You are on page 1of 23

PENYELEWENGAN HUKUM

DAN SISTEM PERADILAN
INDONESIA

1. Konsep Sistem Peradilan di Indonesia

Indonesia merupakan negara hukum, artinya negara
yang semua penyelenggaraan pemerintahan dan
kenegaraan serta kemasyarakatannya berdasarkan
atas hukum, bukan didasarkan atas kekuasaan
belaka.

. Apabila tujuan negara hanya menjaga ketertiban maka tujuan negara itu terlalu sempit.Menurut Kranenburg dan Tk.B Sabaroedin (1975) kehidupan manusia tidak cukup hidup dengan aman. teratur dan tertib. manusia perlu sejahtera.

negara yang memiliki kewenangan mengatur masyarakat perlu ikut menyejahterakan rakyat.Tujuan negara yang lebih luas adalah agar setiap manusia terjamin kesejahteraannya di samping keamanannya. Teori Kranenburg tentang negara hukum ini dikenal luas dengan nama . Dengan kata lain.

bangsa perdamaian abadi dan keadilan sosial .Dari hal ini dapat diidentifikasi bahwa tujuan Negara Republik Indonesia memiliki indikator yang sama sebagaimana dikatakan Kranenburg. yakni: Melindungi segenap Memajukan bangsa Indonesia dan seluruh tumpah kesejahteraan darah Indonesia umum Ikut melaksanakan Mencerdaskan ketertiban dunia yang berlandaskan kehidupan kemerdekaan.

lingkungan peradilan militer. Badan-badan lain yang fungsinya berkaitan dengan kekuasaan kehakiman diatur dalam undang-undang . dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi.Kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan. Kekuasaan kehakiman menurut Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 merupakan kekuasaan yang merdeka yang dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum. lingkungan peradilan agama. lingkungan peradilan tata usaha negara.

(3) Mahkamah Konstitusi adalah pelaku kekuasaan kehakiman sebagaimana dimaksud dalam Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. . (4) Komisi Yudisial adalah lembaga negara sebagaimana dimaksud dalam UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.(2) Mahkamah Agung adalah pelaku kekuasaan kehakiman sebagaimana dimaksud dalam Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Pengadilan sipil meliputi peradilan umum dan peradilan khusus. a. . 20 tahun 1986) dimana dibawahnya terdapat tiga peradilan yaitu pengadilan negeri. pengadilan tinggi dan mahkamah agung (mahkamah agung merupakan pengadilan tertinggi).Peradilan umum Pelaksanaan peradilan umum telah diatur dalam UU No. Pengadilan negeri (PN) Pengadilan negeri merupakan pengadilan tingkat pertama yang memeriksa kasus-kasus dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat baik terkait hukum perdata atau pidana.2 tahun 1986 (Lembaran Negara No.

.Pengadilan tinggi (PT) Pengadilan tinggi merupakan pengadilan tingkat dua atau pengadilan banding yaitu pengadilan yang akan memeriksa kembali kasus-kasus yang telah diputuskan oleh pengadilan negeri. Mahkamah Agung (MA) Mahkamah Agung merupakan pengadilan umum tertinggi di Indonesia.Pembahasan terkait mahkamah agung dapat dilihat pada artikel Tugas-Tugas Lembaga Negara. Adapun pengadilan tinggi berkedudukan di ibu kota provinsi.

Pengadilan agama Tugas pengadilan agama antara lain mengadili perkara yang menjadi kewenangan atau tugas dari perngadilan agama di tingkat banding. . mengadili ditingkat pertama dan akhir terkait sengketa kewenangan antar lembaga pengadilan agama di wilayahnya serta memberikan nasehat dan masukan terkait hukum Islam di instansi pemerintahan di daerah hukumnya. Peradilan khusus merupakan peradilan yang mengurus permasalahan-permasalahan khusus misalnya pengadilan agama. peradilan hak asasi manusia dan peradilan tipikor. pengadilan tata usaha negara.

. 26 tahun 2000 yaitu pengadilan yang menangani permasalahan HAM berat seperti kejahatan genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan. 9 tahun 2004 dan Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 1991.Pengadilan tata usaha negara (PTUN) Pengadilan tata usaha negara diatur dalam UU No. Peradilan Hak Asasi Manusia (HAM) Pengadilan HAM diatur oleh UU No.

30 tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (KPK) dan ditetapkan dalam Keputusan Presiden No. . 59 tahun 2004.Peradilan Tipikor (Tindak Pidana Korupsi) Pengadilan tipikor merupakan pengadilan yang mengurusi permasalahan terkait pidana korupsi di Indonesia yang diatur dalam Pasal 53 UU No. Pengadilan militer Pengadilan militer merupakan pengadilan yang menangani dan mengadili permasalahan terkait kepentingan penyelenggaraan pertahanan dan keamanan negara.

Kedudukan MK diatur telah dalam Pasal 24C Amendemen UUD 1945 dan lebih lanjut diatur dengan UU No.Mahkamah Konstitusi di Indonesia tergolong masih baru. 24 tahun 2004. seorang ahli filsafat Jerman (dalam Sudikno Mertokusumo. Indonesia merupakan negara peringkat 78 yang memiliki lembaga sejenis. 1986:130) untuk menegakkan hukum ada tiga unsur yang selalu harus diperhatikan yaitu: .Di dunia saja. Menurut .

Penyelidik adalah setiap pejabat polisi negara RI. . penggeledahan dan penyitaan.  mencari keterangan dan barang bukti. larangan meninggalkan tempat.  pemeriksaan dan penyitaan surat. Penyelidik mempunyai wewenang:  menerima laporan atau pengaduan dari seseorang tentang adanya tindak Pidana. Menurut Pasal 4 UU nomor 8 tahun 1981 tentang Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP).Kepolisian Kepolisian negara bertindak sebagai penyelidik dan penyidik. Atas perintah penyidik.Lembaga Penegak Hukum 1. penyelidik dapat melakukan tindakan berupa:  penangkapan.

 pejabat pegawai negeri sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh undang-undang. Penyidik. karena kewajibannya mempunyai wewenang sebagai berikut:  menerima laporan dan pengaduan dari seorang tentang adanya tindak Pidana.8/1981 yang bertindak sebagai penyidik yaitu:  pejabat Polisi Negara Republik Indonesia. . Menurut Pasal 6 UU No.  menyuruh berhenti seorang tersangka dan memeriksa tanda pengenal diri tersangka. polisi bertindak pula sebagai penyidik.  melakukan tindakan pertama pada saat di tempat kejadian.Selain selaku penyelidik.

16 tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia Pasal 1 dinyatakan bahwa “Jaksa adalah pejabat fungsional yang diberi wewenang oleh undang-undang untuk bertindak sebagai penuntut umum dan pelaksanaan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap serta wewenang lain berdasarkan undang-undang.Kejaksaan Dalam Undang-Undang No.” .

dan tidak memihak di sidang pengadilan dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam undang-undang tersebut. jujur.Kehakiman Menurut Pasal 1 UU Nomor 8 tahun1981 tentang Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) mengadili adalah serangkaian tindakan hakim untuk menerima. memeriksa. dan memutus perkara pidana berdasarkan asas bebas. .

Faktor Penyebab Terjadinya Penyelewengan Hukum di Indonesia Faktor Faktor Eksternal Internal .

Kurangnya tingkat kesadaran pelaku terhadap pentingnya hukum.Minimnya sikap toleransi terhadap orang lain. .Keadaan psikologis dari pelaku.Sifat egois 3. 2. 4. Faktor Internal 1.

Struktur ekonomi yang menimbulkan kesenjangan ekonomi dan kemiskinan 4. Struktur sosial dan politik yang memungkinkan terjadinya pelanggaran hukum.Perangkat hukum yang tidak tegas dan jelas.Hukum masih dapat dibeli oleh pelanggar hukum yang kaya . Faktor Eksternal 1. sehingga menimbulkan ketidakpastian hukum yang memberikan celah hukum untuk para pelanggar. 2. 3.

Alternatif Penyelesaian Kasus Penyelewengan Hukum di Indonesia Ligitasi Non ligitasi .

Hukum Acara Perdata dalam sistem peradilan perdata .Penyelesaian melalui pengadilan atau litigasi adalah sebagai berikut:  Setiap negara mempunyai sistem peradilan yang baku sebagai implementasi kekuasaan mengadili  Terdapat aturan hukum mengenai proses beracara di pengadilan Misal : Di Indonesia dikenal Hukum Acara Pidana dalam Sistem Peradilan Pidana.

yang sifatnya rahasia .Penyelesaian melalui jalur di luar pengadilan atau non litigasi adalah sebagai berikut:  Musyawarah/negosiasi  Mediasi  Arbitrase: penyelesaian masalah/perkara keperdataan tertentu oleh seorang/majelis arbiter (wasit) yang kompeten di bidangnya.