You are on page 1of 52

PPDGJ III

Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa
Part two

Dr. ARY YANUAR RAHMANTO, M.Si

PEMERINTAH KABUPATEN PAMEKASAN
AKADEMI KEPERAWATAN
2017

TUJUAN PEMBELAJARAN

• Mengetahui dan menjelaskan Proses Diagnosis
Gangguan Jiwa berdasarkan PPDGJ III
• Mengetahui dan menjelaskan Proses Diagnosis
Multi Axial

PROSES DIAGNOSIS
GANGGUAN JIWA
ANAMNESA

PEMERIKSAAN

DIAGNOSIS

TERAPI

TINDAK LANJUT

PROSES DIAGNOSIS
GANGGUAN JIWA
ANAMNESA INFORMASI (SUBYEKTIF)

Alasan Berobat  Keluhan Utama,
Riwayat Penyakit Sekarang,
Riwayat Penyakit Dahulu,
Perkembangan diri,
Latar sosial,
Keluarga,
Pendidikan,
Pekerjaan,
Perkawinan,
dsb

Lain-lain . Radiologik. PROSES DIAGNOSIS GANGGUAN JIWA PEMERIKSAAN INFORMASI (OBYEKTIF) DIAGNOSTIC PHISIK ( DP ) Status Mentalis  ASPEK – ASPEK KEJIWAAN (ada 13 ) Evaluasi Psikologis Laboratorium.

PROSES DIAGNOSIS GANGGUAN JIWA DIAGNOSIS Aksis I = KLINIS Aksis II = KEPRIBADIAN Aksis III = KONDISI MEDIK Aksis IV = PSIKO SOSIAL Aksis V = TARAF FUNGSI .

PROSES DIAGNOSIS GANGGUAN JIWA DIAGNOSIS ANAMNESIS PEMERIKSAAN (Data Subyektif) (Data Obyektif) .

Sosioterapi. Terapi Okupasional. Psikoterapi. PROSES DIAGNOSIS GANGGUAN JIWA TERAPI  HOLISTIK Farmakoterapi. Dan Lain-lain .

PROSES DIAGNOSIS GANGGUAN JIWA TINDAK LANJUT Evaluasi Terapi. Evaluasi Diagnostik. Dan lain-lain .

Perkemb diri. Lain-lain Evaluasi Terapi. Evaluasi Psikologis. Evaluasi TINDAK LANJUT Diagnostik. PROSES DIAGNOSIS GANGGUAN JIWA ANAMNESIS Alasan Berobat. Aksis II = Kepribadian. Aksis IV = Psiko Sosial. Lain-lain . Rwy Penyk Skrg.dsb PEMERIKSAAN Fisik – Diagnostik. pekerjaan. Psikoterapi. Aksis V = Taraf Fungsi TERAPI Farmakoterapi. Latar sosial. Lain-lain DIAGNOSIS Aksis I = Klnis. Status Mentalis. pendidikan. Terapi Sosial. perkawinan. Laboratorium. keluarga. Radiologik. Rwyt Peny Dahulu. Aksis III = Kondisi Medik. Terapi Okupasional.

Penilaian Fungsi Secara Global .Retardasi Mental  Aksis III : .Gangguan Klinis . DIAGNOSIS MULTIAKSIAL • Diagnosis Multiaksial terdiri dari 5 Aksis :  Aksis I : .Kondisi Lain Yg Menjadi Fokus Perhatian Klinis  Aksis II : .Masalah Psikososial dan Lingkungan  Aksis V : .Gangguan Kepribadian .Kondisi Medis Umum  Aksis IV : .

II. • Hubungan antara “Aksis I – II – III” dan “Aksis IV” dapat timbal balik saling mempengaruhi. Masalah Psikososial dan Lingkungan. III tidak selalu harus ada hubungan etiologis atau patogenesa. Taraf Fungsi Secara Global). Kondisi Medik Umum. • Tujuan dari Diagnosis Multiaksial : 1. . Mencakup informasi yang “Komprehensif” (Gangguan Jiwa. DIAGNOSIS MULTIAKSIAL • Antara Aksis I. sehingga dapat membantu dalam perencanaan terapi dan meramalkan outcome (prognosis).

Memacu penggunaan “Model Bio-Psiko-Sosial” dalam klinik.  Menangkap kompleksitas situasi klinis. pendidikan. dan penelitian. DIAGNOSIS MULTIAKSIAL • Tujuan dari Diagnosis Multiaksial : 2. Format yang “Mudah” dan “Sistemik” sehingga dapat membantu dalam :  Menata dan mengkomunikasikan informasi klinis.  Menggambarkan heterogenitas individual dengan diagnosis klinis yang sama. . 3.

Gangguan Seks. AKSIS I F00 – F09 = Gangguan Mental Organik (+Simptomatik) F10 – F19 = Gangguan Mental & perilaku  Zat Psikoaktif F20 – F29 = Skizofrenia. Gangguan Somatoform. F62 – F68 = Perubahan Kepribadian  Non Organik. Gangguan Terkait Stress F50 – F59 = Sindrom Perilaku  Gangguan Fisiologis / Fisik. . Gangguan Skizotipal & Gangguan Waham F30 – F39 = Gangguan Suasana Perasaan (Afektif / Mood) F40 – F48 = Gangguan Neurotik. Gangguan Impuls.

F90 – F98 = Gangguan Perilaku & Emosional Onset Kanak – Remaja Kondisi lain yang menjadi Fokus Perhatian Klinis Z 03.2 = Tidak Diagnosis Aksis I. . AKSIS I F80 – F89 = Gangguan Perkembangan Psikologis. R 69 = Diagnosis Aksis I Tertunda.

F60.7 = Gangguan Kepribadian Dependen F60.2 = Gangguan Kepribadian Dissosial F60.6 = Gangguan Kepribadian Cemas (Menghindar) F60.4 = Gangguan Kepribadian Histrionik F60. .9 = Gangguan Kepribadian Yangg Tidak Tergolongkan.0 = Gangguan Kepribadian Paranoid F60. AKSIS II F60 = Gangguan KEPRIBADIAN KHAS.3 = Gangguan Kepribadian Emosional Tak Stabil F60.5 = Gangguan Kepribadian Anankastik F60.1 = Gangguan Kepribadian Skizoid F60.8 = Gangguan Kepribadian Tidak Khas Lainnya F60.

Bab XIII M00 – M99= Penyk Muskuloskeletal & Jar Ikat. Bab XII L00 – L99 = Penyakit Kulit & Jaringan Sub Kutan. . Bab X J00 – J 99 = Penyakit Sistem Pernafasan. Bab II C00 – D48 = Neoplasma. Bab IX I00 – I99 = Penyakit Sistem Sirkulasi. Nutrisi & metabolik. Bab IV E00 – G90 = Penyakit Endokrin.Kelahiran anak & Masa Nifas. Bab XIV N00 – N99 = Penyakit Genitourinaria. AKSIS III Bab I A00 – B99 = Penyakit Infeksi dan Parasit tertentu. Bab VIII H60 – H95 = Penyakit Telinga dan Mastoid. Bab XI K00 – K99 = Penyakit Sistem Pencernaan. Bab XV O00 – O99 = Kehamilan. Bab VI G00 – G99 = Penyakit Susunan Syaraf. Bab VII H00 – H59 = Penyakit Mata dan Adneksa.

. AKSIS III Bab XVII Q00 – Q99 = Malformasi Kongenital. Bab XX V01 – Y 98 = Kausa Eksternal dari Morbiditas & Mortalitas. Tanda. dan Temuan Klinis – Lab Abnormal Bab XIX S00 – T98 = Cedera. Bab XVIII R00 – R99 = Gejala. Keracunan & Akibat Kausa Eksternal. Deformasi Kelainan Kromosom. Bab XXI Z00 – Z99 = Faktor  Status Kesehatan dan Pelayanan Kesehatan.

AKSIS IV Masalah Dengan “Primary Support group” (Keluarga). Masalah perumahan. Masalah pekerjaan. Masalah ekonomi. . Masalah psikososial dan linngkungan lain. Masalah berkaitan interaksi dengan hukum / kriminal. Masalah akses ke pelayanan kesehatan. Masalah berkaitan dengan lingkungan sosial Masalah pendidikan.

cukup puas. disabilitas ringan dalam fungsi. disabilitas sedang. AKSIS V GLOBAL ASSESSMENT OF FUNCTIONING (GAF) SCALE. pekerjaan. 70 – 61 = Beberapa gejala ringan & menetap. berfungsi baik. 100 – 91 = Gejala tdk ada. 90 – 81 = Gejala Minimal. disabilitas ringan dalam sosial. dll. sekolah. tidak lebih dari masalah harian yang biasa. 60 – 51 = Gejala sedang (moderate). berfungsi maksimal. secara umum masih baik. tidak ada masalah yang tidak tertanggulangi. 80 – 71 = Gejala sementara. dan dapat diatasi. .

disabilitas berat dalam beberapa fungsi. 10 – 01 = Seperti di atas  persisten dan lebih serius. 20 – 11 = Bahaya mencederai diri / orang lain. tidak mampu berfungsi hampir semua bidang. 40 – 31 = Beberapa disabilitas dlm hubungan dg realitas dan komunikasi. disabilitas berat. 0 = Informasi tidak adekwat . AKSIS V GLOBAL ASSESSMENT OF FUNCTIONING (GAF) SCALE. 50 – 41 = Gejala berat (serious). 30 – 21 = Disabilitas berat dalam komunikasi dan daya nilai. disabilitas sangat berat dalam komunikasi dan mengurus diri.

GANGGUAN MENTAL ORGANIK (TERMASUK GANGGUAN MENTAL SIMTOMATIK)  Gangguan Mental Organik = gangguan mental yang berkaitan dengan penyakit/gangguan sistemik atau otak.  Blok gangguan mental organik menggunakan 2 kode :  Sindrom psikopatologik (misalnya Dementia) Gangguan yang mendasari (misalnya Penyakit Alzheimer) .  Termasuk. Gangguan mental simtomatik. dimana pengaruh terhadap otak merupakan akibat sekunder dari penyakit/gangguan sistemik di luar otak (extra cerebral).

gembira. daya pikir (intelect). Sindrom dengan manifestasi yang menonjol dalam bidang  Persepsi (halusinasi)  Isi pikiran (waham/delusi)  Suasana perasaan dan emosi (depresi. daya belajar (learning) 2. 3. Gangguan Sensorium. Gangguan Fungsi Kognitif Misalnya gangguan daya ingat (memory).cemas) . GANGGUAN MENTAL ORGANIK (TERMASUK GANGGUAN MENTAL SIMTOMATIK)  Gambaran Utama : 1. misalnya gangguan kesadaran (consciousness) dan perhatian (attention).

walaupun kemunduran kognitif tertentu dapat berkembang kemudian.  Pada umumnya ditandai oleh penyimpangan yang fundamental dan karakteristik dari pikiran.  Sejumlah akibat yang tergantung pada perimbangan pengaruh genetik. F20 – F29 = SKIZOFRENIA GANGGUAN SKIZOTIPAL dan GANGGUAN WAHAM  Suatu diskripsi sindrom dengan variasi penyebab (banyak belum diketahui).  Perjalanan penyakit yang luas (tidak selalu bersifat kronis atau “Deteriorating”). fisik dan soisal budaya.  Kesadaran yang jernih dan kemampuan intelektual biasanya tetap terpelihara. . persepsi dan afek yang tidak wajar (inaprpopriate) dan tumpul (blunted).

Berbagai waham. Agama Kejar. Kebesaran. Waham ( Bizar. Somatik. Bercakap-cakap). Halusinasi ini tidak berhubungan dengan eforia / depresi. Inkoherensi asosiasi longgar. halusinasi c. Terdapat salah satu atau lebih gejala di bawah ini : 1. 3. Halusinasi Dengar ( Suara komentar. 2. Nihilistik.datar. kemiskinan pembicaraan disertai paling sedikit satu: a. F20 – F29 = SKIZOFRENIA GANGGUAN SKIZOTIPAL dan GANGGUAN WAHAM Pedoman Diagnostik  Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas dan biasanya dua gejala atau lebih jika gejala-gejala itu kurang tajam atau kurang jelas A. Cemburu dg Halusinasi ). Katatonia atau tingkah laku lain yg sangat kacau. Afek tumpul.tidak serasi b. .

. Deteriorasi dari taraf fungsi penyesuaian sebelumnya. F. E. Waktu lebih atau sama dengan 6 bulan mencakup Fase Aktif gejala pada kriteria A dengan atau tanpa Fase prodromal atau Residual. Onset di bawah 45 tahun. . C. D. F20 – F29 = SKIZOFRENIA GANGGUAN SKIZOTIPAL dan GANGGUAN WAHAM Pedoman Diagnostik B. Tidak disebabkan oleh GMO atau Retardasi Mental. Tidak didapatkan Sindroma lengkap manik – depresi.

keyakinan yang tidak konsisten dengan tingkat intelektual dan latar belakang budaya. • Merupakan salah satu bentuk Gangguan Isi Pikiran . WAHAM • Adalah suatu keyakinan seseorang yang berdasarkan penilaian realitas yang salah. ketidakmampuan merespons stimulus internal dan eksternal melalui proses interaksi/ informasi secara akuat.

JENIS WAHAM • Waham kebesaran (Grandiose). Selain itu. kecerdasan. penderitanya juga bisa meyakini bahwa dirinya memiliki kemampuan spesial atau memiliki relasi khusus dengan figur yang hebat. . atau identitas yang membumbung tinggi. misalnya hubungan dengan presiden atau selebritas terkenal. yaitu memiliki rasa kekuasaan. Padahal kenyataannya tidak demikian. Penderitanya meyakini bahwa dirinya telah melakukan suatu penemuan penting atau memiliki talenta yang hebat.

memata-matai. JENIS WAHAM • Erotomania. atau berencana mencelakainya. • Waham kejar (Persecutory). Sering kali terjadi. . yaitu meyakini bahwa dirinya sangat dicintai oleh seseorang tertentu. yaitu merasa terancam karena yakin bahwa ada orang lain yang menganiaya dirinya. orang yang menjadi objek delusi adalah orang-orang terkenal atau berkedudukan penting. Penderita umumnya menguntit dan berusaha melakukan kontak kepada objek delusinya.

Pada jenis delusi ini. • Campuran. penderita delusi mengalami dua jenis gangguan delusi atau bahkan lebih banyak dari itu. . Pada kasus ini. JENIS WAHAM • Waham cemburu. padahal tidak didukung dengan fakta apa pun. penderita percaya bahwa pasangannya tidak setia kepada dirinya.

Halusinasi Optik / Penglihatan 2. fungsional. psikotik ataupun histerik. Halusinasi Olfaktorik / Pembauan 4. terjadi dalam keadaan sadar. Halusinasi Gustatorik / Pengecapan . HALUSINASI • Persepsi sensoris tanpa adanya rangsang apapun pada panca indera. bisa karena organik. • Merupakan salah satu bentuk Ganggguan Persepsi • Terdiri dari beberapa jenis : 1. Halusinasi Akustik / Pendengaran 3.

5. bukan karena gangguan penggunaan zat atau gangguan afek. 6. Hendaya nyata hygiene diri dan berpakaian. 7. Persepsi yang dihayati tidak lazim. Ide aneh. 8. sirkumstansial atau metaforik (perumpamaan). terdapat paling sedikit dua gejala. datar. 2. Hendaya fungsi peran. yaitu : 1. . Isolasi sosial. Afek tumpul.berbelit.seperti ilusi berulang. Tingkah laku aneh yang nyata 4. Pembicaraan melantur.kabur. 3. tidak serasi. Fase Prodromal / Residual.

ILUSI • Interpretasi atau penilaian yang salah tentang pencerapan yang sungguh terjadi. • Merupakan salah satu bentuk Gangguan Persepsi . karena rangsangan pada panca indera.

F20 – F29 = SKIZOFRENIA GANGGUAN SKIZOTIPAL dan GANGGUAN WAHAM Fase Perjalanan Gangguan Skizofrenia SEHAT WAL AFIAT = PRE MORBID MINIMAL / FASE PRODROMAL = MASA INKUBASI = 6 BULAN FASE AKTIF = ODGJ BERAT / GILA FASE RESIDUAL Setelah Fase Aktif / Fase Penyembuhan .

• Waham • halusinasi. PSIKOSIS REAKTIF SINGKAT  Terdapat minimal satu dari di bawah ini : • Inkoherensi atau kelonggaran asosiasi. .  Tidak ada gejala prodromal dari skizofrenia.  Timbulnya gejala A dan B segera sesudah kejadian dan merupakan respon terhadap persistiwa itu dan merupakan stress bagi setiap orang.  Gejolak emosional.  Lama suatu episode bisa beberapa jam sampai 1 bulan. diikuti kembalinya fungsi penderita secara penuh ke tingkat pre morbid. labil kebingungan. • perilaku katatonik atau kacau.

PSIKOSIS REAKTIF SINGKAT SEHAT WAL AFIAT = PRE MORBID FASE AKTIF = TERJADI GANGGUAN SATU BULAN SEHAT WAL AFIAT = PRE MORBID .

– Berikan makanan dan minuman yang mencukupi penderita. . – Sering menemui penderita dan keluarganya untuk menilai keadaan penderita. Tindakan Umum – Berbicara secara simpatik kepada penderita untuk mengerti perilakunya. PENATALAKSANAAN A. – Buka ikatannya jika gaduh gelisah tidak berat dan tidak ada bahaya melukai orang. obat-obatan supaya tidak terjangkau oleh penderita. – Hindarkan senjata yang membahayakan. – Dengarkan keluhan anggota keluarga dan tenangkan perasaan was-was.

tidak merasa sakit. – Gangguan akut yang terjadi setelah serangan epilepsi atau penyalah gunaan alkohol /obat. Rujuk segera ke Rumah Sakit ( Indikasi MRS) jika didapatkan : – Resiko bunuh diri. – Membahayakan orang lain. – Membahayakan diri sendiri/penelantaran diri. karena pekerjaan. HT). – Kesibukan keluarga. panas badan. trauma kepala. ngompol. – Keluarga tidak mampu merawat di rumah  penderita tidak menurut / “ berulah “. PENATALAKSANAAN ( LANJUTAN ) B. – Adanya faktor organik  komplikasi HT. . DM. – Adanya gangguan daya ingat. penyakit sistemik (DM.

Organobiologik / Somatoterapi 2. Pengobatan  Prinsipnya adalah terapi secara HOLISTIK ( menyeluruh ) dan simultan yang terdiri dari : 1. PENATALAKSANAAN (LANJUTAN) C. Manipulasi lingkungan / Sosioterapi . Psikologik / Psikoterapi 3.

– Khlorpromazine – Thioridazin – Trifluoroperazine – Fluifenazin – Fluifenazin Decanoat – Haloperidol – Haloperidol Decanoat – Perfenazin . ORGANOBIOLOGIK / SOMATOTERAPI  ada 2 macam yaitu : A. PENATALAKSANAAN ( LANJUTAN ) 1. FARMAKOTERAPI Menggunakan obat-obatan anti psikotik atau neroleptika untuk mengurangi atau menghilangkan gejala psikotik.

Indikasi TEK untuk penderita : – Depresi / Fase Depresi pada Gangguan Afektif / Depresi Psikotik. – Kasus psikosa kronis dan yang tidak / kurang responsif dengan menggunakan neroleptika. TERAPI ELEKTRO KONVULSI (TEK) / ECT (Electric Convulsion Therapy) Menggunakan gelombang kejut listrik  Kejang. – Skizofrenia terutama tipe katatonik stupor / gaduh gelisah. . PENATALAKSANAAN ( LANJUTAN ) B.

PSIKOLOGIS (PSIKOTERAPI) – Adalah cara pengobatan terhadap masalah emosional seorang penderita. atau menghambat. mengubah. – Mengembangkan petumbuhan kepribadian yang positif. . mengoreksi gejala-gejala gangguan atau perilaku yang terganggu. – Bertujuan adalah menghilangkan. – Dilakukan oleh seorang yang terlatih dalam hubungan profesional. PENATALAKSANAAN ( LANJUTAN ) 2.

KATARSIS c. b. SUGESTI e. majikan dsb). VENTILASI. BIMBINGAN g. PSIKOLOGIS / PSIKOTERAPI (LANJUTAN) Jenisnya adalah sbb : a. – Diharapkan membantu penyembuhan & mencegah kambuh . MANIPULASI LINGKUNGAN ( SOSIOTERAPI) – Berusaha secara langsung mempengaruhi lingkungan penderita terutama lingkungan sosialnya (keluarga. teman. KONSELING 3. PERSUASI d. REASSURANCE (PENJAMINAN KEMBALI) f. PENATALAKSANAAN ( LANJUTAN ) 2.

Masa Pengobatan (makin cepat diobati makin baik).Jenis (Katatonik > Paranoid > Hebefrenik *)  Makin Jelek 4.Waktu serangan (serangan yang bersifat akut lebih baik daripada pelan-pelan). 6. semakin jelek). PROGNOSA Faktor yang harus dipertimbangkan untuk menetapkan prognosis skzofrenia adalah : 1.Faktor pencetus (jika faktor pencetus jelas ada. makin baik).Faktor keturunan (jika ada anggota keluarga mempunyai penyakit yang sama lebih jelek) .Kepribadian prepsikotik 2.Umur (onset pertama makin muda. 7. 5. 3.

(sering menggunakan mekanisme defensi menolak (denial).32.7 Gangguan Kepribadian Dependen. Contoh Pencatatan Diagnosis Multiaksial Aksis I = F.2 Episode Berat tanpa gejala psikotik F10. Aksis IV = Ancaman Kehilangan Pekerjaan Aksis V = GAF = 53 ( mutakhir ) .1 Penggunaan Alkohol yg merugikan Aksis II = F60. Aksis III = Tidak ada.

2 tidak ada diagnosis. Aksis III = H90.1 Otitis Media Berulang. Contoh Pencatatan Diagnosis Multiaksial Aksis I = F. Aksis IV = Korban Penelantaran Anak. Aksis II = Z03.1 Distimia F81.34. Aksis V = GAF = 53 ( mutakhir ) .0 Gangguan Membaca Khas.

.

.

.

PENUGASAN • Setiap Mahasiswa Membuat Kliping. Kasus Gangguan Jiwa Ringan dan Gangguan Jiwa Berat masing-masing 1 kasus. .

TERIMA KASIH .