You are on page 1of 31

PEMANFAATAN PAJAK

ROKOK DAERAH UNTUK
BIDANG KESEHATAN

Bali, 18 Desember2015

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan

I. Kebijakan Umum
Outline
1. Latar Belakang dan Dasar Hukum Pajak Rokok;
2. Kebijakan Pajak Rokok;
3. Tahapan Pelaksanaan Pajak Rokok
a. Pembayaran dan Pemungutan;
b. Penyetoran; dan

c. Penyaluran Bagi Hasil Pajak Rokok oleh Provinsi;
d. Monitoring dan Evaluasi Penggunaan.

4. Pengganggaran dan Pengunaan, Pelaporan dan Pemantauan;
5. Peran Propinsi dalam Pelaksanaan Pajak Rokok;
6. Pendanaan Fungsi Kesehatan dan Penegakkan Hukum;

II. Pokok Perubahan PMK No. 102/PMK.07/2015 tentang Perubahan atas PMK
No, 115/PMK.07/2013 tentang Tata Cara Pemungutan dan Penyetoran Pajak
Rokok;
III. Realisasi Pajak Rokok
(Target dan Realisasi Pajak Rokok TA 2014 & TA 2015) 2

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan

1. Latar Belakang & Dasar Hukum
 Perlunya Peningkatan kekuatan perpajakan daerah (local taxing
power) guna meningkatkan kemampuan daerah dalam
menyediakan pelayanan publik, khususnya pelayanan
kesehatan.
 Perlunya Penerapan piggyback taxes, atau tambahan atas objek
pajak yang dipungut oleh Pemerintah Pusat terhadap konsumsi
barang yg perlu dikendalikan, sesuai dengan best practice yg
berlaku di negara lain.

Penetapan Pajak Rokok sebagai salah satu pajak daerah
didasarkan pada pertimbangan membatasi konsumsi rokok dan
peredaran rokok ilegal, melindungi masyarakat atas dampak
negatif rokok dan peningkatan pendanaan fungsi pelayanan
kesehatan masyarakat serta untuk meningkatkan PAD.
3

15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara. • UU No.05/2013 tentang Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat. 4 . PMK 102/PMK. • UU No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. • PMK Nomor 266/PMK. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Pemungutan dan Penyetoran • UU APBN: Penetapan target pendapatan Cukai Hasil Tembakau (CHT). • PMK Nomor 115/PMK.02/2014 tentang Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Transaksi Khusus. KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan 1. Latar Belakang & Dasar Hukum • UU No. Akuntansi dan Pelaporan • PMK Nomor 213/PMK.07/2015 tentang Tata Cara Pemungutan dan Penyetoran Pajak Rokok.07/2013 jo. • UU No. 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.

Tata Cara o Dipungut oleh instansi Pemerintah yang berwenang Pemungutan memungut cukai bersamaan dengan pemungutan cukai dan rokok.  Rokok meliputi sigaret. KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan 2. Wajib Pajak Pengusaha pabrik rokok/produsen dan importir rokok yang memiliki izin berupa Nomor Pokok Pengusaha Barang Kena Cukai. dan rokok daun. Objek Pajak  Konsumsi rokok. Subjek Pajak Konsumen rokok. Penyetoran  Pajak Rokok disetor ke RKUD Provinsi secara proporsional berdasarkan jumlah penduduk. Kebijakan Umum Pajak Rokok (1) Pajak Rokok adalah pungutan atas cukai rokok yang dipungut oleh Pemerintah. cerutu. 5 . Tarif 10% dari cukai rokok. kecuali rokok yang tidak dikenai cukai berdasarkan peraturan per-UU-an di bidang cukai.

/kota sebesar 70%. baik bagian provinsi maupun bagian kab. Earmarking Penerimaan Pajak Rokok. Pelaksanaan 1 Januari 2014. Kebijakan Umum Pajak Rokok (2) Bagi Hasil  Hasil penerimaan Pajak Rokok diserahkan kepada kab./kota./kota. Pemungutan Dasar Peraturan Daerah mengenai Pajak Rokok Pemungutan 6 ./kota ditetapkan dengan memperhatikan aspek pemerataan dan/atau potensi antarkab. dialokasikan paling sedikit 50% untuk mendanai pelayanan kesehatan masyarakat dan penegakan hukum oleh aparat yang berwenang. KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan 2.  Bagian kab.

Monev Penggunaan Dana/Bagi Hasil Pajak Monev Rokok oleh Provinsi/Kabupaten/Kota. Penganggaran dan Penganggaran dan Transfer bagi hasil Pajak Transfer Bagi Hasil Rokok oleh Provinsi ke Kabupaten Kota. 7 . Tahapan Pelaksanaan Pajak Rokok Wajib Pajak membayar Pajak Rokok Pembayaran bersamaan dengan pembelian pita cukai Pemungutan Pajak Rokok oleh Kantor Bea Pemungutan dan Cukai (KPBC) bersamaan dng pemungutan cukai rokok. Penyetoran ke RKUD Propinsi oleh PA/KPA Penyetoran Pajak Rokok.KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan 3.

Pembayaran dan Pemungutan Pajak Rokok (1)  Dasar pengenaan Pajak Rokok adalah cukai yg ditetapkan oleh Pemerintah terhadap rokok. 8 .  WP menghitung sendiri Pajak Rokok melalui SPPR (surat pemberitahuan Pajak Rokok). KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan 3a.  Tarif Pajak Rokok ditetapkan sebesar 10% dari cukai rokok.  Pemungutan Pajak Rokok dilakukan oleh Kantor Bea dan Cukai (KPBC) bersamaan dg pemungutan cukai rokok.  Apabila WP tidak melakukan pembayaran Pajak Rokok.  Besaran pajak rokok terutang = (tarif pajak x dasar pengenaan Pajak Rokok). KPBC tdk melayani Permohonan Pemesanan Pita Cukai Hasil Tembakau.

07/2013 jo PMK 102/PMK. KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan Pembayaran dan Pemungutan Pajak Rokok (2)  Pasal 27 ayat (5) UU 28 tahun 2009: ”Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemungutan dan penyetoran Pajak Rokok diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan.  pembayaran Pajak Rokok dengan SSBP bersamaan dengan pembayaran cukai dengan SSPCP.  Dokumen pembayaran adalah Surat Setoran Bukan Pajak (SSBP).  Proses pemungutan pajak rokok dibuat sejalan/linear dengan proses pemungutan cukai  Dokumen dasar pemungutan pajak rokok adalah Surat Pemberitahuan Pajak Rokok (SPPR/PR-1). 9 .”  Tata Cara Pemungutan Pajak Rokok diatur dalam PMK- 115/PMK.  Pengajuan SPPR bersamaan dengan pengajuan CK-1.07/2015.

atau b. KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan Pembayaran dan Pemungutan Pajak Rokok (3)  Dalam hal Pajak Rokok kurang dibayar. tidak dilayani CK-1 berikutnya sampai dengan dilunasinya pembayaran Pajak Rokok untuk pembayaran Cukai Rokok yang mendapatkan penundaan pembayaran cukai. 10 . Ditunda pelayanan Pita Cukai Rokok sampai dengan dilunasinya pembayaran Pajak Rokok untuk pembayaran Cukai Rokok secara tunai. maka: a. maka Permohonan Penyediaan Pita Cukai (P3C) untuk kebutuhan bulan berikutnya tidak dilayani.  Dalam hal Pajak Rokok belum dilunasi.

3) (lbr 1&3) CK-1 & SSPCP 2 KPPN 7 Laporan Rekapitulasi 8 Bulanan 9 Laporan Bulanan KPPBC DJPK KP DJBC 11 .3.2.2.4) + CK-1 & SSPCP SSBP (lbr 1 & 3) + BPN (lbr 1 & 3) + CK-1 & SSPCP 4 5 Pengusaha SSBP (lbr 2) + BPN (lbr 2) 1 6 Ambil Pita Cukai CK-1 + CK-1 + SSBP (lbr 3) SPPR SPPR + (lbr 1. ALUR PEMUNGUTAN PAJAK ROKOK 3 SPPR (lbr 3) & SSBP (lbr 1.

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan 3b. PENYETORAN PAJAK ROKOK .

BUN Menunjuk Dirjen PK sebagai PA Pajak Rokok Men Keu Menyusun & menandatangani SKP-PR PA & SKP-KP2R DJPK Dir. KPA Menetapkan PP SPP/SPM PDRD Kasubdit • Menerbitkan & Penerbit Sindutek SPM menandatangani SPM KPPN Menerbitkan & menandatangani Penerbit Jkt 2 SP2D Transfer ke Daerah SP2D • Membuka Rekening Kas Umum Daerah (RKUD) Propinsi 13 • Mengkonfirmasi ke Bank atas penerimaan Pajak Rokok pd BUD 13 RKUD .

– Triwulan IV (penerimaan Desember): disetor bersamaan dengan TW I tahun berikutnya. akan diperhitungan dlm penyetoran tahun berikutnya. Ditjen Bea dan Cukai. – Triwulan IV (penerimaan bulan Okt – Nov): disetor Desember). III : disetor setiap bulan pertama triwulan berikutnya. KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan Pola Penyetoran Pajak Rokok (2)  Penyetoran pajak rokok dilakukan secara triwulanan. dan Ditjen Perbendaharaan.  Apabila terjadi kelebihan penyetoran Pajak Rokok ke RKUD provinsi. 14 .  Perhitungan kelebihan didasarkan pada hasil rekonsiliasi antara Ditjen Perimbangan Keuangan. yaitu: – Triwulan I sd.

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan 15 .

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan 16 .

 Provinsi menyampaikan informasi rencana Bagi Hasil Pajak Rokok kepada kabupaten/kota untuk digunakan sebagai bahan penyusunan APBD. PENGANGGARAN PAJAK ROKOK DJBC DJPK Provinsi Kab/Kota  DJBC menyampaikan rencana penerimaan Pajak Rokok secara nasional kepada Ditjen Perimbangan Keuangan dlm rangka penetapan target penerimaan Pajak Rokok pada APBD Provinsi. 17 .  DJPK menyampaikan informasi rencana penerimaan Pajak Rokok kepada Provinsi untuk digunakan sebagai bahan penyusunan APBD (pengakuan utang/piutang utk realisasi bln Desember). 4.

28 tahun 2009) Pasal 31 UU No. DAK. penegakan aturan mengenai larangan merokok sesuai dengan peraturan perundang-undangan. penyediaan sarana umum yang hukum oleh aparat yang berwenang” memadai bagi perokok (smoking area). iklan layanan masyarakat mengenai APBD. dan kesehatan yang belum didanai dari APBN. kegiatan memasyarakatkan bahaya Untuk kegiatan penanganan masalah merokok. DBH CHT. c. baik bagian lain: provinsi maupun bagian kabupaten/kota. kesehatan masyarakat dan penegakan b. a. dikerjasamakan dengan pihak/instansi lain. Penggunaan penerimaan Pajak Rokok dan diatur dan dituangkan dalam Perda APBD b. pemberantasan peredaran rokok illegal. antara lain. Dana Dekon & Tugas bahaya merokok. d. a. 18 . 28 Tahun 2009:  Pelayanan kesehatan masyarakat antara “Penerimaan Pajak Rokok. pembagunan/pengadaan dan dialokasikan paling sedikit 50% (lima pemeliharaan sarana dan prasarana puluh persen) untuk mendanai pelayanan unit pelayanan kesehatan. Penggunaan Pajak Rokok (Amanat UU No. kewenangan Pemda yang dapat masing daerah. Perbantuan. Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) dan sumber  Penegakan hukum sesuai dengan pembiayaan kesehatan lainnya di masing. 4.

 Menetapkan Peraturan Kepala Daerah mengenai Bagi Hasil penerimaan Pajak Rokok (30% bagian Provinsi dan sebesar 70% bagian kabupaten/kota)./kota ditetapkan dengan memperhatikan aspek pemerataan dan/atau potensi antar kab.BAGI HASIL PAJAK Pajak Rokok – Pasal 94 UU 28/2009  Menetapkan Perda Pajak Rokok./kota. 19 . PERAN PROVINSI .  Pemantauan Earmark hasil penerimaan Pajak Rokok untuk mendanai pelayanan kesehatan masyarakat dan penegakan hukum oleh aparat yang berwenang. KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan 5.  Bagian kab.

MONITORING DAN EVALUASI PENGGUNAAN DANA PAJAK ROKOK .

2. Monev terhadap pembagian dan penyetoran pajak rokok dari provinsi kepada kab/kota. Monev terhadap alokasi penggunaan penerimaan pajak rokok untuk pelayanan kesehatan masyarakat dan penegakan hukum. 3. Monev terhadap pelaksanaan pedoman teknis pengunaan pajak rokok untuk program/kegiatan bidang pelayanan kesehatan. KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan Tindak lanjut Pelaksanaan Pajak Rokok 1. 21 .

07/2015 TENTANG PERUBAHAN ATAS PMK NO. POKOK PERUBAHAN PMK NO.KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan II.07/2013 TENTANG TATA CARA PEMUNGUTAN DAN PENYETORAN PAJAK ROKOK 22 . 102/PMK.115/PMK.

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan Perubahan dan Pengaturan Baru (1) Penerbitan Kepdirjen mengenai Desember proporsi dan estimasi penerimaan Pajak Rokok November Setelah LAK Audited Penyetoran penerimaan bulan Desember bersamaan Triwulan I 23 .

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan Perubahan dan Pengaturan Baru (2) Penyederhanaan Administrasi Pelimpahan sebagian fungsi PA (Dirjen) ke KPA (Direktur PDRD) 24 .

25 . DJPK (10 hr kerja setelah penyaluran Bagi Hasil Pajak Rokok) • Pemantauan atas pemanfaatan Pajak Penggunaan & Monev Rokok oleh Provinsi dan penyusunan pedoman oleh Menkes.q. Menkeu c. • Penyampaikan laporan realisasi penyaluran bagi hasil Pajak Rokok ke Laporan. KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan Perubahan dan Pengaturan Baru (3) Batas • Penyalurkan bagi hasil Pajak Rokok ke Penyaluran Kabupaten/Kota (7 hr kerja setelah BgHsl Pajak Rokok masuk RKUD).

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan Perubahan dan Pengaturan Baru (4) Sisa Penggunaan Pajak Rokok (Pasal 31A) Dalam hal sampai dengan akhir tahun anggaran terdapat sisa penggunaan Pajak Rokok. 26 . maka sisa penggunaan Pajak Rokok tersebut digunakan untuk mendanai kegiatan pelayanan kesehatan masyarakat dan penegakan hukum oleh aparat yang berwenang pada tahun anggaran berikutnya.

Realisasi Penyetoran Pajak Rokok TA 2014. dan Estimasi Pajak Rokok 2016 27 . Realisasi Penyetoran Pajak Rokok TA 2015. KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan III.

Realisasi Penyetoran Pajak Rokok TA 2014 28 .

861.172.236.854.420.944.194 19 Provinsi Nusa Tenggara Timur 39.279.800.531.957.908.088.143.041.088 579.554.851.827 54.395.037.400 45.141.820.355.848.179.303 351.568.910.397.027 197.705.583.794.033.744 202.906.482 49.276 57.670.888 4 Provinsi Riau 49.757.848.216.743.812.376.114.156.590 24.367.322 122.606 29 10.485.236.516.008.452 30.984.105.907.882 356.879 42.362.502.335.000.812 18 Provinsi Nusa Tenggara Barat 37.737.703 191.389.051.626.445.451.932.318 51.526.720.598 14.408 7.315 66.157.759.590 404.268.547.671.980.243 33 Provinsi Papua 26.769.052.257.381 50.965.460 3.982 28.052 2.291.762.071 45.894 11.126.490.586.676 41.597.387 34 Provinsi Papua Barat 6.307.165.421.231. REALISASI PENYETORAN PAJAK ROKOK TA 2015 APBN 2015 Target 11 Bulan Penyetoran TW I Penyetoran TW II Penyetoran TW III Jumlah Rp 12.518 3 Provinsi Sumatera Barat 40.815 16 Provinsi Banten 92.148.872.943 15.155.131.525 470.314 12 Provinsi Jawa Barat 365.057.363.405 1.971 22 Provinsi Kalimantan Selatan 30.344.151.303.881 46.491.063.667 1.728 22.577.646.046.792.506 105.540 38.936 35.539.081 36.368.809.513.390.171 28 Provinsi Sulawesi Tenggara 19.313.996.118 2014 2015 Total Penyetoran No Nama Provinsi Desember TW I TW II TW III 2015 1 Provinsi Aceh 38.008.395.727.055.676.909.798.529.041.691.654.835 38.592.887.129.555.242.181 77.851 134.127.792 13.188 322.083.278.222 421.264 49.894 .176.778.121.824.531.420.018 10.962 165.127 60.039.130.602 32.471.264.075.210.329.018.970.329 34.502.075 20 Provinsi Kalimantan Barat 36.052 8 Provinsi Lampung 63.355 30.021.045.960.288.109.695.363.352.137 10 Provinsi Kepulauan Riau 15.455.518 482.030 157.798 2 Provinsi Sumatera Utara 107.296.455.075 106.691.382.861.659.677 7 Provinsi Bengkulu 14.491 17.749.611.506.861.407 113.342.769.611.629.481.613.870 77.659 249.125.351.754.027.182 16.212.491.056 425.378.864 43.886.278 98.268 25.752.316.851.147 83.739.294.425.643.228.057 47.921 93.843 35.760 33.643 144.663 22.188.642.187.405.491 309.475.260.568 30 Provinsi Sulawesi Barat 10.463.605.783.208.473.368 25.708.269 23 Provinsi Kalimantan Timur 31.580.800 59.356 88.772.122.240.603 61.619.184.198.117.152 95.886.707.854.138.567 15 Provinsi Jawa Timur 307.667.597.520.016.125.039 17 Provinsi Bali 33.328.048.598.016.433.296.397 53.878.921.122.415 29 Provinsi Gorontalo 8.781.390 30.404.477.299 97.140.642.604 10.543.255.836 77.590.844 17.306.533.541 84.211.969.147.353.331.172.152.993 Jumlah 1.100.599.734. 5.460 Rp 3.836 63.832 127.521.719.825.600 26 Provinsi Sulawesi Tengah 22.310.264.428.090.879 27 Provinsi Sulawesi Selatan 66.652 45.938 485.238 8.368.221.619.062 552.679.642.785.851.182 21 Provinsi Kalimantan Tengah 18.669.263 126.029.683 14 Provinsi Di Yogyakarta 28.328.557 42.236 405.143.695 141.895.628 25 Provinsi Sulawesi Utara 18.320.093.211.751 17.593.956.562.195.048.678.050.310 24 Provinsi Kalimantan Utara ** .349.658 32 Provinsi Maluku Utara 8.332.007 14.075.750.658.088.552.646.351 10.796.022 11.494.196 35.944 50.464 99.622 11 Provinsi Dki Jakarta 80.343.974.010.643 74.255 44.622.970.981 173.075 22.390.533.812.925.904 339.827.249.469.606 Rp 8.605 29.851.741.080.910.058.249 31 Provinsi Maluku 13.905.000 Rp 2.702 108.830.878.694.402.089 206.313.731.419.026.222.108.281.035.057.108.000 Rp 11.067 37.694 30.298.542.877.345 64.620.947.887.075.917 74.063.951.352.909 20.263.025.645 13 Provinsi Jawa Tengah 262.284.318.828.490 147.762.651 126.097 51.807.354.392.890 11.565 7.662.774.000.907.792.983 44.439.083.270.642.103.520.465 43.686.241.834.196.131.232 319.411.619 25.245.518.320 146.983 1.689.007 20.776 2.025 5 Provinsi Jambi 26.594.959 6 Provinsi Sumatera Selatan 63.398.341.398.551 9 Provinsi Bangka Belitung 10.153.023.220 64.687 14.730.877.583.024 26.473.609.295.249.052 Rp 2.560 6.399.325.260.082.503 18.179 100.875.762.623 15.311.572 19.834 73.800 31.659.813.812 23.050.047.121 12.614 52.602.398.254 188.737.

626.853.078.279.666 0.009880 135.100.000 29.400.000 2.524.000 4 Provinsi Riau 5.490.999.000 60.885.456.598.869.007572 103.507.911.595.028.010.319.467.510.316.000 5 Provinsi Kepulauan Riau 1.000 396.249.004.263.269.613.468 0.587.045 0.599.392 0.988.827.910.007110 97.929.000 7.000 12.000 18.000 18.602.163.075.000 1.151.076.425.358.267.000 11 Provinsi DKI Jakarta 10.978.999.014.000 Jumlah 255.376.711 0.000 220.978.583.000 11.502.776.000 6.496.000 63.169.512 0.997.000 491.992.407.000 16 Provinsi Jawa Timur 39.000 19 Provinsi Kalimantan Selatan 3.172.858.478 1.560.592.000 30 Provinsi Nusa Tenggara Timur 5.585.000 7 Provinsi Sumatera Selatan 8.545.475.712.000 250.529.021100 289.987.000 15 Provinsi DI Yogyakarta 3.488.020650 282.000 204.380.589.000 167.651.090.347.415.368.000 530.331.075.905.530.618 0.063.092.828.877.000 204.153287 2.000 24 Provinsi Sulawesi Tengah 2.276.106.013901 190.687 0.925.000 128.256.472.000 23.082.270.320.812.127.074.902.122.306.846.998 0.037023 507.000 312.009591 131.000 18 Provinsi Kalimantan Tengah 2.005028 68.000 3.508 0.393.666.000 253.000 268.415 0.000 769.068.000 21 Provinsi Kalimantan Utara** 594.839.285.134.000 13.015622 214.408.136785 1.532.000 12.424.000 288.911 0.299.967 0.086.246.452.000 124.266.395.615.542.416.019914 272.000 492.004903 67.100.289 0.000 22 Provinsi Sulawesi Utara 2.393.013362 183.735.000 272.000 2.803.367.407.000 196.361.169.553.809.331.618.000 10.219.020205 276.109.563 0.560.013183 180.000 265.452 0.028 0.912.181.000 427.182.205.139.943 13 Provinsi Banten 10.754.058.150.000 102.242 0.000 68.349.723.792.830.729 0.155.790.718.000 261.044.686.276 2.000 19.966.000 74.000 7.699.243.333.000 174.956.000 165.279.338.000.847.673.663.090.263.267.758.000 29 Provinsi Nusa Tenggara Barat 5.002324 31.292.376.682.000 31 Provinsi Maluku 1.675.846.068.715.319.022.005948 81.000 15.482.403.993.783.864.000 33 Provinsi Papua 3.385.534 0.000 1.039141 536.477.666.570.679.879.447.847.377.000 188.726.166144 2.000 127.253.688.037344 511.000 9.000 279.000 2 Provinsi Sumatera Utara 14.000 32.000 6 Provinsi Jambi 3.656 0.000 30.000 55.107 0.946.007092 97.000 1.718.000 10 Provinsi Lampung 9.779.021.817.000 52.000 716.000 138.000 14 Provinsi Jawa Tengah 34.285.276 13.792.000 180.849.004.000 89.695.000 96.000 5.525.775.629.943 .964.085.015067 206.589.010121 138.869.000 469.314.000 15. Perdirjen 72/PK/2015 PROPORSI PEMBAGIAN PAJAK ROKOK UNTUK MASING-MASING PROVINSI TAHUN ANGGARAN 2016 Tgl 9Nov Jumlah Estimasi Penyetoran No Nama Provinsi Penduduk (JP) Proporsi JP Estimasi Penerimaan Estimasi Penerimaan Estimasi 2016 Pajak Rokok ke RKUD * s.331.164.752.099.284.749.295.000 3 Provinsi Sumatera Barat 5.566 0.203.851.835.290.667 176.000 4.846.000 34 Provinsi Papua Barat 1.520.451.535.531 0.000 499.000 284.189.093.985.810.278.377.762.293 0.858.000 38.000 18.873.000 136.551.147.834.520.667 969.392.104.846.784.864.632.374.781.360.043 0.000 189.000 23 Provinsi Gorontalo 1.073.000 4.164.000.702.000 133.000 129.585.000 65.591.954.190 0.555.000 12 Provinsi Jawa Barat 42.369.638.213.016314 223.000 17 Provinsi Kalimantan Barat 5.004459 61.039210 537.881.287.924.993.011064 151.907.579.214.000 52.031591 432.000 4.483.414.760.224.000 13.381.000 259.901 0.401 0.985.358.579.463.534.935.468.213.390.180.439.000 79.000 178.000 25 Provinsi Sulawesi Selatan 9.149.421.000 9.369.956.000 95.158.000 120.000 8 Provinsi Bangka Belitung 1.000 148.000 30.906.675.000 20 Provinsi Kalimantan Timur 3.424.000 61.320 0.759.369.000000 13.000 149.581.000 95.086.722.000 9.000 89.000 208.829.766.004.275.551.004182 57.000 465.993.550.022995 315.005.055.325 0.205.088.000 31.671.547.000 19.113.636 0.057084 782.780.122.874.000 537.521.295.d November 2016 Desember 2015 2016 2016 2016 1 2 3 5 6 7 8 9 1 Provinsi Aceh 5.338.020806 285.909.340.491.851.000 278.000 44.005.125.095.000 27 Provinsi Sulawesi Tenggara 2.893.000 56.000 497.321.887 0.337.939.965.000 26 Provinsi Sulawesi Barat 1.000 9 Provinsi Bengkulu 1.854.193.000 2.171.000 28 Provinsi Bali 4.318.887 0.429.000 32 Provinsi Maluku Utara 1.286.

Jalan Dr Wahidin No.go.id Email : subdit5.com 3 .djpk. 1 Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan Jakarta Pusat 10710 Telp/ Fax 021 3509442 Dit.com pajakrokok@gmail. Korespondensi: Kementerian Keuangan Republik Indonesia Gedung Radius Prawiro .depkeu. Pajak Daerah dan Retribusi Daerah www.pdrd@gmail.