( x)  1   x  x • Untuk aplikasi digunakan tabel luas berdasar x μ t 3/20/2018 σ 122 .

tentukan : 1. Bila hujan (R) rata-rata dihitung dari data 100 tahun. Contoh : Suatu DPS mempunyai Rrata-rata = 2527 mm/th dan  = 586 mm/ . Peluang curah hujan lebih dari 3500 mm/th 3. Peluang hujan antara 2400 dan 2700 mm/th 4. th Bila data hujan sebarannya normal. Peluang curah hujan kurang dari 2000 mm/th 2. berapa jumlah data yang R-nya antara 2400 2700 mm/ ? th 3/20/2018 123 .

8999)  0. Solusi 1. tabel 2000 2527 x 2000  2527 t  0.899 586 P( X  2000)  P(t  0.1867  R  2000 mm berpeluang 18.67% 3/20/2018 th 124 .

9515  0. 2.66)  1  P (t  1.0485  Hujan  3500 mm berpeluang 4. 2527 3500 x 3500  2527 t  1.66)  1  0.66 586 P ( X  3500)  P (t  1.85% 3/20/2018 th 125 .

3. 2400 2527 2700 2400  2527 P ( x  2400)  t  586  0.216 2700  2527 P( x  2700)  t  586  0.296 3/20/2018 126 .

73 data 3/20/2018 127 . Jumlah data yang curah hujannya antara 2400-2700 mm/th adalah = 0.4168  0.P(2400  x  2700)  P(0.1973 x 100 data = 19.216  t  0.75% th 4.296)  P(t  0. peluang 19.6141  0.216)  0.1973  Hujan antara 2400  2700 mm memp.296)  P(t  0.

Analisa distribusi Grafis Frekuensi Analitis Cara grafis mem-plot data pada kertas probabilitas N 1 m Rumus Weibul : T  .s Xt = nilai variat x pada periode ulang T tahun x = nilai variat x rat-rata k = faktor frekuensi . s = standart deviasi 3/20/2018 128 . P m N 1 Cara matematis digunakan bila grafik tidak lurus Rumus Umum . X T  x  k.

S Gumbel  X T  X  k.S Y = nilai reduksi variat dari variabel yang diharapkan terjadi pada periode ulang T tahun  tabel Yn = nilai rata-rata dari reduksi variat  tabel Sn = deviasi standart dari reduksi variat  tabel 3/20/2018 129 .II DISTRIBUSI GUMBLE S X  X  (Y  Yn ) Sn Rumus Umum Garis Lurus X  X  k.

S Y = nilai logaritmik dari data X Y = nilai rata-rata dari y S = standart deviasi dari y K = karakteristik dari distribusi log pearson tipe III  tabel 3/20/2018 130 . DISTRIBUSI LOG PEARSON tipe III Rumus Umum Garis Lurus Y  Y  k.I I I.

Sebelum membahas penerapan analisa frekuensi dalam perhitungan banjir rencana . berikut beberapa pengertian yang perlu dipahami Prose pengalih ragaman Analisa Hidrologi (transformasi) hujan debit melalui sistem DAS Output : Perkiraan besar Q atau R Rencana untuk suatu bangunan air tertentu 3/20/2018 131 .

Q/R rencana (design flood) Nilai kala ulang (return periode yang ditetapkan) T T Bangunan masih harus berfungsi baik. minimal selama T tahun (secara struktural /fungsional) 3/20/2018 132 .

bangunan hidro- lik sehingga kerusakan Debit puncak yang ditimbulkan oleh Volume banjir banjir tidak boleh terjadi selama besaran banjir itu TMA tidak terlampaui hidrograf 3/20/2018 133 . Besaran banjir untuk Design flood menentukan dimensi bangunan .

Daerah yang dilindungi  Teknis 3. Ukuran / jenis proyek  Sosial 5. Data yang tersedia 2. Penetapan banjir Rancangan (QR) Tergantung : 1. Dana yang ada  Ekonomi 4. Kebijaksanaan politik  Keuangan 3/20/2018 134 .

Dalam praktek analisis hidrologi : Teknis  cara penetapan QR dipengaruhi : • Data yang ada • Tingkat ketelitian • DAS yang ditinjau 1. Banjir maksimum terukur  Digunakan bila tak ada data sama sekali  Digunakan pada kondisi memaksa  Digunakan pada tahap awal perencanaan (FS) 3/20/2018 135 .

I.I.2. Rumus Empirik Berdasarkan pengamatan/percobaan • Digunakan bila : .data sedikit.78 C.A Inci/jam Ha l/dt 3/20/2018 136 .A • Banyak kesalahan dibandingkan cara statistik  tergantung besaran C yang digunakan  subyektif Usually neglected I A Q Q= 1.278 C. DAS kecil • Menghasilkan satu debit puncak yang tergantung paremeter DAS • Example : Rumus Rasional Q = C.I.A Inci/jam Km2 m3/dt Q= 2.A Inci/jam Acre Cfs = f3/dt Q= 0.008 C.I.

26 % 55.01 %  dibandingkan dengan 3/20/2018 analisis frekuensi data 137 debit . Havpers  dengan kondisi Ind.Pemanfaatan Data Hujan  Berdasar persamaan rasional/empirik  Parameter DAS sebagai unsur pokok  subyektif  Lebih cocok untuk urban area  Dapat dikaitkan dengan return – periode yang dikehendaki Diragukan kesesuaian Weduwen.72 % 85. ’85)    Penyimpangan 89. Melchior. (Sri Harto. 3.

4. Wadaslintang. Bili-bili 3/20/2018 138 . Saguling. Wonogiri. Jatiluhur.Sn  15 ( hershfield '61 ) Contoh penggunaaan PMF : Bend.Probable Maximum Flood (PMF) • Q>>>> bangunan sangat mahal • Untuk bangunan multipurpose dan menyangkut “human life” (spillway pada bendungan) • Probable maximum precipitation (PMP) digunakan jika data debit tidak ada Estimasi PMP : X Max  X n  K Max . Mrica. Cirata.

Urutkan data dari besar  kecil 3.S. Parameter : x . Gumble Urutan analisis 1. 5. Log-PersonIII. Cs. moment. Log Normal. Cv. . least square.S  persamaan umum analisa frekuensi hidrologi 3/20/2018  Hub. Tarik garis (curve fitting) dengan metode : Graphical(visual). maximum likelly hood 5. Ck 2.Analitis : X  X  k. K  T  tabel 139 .Analisis frekuensi (cara Statistik) • Cara terbaik dengan memanfaatkan langsung data aliran sungai • Distribusi normal. Plot pada kertas 4.

Model hidrologi Sajian sederhana (simple representation) dari sistem hidrologi yang kompleks • Stokastik  konsep probabilitas • deterministik 3/20/2018 140 . 6.

Sesi perkuliahan XII/XIII/XV PERHITUNGAN DEBIT BANJIR (METODE STATISTIK) 3/20/2018 141 .

DEBIT BANJIR RENCANA {m3/det}  Sebagai dasar perencanaaan bangunan keairan Pengertian Banjir : aliran yang relatif tinggi dan tidak tertampung lagi oleh alur sungai /saluran Debit banjir maksimum tahunan Q Debit aliran sesaat dengan puncak hidrograf tertinggi selama 1 tahun pencatatan 3/20/2018 142 t .

Banjir Rata - rata tahunan : • Jumlah banjir

Q maks 1  Q m2    Q mn maksimum tahunan
 n
dibagi tahun kejadian

Kala ulang
Selang waktu pengulangan suatu kejadian (banjir)
pada kurun waktu tertentu (T), misal : 5 th, 10 th,
…100 th.

Probabilitas kejadian debit banjir
 Kemungkinan terjadinya banjir pada sembarang
tahun (P)
3/20/2018 143

Debit banjir rencana

 Debit maksimum dari suatu sungai/
saluran yang besarnya didasarkan kala
ulang tertentu

Debit desain

 Debit banjir maksimum yang ditentukan berdasarkan
kala ulang, faktor keamanan, ekonomi, dan sosial

3/20/2018 144

PERHITUNGAN DEBIT
BANJIR (RENCANA)
Data yang diperlukan :
 Karakteristik Daerah Pengaliran Sungai (DPS)
(luas, kemiringan, bentuk, data-data geologi,…
dll)
 Hujan : tinggi curah hujan, intensitas hujan,
periode pencatatan.
 Debit sungai  debit banjir tahunan
 Morfologi sungaai :~ L, B, i, n
3/20/2018 145

Metode penghitungan : Rumus Empiris  DAS kecil. Prosedur Statistik Unit hidrograf Penentuan metode perhitungan:  berdasar :  Data yang tersedia  Keputusan (engineering judgment) si designer 3/20/2018 146 .

waktu terjadinya sangat random (sangat tidak beraturan) 3/20/2018 147 . Cara statistik • Berdasarkan data hidrologi yang lalu  untuk prediksi kemungkinan terjadi banjir dimasa yang akan datang. • Phenomena hidrologi : banjir. hujan.

4 2. Variabel statistik hidrologi • Kontinyu ( a) • Deskrit (b) 500 400 Tgl Jam H Q Debit m3/det 1-1-76 12.00 0.00 0.5 4 300 5-6-76 10.5 0 J F M A M J J A S O N D Bulan A) Continous 3/20/2018 Time Series B) Discontinous Time Series 148 .1 200 100  3-12-80 4.30 0.3 1.

Var. : • Deret berkala : data disusun menurut waktu (a) & (b) (Time series) • Distribusi : data disusun menurut besarnya (kecil besar atau sebaliknya • Frekuensi : jumlah kejadian dari sebuah variate dari variable diskrit • Distribusi frekuensi : S frek 3/20/2018 149 3 Nilai data . debit  Q = 100 m3/det Variat = sebuah nilai numerik dari sebuah variabel Susunan data var. Hidrologi.

Devasi rata. Nilai rata .rata penyim-pangan mutlak dari rata -rata hitungan rata untuk semua nilai variat Penyimpangan n 1 MD  n  i 1 xi  x MD = mean deviaton ( penyimpangan rata-rata) xi = nilai variat ke-i x = rata-rata xi n3/20/2018 = jumlah data 150 .

•Deviasi Standar dan Varian n n  (x i  x) 2  (x i  x) 2 S i 1 S  2 i 1 n n Deviasi standar Varian S>>> penyebaran data sangat besar terhadap nilai rata-ratanya •Koefisien variasi (CV = variation coefficient) S = deviasi standar S CV  x = rata-rata hitung x S dalam 3/20/2018 persen : CV   100151% x .

2)  xi  x  3 3/20/2018 i 1 152 . •Kemencengan (skewness) = nilai yang menunjukkan derajat ketidak simetrisan dari suatu bentuk distribusi Pengukuran kemencengan  coeffisien of skewness (CS) α CS  3 (untuk populasi) σ α S = deviasi CS  3 (untuk Sample) S standar n a n (n .1)(n .

frekuensi frekuensi x  Md nilai Md x nilai frekuensi nilai x Md • Median (Md) = nilai tengah dari suatu distribusi = variabel yang membagi distribusi menjadi 2 3/20/2018 bagian yang sama 153 .

S X = nilai debit pada periode ulang T tahun x = nilai rata-rata variat S = deviasi standar nilai variat K 3/20/2018 = faktor frekuensi 154 . Distribusi Normal Data debit hujan yang telah dihitung besar periode ulangnya. jika digambarkan pada kertas grafik peluangnya  garis lurus Persamaan Umum Garis Lurus x  x  k. 1.

84 = 113. 20. Garis Lurus X = 92.16 + (25.95) .16 + (25.16 + (25.16 + (25.contoh Tentukan debit dengang periode ulang 2 .35 juta m3/th Note :  Tabel data 3/20/2018 155  tabel nilai var. 10. 0 = 92.95) . 1.16 + (25.16 juta m3/th X5 = 92. dan 50 jika datanya mengikuti model distribusi normal Data x = 92.37 juta m3/th X20= 92.95) .28 = 125. 1.5 .71 juta m3/th X50 = 92.95 juta m3/th X10 = 92.16 + (25.95 juta m3/th Pers. 0.05 = 145.64 = 134.95).16 juta m3/th S = 25.k Berdasarkan nilai variabel reduksi gauss.95) .95) . reduksi gauss . 2. diperoleh X2 = 92.

Yn ) . Sn Rumus umum garis lurus : x  x  k .S XT = hujan/debit dengan periode ulang T tahun x = hujan/debit rata-rata S = standar deviasi Y = nilai reduksi variat dari variable yang diharapkan terjadi pada periode ulang T. Metode Gumbel S  x  (Y . Tabel  hubungan antara T dan Y Yn = nilai rat-rata dari reduksi variat  nilainya tergantung dari jumlah data  tabel Sn = deviasi standar dari reduksi variat  tergantung n  3/20/2018 156 tabel .S Gumbel  xT  x  k . 2.

56 x2  286.56 m3/det Rumus umum garis lurus S Gumbel  xT  x  (Y .49. S30 55. dan 100 tahun dengan data sebagai berikut n = 30 .2  (3.2  (1.5362) .1124 x5  286.5362) . 50.946  372 m 3 /det x20  286.Y30 ) .2  (0.0.946  404 m 3 /det x50  286.5362) .9019 .946  334 m 3 /det x10  286.49.49.2  (2.946  454 m 3 /det x100 3/20/2018 286. contoh Hitung debit banjir maksimum DPS Citarum Nanjung pada periode ulang 2.0. x = 286.49.0.49.6001 .946  489 m 3157 /det .  275m 3 /det 1.4999 . 10.9019 . 5.5362) .2504 .0.5362) .20 m3/det .3665 .2  (2.5362) .2  (4. S = 55.0.0.

S y = nilai logaritmik dari x = nilai rata-rata dari y y S = standar deviasi dari y K = karakteristik dari distribusi log pearson type III  tabel 3/20/2018 158 .3. Metode Log Pearson type III Rumus garis lurus : y  y  k .

log x   log x n 3 Hitung nilai deviasi standar dari log x . log x  log x  k (S log x) 5) Tentukan anti log dari log x 3/20/2018 159 .log x  3 4  Hitung koefisien skewness .rata.  log x  log x  2 S log x  n 1 n log x. Prosedur menentukan kurve distribusi log pearson tipe III 1) Tentukan logaritma dari semua nilai variat x 2  Hitung nilai rata . cs  n  1n  2S log x 3  Persamaan semula menjadi .

834 .4009  nilai k dari tabel Q5 = log X5 = 1.1754) Dari cs = . (0.contoh Tentukan debit pada T = 2.7463  X5 = 55.76160 . 5.4009 Persamaan : log x = 1.55 Q50 = log X50 = 1. (0.4247 S log x  0.1754) 3/20/2018 log X5 = 1.1754 cs  -0.4247 + 1. 10. Dengan data sebagai berikut : (tabel data) Dari data diperoleh : log x  1.4247 + k (0.0.855 . 25.5746  X5 = 37. & 50 tahun.1754) log X5 = 1.4247 + 0.

55 3 10 10 43.86 5 50 2 55.30 2 5 20 37.71 4 25 4 50.76 3/20/2018 161 . Hasil selengkapnya : Peluang Q No Periode Ulang (th) (%) (m3/det) 1 2 50 27.