You are on page 1of 149

PALM OIL DOWNSTREAM PROCESSING

BAGIAN I:

REFINERY AND FRACTIONATION


OF PALM OIL

- Maria Ulfah, STP. MP.


- Dr. Ida Bagus B.P., MS.
A. REFINERY PLANT
Maria Ulfah, STP. MP.

B. FRACTIONATION PLANT
Dr. Ida Bagus B.P., MS.
MANUFACTURING FLOW

REFINERY PLANT FILLING PLANT


CPO PFAD RBD Olein
Crude Palm Oil Palm Fatty Acid Distillate Refined Bleached Deodorized Olein

Finished Good
Cooking Oil
FRACTIONATION
PLANT

RBDPO
Refined Bleached Deodorized Palm Oil RBD Stearin
BATCH CHEMICAL Refined Bleached Deodorized Stearin
REFINERY PLANT Finished Good
Warehouse

Crude PKO
Crude Palm Kernel Oil

Finished Good
Margarine,
MARGARINE Shortening, and
PLANT Specialty Fat To Customer
Crude CNO
Crude Coconout Oil
Flow Process

Refinery Fractionation
OLEIN
RBDPO
CPO

STEARIN
PFAD

• Feeding & heating,


• Temp 80 - 90oC
Degumm • Adding H3PO4 with conc. 0.06% - 0.10% Crystalli Fast cooling,
ing zing Slow cooling
• Temp +/- 105oC
•Using filter press
Bleachin
• < - 700 mmHg •Loading, Squeezing,
• Adding bleaching earth with conc. 0.5% - 3.0% Filtering Blowing
g

• Filtering unused material (spent earth) until


Filtratio reaching appropriate color (DBPO)

• Temp 250 – 270oC


Deodoriz • 3 – 5 Torr
ing
Refinery & Fractionation
RAW MATERIAL

RECEIVING PLANT
(PLANT PENERIMAAN CPO)
 CPO yang akan
diolah Pabrik
refinery, diterima
melalui plant
penerimaan
(receiving plant)
menggunakan truk
tangki CPO dan
dialirkan melalui
pipa masuk ke
tangki penerimaan
CPO.
 Storage tank dan
pemipaan untuk
masing-masing grade
CPOl untuk
penyimpanan dan
penanganan
dibedakan
 Terdapat control
system untuk
mencegah
tercampurnya minyak
lama dan baru
 Mampu mencegah
tumpah, menampung
dan sistemnya
terkontrol
MODEL PEMIPAAN YANG DIRANCANG UNTUK TANKI
CRUDE OIL
 Pipa inlet berbentuk U yang
dilengkapi dengan syphon
breaker di bagian atas,
untuk mengatur penuhnya
minyak maupun habisnya
minyak.
 Dianjurkan pengisian
minyak dari dasar, untuk
meminimalkan masuknya
udara dalam minyak.
 Terdapat 2 pipa
pengeluaran, yang pertama
menunju proses dan yang
kedua pipa ke limbah
(sump).
 Rancangan ini untuk
mengendapkan minyak ke
dasar dan tanki dapat
dibersihkan menggunakan
pipa pembuangan limbah.
KONSTRUKSI STORAGE TANK CPO
 Crude oil storage tank dikonstruksi dengan dinding
carbon steel, ukuran bervariasi tergantung kapasitas
pabrik.
 Untuk melindungi permukaan tanki dari air yang
berakibat korosi, maka dilindungi dengan cat bagian
luarnya dengan cat aluminium atau putih, sehingga
tanki ini dapat sebagai pendingin menjadi 11oC
dibanding cat yang hitam.
 Tanki minyak kasar ada yang dilengkapi dengan
pendingin jika tankinya besar.
 Storage tank minyak kasar dilengkapi dengan agitator
untuk menjaga kehomogenan minyak.
REFINERY PLANT :

 DEGUMMING
 BLEACHING

 DEODORIZATION
Edible Oils & fats have two main type of impurities
(Refinery Basic)

How to Removal???
Oils Soluble Impurities
1. Gummy matters (Phosphatiedes) 1. By Degumming

2. Free fatty acid (FFA) 2. By Neutralization or Physical refining

3. Colour pigment 3. By Bleaching & High temp Deod

4. Oil sol-of flavours (rancid odor) 4. By Deodorization

Oils Insoluble Impurities How to Removal???

1. Dirts 1. By Filtration
2. Moisture 2. By Adsorption onto Dry Bleaching Clay
& Vacuum suction with steam stripping
DOSIS PENGGUNAAN PHOSPOHORIC ACID DAN BLEACHING EARTH
(BE) PADA INDUSTRY REFINERY

Parameter Range
Dosis Phosporic Acid Maks. 1 % (per MT CPO)
(PA) 85%
Dosis Bleaching Earth Maks. 2 % (per MT CPO)
 DOBI  1.7 artinya
(BE) setara mutu minyak
Kualitas CPO FFA Maks. 5 % sludge (minyak parit)
 DOBI 1.8 - 2.3 artinya
Air Maks. 2 % mutu minyak sawit
buruk
DOBI 2 – 3,5  DOBI 2.4 - 2.9 artinya

PV 1,5 – 5 meq/kg mutu minyak sawit


cukup
P 10 – 18 ppm  DOBI 3.0 - 3.2 artinya
mutu minyak sawit baik
Fe 4 – 10 ppm  DOBI  3.3 artinya
mutu minyak sawit
sangat baik
KUALITAS MINYAK DBPO DAN RBDPO DARI PABRIK
(HUI, 1996)
Pretreated Palm Oil Refined Bleached and
Parameter (Degummed/Bleached) = Deodorized Palm Oil =
DBPO RBDPO
Free fatty acid (sebagai
Sama dengan CPO 0,10 max.
C16:0) (%)
Peroxide value (mEq/kg) 0 0
Moisture and impurities
0,1 0,1
(%), max.
Iron (mg/kg), max. 0,12 0,12
Copper (mg/kg), max. 0,05 0,05
Phosphorus (mg.kg), max. 4 4

Livibond color, max. (5 ¼


- 3,0 R
-inch cell)
Degumming
• Degumming didefinisikan sebagai perlakuan
penambahan bahan tambahan yang digunakan untuk
menghilangkan gum (fosfolipida), waxes, phosphates,
dan impurities lain dalam minyak yang akan
mengganggu stabilitas produk minyak selama
penyimpanan dengan cara penambahan air, larutan
garam atau larutan asam.

• Degumming akan mengkonversi


fosfatida menjadi gum terhidrasi
yang tidak larut dalam minyak dan
selanjutnya akan dipisahkan dengan
cara filtrasi atau sentrifugasi.
Komponen utama fosfolipida adalah fosfatida
yang terdiri dari :

X = choline (phosphatidyl choline or PC)


X = ethanolamine (phosphatidylethanolamine or PE)
X = inositol (phosphatidylinositol or PI)
X = hydrogen (phosphatidyl acid or PA)
Teori proses degumming :
• Ada 2 jenis fosfolipida :
• Dapat terhidrat (Hydratable phospholipid/HP)
• Tak terhidrat (Nonhidratable phospholipid/NHP)

1. Hydratable phospholipid/HP:
• Fosfolipid dapat terhidrat dan mudah dihilangkan dengan
penambahan air
• Proses degumming akan cepat pada suhu yang dinaikkan atau
lambat pada suhu rendah.
• Proses sebaiknya dilakukan pada suhu di bawah suhu fosfolipid
menjadi kristal. Fosfolipid mengkristal pada suhu 40 oC
• Dengan mengambil air, fosfolipid akan kehilangan sifat lipofil dan
menjadi lipofob, sehingga minyak akan mengendap.
2. Nonhidratable phospholipid/NHP
• NHP harus diubah menjadi terhidrat dengan dengan
penambahan asam dan diikuti proses netralisasi.
• Asam yang digunakan biasanya cukup kuat untuk
menghidratkan fosfolipid tanpa menghidrolisis
trigliserida.
• Asam yang banyak digunakan untuk degumming adalah
asam fosfat atau sitrat.
ASAM FOSFAT PADA PROSES DEGUMMING
• Asam yang biasa digunakan untuk degumming adalah asam
phosphat (H3PO4). Asam fosfat dapat mengalami dissosiasi 3
kali sbb :
H3PO4(s) + H2O(l) H3O+(aq) + H2PO4 −(aq)
H2PO4−(aq)+ H2O(l) H3O+(aq) + HPO42 −(aq)
HPO42 −(aq)+ H2O(l) H3O+(aq) + PO43 −(aq)

• Ion fosfat (PO43 −) akan mengelilingi logam-logam bermuatan


positif (Ca, Mg, Fe, Cu) pada permukaan partikel koloid,
sehingga akan terjadi netralisasi, sehingga partikel-partikel
saling bersinggungan, kemudian melekat dan tumbuh menjadi
besar lalu mengendap.
• Gum yang telah mengendap ini selanjutnya dipisahkan dengan
sentrifuse.
TYPE DEGUMMING:
1. DRY DEGUMMING
2. WATER DEGUMMING
3. ACID DEGUMMING
4. ENZYMATIC DEGUMMING
5. EDTA DEGUMMING
DRY DEGUMMING
• Proses menghilangkan gum melalui pengendapan oleh kondisi asam
dan melalui penyaringan dalam proses bleaching, tidak dipisahkan
dengan sentrifugasi.
• Proses ini digunakan untuk minyak dengan kadar fosfatida rendah
seperti minyak sawit, dan disiapkan untuk physical refining.
• Proses ini menghilangkan bleaching sebagai langkah proses yang
terpisah, sehingga mengurangi biaya

ACID DEGUMMING
• Gum mengendap dalam kondisi asam dan dipisahkan dengan
sentrifugasi.
• Pada metoda ini, gum dapat dihidrasi pada suhu lebih dari 40oC.
• Asam sitrat encer sering digunakan dan residu fosfatida dihilangkan
dengan bleaching menggunakan silica hidrogel.
PERBEDAAN DRY DAN ACID DEGUMMING
WATER DEGUMMING

• Proses menghilangkan gum lewat pengendapan dengan hidrasi air


murni, dan endapan dipisahkan dengan sentrigugasi.
• Metoda ini digunakan untuk produksi lesitin , minyak kedelai dan
minyak mentah dengan kadar fosfor 200 ppm.
• Pada proses ini air adalah bahan utama untuk menghilangkan
hidratable fosfatida dari minyak tumbuh-tumbuhan, dan dapat
dilakukan secara batch atau kontinyu.
• Proses ini tidak cukup kalau digunakan dalam refining fisik.
ENZIMATIC DEGUMMING
• Menggunakan enzim ‘food-grade’ Phospholipase.
• Keuntungannya tak ada soapstock yang harus dihilangkan.
EDTA DEGUMMING
• Proses fisiko-kimia degumming
• Fosfolipid dieliminasi dengan bahan pengkelat EDTA (etilen diamin
tetraasetat asam)
• EDTA merupakan bahan aditif sebagai zat pengemulsi.
Jenis Degumming yang sering dipakai
pada refinery CPO :

1. Wet Degumming
• Jika kadar air > 0,6% dan FFA > 5% dengan penambahan air
panas (90oC)

2. Dry Degumming
• jika kadar air < 0,6% dan FFA < 5%
• dengan penambahan Citric Acid (CA) & Phosphoric Acid/PA
(H3PO4)
CHEMICAL REFINING

Chemical refining melibatkan


3 tahap proses:
1. Gum condition-
neutralization
2. Bleaching-filtration
3. Deodorization
Chemical Refinery Plant
1. GUM CONDITION-NEUTRALIZATION
 CPO dipanaskan 80-90oC, asam fosfat 80-85% ditambahkan
dengan kadar 0,05-0,2% (dari CPO) untuk mengendapkan
fosfolipid.
 Degummed oil dinetralisasi dengan menambahkan larutan NaOH
4 N dengan konsentrasi berdasar FFA dalam CPO.
 Reaksi antara NaOH dengan asam lemak degummed oil
menghasilkan Na-sabun, yang mudah dipisahkan dengan gaya
sentrifugal.
 Fase yang lebih ringan berupa NPO/neutralized palm oil, yang
terdiri dari minyak netral dan masih mengandung 500-1000 ppm
sabun dan air diambil.
 Fase berat terutama terdiri dari sabun, pengotor tidak larut, gum,
fosfatida, sisa alkali dan sedikit minyak yang teremulsi.
 NPO kemudian dicuci menggunakan air panas dg konsentrasi 10-
20% untuk menghilangkan sisa sabun, sabun dipisahkan dengan
sentrifugasi.
 Minyak yang sudah dicuci dikeringkan dengan vacuum dryer
sehingga kadar air dalam minyak menjadi < 0,05%
Gum condition-neutralization
Proses Netralisasi

Neutralization tank

Degummed Neutralized
oil oil
Caustic
solution

Soap
stock

Hot water Wash water


NETRALISASI
• Proses netralisasi konvensional dengan penambahan soda
kaustik merupakan proses yang paling luas digunakan dan
juga proses purifikasi terbaik yang dikenal sejauh ini.
• Penambahan larutan alkali ke dalam CPO menyebabkan
beberapa reaksi kimia dan fisika sebagai berikut:
• Alkali bereaksi dengan Free Fatty Acid (FFA) membentuk
sabun.
• Fosfatida mengabsorb alkali dan selanjutnya akan
terkoagulasi melalui proses hidrasi.
• Pigmen mengalami degradasi, akan terabsorbsi oleh gum.
• Bahan-bahan yang tidak larut akan terperangkap oleh
material terkoagulasi.
Reaksi Netralisasi
• RCOOH + NaOH  RCOO-Na+ + H2O
• Fatty Acid + Sodium Hidroksida  sabun + air
• Minyak (trigliserida) yang biasa diproses pada BCR ini adalah CPKO
atau CCNO dengan FFA di atas 2 %

• Proses netralisasi ini antara lain:


• prapemanasan minyak sawit mentah hingga 54-71oC
• netralisasi dengan soda kaustik secukupnya
• pemanasan hingga 82-88oC untuk mengendapkan fasa sabun
• Disentrifugasi atau settling.

• Netralisasi dengan menggunakan soda kaustik dapat dilakukan untuk minyak


kelapa sawit yang mengandung 8 sampai 10% Asam lemak bebas.
• Minyak yang telah ternetralisasi kemudian dicuci dengan air
dan selanjutnya dipisahkan sekali lagi melalui proses settling
atau sentrifugasi untuk menghilangkan sisa pengotor dan
sisa sabun.
• Netralisasi adalah pemberian soda kaustik (NaOH 2 N – 3 N)
dengan konsentrasi 12 – 15 Baume pada minyak pada
temperatur 80 -90 oC untuk menurunkan FFA dengan produk
samping soapstock.
• Pengendapan sabun berlangsung sekitar 60 menit.
• Washing dengan air pada suhu 85 oC untuk membersihkan
sisa sabun, kadar sabun harus nol.
• Selanjutnya minyak dikeringkan dengan bantuan vacuum
dryer atau langsung dilakukan proses bleaching
Kebutuhan NaOH dirumuskan sebagai berikut :

L x d x FFA x 1000
P = -----------------------------------
100 x M x n

Keterangan :
P : volumue larutan caustic soda yang dibutuhkan (liter)
L : volume CPO dalam reactor (liter)
d : Excess NaOH yang diperlukan (%)
FFA : jumlah FFA terhadap CPO
M : berat molekul, CPO (asam palmitat) = 256
n : normalitas larutan NaOH
• Penambahan larutan NaOH tergantung kadar FFA dalam minyak kasar:
 jika FFA < 2% excess NaOH yang dibutuhkan 20 %
 jika FFA 2-3% dibutuhkan 15%
 jika >3% dibutuhkan 10%.

Contoh perhitungan NaOH excess :


CPO = 250 ml = 0,25 L
FFA CPO = 5%
d = 10%
Maka :
L x d x FFA x 1000
P= ------------------------------
100 x M x n

0,25 x 0,1 x 5 x 1000


P= ------------------------------ = 0,05 liter = 50 ml
100 x 256 x 0,8
Sentrifugasi

Prinsip :
• Memisahkan liquid
dengan Bj rendah dan Bj
tinggi
Vacuum Dryer

Prinsip :
• Minyak disemprotkan
dengan nozel kemudian
uap air disedot vakum
2. Bleaching-filtration
Bleaching
• The practice of bleaching involves the addition of
bleaching earth to remove any undesirable
impurities (all pigments, trace metals, oxidation
products) from CPO and improves the initial taste,
final flavor and oxidative stability of product.

These bleaching agents will


adsorb most of the residual
color of the remaining oil.
BLEACHING

• Minyak kelapa sawit yang sudah dinetralisasi mengandung


residu sabun, logam, produk-produk oksidasi, dan pigmen
warna sehingga dilakukan proses pemucatan (bleaching)
untuk menghilangkan bahan-bahan tersebut.
• Pemucatan minyak sawit dapat dilakukan dengan bleaching
earth yang lebih banyak dan waktu pemucatan yang lebih
lama dibandingkan proses pemucatan minyak nabati lainnya
karena tingginya kandungan pigmen di dalam minyak sawit.
Bleaching minyak netral

Bleaching earth

Vacuum system

Neutralized oil Steam in


Condensate out

Bleached
oil
Filtration

Spent earth
3. Deodorization
PHYSICAL REFINING
 Degumming
 Bleaching and
Filtration
 Deodorization
REFINERY PLANT
HEATING - UP - 1
CRUDE PALM OIL FILTRATION
( CPO max 50 oC )

FILTERING HEATING DBPO


( 100 oC - 270 oC )

HEATING - UP - 2 CPO DEACIDIFICATION &


( 50 oC to ( 80 - 95 oC ) ) DEODORIZING
( 250 oC to max 270 oC )

DEGUMMING COOLING
( 80 oC - 120 oC ) ( 260 oC - 50 oC )

BLEACHING FINISH PRODUCT


( 100 oC - 120 oC ) ( RBDPO )
PLC (programmable logic controller )
Keterangan Gambar:
Alur proses degumming dan bleaching 1. Strainer 20 mesh
Karya: Irna Wijayanti (STPK Angkatan 2008) 2. Economizer
3. PHE
4. Strainer 20 mesh
5. Vacuum dryer
6. Dinamix mixer
atm
7. Bleacher
BE 8. Buffer tank
9. Niagara filter
6
5
Vakum sistem

7
Steam

2 8
9
RBDPO
NF 1

NF 2
1 PA

NF 3
Steam
CPO
NF 4
Dry Degumming

• Aliran CPO bertemu


dengan posporic Acid
melalui dinamik mixer
Bleaching
ATM

ATM
E 702 STEAM FB 601

E 001A E 001 VP 601

STEAM
HOTWELL
M 001B

M 001 A
E 704

Live Steam
M 001
T T T 601
623 A 623 B B 602 Circulation Oil
from F 601/2

P 001A

P 023A P 023B
T 741

F 601

P001B
P 602A
F 602

P 602B

P 741
KONDISI OPTIMAL BLEACHING
 Menurut Arumughan et al. (1985) kondisi
optimal pemucatan didapat dengan penambahan
3% bleaching earth yang mengandung karbon
aktif dengan perbandingan 9:1 dan pemucatan
pada temperatur 150oC dalam keadaan vakum
700 mmHg.
 Menurut Iyung Pahan (2008), kondisi proses
pemucatan optimal dapat dicapai pada
temperatur 100 – 130oC selama 30 menit dengan
injeksi uap bertekanan rendah ke dalam bleacher
untuk mengaduk konsentrasi slurry.
 Setelah melewati proses bleaching, minyak sawit
disaring untuk menghilangkan bleaching earth
yang masih terbawa di dalamnya.
BLEACHING PADA REFINING FISIK
 Menurut Zin et al. (2006), bleaching atau pemucatan
adalah perlakuan untuk menghilangkan warna dan untuk
memurnikan minyak/ lemak.
 Tujuan bleaching pada awalnya adalah untuk
menghilangkan senyawa berwarna (klorofil, karoten)
dengan adsorpsi bahan yang sesuai.
 Namun pada saat ini pada refining fisik, bleaching
menjadi proses yang lebih kritis karena merupakan tahap
akhir dimana sisa fosfatida, sabun, logam dan produk
oksidasi dsb dapat dihilangkan sebelum proses
deodorisasi.
 Bahan tsb penting untuk dihilangkan karena
berpengaruh langsung pada kualitas organoleptik dan
stabilitas oksidasi dari produk deodorisasi.
PRINSIP BLEACHING :
 Prinsip bleaching adalah adsorpsi bahan penghasil
warna oleh adsorbent .
 Adsorbent yang banyak digunakan adalah tanah
pemucat yang diaktifkan dengan asam, tanah pemucat
alami, karbon aktif dan silica sintetis.
 Tanah pemucat yang diaktifkan dengan asam
(fuller’earth) atau lempung, sering disebut bentonit,
adalah bahan adsorbent yang banyak digunakan.
 Bahan ini terutama terdiri dari aluminium silikat hidrat.
Biasanya tanah pemucat tidak menghilangkan semua
bahan berwarna, kebanyakan warna hilang karena
destruksi termal pada waktu proses deodorisasi.
 Karbon aktif juga digunakan untuk pemucat dengan
penggunaan terbatas.
METODA BLEACHING – ADA 3 JENIS :
 Bleaching dengan panas – beberapa pigment seperti karoten
menjadi tak berwarna bila dipanaskan secukupnya. Namun hal
ini akan meninggalkan molekul pigment yang terdegradasi
tertinggal dalam minyak dan dapat menyebabkan pengaruh
buruk pada kualitas.
 Oksidasi kimia – beberapa pigmen seperti karotenoid menjadi
kurang berwarna atau tak berwarna dengan oksidasi. Tetapi
pengaruhnya bervariasi terhadap trigliserida dan merusak
antioksidant alami. Cara ini jarang digunakan untuk minyak,
tapi terbatas untuk minyak dengan keperluan khusus seperti
untuk sabun.
 Adsorpsi – metoda yang biasa digunakan untuk memucatkan
minyak makan dengan menggunakan bahan pemucat
(bleaching agent) contohnya tanah pemucat, karbon aktif, dan
silica gel. Bleaching agent biasanya mempunyai permukaan
yang luas, afinitas besar terhadap molekul jenis pigmen,
sehingga dapat menghilangkan pigmen tanpa merusak minyak.
MEKANISME PROSES BLEACHING
 Pada saat bleaching, minyak kontak dengan
permukaan aktif dari adsorben, dan partikel yang
tak diinginkan atau komponen lain secara selektif
tertahan pada permukaan pori selanjutnya
trigliserid lewat.
 Secara bertahap konsentrasi zat yang tertahan pada
pori dan yang masih ada dalam minyak akan
mencapai keseimbangan, dan dicapai dalam waktu
relatif singkat 10-15 menit.
 Pada saat kondisi setimbang, bleaching earth tidak
lagi mengadsorpsi pigment dari minyak yang kontak
tetapi masih bereaksi dengan minyak yang berwarna.
 Sifat katalitik dari acid activated bleaching earth dapat
dijelaskan karena sifat yang asam.
 Hal ini menyebabkan naiknya kadar FFA karena
reaksi berikut :

H-bentonit + Na-sabun → Na-bentonit + FFA


Triasilgliserol + H2O → diasilgliserol + FFA
 Sifat yang penting dari acid activated BE adalah
degradasi peroksida oleh dehidrasi, sehingga terbentuk
aldehid, keton dan senyawa konjugasi, dan trans fatty
acid dalam jumlah kecil.
 Suhu dan waktu kontak untuk minyak dan adsorben
harus dipilih yang tepat, karena kelebihan salah satu
factor berakibat pada efek samping yang tak
diinginkan.
 Supaya penggunaan adsorben efisien, bahan seperti
gum dan sabun harus dihilangkan dulu pada tahap
degumming, karena akan berlomba ruang pada
permukaan adsorben.
BAHAN BLEACHING
 Ada beberapa bahan pemucat yang digunakan dalam
industry minyak nabati, seperti activated bleaching
earth, natural bleaching earth , karbon aktif , silikat
sintetis dan resin sintetis.
 Acid activated bleaching earth akan mengubah warna
dari minyak menjadi lebih terang dengan menukar
unit warna dasar dalam minyak tanpa mengubah sifat
kimia minyak.
 Sebagian bleaching earth secara alami memucatkan
warna, ada sebagian lagi perlu diaktifkan dengan
asam.
 Cara ini menyebabkan penggantian sebagian ion Al
dengan ion H dari asam, akibatnya terbentuk struktur
kisi2 tanah yang bermuatan negative dan bersifat
mengadsorpsi kation.
 Acid activated bleaching earth dibuat dari bleaching
earth alam yaitu Al silikat (bentonit, monmorilonit)
yang mengandung Mg, Ca atau Fe yang relative
tinggi.
 Tanah ini umumnya diaktifkan dengan panas.

 Meskipun permukaan spesifik relative tinggi (40-120


m2/g) aktivitas adsorpsi terbatas karena kandungan
logam yang relative tinggi.
 Aktifasi dengan asam H2SO4 atau HCl menaikkan
luas permukaan spesifik (sampai 250-350 m2/g) dan
menurunkan kadar logam.
JENIS DAN STANDAR PENGGUNAAN
PHOSPOHORIC ACID (PA) DAN BLEACHING
EARTH (BE) PADA INDUSTRY REFINERY

Parameter Range
Dosis Phosporic Acid (PA) 85% Maks. 1 % (per MT CPO)
Dosis Bleaching Earth (BE) Maks. 2 % (per MT CPO)
FFA Maks. 5 %
Kualitas CPO
Air Maks. 2 %
DOBI 2 – 3,5
PV 1,5 – 5 meq/kg
P 10 – 18 ppm
Fe 4 – 10 ppm
KONDISI PROSES DEGUMMING DAN
BLEACHING :
 CPO ditambah PA 85% dengan kisaran dosis
0,05-0,2%, dipanaskan pada suhu 90-110 oC
selama 15-30 menit, kemudian ditambahkan BE
dalam bentuk slurry dengan kisaran 0,8-2,0%
tergantung kualitas CPO.
 Pada proses degumming dikendalikan mutunya
meliputi : kadar asam phosphate (Phosporic
acid/PA 85%) maupun asam sitrat (citric acid/CA)
yang digunakan, Operation Vacuum : 650 750
mmHg, React Temp.
PROSES BLEACHING
 Sebelum bleaching, minyak dikeringkan dan deaerasi
pada tekanan rendah (50 mbar) sampai kadar air 0,1%.
 Selanjutnya BE ditambahkan dengan kondisi yang
dikontrol (suhu, waktu, humidity dsb). Biasanya BE
ditambahkan langsung pada minyak atau dalam bentuk
slurry dengan minyak.
 Untuk menghindari reaksi oksidasi, minyak dan BE
harus bebas oksigen sebelum dicampur . Pencampuran
dapat dibantu dengan uap yang disemprotkan .
 Campuran minyak dan BE selanjutnya ditransfer ke
penyaring stainless stell mesh.
 Minyak yang melewati saringan pada awal untuk
membentuk filter cake dan dikembalikan ke tangki
untuk menghilangkan partikel BE yang masih tertinggal
dalam minyak.
 Setelah fitrasi selesai, filter cake dikeringkan dengan
diblow dengan uap atau nitrogen untuk
menghilangkan sebanyak mungkin minyak yang
menempel pada cake.
 Kadar minyak dalam cake bervariasi 20-40%
tergantung karakteristik BE, media penghembus dan
tipe filter.
 Minyak yang diperoleh dari filter cake dikembalikan /
dicampur untuk diproses lagi.
 Minyak dapat disaring lagi untuk menghilangkan
partikel BE yang masih tertinggal dalam minyak.
KONDISI PROSES BLEACHING
 Pada proses bleaching perlu dikendalian dosis BE
(Bleaching earth) yang digunakan dan warna CPO
sebelum dan setelah bleaching. Operation Vacuum :
650 -750 mmHg, React Temp, filtration, spent earth.
 Suhu reaksi : Hui, 1994 (95-110oC), Smart (100-
120oC)
 Pada proses Filtrasi , kadang-kadang ditambahkan
tanah diatomae untuk meningkatkan efisiensi filtrasi
 Spent earth biasanya masih mengandung 20-40%
minyak, penyebab lossis utama
 Partikel spent earth jika terikut dalam minyak akan
mengurangi stabilitas minyak thd oksidasi
ECONOMYZER
PLATE HEAT EXCHANGER (PHE)

 CPO dari storage tank


suhu 40 oC di proses ke
physical refinery dengan
dinaikkan suhunya
hingga 90 – 100 oC
melalui suatu PHE yang
juga disebut ekonomizer.
 Warna biru adalah aliran
CPO dari storage tank
(40 oC)
 Warna merah adalah
aliran CPO yang sudah
dideodorisasi (270 oC)
Bleaching earth
BUFFER TANK
 Memberi kesempatan
reaksi asam phosphat
dan bleaching earth
dengan CPO
NIAGARA FILTER
 Menyaring CPO yang
sudah direaksikan dengan
PA dan BE
 Susunan plate
niagara filter
 Plate niagara
filter
STUKTUR PLATE NIAGARA FILTER
DEODORISASI
Maria Ulfah, STP. MP.
DEODORISASI
 Deodorisasi adalah suatu tahap pemurnian
minyak yang bertujuan untuk menghilangkan
bau yang tidak dikehendaki.
 Deodorisasi merupakan langkah terakhir dalam
pemurnian minyak.
 Secara prinsip, hal ini berdasarkan distilasi uap
secara vakum dengan suhu dinaikkan, sehingga
asam lemak bebas dan komponen bau hilang dan
diperoleh minyak yang tidak berbau.
 Selain itu akan terjadi kerusakan karotenoid
akibat bleaching dengan panas.
 Deodorisasi merupakan langkah terakhir dalam
pemurnian minyak
 Minyak sawit yang keluar dari proses pemucatan
mengandung aldehida, keton, alkohol, asam lemak
berberat molekul ringan, hidrokarbon, dan bahan
lain hasil dekomposisi peroksida dan pigmen.
 Walaupun konsentrasi bahan-bahan tersebut kecil,
bahan-bahan tersebut dapat terdeteksi oleh rasa dan
aroma minyaknya.
 Bahan-bahan tersebut lebih volatil pada tekanan
rendah dan temperatur tinggi.
 Proses deodorisasi pada intinya adalah distilasi
uap pada keadaan vakum.
 Distilasi uap pada tekanan vakum untuk
menguapkan aldehid dan senyawa aromatik
lainnya
PROSES
DEODORISASI

 Deodorisasi dijaga pada kondisi vakum dengan


memanaskan suhu minyak setelah bleaching pada suhu
200oC dengan tekanan uap dialirkan berlawanan
dengan minyak.
 Proses ini dikehendaki pada suhu tinggi berkisar 240 -
260oC, vacuum (2 – 4 mmHg) dan injeksi steam
langsung kira-kira 2.5 - 4.0 % dari berat minyak (Leong,
1992).
 Selama proses deodorisasi, free fatty acid (FFA)
membentuk palm fatty acid distillate (PFAD) sebagai
limbah.
 Bahan volatil yang tidak dikehendaki diuapkan
bersama uap air.
MEKANISME DEODORISASI

 Minyak diberi perlakuan vakum dan diagitasi :


Deodorisasi dilakukan dalam alat yang bernama
deodorizer.
 Pada alat ini minyak diberi perlakuan vakum dan suhu
ditingkatkan disertai pengadukan dan pengaliran gas.
Gas yang digunakan adalah uap air panas.
 Kondisi vakum menyebabkan komponen volatil
menguap dan mengurangi gas yang dibutuhkan.
 Kondisi vakum juga berperan mengurangi oksidasi
minyak dan hidrolisis trigliserida jika gas yang
digunakan adalah uap air panas.
 Setelah minyak dideodorisasi, karena dalam
proses deodorisasi ini dilakukan pemanasan,
proses pendinginan minyak harus segera
dilakukan.
 Proses deodorisasi dinyatakan mulai
berlangsung jika jumlah tekanan uap dan
jumlah tekanan zat menguap telah sama dengan
permukaan minyak dan lemak.
 Makin rendah tekanan, makin rendah pula suhu
deodorisasi sehingga dengan demikian vakum
yang baik sangat berpengaruh dalam proses
Deodorization

Bleached Deodorizer
Oil
. . . .
Steam . .
.. .
... .. . .. .
. .
Vacuum
. . system
Refined ... .
Bleached
Deodorised FAD
oil cooler

Fatty acid distillate (FAD)


Deodorization

Bleached Deodorizer
Oil
. . . .
Steam . .
.. .
... .. . .. .
. .
Vacuum
. . system
Refined ... .
Bleached
Deodorised FAD
oil cooler

Fatty acid distillate (FAD)


KETENTUAN KUALITAS MINYAK
REFINE
 Kualitas refine oil ditentukan dengan parameter
organoleptik seperti rasa, bau dan warna.
 Sedangkan dari nilai nutrisinya masih
mengandung komponen minor (trans fatty acid,
tokoferol, hasil polimerisasi dan oksidasi
triacilgliserol), seperti dapat dilihat pada Tabel
4.15.
TABEL 4.15. SIFAT MINYAK REFINED
Komponen Palm Palm kernel Coconut

FFA (%) maks 0,05 0,05 0,05


Trans (%) maks 0,5 - -
Moisture (%) maks 0,05 0,05 0,05
Impurities (%) maks 0 0 0
PV (mEq O2/kg)maks 0,5 0,5 0,5
Phosporus (ppm) 1 1 1
maks
Total metal (ppm) 0,1 0,1 0,1
maks
PAH (ppb) maks 25 25 25
Color 5 1/4 “ maks 2,5R-30Y 1,5R-15Y 1,5R-15Y
Smoke point (oC) min 220 - -
PROSES DEODORISASI :
 Deodorisasi dapat ditentukan sebagai proses
penekanan multi step dengan deaerasi,
pemanasan, deodorisasi-deacidifikasi dan
pendinginan minyak.
DEODORIZI
 The bleached oil are then sent to a cylindrical vessel called ‘Deodorizer’.
NG  Deodorization is a high temperature, high vacuum and steam distillation
process.
 During this process, free fatty acid (FFA) in the form of palm fatty acid
distilate (PFAD) is removed as refining waste, at the upper section of
deodorizer.

D 703
Steam Steam

VP 701

SCR
702
E 600
E 703
STR 702

E-6

OIL
IN

Bleached Oil HPB SCR


705 Water in
Fatty Oil

D 701
Steam

P 705
D 702
E 701
V-1

E 705

T 702
P 701

T 723
E 702
P 001 F 701 F 702
Water

B 602

E 001A
P 702
M 001 P 723
E 704 RBD OIL
M 702
Alur proses Deodorisasi
Karya: Dadang S. (STPK Angkatan 2008)

Vakum sistem

5
3 Ket:
1. Daerator
2. Economizer
9
3. HPB (Hight
7
8
Pressure
11
Boiler)
4. Shell and
FAD tube
12
5. Flash
air Vessel
air 6. Packed
RBDPO Culoumn
6
7. PFAD Tank
DBPO 2 10 8. PHE (Plate
Heat
Exchanger)
9. Deodorizer
Steam 10.Splash Oil
1 Tank
11.PHE
12.Cartridge
Filter
LANGKAH 1. DEAERASI
 Minyak dihilangkan udaranya terlebih dahulu
sebelum pemanasan agar terhindar dari oksidasi
dan resiko polimerisasi.
DEAERATOR
 Merupakan tanki yang berfungsi untuk
menghilangkan udara yang terkandung di dalam
DBPO agar terhindar dari oksidasi yang dapat
mengganggu kualitas minyak.
 Tanki ini dioperasikan pada kondisi vakum,
sehingga kandungan udara dalam minyak dapat
ditarik oleh vakum.
LANGKAH 2: PEMANASAN
 Pemanasan terhadi 2 tahap. Tahap I,
minyak dipanaskan melalui oil heat
exchanger (economizer), sehingga panas
dapat direkoveri setelah minyak di
deodorisasi.
 Selanjutnya, minyak panas dikurangi
tekanannya untuk menaikkan suhu
deodorisasi, sehingga tekanan uap tinggi,
transfer aliran panas dengan pemanas
listrik.
 Keperluan energi untuk sistem
deodorisasi dapat dihitung sbb :
H = [O . c. (T2-T1)].fL .fR

Dimana,
 H = energi untuk sistem deodorisasi
 O = jumlah minyak (kg)
 T1,T2 = suhu awal dan akhir minyak (oC)
 c = rata-rata kapasitas panas spesifik minyak nabati (2,2
– 2,4 kJ/kgoC)
 fL = faktor kehilangan panas dari radiasi (1,05 – 1,15)
 fR = faktor rekoveri panas = (1-% rekoveri panas)/100
Dalam praktek industri, rekoveri
panas menjadi faktor penting
untuk meminimalkan biaya
pemanasan awal minyak menuju
suhu deodorisasi.
Pada saat ini evolusi heat
exchanger dan recovery panas
sangat pesat. Secara umum
dapat dikatakan bahwa heat
exchanger ada yang eksternal
dan internal.
 External HE dihasilkan rekovery yang lebih baik dan
mudah diakses untuk cleaning.
 Sedangkan internal HE, untuk rekovery energi
diperlukan kondisi vakum dan menjamin
ketercampuran produk kecil.
 Akhirnya untuk pilihan HE sistem didasarkan pada
permorfamance termal dan lebih komplet kriterianya,
seperti kemudahan dipelihara, tingkat ketercampuran
kecil, tidak memberikan efek terhadap kualitas
produk dan biaya instalasi diterima dibandingkan
untuk penerimaan rekoveri energi (Athnassiadis,
1988).
SPIRAL HEAT EXCHANGER (SHE)

 Berfungsi untuk menaikkan suhu BDPO dari


temperatur ± 90-1000C menjadi ± 1200C dengan cara
dicross dengan RBDPO dari proses deodorisasi dari
temperatur ± 2500C menjadi ± 1200C.
SPIRAL HEAT EXCHANGER
SHE
HIGH PRESSURE BOILER (HPB)
 Merupakan ketel uap untuk menghasilkan steam
bertekanan tinggi, sehingga dapat digunakan
untuk menaikkan suhu DBPO sesuai dengan
kualitas yang diiginkan.
 Prinsip kerja boiler yaitu dengan memanaskan
air yang terdapat di dalam pipa hingga
membentuk uap superheated dengan
menggunakan bahan bakar gas.
SHELL AND TUBE
 Berfungsi untuk memanaskan suhu DBPO
menjadi 255-2650C dengan steam bertekanan 50-
54 bar yang dihasilkan dari HPB.
SHELL AND TUBE HEAT EXCHANGER
FLASH VESSEL
 Merupakan sebuah tanki yang berfungsi untuk
menstabilkan tekanan DBPO yang mengalami
pemanasan dengan tekanan tinggi di dalam shell
and tube.
 Tanki ini memiliki kapasitas 5.955 kg dan
dioperasikan pada kondisi vakum.
FLASH VESSEL
 untuk mempercepat
systems kondensat
pada tekanan tinggi
untuk Inlet uap pada
pemanasan tekanan
rendah, dan untuk
merubah tekanan uap
yang rendah sebelum
diumpankan ke
boiler, penampung
kondensat atau inlet
service.
LANGKAH 3:
DEODORISASI DAN DEACIDIFIKASI
 Tekanan uap zat-zat yang berbau adalah sangat
rendah hingga dengan suhu yang sangat tinggi
baru dapat diuapkan dengan tekanan atmosfer
 Oleh karena itu vakum yang tinggi untuk
mengurangi suhu hingga dibawah suhu proses
kerusakan sangat diperlukan.
 Deodorisasi dan deacidifikasi berkisar pada suhu
220-260 oC dengan tekanan 2-4 mbar dan injeksi
steam 0,5-3%.
VARIABEL DEODORISASI
Vacuum range 1 – 6 mmHg
 1 mmHg = 133 Pa = 0,133
KPa = (0,133 /100)x1000 mbar
=1,33 mbar
Temperatur 240 – 260 °C
Stripping Steam 1 – 5%
Holding time 15 – 120 menit
 Dari sudut pandang termodinamika, striping
digunakan untuk memecah tekanan total menjadi
tekanan parsial. Konsekuensinya, kesetimbangan uap-
cairan menghasilkan fraksi molar yang lebih kecil (xi),
hasilnya adalah komponen volatil lebih banyak secara
siknifikan daripada yang bisa dihilangkan tanpa
stripping agent.
 Yang pasti jumlah dari stripping agent berbanding
langsung dengan berat molekul : bagaimanapun,
stripping agent akan menseleksi berat molekul yang
paling kecil.
CONTINUOUS
EVAPORATOR/ST
RIPPER
 Minyak diberi aliran gas
biasanya uap air : uap
panas dimasukkan ke
dalam tangki (stripping).
 Pemasukan uap tersebut
dimaksudkan untuk
mempengaruhi penguapan
senyawa-senyawa volatil
agar dapat menguap pada
suhu yang lebih rendah.
 Gelembung-gelembung uap
akan naik melalui minyak
dan keluar dari lingkungan
minyak membawa serta
komponen-komponen yang
konsentrasinya tergantung
pada tekanan parsial
masing-masing komponen.
STRIPPING
 Suatu proses untuk memurnikan minyak dengan
menggunakan perbedaan tekanan uap.
 Prinsip hukum Dalton dan Roult
PRINSIP KERJA HUKUM DALTON YAITU
TEKANAN UAP

 Jika didalam liquid tidak terdapat


bahan lain maka
P P = p
 Jika terdapat bahan lain maka :

p P = pa + pb + pc + …

a, b, c, ...
HUKUM ROULT
P = X . oPa

 P : tekanan uap jenuh


 X : fraksi uap jenuh
 oPa : tekanan uap parsial
TABEL SUHU DEODORISASI CAMPURAN
ASAM LEMAK PADA TEKANAN BERBEDA-
BEDA

P= 5 mm Hg – 8 mm
Asam Lemak Pada : P= 20 mm Hg (ºC)
Hg (ºC)
Minyak Kacang Tanah 210 – 220 230 – 240

Minyak Kedelai 210 – 220 230 – 245

Minyak Biji Kapas 215- 225 235 – 250

Minyak Zaitun 210 – 220 230 – 240

Minyak Kelapa Sawit 210 – 215 225 – 235

Minyak Kelapa 200 -210 215 – 230


TABEL TITIK DIDIH ASAM LEMAK PADA
RASIO UAP AIR DAN ASAM LEMAK YANG
BERBEDA

Rasio uap air : asam


2,5 : 1 1:1
lemak

Asam laurat 191 ºC 215 ºC

Asam myristat 211 235

Asam palmitat 224 248

Asam stearat 243 263

Asam oleat 239 262


DEODORIZER
 Merupakan sebuah tanki yang berfungsi untuk
menghilangkan komponen bau dan menguapkan FFA
yang masih terkandung di dalam DBPO .
 Tanki ini memiliki 12 tray, pada masing-masing tray
terdapat live steam 0.8 - 1 bar.
 Live steam bertujuan untuk mengaduk DBPO
sehingga FFA dan komponen bau lebih mudah untuk
teruapkan dan ditarik oleh vakum.
DEODORIZER
 The Vertical Cylindrical vessel with trays in
Stainless Steel construction, provided with
sparging steam arrangement, light sight glasses
designed for continuous operation with provision
for external oil heating system to deodorization
by thermal oil / high pressure steam.
 The final product produce will be international
quality with Minimum transacid contents.
DEODORIZER WITH STRIPPING COLUMN
The Cylindrical vessel with trays in Stainless Steel
construction, for heat bleaching the oil provided with
sparging steam arrangement, light sight glasses designed
for continuous operation with provision for external oil
heating system to deodrization by thermal oil / high
pressure steam. The final product produce will be
international quality with Minimum transacid contents.

Stripping Column
Packed column with structured packing, complete with oil
inlet distributor and steam distributor , to evaporate free
fatty acids and other unwanted volatile materials from oil.
 Minyak yang masuk ke deodorizer masih
memiliki suhu di atas 2500C sehingga selain
komponen bau dan FFA, kandungan β-karoten
juga pecah sehingga warna merah DBPO
menjadi warna kuning jernih.
 Tanki deodorizer dengan kapasitas 27.000 kg
dioperasikan pada kondisi vakum 2-3 torr.
SPLASH OIL TANK
 Merupakan sebuah tanki dengan kapasitas 226
kg yang berfungsi untuk menampung RBDPO
yang tumpah dari tray deodorizer yang dianggap
belum mengalami proses deodorisasi dengan
sempurna.
 Setelah RBDPO yang ditampung di dalam tanki
mencapai high level, RBDPO tersebut akan
dipompa kembali menuju tray teratas yaitu tray
0 agar diproses dengan sempurna.
PACKED COLUMN
 Merupakan sebuah tanki yang berfungsi untuk
memisahkan FFA (Free Fatty Acid) yang
terkandung di dalam DBPO dengan cara
penguapan pada tekanan rendah dan temperatur
tinggi.
 Tanki ini dilengkapi dengan packing material
yang berfungsi untuk memperlebar luas kontak
permukaan DBPO sampai tidak terhingga
sehingga FFA mudah menguap.
 Free Fatty Acid yang teruapkan akan
dikondensasi oleh yang PFAD yang berbentuk
liquid bersuhu 700C dengan cara dispray
sehingga FFA terkondensasi dan akan
ditampung ke dalam tanki PFAD.
APAKAH PACK COLUMN ITU?
Definisi :
 Suatu tangki proses
untuk pengambilan FFA
dari DBPO dengan cara:
 Memperlebar luas kontak
permukaan DBPO sampai
tak terhingga sehingga
mudah menguap
 Suhu DBPO di atas 250 °C
 Pada kondisi vacuum
ADAPUN PROSESNYA SEBAGAI
BERIKUT:
 DBPO dilewatkan ke deareator untuk
menghilangkan gas O2 yang masih terikut
didalamnya
 DBPO dipanaskan pada suhu 260 – 265°C
dengan menggunakan HPB (High Pressure
Boiler)
 DBPO dispray di pack column, selain FFA
menguap, ß – carotene juga pecah, sehingga
warna merah DBPO menjadi warna kuning
jernih. FFA yang menguap akan
dikondensasikan dengan FFA yang didinginkan
sehingga dihasilkan PFAD (Palm Fatty Acid
Destillate).
 Dilanjutkan ke proses Deodorizing
 Di dalam Packed Column berfungsi untuk
menghilangkan FFA, dari Packed Column
menuju ke Deodorizer untuk dihilangkan
baunya (odor).
 Karena FFA telah terurai menjadi
aldehid dan keton
Aldehid
FFA + O2
Keton
 Permukaan maksimum rasio volume
dapat diperoleh dalam proses lapisan tipis.
 Hal ini dapat dicapai dengan
menggunakan packing yang terstruktur
(pack-column) di atas deaerasi dan
pemanasan minyak secara full adalah
dengan mengalirkan minyak ke dalam
stripping steam .
Gambar 4.20.
Packed column
1. structured
packing
2. support gird
3. liquid
4. feed pipe
5. liquid
distributor
6. Locating grid
7. Steam inlet
8. Column sump
9. Circulation
pipe to reboiler
10. Skirt
11. Anchorage
 Tipe packing terstruktur (pack-column) secara umum
digunakan sekitar 250 m2/m3.
 Tipe packed column dirancang dengan ketinggian 4-8
m dan kapasitasnya mencapai 10.000 kg/jam.m2 cross-
section pada tekanan ini menurun sekitar 0,2-0,5
mbar per meter packing.
 Meskipun sistem ini memberikan pemisahan asam
lemak yang bagus dengan minimum penggunaan
steam, namun tidak memberikan jumlah yang panas
yang besar untuk bleaching dan efektifitas deodorisasi
karena waktu retensi yang relatif pendek.
 Untuk selanjutnya, perlu difikirkan mengenai tabung
retensi yang merupakan bagian dari sistem sebelum
atau setelah lapisan tipis.
SCRUBBER
TANKI PFAD
 Merupakan tanki dengan kapasitas 4.000 kg
yang berfungsi menampung PFAD (Palm Fatty
Acid Destilate) hasil proses doedorisasi. Setelah
PFAD yang ditampung mencapai high level
maka PFAD akan dipompa menuju storage
PFAD.
PHE (PLATE HEAT EXCHANGER)
 Plate Heat Exchanger yang digunakan yaitu Type
Plate Cooler yang berfungsi untuk menurunkan
suhu PFAD (Palm Fatty Acid Destilate) yang
sudah terkondensasi. Di dalam Plate cooler akan
terjadi transfer panas antara PFAD cair dengan
air bersuhu ± 280C, aliaran air diatur dengan
menggunakan regulator hingga suhu PFAD
liquid mencapai 700C.
LANGKAH 4. PENDINGINAN MINYAK
 Tekanan absolut yang diperoleh biasanya adalah 2-5
mbar, sehingga secara umum sistem vakum terdiri
dari kombinasi steam-jet ejektor (booster), kondenser
uap dan pompa vakum mekanis (liquid ring).
 Liquid ring pump digunakan pada langkah akhir
dari sistem vakum untuk menghilangkan gas yang
tidak terkondensasi.
 Unit produksi vakum spesial dikembangkan dengan
tekanan dan biaya operasi yang lebih rendah dan
pada waktu yang sama mampu menurunkan emisi
dengan efisiensi kondensasi zat volatil yang lebih
tinggi.
 Sistem kondensasi kering (Gambar 4.16) lebih
populer di pasaran.
 Refined Bleached Degummed Palm Oil yang
dihasilkan dari tanki deodorizer akan di pompa
menuju SHE dan mengalami proses
pendinginan pertama dari temperatur ± 2500C
menjadi ± 1200C.
 Kemudian RBDPO akan mengalami pendingin
kedua yaitu dipompa menuju economizer,
sehingga suhu RBDPO menjadi ± 900C.
PHE (PLATE HEAT EXCHANGER)
 Refined Bleached Degummed Palm Oil yang
telah mengalami pendinginan pertama dan
kedua akan dipompa menuju PHE type plate
cooler dan mengalami pendinginan akhir.
 Di dalam plate cooler akan terjadi transfer panas
RBDPO dengan air bersuhu 28-300C sehingga
temperatur RBDPO 700C apabila dipompa
menuju tanki crystallizer dan temperatur 55-
600C apabila dipompa menuju tanki storage
RBDPO.
CARTRIDGE FILTER
 Merupakan filter akhir dari proses refinery yang
berfungsi untuk menyaring impurities yang
kemungkinan masih terikut di dalam produk.
 Cartridge filter terdiri dari 18 cartridge yang
memiliki ukuran masing-masing 10 micron
dengan kapasitas 101 kg dan dioperasikan pada
kondisi ∆P max 2,1 kg/cm2.