You are on page 1of 30

NAPZA GOLONGAN DEPRESAN

 Efek umum:
– mengurangi aktifitas fungsional tubuh
– merasa tenang, pendiam dan tertidur dan tidak sadarkan
diri.
 Jenis-jenis
• opioida (morfin, heroin/putauw, pethidin, kodein)
• hipnotik sedatif
• mayor tranquilizer (antipsikotik)
• minor tranquilizer (anxiolitik)
• antidepresan
• alkohol dalam dosis rendah

OPIOIDA

Opioida dibagi dalam 3 gol. besar:
 Opioida alamiah (opiat ): morfin, opium, kodein
 Opioida semi sintetik: heroin/ putauw, hidromorfin
 Opioida sintetik: meperidin, propoksipen, metadon

Nama dagang: putauw, ptw, black heroin, brown sugar

berupa pethidin. dragon)  Reaksi: sangat cepat rasa ingin menyendiri . ive. Getah opium poppy yang diolah menjadi morfin  proses  putauw > 10 morfin. kodein dan lain-lain  Cara penyalahgunaan: – disuntik (ngipe. Talwin.  Opioid sintetik: > 400 kali dari morfin  Heroin murni: bubuk putih  Heroin yang tidak murni: putih keabuan  Guna: analgetik kuat. cucau) – dihisap (ngedrag. nyipet. methadon.

.

penurunan kadar ACTH Lainnya gatal-gatal. spasme bilier Endokrin perubahan hormon seks pada wanita (kadar FSH dan LH rendah .Efek Opioida SISTEM ORGAN EFEK Sistim saraf Analgesia. euforia. penurunan kadar testosteron pada laki-laki. pengeluaran urin yang sulit. mata dan kulit. kulit kemerahan (reaksi histamin) kekeringan pada daerah mulut. galaktore. tekanan darah rendah . sedasi. konstipasi. mengantuk. depresi pernapasan. penurunan libido meningkatnya hormon anti diuretik (ADH). berkeringat. penurunan libido.peningkatan kadar prolaktin) berdampak pada gangguan siklus menstruasi. penekanan refleks batuk pupil konstriksi Gastrointestinal mual dan muntah.

membentuk dunia. sendiri lingkungan=musuh  berbohong  penipuan/pencurian atau tindak kriminal lainnya .Tanda Kecanduan:  hilang rasa percaya diri  tidak ingin bersosialisasi.

”terkantuk-kantuk”  apati  kemunduran psikomotor  sulit konsentrasi. Ulkus pada kulit sering terjadi pada injeksi meperidin. ucapan yang tidak jelas. serta mual dan muntah. Kejang-kejang mungkin terjadi pada pasien yang toleran terhadap meperidin .  Gejala Fisik: • Miosis (kontriksi pupil). bradikardia. konstipasi. hipotensi. depresi respiratorik.Intoksikasi Opioid  Gejala Psikologis: (segera mengikuti masuknya obat secara IV)  euforia dan suatu perasaan bahagia atau disforia  perasaan mengantuk. hipotermia.

 Gejala Fisik:  miosis (kontriksi pupil)  ucapan yang tidak jelas  depresi respiratorik  hipotensi. hipotermia. bradikardia  konstipasi  mual dan muntah  ulkus pada kulit sering terjadi pada injeksi meperidin  kejang-kejang mungkin terjadi pada pasien yang toleran terhadap meperidin .

pupilnya mungkin dilatasi . Overdosis Opioid • kedaruratan medis • biasa meniggal karena depresi • cari bekas suntikan dan pupil pinpoint pada pasien yang tidak sadar. jika pasien telah mengalami anoxia CNS yang bermakna.

rinorea. diaforesis. pasien rawat inap sering manipulatif dan minta perhatian. insomnia dan nafsu makan menurun. Sindrom Putus Zat Opioid • Tidak nyaman. Kejang-kejang terjadi pada putus zat meperidin. piloereksi. diare dan kram perut. takikardi. Selanjutnya terdapat mual dan muntah. hipertensi. mengeluarkan ari mata. kegelisahan. mudah marah. • Gejala Psikologis: pada awalnya seringkali merasa menginginkan obat sedemikian kuat yang diikuti dengan ansietas berat. • Gejala Fisik: menguap. pada keadaan ini. dilatasi pupil. tetapi biasanya tidak mengancam nyawa pada dewasa muda sehat dan penatalaksanaannya tidak sebahaya atau sesulit seperti pada gejala lepas zat dari obat-obatan sedatif- hipnotis. . demam. kedutan pada otot dan perasaan panas dan kemerahan di wajah.

kram perut. perasaan panas dan dingin.nyeri persendian. tingkat/level aktivitas dan mood normal.nyeri punggung. diare.Simtom Putus Zat Opioid Jarak waktu dari Gejala umum suntikan 6 – 12 jam mata dan hidung berair. agitasi. keringat meningkat Hari ke 2 sampai 4 semua gejala mencapai puncaknya Hari ke 5 sampai 7 kebanyakan gejala fisik mulai berkurang. Dapat muncul keluhan lain seperti tidak dapat tidur. letargi. sampai beberapa bulan Meningkatnya status kesehatan secara umum dan penurunan craving . kehilangan nafsu makan.tangan atau kaki. mudah tersinggung. marah/irritable. menguap dan berkeringat 12 – 24 jam agitasi dan iritabel. rasa lelah.mual. tidak dapat istirahat. nagih/craving Beberapa minggu kembali ke pola tidur. berkeringat. irritable. perasaan panas dan dingin kehilangan nafsu makan Lebih dari 24 jam keinginan kuat untuk menggunakan heroin (craving). bulu roma berdiri/merinding (goosebumps).muntah. sulit tidur. sakit kepala. sulit konsentrasi. kelelahan. nafsu makan mulai kembali Minggu ke 2 gangguan fisik mulai menghilang.

Merupakan kondisi gawat darurat yang memerlukan penanganan secara cepat b.01mg/kg. Temperatur suhu badan) c. sc d. Pernafasan. Kemungkinan perlu perawatan ICU.B. khususnya bila terjadi penurunan kesadaran e. Berikan antidotum Naloxon HCL (Narcan. Nokoba) dengan dosis 0. Intoksikasi/Overdosis Opioida : a.BB secara iv. Terapi Kondisi Intoksikasi 1. Denyut Nadi. Observasi selama 24 jam untuk menilai stabilitas tanda-tanda vital . Atasi tanda vital (Tekanan Darah. im.

SEDATIF-HIPNOTIK (BENZODIAZEPIN)  Digolongkan zat sedatif (obat penenang) dan hipnotika (obat tidur)  Nama dagang: BK. Lexo. Rohyp  Cara penggunaan: oral. MG. intra vena dan rectal  Bidang medis: – anxiolitik – antikonvulsan – hipnotik (obat tidur) . Dum.

letargi • kelelahan • gerakan yang tidak terkoordinasi • penurunan reaksi terhadap waktu dan ataksia • penurunan fungsi kognisi dan memori (terutama amnesia anterograde) • kebingungan • kelemahan otot atau hipotoni • depresi • nistagmus . Efek jangka pendek: • mengantuk.

rasa girang yang berlebihan. hipomania dan perilaku inhibisi yang ekstrim (terutama pengguna dosis tinggi dapat merasa tidak dapat dilukai.misal alkohol dan opioid yang dapat meningkatkan risiko penekanan pernapasan . bicara cadel.• vertigo • disartria.kebal terhadap serangan atau pukulan dan merasa dirinya tidak dapat dilihat orang sekitarnya) • efek potensiasi dengan NAPZA depresan SSP lainnya . pelo/tidak jelas • pandangan kabur • mulut kering • sakit kepala • euforia paradoksal. tidak dapat beristirahat.

 Efek Jangka Panjang: • mirip dengan efek jangka pendek • toleransi terhadap efek sedatif/hipnotik dan psikomotor • emosi yang ”tumpul” (ketidakmampuan merasa bahagia atau duka sehubungan dengan hambatan terhadap emosi) • siklus menstruasi tidak teratur • pembesaran payudara • ketergantungan (dapat terjadi setelah 3 sampai 6 bulan dalam dosis terapi) .

mual. fotofobia. gangguan persepsi. depersonalisasi. hiperakusis. kelelahan. anoreksia. derealisasi dan pandangan kabur . Gejala Putus Obat: • insomnia • ansietas • mudah marah/tersinggung/irritable • agitasi • depresi • tremor • dizziness • jarang terjadi tapi perlu penanganan serius kejang ( kejang hampir menyerupai pengguna alkohol dosis tinggi ) dan delirium dengan gejala kedutan otot dan nyeri. tinnitus.

Mencegah komplikasi jangka panjang . Mengurangi efek obat dalam tubuh 2).Intoksikasi Sedatif-Hipnotik (Benzodiazepin) a. Diperlukan terapi kombinasi yang bertujuan : 1). Mengurangi absorbsi obat lebih lanjut 3).

Anestasi) (Antagonis Benzodiazepine) bila tersedia.b.hipnotik yang sangat tinggi dan gejala - gejala sangat berat.v kemudian setelah 30 detik diikuti dengan 0.0 mg. 2) Untuk tingkat serum sedatif .5 mg sampai total kumulatif 3.3 mg dosis tunggal. Langkah I: Mengurangi efek Sedatif . Cara ini juga berguna bila ada intoksikasi berat dari barbiturat yang lebih short acting. Pada pasien yang ketergantungan akan menimbulkan gejala putus zat. pikirkan untuk atau haemoperfusion dengan Charcoal resin/Norit.Hipnotik : 1) Pemberian Flumazenil (hanya bila diperlukan berhubungan dengan dr. dengan dosis 0. .2 mg i. setelah 60 detik diberikan lagi 0.

3).5 .Alkalinisasi urin sampai pH 8 untuk memperbaiki pengeluaran obat dan untuk diuresis berikan Furosemide 20-40 mg atau Manitol 12. Tindakan suportif termasuk : a) pertahankan jalan nafas.25 mg untuk mempertahankan pengeluaran urin . pernafasan buatan bila diperlukan b) perbaiki gangguan asam basa 4).

Langkah III: Mencegah komplikasi: 1). Perhatikan tanda-tanda vital dan depresi pernafasan. Langkah II : Mengurangi absorbsi lebih lanjut: Rangsang muntah. Perhatian selama perawatan harus diberikan supaya tidak terjadi aspirasi d. Kalau tidak. Bila sudah terjadi aspirasi. berikan Activated Charcoal.c. maka dia harus segera ditangani di tempat khusus yang aman dan perlu pengawasan selama 24 jam. Bila pasien ada usaha bunuh diri. berikan antibiotik 3). bila baru terjadi pemakaian. aspirasi dan edema paru 2). bila perlu dirujuk untuk masalah kejiwaannya .

ALKOHOL (dalam dosis kecil) .

 proses fermentasi madu. drink  kadar dalam darah maksimum dicapai 30-90 menit  menyebabkan eufori  kadar menurun: depresi . sari buah atau umbi- umbian  nama jalanan alkohol: booze. gula.

biasanya bila muntahan masuk saluran pernapasan. aritmia jantung fatal ketika kadar alkohol darah lebih dari 0.4 mg/ml. Intoksikasi Akut:  ataksia  bicara cadel / tak jelas  emosi labil dan disinhibisi  napas berbau alkohol  mood yang bervariasi  komplikasi akut pada intoksikasi atau overdosis paralisis pernapasan. . obstructive sleep apnoea.

 Overdosis alkohol: • penurunan kesadaran. stupor atau koma • perubahan status mental • kulit dingin dan lembab • suhu tubuh rendah .

 Gejala putus alkohol biasa terjadi 6-24 jam sesudah konsumsi alkohol yang terakhir.  Gejala putus alkohol ringan: • tremor • khawatir dan agitasi • keringat berlebihan • mual dan muntah • sakit kepala • takikardia • hipertensi • gangguan tidur • suhu tubuh meningkat .

gelisah/restlessness. kebingungan  paranoia  hiperventilasi  delirium tremens (DTs): suatu kondisi gawat darurat pada putus alkohol yang tidak ditangani . Gejala putus alkohol berat  muntah  agitasi berat  disorientasi. ketidakseimbangan cairan dan elektrolit. berkeringat dan demam tinggi. tremor kasar. muncul 3-4 hari setelah berhenti minum alkohol (agitasi. halusinasi lihat dan paranoia) . disorientasi.

Observasi ketat tanda vital setiap 15 menit 3). Bila terdapat kondisi Hipoglikemia injeksi 50 ml Dextrose 40% b. Lalu 50 ml Dextrose 40% iv (berurutan jangan sampai terbalik) .v untuk profilaksis terjadinya Wernicke Encephalopathy. Injeksi Thiamine 100 mg i. Intoksikasi Alkohol a. Posisi menunduk untuk cegah aspirasi 2). Kondisi Koma : 1).

c. bila gaduh gelisah berikan secara parenteral (i. Beri dosis rendah sedatif. Lorazepam 1-2 mg atau Haloperidol 5 mg oral.m) . Petugas keamanan dan perawat siap bila pasien agresif 2). Terapis harus toleran dan tidak membuat pasien takut atau merasa terancam 3). Problem Perilaku (gaduh/gelisah): 1). Buat suasana tenang dan bila perlu tawarkan makan 4).