You are on page 1of 12

 Reaksi akut pada mukosa terjadi dalam bentuk kematian

sel yang sedang mengadakan mintosis dalam epithelim
mukosa mulut dan faring
 Eritema mukosa  ulkus dan deskuamasi
 Ulkus biasanya menimbulkan rasa sakit  analgesik dan
nutrisi cukup
 Efek dari pemberian kemoterapi seperti methotrexate dan
fluorouraci
 Perubahan akibat radiasi 12 hari pasca operasi, tidak
tergantung pada dosis maupun teknik radiasi, radiasi dosis
tinggi dan waktu singkat  mukositis terjadi pada
seleuruh mukosa faring, palatum lunak, dasar mulut, dan
bagian lateral lidah.


 Pasien kanker dengan daya tahan tubuh yang semakin
menurun, ulkus dapat menjadi sumber infeksi yang
berat -> semakin lama pengobatan terhadap pasien
kanker dan semakin banyaknya biaya yang di
butuhkan
 Mukositis merupakan inflamasi yang bersifat toksik
dan merupakan konsekuensi dari kemoterapi atau
radioteraepi yang mengganggu seluruh saluran
pencernaan dari mulut hingga anus, sedangkan
stomatitis adalah bentuk dari mukositis yang secara
spesifik mengacu kepada membran mukosa di rongga
mulut dan oropharynx
 Kebersoihan mulut selama pengobatan
 Membersihkan mukosa tanpa menimbulkan trauma,
melembabkan bibir dan rongga mulut dan
menghilangkan rasa sakit serta infalmasi dan
menyikat gigi dengan sikat gigi yang lembut.
 Diet makanan lunak, dan menghindari makan pedas
 Tidak merokok
 Menggunakan obat kumur air garam fisiologis
 Zat anti inflamasi dan analgesik dapat digunakan
untuk meringankan rasa sakit.
 Lama mukositis tergantung intensitas dosis
radioterapi. Biasanya akan sembuh 3 minggu pasca
radioteray.
 Hemorrhage dapat terjadi sepanjang perawatan akibat
trombositopenia dan atau koagulasipati.
 Pada lokasi terjadinya penyakit periodontal dapat terjadi
perdarahan secara spontan atau dari trauma minimal.
 Perdarahan oral dapat berbentuk minimal, dengan ptekiae
berlokasi pada bibir, palatum lunak, atau lantai mulut atau
dapat menjadi lebih parah dengan hemorrhage mulut ,
terutama pada krevikular gingival.
 Perdarahan gingiva spontan dapat terjadi ketika jumlah
platelet mencapai paling kurang 50.000/kubik/mm.
 pemeriksaan fisik dapat memberikan petunjuk
penyebab perdarahan. Misalnya, perdarahan multipel
memberi petunjuk adanya koagulopati, seperti
koagulasi intravaskuler diseminata
 Pemeriksaan International normalized ratio (INR),
activated partial tromboplastin time (aPTT), hitung
trombosit


 Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah
menentukan tempat terjadinya perdarahan.
 Untuk perdarahan luar dapat digunakan penutup
luka untuk
 mengurangi perdarahan dan melindungi luka dari
trauma serta infeksi.

 Hal berikutnya yang perlu diperhatikan adalah berapa besar
perdarahan. Ada beberapa paramater yang dapat dipakai, yaitu
frekuensi nadi dan tekanan darah saat berbaring serta posisi
tegak. Bila terdapat perbedaan lebih dari 20 kali/menit
menunjukkan adanya jumlah perdarahan yang cukup besar
sehingga menyebabkan hipotensi postural. Langkah terapi yang
perl dilakukan adalah resusitasi cairan untuk mempertahankan
tekanan darah dan perfusi m organ vital. Bila ada indikasi
tranfusi, komponen darah dapat diberikan