You are on page 1of 26

Peran Apoteker di

Distribusi Farmasi
(tantangan dan peluang)

Kuliah Tamu
Sekolah Farmasi ITB Bandung
2 November 2010
Oleh
Pre Agusta S
(Supply Chain Director PT Enseval PM Tbk)
(Wakil Ketua IAI, Bidang Distribusi)

Factory/Pabrik
200

Distributor
2400

Apotek
10.000

Supply Siklus Pasien/customer Chain Obat PBF Bahan Baku Consumer Demand Order to Supplier Apotik/ RS PBF Sub-Dist PBF DISTRIBUTOR MANUFACTURER GPP GDP GMP INVENTORY INVENTORY INVENTORY INVENTORY Shipment to Shipment to Shipment to retailer Wholesaler Distributor .

Peran dan Fungsi Apoteker di Distribusi obat  Sebelum PP 51. peran pekerjaan kefarmasian di Distribusi lebih banyak dilakukan oleh AA  Peran Apoteker di Distribusi :  Kontrol legalitas penyaluran obat (recheck kebenaran surat pesanan apotek dan apoteker penanggung jawab)  Kontrol penyimpanan obat sesuai peraturan  Kontrol jika ada produk retur dan penarikan obat .

.Cuplikan PP 512009 Pekerjaan Kefarmasian Dalam Distribusi atau Penyaluran Sediaan Farmasi Pasal 14 (1) Setiap Fasilitas Distribusi atau Penyaluran Sediaan Farmasi berupa obat harus memiliki seorang Apoteker sebagai penanggung jawab. Pasal 15 Pekerjaan Kefarmasian dalam Fasilitas Distribusi atau Penyaluran Sediaan Farmasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 harus memenuhi ketentuan Cara Distribusi yang Baik yang ditetapkan oleh Menteri. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan Pekerjaan Kefarmasian dalam Fasilitas Distribusi atau Penyaluran Sediaan Farmasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri. (2) Apoteker sebagai penanggung jawab sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dibantu oleh Apoteker pendamping dan/atau Tenaga Teknis Kefarmasian.

(2) Standar Prosedur Operasional harus dibuat secara tertulis dan diperbaharui secara terus menerus sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang farmasi dan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pekerjaan Kefarmasian Dalam Distribusi atau Penyaluran Sediaan Farmasi Pasal 16 (1) Dalam melakukan Pekerjaan Kefarmasian. Pasal 17 Pekerjaan Kefarmasian yang berkaitan dengan proses distribusi atau penyaluran Sediaan Farmasi pada Fasilitas Distribusi atau Penyaluran Sediaan Farmasi wajib dicatat oleh Tenaga Kefarmasian sesuai dengan tugas dan fungsinya. Pasal 18 Tenaga Kefarmasian dalam melakukan Pekerjaan Kefarmasian dalam Fasilitas Distribusi atau Penyaluran Sediaan Farmasi harus mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang distribusi atau penyaluran. Apoteker sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 harus menetapkan Standar Prosedur Operasional. .

Tantangan Apoteker di Distribusi  Karena perannya lebih disebabkan oleh karena adanya PP 51. masalah yang muncul dilapangan adalah :  peran Apoteker saat ini Harus lebih mumpuni dibandingkan dengan AA di masa lalu di Distribusi Obat :  Perlu dikembangkan kompetensi Apoteker di bidang Distribusi  Terutama dalam 2 hal utama :  Legalitas pendistribusian  Kemampuan implementasi GDP .

issues  Organization and management  Personnel  Quality management  Premises. GDP . warehousing and storage  Vehicles and equipment  Containers and container labelling  Dispatch  Transportation and products in transit  Documentation  Repackaging and relabelling  Complaints  Recalls  Rejected and returned products  Counterfeit pharmaceutical products  Importation  Contract activities  Self-inspection .

ber- etika dan sesuai peraturan/hukum yang berlaku 2. secara benar dan aman 6. benar dan tepat sasaran 5.Dapat Melakukan Praktek Kefarmasian di distribusi secara profesional .Mampu mengidentifikasi dan melaporkan adanya kemungkinan penyalah- gunaan obat dan pemalsuan obat di jalur distribusi.Mampu melaksanaan pemusnahan sediaan Farmasi yang kadaluwarsa dan rusak.KOMPETENSI UTAMA APOTEKER DI DISTRIBUSI 1.Mampu melakukan proses pengadaan Sediaan Farmasi secara baik dan Legal 3. .Mampu melaksanakan sistem dan proses pendistribusian sediaan farmasi secara baik.Mampu mengelola prosedur “penarikan-kembali” suatu produk (Product recall/withdrawal) secara baik dan benar 7.Mengetahui dan mampu melakukan penyimpanan sediaan farmasi secara baik dan benar 4.

ber-etika dan sesuai peraturan/hukum yang berlaku  Selalu Mengikuti UU/Peraturan yang berlaku .yang berhubungan dengan praktek kefarmasian di bidang Distribusi  Selalu bersikap dan menganggap kesehatan pasien/konsumen sebagai prioritas utamanya.  Mencapai dan mempertahankan standar tertinggi pelayanan profesional di bidang distribusi sediaan farmasi. memberikan saran tentang sistem dan metode yang digunakan di distribusi sediaan farmasi  Bersikap Profesional dan menjunjung integritas dengan mematuhi prinsip-prinsip etis dalam pendistribusian sediaan Farmasi yang dipandu oleh Kode Etik Apoteker . Dapat Melakukan Praktek Kefarmasian di distribusi secara profesional .1.

sehingga menjamin kualitas produk dan pasokan produknya  Mampu menjelaskan dasar-dasar pemilihan dalam pembelian sediaan farmasi melalui evaluasi yang sistematis berdasarkan kriteria yang ada.Mampu melakukan proses pengadaan Sediaan Farmasi secara baik dan Legal  Mengerti tentang prosedur .2. misal :“reliability of Source”  Mengerti proses pengelolaan persediaan (Inventory) yang cukup dan memadai . kebijakan dan tata-cara pengadaan sediaan farmasi di rantai distribusi  Mampu menjelaskan dan melaksanakan persyaratan legal sesuai UU/peraturan yang berlaku dalam proses pengadaan / pembelian sediaan farmasi di rantai distribusi  Mengerti prinsip-prinsip yang mendasari pemilihan sediaan farmasi yang akan dibeli.

Inventory Control Untuk Apa Inventori ? 1. Adanya pembelian spekulatif 3. Adanya ketidak pastian waktu tenggang (Lead time) . Ekonomis dalam transportasi 5. Adanya ketidak pastian permintaan konsumen 6. Untuk Buffer jika ada masalah produksi/pabrik 2. Ekonomis dalam pembelian 4.

Inventory Control AKIBAT KEHABISAN SEDIAAN  Tidak ada penjualan (opportunity loss)  Konsumen pindah ke pesaing BILA SEDIAAN TERLALU BANYAK  Dana yang tertanam tidak bisa digunakan untuk keperluan lain  Resiko Kadaluarsa .

Inventory Control TUJUAN PENGENDALIAN INVENTORI: KEGIATAN LANCAR BIAYA MINIMAL TIDAK TERLALU BANYAK TIDAK TERLALU SEDIKIT KEPUTUSAN : SASARAN: SEDIAAN APA TEPAT WAKTU KAPAN PERLU PESAN TEPAT JUMLAH BERAPA BANYAK PER PESANAN (EOQ) BAGAIMANA SISTEM PENGENDALIANNYA TEPAT MUTU TEPAT HARGA .

Inventory Control  Sediaan/Material mana perlu dikontrol lebih ketat? PARETO  Berapa jumlah dipesan dan sediaan pengamannya? EOQ + SS  Kapan memesan ? ROP .

Inventory Control Economic Order Quantity (EOQ) Adalah Kuantitas pemesanan yang optimal dengan total biaya inventori minimal Biaya Total Cost Biaya penyimpanan Biaya Pemesanan EOQ Jumlah Pemesanan .

seperti : temperature. kelembaban.  Mengerti persyaratan keamanan kerja .3.  Mengerti pentingnya perawatan peralatan yang digunakan untuk penyimpanan sediaan farmasi (misal : refrigerators dan freezers)  Mengerti pentingnya pengawasan dan monitoring kondisi penyimpanan sediaan farmasi (misal : suhu dan kelembaban)  Mengerti prosedur kerja yang harus dilakukan jika terjadi masalah / kegagalan di peralatan penyimpanan  Mengerti peraturan tentang tata cara penyimpanan khusus untuk sediaan farmasi tertentu. Narkoba dsb. termasuk prosedur untuk menangani bahan-bahan berbahaya didalam proses penyimpanan  Mengidentifikasi resiko buruk yang mungkin muncul dalam pemakaian obat akibat penanganan dan penyimpanan obat yang tidak memadai  Mengidentifiksi resiko atau masalah keamanan (security) dalam penyimpanan sediaan farmasi . misal : Prekusor.cahaya dsb.Mengetahui dan mampu melakukan penyimpanan sediaan farmasi secara baik dan benar  Menggunakan pengetahuan kefarmasiaannya untuk dapat menyimpan sediaan farmasi dalam kondisi yang sesuai dengan persyaratan yang ditentukan.

Warehouse .Gudang.

4.  Memahami isu-isu keamanan (security) yang berkaitan dengan distribusi sediaan farmasi untuk mencegah penyelewengan pendistribusian (diversion). Mampu melaksanakan sistem dan proses pendistribusian sediaan farmasi secara baik. benar dan tepat sasaran  Memahami bagaimana caranya sediaan farmasi diberikan atau didistribusikan kepada yang memesan / pengguna  Memahami ketentuan hukum / peraturan dalam pendistribusian sediaan farmasi kepada pemesan/pengguna  Menganalisa dan memverifikasi proses pemesanan sediaan farmasi  Mengenali dan dapat mengetahui proses penanganan dan transportasi sediaan farmasi yang kurang memadai yang dapat menyebabkan kegagalan pengobatan dan kerusakan produk. .

Cold Chain One common temperature range for a cold chain in pharmaceutical industries is 2 to 8 °C. so basic guidelines for creating a commercial invoice should be followed to ensure the proper verbiage. warehouse. Each step of the custody chain needs to follow established protocols and to maintain proper records.  Temperature data loggers and RFID tags help monitor the temperature history of the truck. and other details. . number of copies. and the temperature history of the product being shipped. This is important in the supply of vaccines to distant clinics in hot climates  The use of refrigerator trucks. etc. reefer containers. refrigerator cars. reefer ships. and refrigerated warehouses is common.  Shipment in insulated shipping containers or other specialised packaging[3]. Customs delays occur due to inaccurate or incomplete customs paperwork.[5]  Documentation is critical.[4] They also can help determine the remaining shelf life.

• Data Logger RFID in Cold Chain .

rusak atau usang)  Mampu menjelaskan kondisi-kondisi dimana suatu sediaan farmasi harus dimusnahkan ( misal : Kadaluwarsa.  Mampu menjelaskan peraturan/hukum. secara benar dan aman  Memahami kondisi-kondisi yang mengharuskan suatu sediaan farmasi dimusnahkan (misal : Kadaluwarsa.Mampu melaksanaan pemusnahan sediaan Farmasi yang kadaluwarsa dan rusak.5. bahan berbahaya. radiofarmasi dan sediaan biologi/vaksin. sitotoksik. radiofarmasi dan sediaan biologi/vaksin. persyaratan keselamatan dan prosedur dalam pemusnahan sediaan farmasi. termasuk obat keras. rusak atau usang)  Memahami hukum dan persyaratan keselamatan dalam pemusnahan sediaan farmasi. . sitotoksik. bahan berbahaya. termasuk obat keras.

6. regulator atau tenaga kesehatan yang lain) sehubungan dengan “penarikan-kembali” produk .prinsipal.Mampu mengelola prosedur “penarikan-kembali” suatu produk (Product recall/withdrawal) secara baik dan benar  Memverifikasi dan mempelajari informasi mengenai “penarikan-kembali” produk (product recall / withdrawal)  Memahami prosedur dan penanganan proses “penarikan- kembali” produk  Menilai besarnya dampak/akibat dari penarikan-kembali suatu produk  Mengelola informasi penting untuk disebarkan kepada semua pihak yang terkait (misalnya pelanggan.

7.Mampu mengidentifikasi dan melaporkan adanya kemungkinan penyalah-gunaan obat dan pemalsuan obat di jalur distribusi.  Mengenali dan mengetahui jenis-jenis sediaan farmasi yang berpotensi tinggi untuk disalah-gunakan (abuse) dan dipalsukan  Melaporkan temuan yang didapat sehubungan dengan pemalsuan dan penyalah-gunaan sediaan farmasi dengan cara dan mekanisme yang benar  Mampu menjelaskan peran dan tanggung jawab apoteker dalam kasus penyalah-gunaan dan pemalsuan sediaan farmasi  Mampu menjelaskan tata-cara pelaporan dan penyelesaian kasus-kasus penyalah-gunaan dan pemalsuan sediaan farmasi  Mampu mengidentifikasi dengan pihak mana saja seorang Apoteker harus bekerja-sama dalam penganan Penyalah-gunaan dan pemalsuan sediaan farmasi .

re-packaging. safety  Only buy from genuine manufacturers – or other authorized parties -  Parallel trade. re-labelling. Restriction of trade vs. re-boxing  One port of entry for pharmaceuticals  No returned goods to parties not purchased from .

TERIMA KASIH .