You are on page 1of 19

Alfia Safitri., S. Kep., Ns., M.

Kep

 Eklamsia adalah kejadian konvulsi selama kehamilan atau dalam 10 hari melahirkan berkaitan dengan preeklamsia atau hipertensi selama kehamilan. .  Eklamsia adalah kejang berkaitan dengan preeklamsia yang tidak dapat dihubungkan dengan gangguan serebral lain.

diastolik diatas 90 mmHg atau lebih pada dua pemeriksaan berturut-turut dengan interval 4 jam  Proteinuria 1 + atau lebih pada dipstik yang perlu dikonfirmasi pada uji urine dalam 24 jam  Ekskresi protein total 300 mg atau lebih dalam uji terhadap urin 24 jam .  TD Diastolik lebih dari 110 mmHg. Preeklamsia adalah gangguan progresif selama kehamilan yang dipicu oleh plasenta abnormal yang mengakibatkan kerusakan endotel pembuluh darah  Tanda gejala.

Prostasiklin. Sensitivitas abnormal terhadap subtasnsi vasokonstriktor Peningkatan tekanan (angiotensin II. darah tromboxan A2) dari otot polos pembuluh darah Peningkatan kardiak Cedera pada lapisan output dan penurunan endotelial resistensi vaskular sistemik Vasospasme Iskemia jaringan .

 Kehamilan pertama  Riwayat genetik preeklamsia  IMT ≥ 35 saat kunjungan antenal pertama  Kehamilan kembar  Mola hidatidosa  Penyakit ginjal  Hipertensi kronik  Diabetes mellitus  Usia ekstrim .

 Kejang yaitu ketidakseimbangan antara eksitasi dan inhibisi impuls listrik otak  Pandangan kabur  Fotofobia  Iritabilitas  Perubahan mental sementara  Mual  Muntah .

 Tidak ada proteinuria maupun hipertensi 11 %  Proteinuria saja 10 %  Hipertensi saja 22 %  Proteinuria dan hipertensi 57 % .

Vasospasme dan vasokonstriksi otak Penurunan Aktivitas listrik perfusi otak abnormal Iskemia serebral Kejang .

atau tekanan darah terjadi kerusakan Kehilangan yang sangat tinggi sawar darah otak autoregulasi serebri selama kehamilan sekunder Terjadi ekstravasasi Kurangnya aliran cairan yang Edema serebri darah otak dikendalikan oleh tekanan . Hipertensi berat Ensefalopati.

biasanya dengan sesar . menyelamatkan nyawa ibu dengan menjaga kepatenan jalan napas. Didasarkan pada kemampuan mengelola serangan kejang pertama dan mencegah kejang selanjutnya  Pengobatan segera. pemberian oksigen. pemberian anti kejang dan anti hipertensi sesuai prosedur. segera lahirkan bayi. dan mencegah cedera.

 Panggil bantuan  Dampingi pasien  Kaji kesadaran  Pertahankan jalan napas dengan memiringkan kepala ke kiri. meletakan bantal di pinggul kanan. nadi. tekanan darah . masalah pernapasan dapat terjadi pada kejang berulang  Kaji sirkulasi dari warna kulit. dan membersihkan mukus  Kaji pernapasan.

 Pemberian magnesium sulfat 4 gr dengan aliran lambat selama 5-10 menit  Magnesium sulfat bekerja dengan cara memicu vasokonstriksi dan menurunkan potensi iskemia serebri  Magnesium sulfat diberikan 1 gr/jam secara kontinyu dapat menurunkan resiko kejang berulang  Perlu observasi kondisi maternal setiap 15 menit untuk menurunkan resiko terjadinya toksisitas magnesium .

 Pengkajian kondisi janin seperti terjadi bradikardi janin. Setelah kejang kebutuhan terkait pelahiran janin perlu direncanakan  Pengkajian kondisi ibu seperti terjadinya HELLP dan koagulasi intravaskuler diseminata dengan pengambilan dan pengujian sampel darah. Pemeriksaan haluaran urin setiap jam untuk memastikan fungsi ginjal adekuat. kerusakan endotel dan agregasi trombosit .  HELLP adalah disfungsi multisitem akibat vasospasme arteri.

 Auskultasi paru untuk memeriksa aspirasi setelah kejang berakhir  Pemberian magnesium sulfat hingga hari satu minggu setelah kejang  Perawatan psikologis .

perdarahan hidung. Elevated Liver Enzyme And Low Platelet Count ) ditandai dengan memar. mulut. hematuria dan ketiadaan bekuan darah pada darah yang keluar  Perdarahan otak . Edema paru  Kerusakan ginjal dan hati  Abrupsio plasenta dan perdarahan  DIC (Disseminated intravaskuler coagulation)  HELLP(Haemolysis. area kanulasi.

deselerasi lambat sementara. penurunan variabilitas. Vasospasme berat arteri uterus menyebabkan hipoksia bayi  Perubahan denyut jantung janin. atau takikardia kompensatori . bradikardi.

d gangguan vaskuler  Rsiko tinggi cedera janin b. terapi magnesium sulfat  Resiko tinggi penurunan curah jantung b. Gangguan perfusi jaringan serebral. ganguan perfusi ginjal . paru. serebral. peningkatan resistensi sistemik  Resiko tinggi gangguan pertukaran gas b. vasokonstriksi.dan hati berhubungan dengan vasokospasme.d edema paru.d gangguan darah plasenta  Resiko tinggi cedera ibu b.d edema otak.

PENGKAJIAN  Kaji adanya faktor resiko saat pranatal pertama  Kaji berat badan  Kaji nilai laboratorium  Kaji frekuensi pernapasan. batuk. kedalaman. irama. serta kemudahan bernapas  Kaji denyut jantung  Kaji adanya nyeri  Kaji tanda iritabilitas SSP  Ukur urin .

meningkatkan sirkulasi ibu dan janin E. anjurkan posisi miring Mencegah tekanan dari janin pada vena kava inferior dan aorta. Kolaborasi pemberian Meningkatkan volume cairan dan membantu cairan IV meningkatkan sirkulasi dan perfusi C. Tindakan Rasional O. Kaji kondisi janin dengan Untuk mengantisipasi adanya gawat janin pengecekan DJJ N. berikan obat-obatan Menurunkan tekanan darah antihipertensi . Kaji dan pantau Untuk menilai beratnya kehilangan darah hemodinamik sesuai program atau prosedur O. Jelaskan pentingnya Memastikan ibu memahami dan mematuhi istirahat anjuran untuk pembatasan aktivitas yang meningkatkan volume darah menuju organ utama dimana mencegah penumpukan di ekstrimitas C.