You are on page 1of 46

Pelatihan Teknik Akuisisi Data

dan Analisis Pasut

TEORI PASUT LAUT

Eka Djunarsjah

KK Sains dan Rekayasa Hidrografi
2006

Bandung, 19 - 21 April 2006

Variasi Muka Laut

 Variasi muka laut yang terjadi setiap saat di lokasi sepanjang pantai merupakan
hasil hubungan yang rumit antara gerakan dan sifat-sifat massa air, pengaruh
meteorologi, dan karakteristik pantainya sendiri
 Data pasut hasil pengamatan (palem atau tide gauge) digunakan untuk penentuan
kembali dan transfer datum muka laut, meskipun seringkali data stasiun pasut
tersebut jarang atau tidak mewakili karakteristik pasut sepanjang pantai
 Asumsi bahwa muka laut antar stasiun pasut merupakan bidang datar atau
penggunaan data pengamatan yang pendek secara sendiri-sendiri untuk penentuan
datum tertentu, menyebabkan kesalahan datum lokal perlu diperhitungkan
 Kesalahan datum vertikal akan membawa dampak yang besar dalam penetapan
batas laut, terutama untuk kemiringan pantai yang landai
 Atas dasar itu, maka kondisi di sepanjang pantai yang menyebabkan terjadinya
variasi muka laut perlu diperhatikan dengan baik

Eka Djunarsjah, 2006

Pengamatan Muka Laut

BM Referensi

DH BM-TG Nol Tide Gauge

Geoid

Sea Surfece Topography H MSL H MLS
(SST) MSL Lokal

Muka Laut Sesaat

Perekam Pasut
(Tide Gauge)

Eka Djunarsjah, 2006

Urgensi Mempelajari Variasi Muka Laut (1)

 Informasi tentang variasi muka laut biasanya dikumpulkan dalam bentuk rekaman
pasut, meskipun metode lain seperti perubahan vegetasi dapat juga digunakan
 Oleh karena muka laut dipengaruhi oleh konfigurasi garis pantai, maka rekaman pasut
memperlihatkan bias lokal
 Penempatan stasiun pasut seringkali pada area tertentu, seperti di sekitar muara atau
pelabuhan, yang kondisinya berbeda dengan di sepanjang pantai
 Penempatan stasiun pasut baru (tidak bersifat permanen) di lokasi survei perlu
memperhatikan bentuk garis pantai yang tidak beraturan karena dapat berpengaruh
terhadap muka laut
 Oleh karena muka laut juga bervariasi terhadap waktu, maka panjang data pasut akan
menentukan ketelitian datum, dimana menurut Weidener (1977) :
- Data 1 hari : 0.25 inci
- Data 1 tahun : 0.05 inci
- Data 9 tahun : 0.016 inci

Eka Djunarsjah, 2006

diperlukan pengetahuan tentang faktor-faktor waktu dan lokasi yang berpengaruh terhadap rekaman pasut  Satu kali rekaman pasut diperoleh. telah dapat dianalisis komponen-komponen pasut lokal atau untuk memisahkan noise jangka pendek. dan peralatan yang menyebabkan perubahan datum Eka Djunarsjah. dan jangka panjang  Untuk mengevaluasi keandalan informasi yang dikumpulkan. musiman. kecenderungan jangka panjang. Urgensi Mempelajari Variasi Muka Laut (2)  Perbedaan kedudukan muka laut disebabkan pengaruh periodik jangka pendek. 2006 .

2006 . Informasi Pasut Pengamatan Variasi Muka Laut Lokal Sesaat Stasiun 0 Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun n Reduksi Pasut >= Beberapa Hari >= Satu Bulan >= Satu Dekade Chart Datum Konstanta Bidang Perubahan Pengikatan Harmonik Referensi Muka Laut Peta Pasut Tinggi Tinggi Prediksi Datum Model Pasut Numeris Vertikal Survei Batas Waktu/Tinggi Prediksi Perubahan Pantai AT dan AR Global Muatan Dinamika Gaya Kedalaman Pasut Laut Laut Pasut Tabel Pasut Sarat Kapal Eka Djunarsjah.

05 – 0. 2006 .013 – 0.4 Jam (Seiches) (SD) Hari 1 1 (Badai).13 24 (D)/12. 1 – 10 Tahun (El Nino) Abad 2000 – 5000 Eka Djunarsjah.5 Menit (Angin) 0.Variasi Temporal Muka Laut Faktor/ Gelombang Tsunami Pasut Meteorologis Umur Es Durasi 0.

2006 . Pasut Laut (1) • Hasil perkawinan antara gaya berat dan laut – Gaya berat : Gaya pembangkit pasut – Laut : Reaksi vertikal (reduksi pasut dan tabel pasut) dan reaksi horisontal (arus) • Naik turunnya muka laut secara periodik sebagai akibat adanya gaya tarik- menarik antara bumi. bulan. dan matahari Eka Djunarsjah.

2006 . Pasut Laut (2) • Secara sederhana dapat dinyatakan dengan fungsi sinusoida : y = A sin (B t – C) + D Kenyataannya ? • Yang dapat diprediksi : – Pasut (membutuhkan analisis terhadap pengamatan) • Yang tidak dapat diprediksi : – Angin – Gelombang badai – Tekanan udara • Pasut Laut Lepas vs Pasut Pantai ? Eka Djunarsjah.

oleh karena mereka hanya mengenal pasut kecil di Lautan Tengah • Pytheas melaporkan adanya variasi tengah bulanan tunggang pasut Lautan Atlantik. pasut ekuinoks bulan Maret dan September yang mempunyai tunggang air lebih besar dibandingkan bulan Juni dan Desember. seperti terjadinya pasut dua kali sehari. dan selang waktu yang tetap antara perjalanan bulan dan pasut tinggi berikutnya pada suatu lokasi tertentu Eka Djunarsjah. 2006 . maksimum tunggang air terjadi beberapa hari setelah bulan baru dan bulan penuh. Sejarah Pasut Laut (1) • Pasut besar duakali-harian di wilayah Lautan India mengherankan tentara Alexander Agung dalam perjalanan tahun 325 SM ke arah Selatan sepanjang Sungai Indus menuju ke laut. dan mencatat bahwa pasut terbesar (spring tides) terjadi sekitar bulan baru dan bulan penuh • Pliny the Elder menulis tentang hubungan antara pasut dan bulan.

laut dibersihkan saat bulan penuh – Aristotle menyatakan bahwa tidak ada binatang yang mati kecuali saat surut yang bertahan dalam kebudayaan populer hingga tahun 1595 – Parish Registers di wilayah Hartlepool Inggris Utara merekam fase pasut bersama-sama dengan tanggal dan waktu setiap kematian – Orang Cina menduga air merupakan darah dari bumi. atau dengan kata lain pasut disebabkan oleh denyutan bumi Eka Djunarsjah. daun dan sayuran juga merasakan pengaruh bulan. dengan pasut sebagai denyutan nadi bumi. Sejarah Pasut Laut (2) • Tidak semua fakta yang dilaporkan diperkuat oleh pengukuran-pengukuran modern : – Pliny the Elder bercerita tentang pengaruh bulan yang sangat kuat terhadap binatang. ukuran darah manusia yang bertambah atau berkurang sesuai ‘banyaknya cahaya’. 2006 .

yang kemudian berputar dalam bentuk gelombang menuju pantai – Secara puitik malaikatlah yang mengatur tentang laut. setiap tahun mengelilingi matahari dan setiap hari terhadap sumbunya sendiri. 2006 . yaitu ketika dia menempatkan kakinya di laut. sehingga air memanas dan mengembang. maka terjadilah pasang. terjadi surut • Pada pertengahan abad ke-17. muncul tiga teori berbeda : – Galileo (1564-1642) berpendapat bahwa rotasi bumi. Sejarah Pasut Laut (3) – Orang Arab menduga sinar bulan dipantulkan lagi oleh batuan dasar laut. disebabkan gerakan laut yang dimodifikasi oleh bentuk dasar laut untuk menghasilkan pasut Eka Djunarsjah. tetapi ketika dia mengangkat kakinya.

sehingga membentuk pasut – Kepler (1571-1630) menyatakan bahwa bulan menggunakan suatu gaya tarik gravitasi pada air laut ke arah tempat-tempat yang berada di atasnya. dan ketika bulan berjalan mengelilingi bumi memadatkan ether ini sedikit banyak memancarkan tekanan ke laut. semua air laut akan terangkat dan mengalir ke badan bulan’ • Suatu kemajuan utama dalam pemahaman ilmiah tentang pasut dibuat oleh Isaac Newton (1642-1727) menggunakan hukum gaya tarik gravitasi. 2006 . kemudian gaya tarik ini diimbangi gaya tarik bumi pada air. sehingga ‘jika bumi berhenti untuk menarik airnya. Sejarah Pasut Laut (4) – Descarters (1596-1650) berfikir bahwa angkasa penuh dengan materi-materi yang tidak kelihatan atau ether. untuk memperlihatkan mengapa terdapat dua pasut untuk setiap lintasan bulan Eka Djunarsjah.

2006 . Pasut Setimbang  Pengertian : – Pasut yang seolah-olah berkaitan dengan permukaan laut sebagai reaksi sesaat terhadap potensial pasut  Asumsi yang diperlukan : – Tidak ada massa daratan – Tidak ada inersia (F = m a) – Tidak ada gesekan dalam lautan – Tidak ada gesekan dengan dasar laut – Kedalaman air > jari bumi  Kegunaan : – Identifikasi konstanta harmonik yang penting – Variasi bulanan (spring/neap) – Ketidaksamaan harian (deklinasi bulan) Eka Djunarsjah.

Sistem Bumi . 2006 . jarak pusat bumi – pusat bulan  Makin dekat titik di permukaan bumi terhadap pusat bulan. makin besar gaya tarikan bulan Eka Djunarsjah. G .Bulan  Dalam sistem bumi-bulan terjadi gaya tarikan gravitasi bulan terhadap bumi yang dapat dinyatakan dengan : dimana.konstanta Gravitasi Me .massa bulan R . massa bumi Mm .

2006 .3 hari  Revolusi bumi terhadap titik pusat massa menghasilkan gaya sentrifugal yang sama besarnya dan arahnya menjauhi titik pusat massa  Total gaya sentrifugal dan total gaya tarik bulan saling mengimbangi sehingga sistem bumi-bulan berada dalam keadaan setimbang  Resultan gaya tarik bulan dan gaya sentrifugal disebut gaya pembangkit pasut (tide generating force) Eka Djunarsjah. Gaya Pembangkit Pasut  Bumi dan bulan berevolusi terhadap titik pusat massa bersama dalam periode 27.

2006 . di samping massa matahari jauh lebih besar • Tarikan gravitasi bulan.25 kali lebih besar dari matahari. tarikan gravitasinya atas bumi kira-kira 2. menyebabkan air menonjol keluar Eka Djunarsjah. dikombinasikan dengan gaya sentrifugal yang dihasilkan oleh sistem bumi-bulan. atas bagian-bagian yang berbeda dari bumi • Bulan berada jauh lebih dekat ke bumi dibanding matahari. Fenomena Pasut Laut (1) • Naik turunnya permukaan tubuh air secara vertikal yang disebabkan terutama oleh perbedaan tarikan gravitasi menyangkut bulan dan matahari.

2006 . Fenomena Pasut Laut (2) • Bumi berotasi pada sumbunya ke arah yang sama dengan garis edar bulan (dalam 24 jam). yang disebabkan adanya tarikan gravitasi bulan dan gaya sentrifugal akibat rotasi kombinasi bumi-bulan terhadap titik pusat massa Eka Djunarsjah. sehingga setiap titik di permukaan bumi mengalami dua kali pasang naik & dua kali pasang turun (surut).

Fenomena Pasut Laut (3) • Di daerah lintang tinggi (dekat kutub) hanya mengalami satu kali pasang naik & satu kali pasang turun (surut). 2006 . yang dapat dijelaskan oleh gambar berikut : B A Bulan Bumi Perhatikan bahwa pasut di titik B dianggap tidak ada Eka Djunarsjah.

seperti diperlihatkan pada gambar berikut : Bulan B A Bumi Eka Djunarsjah. 2006 . Fenomena Pasut Laut (4) • Di daerah ekuator tinggi pasut berurutan cenderung sama.

lebih kurang 12 jam kemudian. Fenomena Pasut Laut (5) • Pengamat melihat di A terjadi pasang naik. 2006 . pengamat berada di B (akibat rotasi Bumi) dan pasut menjadi lebih kecil. hal ini terjadi terutama disebabkan deklinasi bulan (sudut antara Bulan terhadap Ekuator) yang disebut dengan pengaruh Diurnal Bulan B A Bumi Eka Djunarsjah.

– Coriolis. – terusan yang dibatasi. pola pasut normal mengalami penyimpangan yang disebabkan oleh : – efek benua. dan lainnya Eka Djunarsjah. Fenomena Pasut Laut (6) • Oleh karena bulan juga mengelilingi bumi dengan periode satu bulan. – gesekan dengan benua. maka periode satu hari pasut tidak tepat 24 jam. tetapi 24 jam 50 menit (keterlambatan 50 menit) • Pada beberapa tempat. 2006 .

Jenis Pasut • Pasut Semi Diurnal : jenis pasut yang paling banyak dijumpai di dunia. Laut Jawa. Pulau-pulau Pasifik Eka Djunarsjah. termasuk di Indonesia • Pasut Diurnal : Teluk Meksiko bagian Utara. 2006 . Teluk Tonkin • Pasut Campuran : Pantai Pasifik AS.

Jenis Pasut yang Diperluas Pasut Semi Diurnal Pasut Campuran Condong Semi Diurnal Pasut Campuran Condong Diurnal Pasut Diurnal Eka Djunarsjah. 2006 .

Spring Tide • Terjadi ketika matahari. yaitu pada saat bulan baru (new moon) dan bulan purnama (full moon) Bulan Bumi Bulan Baru Matahari Purnama Eka Djunarsjah. 2006 . dan bulan berada dalam satu garis • Fenomena ini terjadi dua kali setiap bulan. bumi.

Neap Tide • Terjadi ketika posisi bulan membentuk sudut 90 derajat terhadap garis bumi - matahari • Pada saat tersebut. 2006 . besarnya tunggang air laut (selisih air tinggi dan rendah) lebih rendah Perempat Pertama Bumi Matahari Perempat Ketiga Eka Djunarsjah.

2006 .Bumi – Bulan – Matahari saat Spring/Neap Tide Eka Djunarsjah.

didasarkan pada data pasut laut Eka Djunarsjah. Analisis. untuk meramalkan tinggi muka air laut di masa mendatang • Bidang referensi vertikal di darat dan di laut : – Di darat : MSL – Di laut : MSL dan Chart Datum • Bidang referensi ketinggian di darat dan bidang referensi kedalaman di laut. berupa kegiatan pengukuran tinggi muka air laut – Analisis. 2006 . berupa hitungan untuk mendapatkan amplitudo dan fase dari komponen-komponen pasut menggunakan metode Admiralty atau kuadrat terkecil – Prediksi. Pengamatan. dan Prediksi Pasut • Tugas utama Surveyor Hidrografi berkaitan dengan pasut : – Pengamatan.

terutama bulan dan matahari Peralatan • Alat Pengamat Pasut Sederhana : – Palem (Tide Pole) – Alat pengamat pasut dengan pemberat – Alat pengamat pasut dengan pengapung • Alat Pengamat Pasut Otomatik (Tide Gauge) : – Jenis pelampung (float actuated) – Jenis tekanan (diaphragm pressure dan bubbler or gas pressure) Eka Djunarsjah. Pengamatan Pasut Tujuan • Mencatat atau merekam gerakan vertikal permukaan air laut yang terjadi secara periodik. 2006 . yang disebabkan oleh gaya tarik-menarik antara bumi dengan benda- benda angkasa.

Alat Pengamat Pasut (1) Eka Djunarsjah. 2006 .

2006 .Alat Pengamat Pasut (2) Tipe Pelampung Tipe Tekanan Eka Djunarsjah.

2006 . dan Chart Datum BM H BM Muka Laut Sesaat (MLS) Muka Laut Rata-Rata (MSL) H (t) Zo So Chart Datum d Nol Palem Eka Djunarsjah. MSL. Hubungan antara MLS.

So + Zo dimana. H (t) .tinggi muka laut rata-rata (MSL) terhadap nol palem Zo . 2006 . Reduksi Pasut (1) • Besarnya reduksi pasut tergantung pada : – Kedudukan muka laut pada saat pemeruman (MLS) – Kedudukan muka laut rata-rata (MSL) – Argumen untuk memperoleh Chart Datum (Zo)  Besarnya Reduksi Pasut (Kp) : Kp = H (t) .kedudukan Chart Datum di bawah MSL Eka Djunarsjah.tinggi muka laut saat t terhadap nol palem So .

2006 . Reduksi Pasut (2) • Fungsi : – Koreksi terhadap data ukuran kedalaman – Penentuan kedalaman terhadap Chart Datum  Tahapan Penentuan Reduksi Pasut : – Plot pada kertas grafik dalam sistem kartesian : o waktu pengamatan (sumbu X) o tinggi muka air laut (sumbu Y) – Tentukan kedudukan MSL dan Chart Datum terhadap nol palem berdasarkan data tinggi MSL dan Zo Eka Djunarsjah.

tinggi MSL terhadap nol palem  Inggris (Mean Spring Low Water) : A .S Ai Eka Djunarsjah.amplitudo komponen pasut ke-i So .[A M2 + (A K1 + A O1) cos 450] (Pantai Barat)  Jepang (Indian Spring Low Water) : So .1.2 (A M2 + A S2 + A K2) So .A M2 (Pantai Timur) So . 2006 . Rumus Penentuan Chart Datum  Perancis (Lowest Possible Low Water) : dimana.1.amplitudo komponen pasut Ai .(A M2 + A S2 + A K1 + A O1)  Internasional : So . So .1 (A M2 + A S2)  USA (Mean Low Water/Mean Lower Low Water) : So .

6 tahun untuk mendapatkan harga yang tetap  Mean High Water (MHW) adalah tinggi air rata-rata pada semua pasang tinggi  Mean Low Water (MLW) adalah tinggi air rata-rata pada semua surut rendah  Mean Higher High Water (MHHW) adalah tinggi rata-rata pasang tertinggi dari dua air tinggi harian pada suatu periode waktu yang panjang. maka air tinggi tersebut diambil sebagai air tinggi tertinggi  Mean Lower High Water (MLHW) adalah tinggi rata-rata air terendah dari dua air tinggi harian pada suatu periode waktu yang panjang  Mean Higher Low Water (MHLW) adalah tinggi rata-rata air tertinggi dari dua air rendah harian pada suatu periode waktu yang panjang Eka Djunarsjah. 2006 . Jika hanya satu air tinggi terjadi pada satu hari. Datum Pasut (1)  Mean Sea Level (MSL) adalah muka laut rata-rata dari pengamatan setiap jam pada suatu periode pengamatan yang dilakukan. sebaiknya selama 18.

yang dapat diramalkan terjadi di bawah pengaruh keadaan meteorologis rata-rata dan kombinasi keadaan astronomi  Lowest Astronomical Tide (LAT) adalah permukaan laut terendah. maka harga air rendah tersebut diambil sebagai air rendah terendah  Highest Astronomical Tide (HAT) adalah permukaan laut tertinggi. Datum Pasut (2)  Mean Lower Low Water (MLLW) adalah tinggi rata-rata air terendah dari dua air rendah harian pada suatu periode waktu yang panjang. Jika hanya satu air rendah terjadi pada satu hari. yang dapat diramalkan terjadi di bawah pengaruh keadaan meteorologis rata-rata dan kombinasi keadaan astronomi HAT/LAT tidak akan dicapai pada setiap tahun dan bukan permukaan laut ekstrim yang dapat terjadi. karena storm surges atau tsunami mungkin saja menyebabkan muka laut yang lebih tinggi dan lebih rendah Eka Djunarsjah. 2006 .

Chart Datum • Bidang referensi yang sering digunakan dalam kegiatan pemeruman : – MSL (Mean Sea Level) – LWS (Low Water Spring) – HWS (High Water Spring) – Chart Datum  Pemilihan Bidang Referensi didasarkan pada : – Maksud dan tujuan masing-masing aplikasi. 2006 . dll.pengamatan pasut 25/39 jam  Metode Alternatif Penentuan Sounding Datum : – Interpolasi jarak – Data chart datum yang telah ada – Penggunaan skema dan tabel Eka Djunarsjah. seperti : perencanaan dan perancangan pelabuhan.pengamatan pasut 15/29 hari (praktis) – Sounding Datum .  Jenis dan Cara Penentuan Bidang Referensi Kedalaman : – Chart Datum . keselamatan pelayaran.

M4. K2. dan MS4 dalam besaran amplitudo (A) dan fase (g) – Penentuan tinggi MSL (So) – Penentuan Chart Datum berdasarkan (Zo) – Penentuan kedalaman terhadap Chart Datum  Tahapan Analisis : – Penggunaan skema dan tabel Eka Djunarsjah. S2. O1. Analisis Pasut Metode Admiralty • Fungsi : – Analisis data pasut selama 15/29 hari – Penentuan konstanta harmonik pasut : K1. P1. N2. 2006 . M2.

frekuensi komponen pasut ke-i fi .tinggi pasut S0 .fase komponen pasut ke-i (tergantung pada lokasi pengamatan) i .argumen astronomis komponen pasut ke-i.tinggi muka laut rata-rata terhadap nol palem ai . 2006 .amplitudo komponen pasut ke-i (penentuan nilainya memerlukan pengamatan selama bertahun-tahun) gi . Analisis Pasut Metode Kuadrat Terkecil (1) N Model Matematika : y(t)  S0   ai fi cos 2π σ it i  Vi  gi  i 1 Keterangan : y (t) . berhubungan dengan fase masing-masing komponen di Greenwich pada saat t = 0 (tengah malam) Eka Djunarsjah.6 tahun Vi . terkait dengan presesi bidang orbit bulan yang mempunyai periode 18.argumen astronomis komponen pasut ke-i.

Analisis Pasut Metode Kuadrat Terkecil (2) Catatan : • Dalam analisis pasut yang dicari adalah amplitudo (ai) dan fase (gi) masing-masing komponen pasut • Harga frekuensi (i) diketahui untuk setiap komponen pasut • Harga Vi dan fi merupakan fungsi dari waktu dan dapat dicari menggunakan Tabel yang tersedia untuk metode Admiralty atau menggunakan persamaan • Sedangkan y(t) diperoleh dari data pasut pada saat t dan S0 merupakan tinggi muka laut rata-rata Hasil Linierisasi : N y (t )  S 0    C i cos 2  i t i V i   S i sin2  i t i V i   i 1 Eka Djunarsjah. 2006 .

sementara harga amplitudo ai dan fase gi diperoleh dari hubungan : 1/ 2  C i 2  Si 2  S  ai    g i  arctan i   f i   Ci  • Persamaan hasil linierisasi dapat dituliskan dalam bentuk Y = A X • Ci dan Si dalam matriks X dapat ditentukan berdasarkan persamaan :  1 X̂  A T . 2006 . Analisis Pasut Metode Kuadrat Terkecil (3) • Besaran yang dicari adalah harga Ci dan Si.A T .P.Y Eka Djunarsjah.P.A .

dan Vi yang telah diketahui dari analisis pasut Eka Djunarsjah. 2006 . fi. jika proses analisis pasut telah berhasil menentukan amplitudo dan fase dari beberapa komponen pasut • Untuk memprediksi pasut pada suatu waktu tertentu. gi. y(t). ai. digunakan kembali persamaan : N y(t)  S0   ai fi cos 2π σ it i  Vi  gi  i 1 dengan memasukkan seluruh harga S0. Prediksi Pasut (1) • Prediksi pasut pada saat tertentu di masa mendatang pada suatu lokasi dapat dilakukan jika telah diketahui amplitudo dan fase dari beberapa komponen pasut • Dengan demikian prediksi pasut baru bisa dilakukan. i.

hanya melibatkan komponen pasut M2 (pengaruh gravitasi bulan) • Komponen pasut M2 memberikan pengaruh paling besar terhadap pasut Bulan Bumi Eka Djunarsjah. Prediksi Pasut (2) • Model paling sederhana. 2006 .

94 meter Eka Djunarsjah. Prediksi Pasut (3) • Sebagai contoh. dari Tabel Pasut Dishidros untuk tahun 2002. diperoleh informasi untuk Stasiun Pasut Ambon pada 1 Januari 2002 : Kecepatan Fase Tengah Amplitudo Komponen Sudut Malam A Harmonik w  (meter) (der/jam) (derajat) M2 0.984 275.60368 28.9 • Chart Datum untuk Stasiun Pasut Ambon adalah 0. 2006 .

9) • Sebagai catatan. 2006 .06 m dan terjadi pada jam 2:43 • Model di atas harus diperbaiki !!! Caranya ? Eka Djunarsjah.60368 cos (28. Prediksi Pasut (4) • Substitusi ke dalam fungsi pasut sederhana. sementara pada Tabel Pasut memperlihatkan pasut rendah sebesar 0. menggunakan satuan derajat (bukan radian) • Model ini memprediksi pasut rendah sebesar 0. maka diperoleh model pasut M2 Stasiun Pasut Ambon pada 1 Januari 2002 : y (t) = So + A cos (w t – ) y (t) = 0.336 meter terjadi pada jam 3:19. persamaan di atas.984 t – 275.94 + 0.