You are on page 1of 22

GBS

(Guillain Barre Syndrome)

Nisha Dharmayanti Rinarto, S.Kep, Ns, M.Si.

3/30/2018 1

Definisi
1. Sindrom klinis yg ditunjukkan oleh onset akut dari
gejala-gejala yg mengenai saraf perifer dan kranial.
2. Mencakup demielinasi dan degenerasi selaput
mielin dari saraf perifer dan kranial.
3. Paling banyak akibat adanya infeksi pernapasan dan
GI 1-4 minggu sebelum penurunan neurologis.

3/30/2018 2

Terjadi dg frekuensi yg sama pada kedua jenis kelamin dan semua ras. Beberapa keadaan setelah pembedahan atau vaksinasi.5. 7. Puncak tertinggi pd kelompok usia 16-25 th 3/30/2018 3 . 6.

Diduga respons alergi atau autoimun 3. Beberapa peneliti meyakini berasal dari virus 3/30/2018 4 .Etiologi 1. Idiopatik 2.

3/30/2018 5 .

3. Kehilangan selaput bermielin membuat konduksi tidak mungkin terjadi dan transmisi impuls saraf batal. 2. 3/30/2018 6 .Patofisiologi 1. Akson bermielin mengonduksi impuls saraf lebih cepat dari yg tidak bermielin. Gerakan ion-ion keluar masuk akson dpt terjadi dg cepat pada nodus Ranvier shg impuls saraf sepanjang serabut bermielin dpt melompat dari nodus ke nodus lainnya dg kuat.

Disritmia jantung 3/30/2018 7 .Komplikasi 1. Disfagia 3. Gagal napas 2.

5. 3. 4. Bergantung pd riwayat penyakit dan perkembangan gejala klinik. 25% penderita GBS mempunyai antibodi thd sitomegalovirus atau virus Epstein-Barr. 2. 3/30/2018 8 . Tidak ada pemeriksaan yg dpt memastikan GBS. Pemeriksaan konduksi saraf mencatat transmisi impuls sepanjang serabut saraf. Pengujian elektrofisiologis dlm bentuk lambatnya laju konduksi saraf.Pemeriksaan Diagnostik 1.

Penyuntikan Immunoglobulin G secara IV 3/30/2018 9 . Plasmaferesis (pengambilan antibodi yg merusak dg jalan penggantian plasma darah) 3. EKG kontinyu dlm pemantauan kondisi jantung 4. 2. Klien mengalami masalah pernapasan memerlukan ventilator.Penatalakasanaan Medis 1.

WOC 3/30/2018 10 .

Keluhan Utama Kelemahan otot baik kelemahan fisik secara umum maupun lokal seperti melemahnya otot pernapasan. aspirasi pada kerongkongan dan kelemahan ekstremitas. 3/30/2018 11 .

3/30/2018 12 . batang tubuh. sembuh atau bertambah buruk. dan otot wajah. Gejala neurologis diawali parestesia dan kelemahan otot kaki. yg dapat berkembang ke ekstremitas atas. Tanyakan gejala yg timbul seperti kapan mulai serangan.Riwayat Penyakit Sekarang 1. 2.

infeksi GI dan tindakan bedah saraf. Pengkajian penyakit yg pernah diderita klien memungkinkan adanya hubungan dg keluhan sekarang seperti ISPA. antibiotik dan resistensinya.Riwayat Penyakit Dahulu 1. Pemakaian obat kortikosteroid. 2. 3/30/2018 13 .

sesak napas. c. Inspeksi Klien batuk. Palpasi Taktil fremitus seimbang kanan kiri. B1 a. Auskultasi Bunyi napas tambahan seperti ronkhi. 3/30/2018 14 . peningkatan produksi sputum. penggunaan otot bantu napas dan penurunan frekuensi napas.Pemeriksaan Fisik 1. b.

B3 a. Hipertensi ortostatik atau hipertensi transien akibat penurunan reaksi saraf simpatis dan parasimpatis. Bradikardia akibat penurunan perfusi perifer b. 3. Biasanya kesadaran komposmentis b. 3/30/2018 15 . Pengkajian fungsi serebral Pada GBS tingkat lanjut disertai penurunan tingkat kesadaran biasanya status mental mengalami perubahan. B2 a.2.

tidak ada deviasi pada satu sisi 3/30/2018 16 . Pengkajian saraf kranial 1) Saraf I tidak ada kelainan fungsi penciuman 2) Saraf II tes ketajaman penglihatan normal 3) Saraf III. mengunyah dan menelan 8) Saraf XI tidak ada atrofi otot sternokleidomastoideus dan trapezius 9) Saraf XII lidah simetris. c. paralisis okular 4) Saraf V paralisi pada otot wajah shg mengganggu proses mengunyah 5) Saraf VII persepsi pengecapan DBN. wajah asimetris karena parlisis unilateral 6) Saraf VIII tidak ada tuli persepsi maupun tuli konduksi 7) Saraf IX dan X paralisis otot faring. VI penurunan kemampuan membuka dan menutup kelopak mata. IV. kesulitan bicara.

d. batang tubuh dan otot wajah. Pengkajian refleks Pemeriksaan refleks propunda. Pengkajian sistem sensorik 1) Parestesia dan kelemahan otot kaki dpt berkembang ke ekstremitas atas. 2) Penurunan penilaian sensorik raba. ligamentum atau periosteum derajat refleks normal f. kontrol keseimbangan dan koordinasi tahap lanjut mengalami perubahan e. nyeri dan suhu 3/30/2018 17 . Pengkajian sistem motorik Kekuatan otot menurun. pengetukan pada tendon.

B4 Berkurangnya volume pengeluaran urine berhubungan dg penurunan perfusi dan penuruhan curah jantung ke ginjal. B5 a. Mual muntah dihubungkan dg peningkatan produksi asam lambung b.4. 5. Pemenuhan nutrisi menurun karena anoreksia dan kelemahan otot pengunyah serta ggg proses menelan 3/30/2018 18 .

6. B6 Penurunan kekuatan otot dan penurunan tingkat kesadaran menurunkan mobilitas klien secara umum 3/30/2018 19 .

keadaan hipermetabolik 3/30/2018 20 . Resiko perubahan kebutuhan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh b.Diagnosis Keperawatan 1. kemampuan batuk menurun akibat penurunan kesadaran.d ketidakmampuan menelan. 3. Pola napas tidak efektif b.d perubahan frekuensi jantung ritme dan irama bradikardia 4. Ketidakefektifanbersihan jln napas b.d akumulasi sekret.d melemahnya otot pernapasan 2. Resti penurunan curah jantung b.

Hambatan mobilitas fisik b. kerusakan persepsi kognitif 6. penurunan kesadaran.d kondisi sakit dan prognosis penyakit yg jelek 3/30/2018 21 .5. Ansietas b.d kerusakan penerima rangsang sensori. transmisi sensori dan integrasi sensori 7. penurunan kekuatan otot.d kerusakan neuromuskular. Ggg persepsi sensori b.

3/30/2018 22 .