You are on page 1of 25

GAMBARAN PENGETAHUAN DAN STATUS GIZI PADA PASIEN

TUBERKULOSIS DAN TERSANGKA TUBERKULOSIS DI DESA WALUYA


KABUPATEN BANDUNG TAHUN 2014-2017
dr. Faizah Sahar

Pendamping internship : dr. Evelyn Siahaan


Internship periode Oktober 2017 – Februari 2018
Pendahuluan
Latar belakang

 Sosial ekonomi sangat berpengaruh pada tingkat konsumsi.

 Konsumsi dan asupan makan yang tidak mencukupi biasanya


menyebabkan keadaan gizi kurang, sehingga mempermudah masuknya
bibit penyakit kedalam tubuh dan menyebabkan penyakit infeksi.

 Asupan gizi makro dari penderita Tuberkulosis Paru masih sangat kurang
yang akan berpengaruh pada peningkatan kesembuhan dan status gizi
penderita adanya peningkatan asupan makanan pada penderita
Tuberkulosis Paru akan meningkatkan status gizi
Rumusan Masalah

Bagaimana gambaran pengetahuan gizi, asupan zat gizi, dan status gizi

pada penderita Tuberkulosis dan tersangka Tuberkulosis di Desa Waluya

Kabupaten Bandung tahun 2014-2017.


Tujuan penelitian
Tujuan Khusus

 Mendiskripsikan karakteristik penderita


Tujuan Umum
penyakit Tuberkulosis Paru.
Penelitian ini secara umum
 Mendiskripsikan asupan energi
bertujuan untuk mengetahui
penderita penyakit Tuberkulosis Paru.
gambaran pengetahuan gizi,
 Mendiskripsikan asupan protein
asupan zat gizi, dan status gizi
penderita penyakit Tuberkulosis Paru.
pada penderita Tuberkulosis dan
 Mendiskripsikan asupan lemak
tersangka Tuberkulosis di Desa
penderita penyakit Tuberkulosis Paru.
Waluya Kabupaten Bandung tahun
 Mendiskripsikan asupan karbohidrat
2014-2017.
penderita penyakit Turberkulosis Paru.

 Mendiskripsikan status gizi penderita


penyakit Tuberkulosis Paru.
Manfaat penelitian

Bagi penulis Bagi Puskesmas khususnya Instalansi


Gizi
Untuk menambah pengetahuan dan
wawasan tentang asupan zat gizi dan Sebagai bahan masukan atau informasi
status gizi pada penderita penyakit tentang asupan zat gizi dan status gizi
Tuberkulosis Paru dan tersangka dalam memberikan pelayanan gizi
Tuberkulosis Paru. pada penderita Tuberkulosis Paru.
Tinjauan Pustaka
Faktor Yang Mempengaruhi Asupan Zat
Gizi Penderita
1. Keadaan Sosial Ekonomi
Keadaan sosial ekonomi berkaitan dengan pendidikan, keadaan sanitasi
lingkungan, gizi dan akses terhadap pelayanan kesehatan. Penurunan pendapatan
dapat menyebabkan kurangnya kemampuan daya beli dalam memenuhi konsumsi
makanan sehingga akan berpergaruh terhadap status gizi. Apabila status gizi
buruk maka akan menyebabkan kekebalan tubuh yang menurun sehingga
memudahkan terkena infeksi Tuberkulosis Paru (Fatimah, 2002).

2. Faktor Psikologi Penderita


Orang yang sakit harus mengatur kehidupan yang berbeda dengan apa yang
dialami setiap harinya. Terutama jumlah makanan dan variasi menu untuk
menimbulkan nafsu makan.
3. Keadaan Jasmani Orang Sakit
Keadaan jasmaniah orang sakit merupakan faktor yang perlu diperhatikan karena
menentukan bentuk atau kronis diit yang akan diberikan, orang sakit yang dalam
keadaan lemah dan kesadaran menurun, memerlukan waktu yang khusus
(Moehyi, 1999).

4. Riwayat Terapi
Terapi diit memegang peran penting dalam proses penyembuhan penyakit, jenis
diit, penampilan dan rasa makanan yang disajikan akan berdampak pada asupan
makan. Variasi makanan yang disajikan merupakan salah satu upaya untuk
menghilangkan rasa bosan. Orang sakit akan merasa bosan apabila menu yang
dihidangkan tidak menarik sehingga mengurangi nafsu makan. Akibatnya makanan
yang dikonsumsi sedikit atau asupan zat gizi berkurang.
(Lisdiana, 1998).
Penatalaksanaan (Dalam Terapi Diit)

Terapi diit bertujuan memberikan makanan secukupnya guna


memperbaiki dan mencegah kerusakan jaringan tubuh lebih lanjut serta
memperbaiki status gizi agar penderita dapat melakukan aktifitas
normal. Terapi untuk penderita kasus Tuberkulosis Paru menurut
(Almatsier Sunita, 2006) adalah:
a) Energi diberikan sesuai dengan keadaan penderita untuk mencapai berat
badan normal.
b) Protein tinggi untuk mengganti sel-sel yang rusak meningkatkan kadar
albumin serum yang rendah (75-100 gr).
c) Lemak cukup 15-25 % dari kebutuhan energi total.
d) Karbohidrat cukup sisa dari kebutuhan energi total.
e) Vitamin dan mineral cukup sesuai kebutuhan total
Macam diit untuk penyakit TBC:
 a) Diit Tinggi Energi Tinggi Protein I (TETP 1) Energi: 2600 kkal, protein 100 gr
(2/kg BB).
 b) Diit Tinggi Energi Tinggi Protein II (TETP II)
Energi 3000 kkal, protein 125 gr (2,5 gr/kg BB)
Penderita dapat diberikan salah satu dari dua macam diit Tinggi Energi Tinggi
Protein (TETP) sesuai tingkat penyakit penderita.
Dapat dilihat dibawah ini bahan makanan yang dianjurkan dan tidak dianjurkan
pada penderita tuberculosis.
Kerangka teori
Kerangka konsep
Metode penelitian
Subyek Penelitian

 Subyek penelitian ini adalah pasien tuberkulosis dan riwayat tuberkulosis di Dewa Waluya, Kecamatan Cicalengka, Kabupaten

Bandung tahun 2014-2017.

Populasi dan Sampel Penelitian

 Populasi pada penelitian ini adalah semua pasien tuberkulosis dan riwayat tuberkulosis di Desa Waluya, Kecamatan Cicalengka,

Kabupaten Bandung tahun 2014-2017. Pengambilan sampel pada penelitian ini dengan metode concecutive sampling, yaitu metode

pengambilan sampel dengan cara mengambil semua subyek yang memenuhi kriteria inklusi sampai dengan besar sampel terpenuhi

sebanyak mungkin.

 Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan keluaran penelitian yang ditentukan adalah berupa variabel yang

berskala kategorik.
Kriteria inklusi dan eksklusi

 Kriteria inklusi  Kriteria eksklusi

 Kriteria inklusi sampel pada penelitian

ini adalah:

 Seluruh pasien tuberculosis, riwayat

tuberculosis, dan tersangka tuberculosis,

yang sedang dan telah menjalani

pengobatan di Desa Waluya, Kecamatan

Cicalengka, Kabupaten Bandung pada

periode 2014-2017.
Metode penelitian cont…
2. Variabel Penelitian
1. Rancangan Penelitian
Pengtahuan gizi masyarakat, berupa:

Penelitian ini adalah penelitian a. Tentang keanekaragaman makanan

deskriptif kategorik yang bertujuan b. Jenis makanan sumber energy

untuk mencari gambaran pengetahuan c. Jenis makanan sumber karbohidrat

gizi, asupan zat gizi, dan status gizi d. Jenis makanan sumber protein

pada penderita Tuberkulosis dan e. Bahaya mengkonsumsi alkohol

f. Bahaya mengkonsumsi makanan yang diawetkan


tersangka Tuberkulosis di Desa Waluya
g. Manfaat mengkonsumsi sayuran hijau
Kabupaten Bandung tahun 2014-2017.
h. Manfaat mengkonsumi buah-buahan

i. Manfaat minum air putih setiap hari

j. Manfaat olahraga setiap hari


Definisi operasional variabel
Definisi
No Variabel Indikator Hasil Pengukuran
Operasional
1 Keanekaragaman Hasil tahu Jawaban kuesioner mengenai Pengetahuan pasien tentang
makanan seseorang terhadap macam-macam keanekaragaman, dan sikap pasien untuk
keanekaragaman keanekaragaman makanan mengkonsumsi makanan 4 sehat, 5
makanan (4 sehat, sempurna.
5 sempurna)

2 Jenis makanan Pemahaman Jawaban kuesioner mengenai Pengetahuan pasien tentang makanan
sumber energy tentang jenis jenis makanan yang menjadi sumber energi, dan sikap pasien untuk
makanan yang sumber energi rutin mengkonsumsi makanan tersebut.
menjadi sumber
energi

3. Jenis makanan Pemahaman Jawaban kuisioner mengenai Pengetahuan pasien tentang makanan
sumber tentang jenis jenis makanan yang menjadi sumber karbohidrat, dan sikap pasien
karbohidrat makanan yang sumber karbohidrat untuk rutin mengkonsumsi makanan
mengandung tersebut.
karbohidrat

4. Jenis makanan Pemahaman Jawaban kuisioner mengenai Pengetahuan pasien tentang makanan
sumber protein tentang jenis jenis makanan yang menjadi sumber protein, dan sikap pasien untuk
makanan yang sumber protein rutin mengkonsumsi makanan tersebut.
mengandung
protein

5 Bahaya Pemahaman Jawaban kuisioner mengenai Pengetahuan pasien tentang bahaya


mengkonsumsi tentang bahayanya bahaya mengkonsumsi alkohol minum alkohol, dan sikap pasien untuk
alkohol mengkonsumsi tidak mengkonsumsi minuman alkohol.
alkohol

6 Bahaya Pemahaman Jawaban kuisioner mengenai Pengetahuan pasien tentang bahaya


mengkonsumsi tentang bahayanya bahayanya mengkonsumsi minum alkohol, dan sikap pasien untuk
makanan yang mengkonsumsi makanan yang diawetkan tidak mengkonsumsi minuman alkohol.
diawetkan makanan yang
diawetkan

Lanjutan Tabel 3.1 Definisi Operasional Variabel


7 Manfaat Pemahaman Jawaban kuisioner mengenai Pengetahuan pasien tentang manfaat
mengkonsumsi tentang manfaat pengetahuan tentang manfaat mengkonsumsi sayuran hijau, dan sikap
sayuran hijau mengkonsumsi mengkonsumsi sayuran hijau pasien untuk rutin mengkonsumsi
sayuran hijau makanan tersebut.

8 Manfaat Pemahaman Jawaban kuisioner mengenai Pengetahuan pasien tentang manfaat


mengkonsumi tentang manfaat pengetahuan tentang manfaat mengkonsumsi buah-buahan, dan sikap
buah-buahan mengkonsumsi mengkonsumsi buah-buahan pasien untuk rutin mengkonsumsi
buah-buahan makanan tersebut

9 Manfaat minum air Pemahaman Jawaban kuisioner mengenai Pengetahuan pasien tentang manfaat
putih setiap hari tentang manfaat pengetahuan tentang manfaat minum air putih setiap hari, dan sikap
minum air putih minum air putih setiap hari pasien untuk rutin minum air putih
setiap hari setiap hari.

10 Manfaat olahraga Pemahaman Jawaban kuisioner mengenai Pengetahuan pasien tentang manfaat
setiap hari tentang manfaat pengetahuan tentang manfaat olahraga setiap hari, dan sikap pasien
olahraga setiap olahraga setiap hari. untuk rutin olahraga setiap hari.
hari
Hasil penelitian
Karakteristik pasien
Indikator Jumlah (n) Persentase (%)
Usia
15-34 tahun 13 38,2
35-54 tahun 12 35,2
55-75 tahun 9 26,6
Jenis Kelamin
Laki-laki 18 52,9
Perempuan 16 47,1
Pendidikan
SD 16 45,7
SMP 8 23,5
SMA 10 30,8
Perguruan Tinggi 0 0
Pekerjaan
Petani 2 5
Buruh 9 26,5
Pengangguran 6 20,2
Pedagang 3 8,4
Guru 3 8,4
Wirausaha 2 5
Ibu Rumah Tangga 9 26,5
Pengetahuan responden
Pengetahuan responden terhadap penyakitnya pada umumnya tinggi. Rerata nilai pengetahuan
responden penelitian adalah 84,07. Dari seluruh responden tidak ada yang mendapatkan nilai ≤ 55
(kurang). Sebanyak 5 orang mendapatkan nilai 55-75 (cukup), sementara sisanya (29 orang)
mendapatkan nilai > 75. Gambar 4.1 merangkum nilai pengetahuan pasien dengan nilai kurang (≤
55), cukup (55-75), dan baik (76-100).
Status gizi dan Pengetahuan gizi

Status gizi Pengetahuan gizi

 Sesuai IMT : 14  Sikap responden terhadap

 Dibawah IMT : 20 pengetahuan gizi cukup baik. Akan


tetapi pengetahuan tersebut tidak
Dari data di atas menunjukkan bahwa
diseimbangkan dengan perilaku
pasien TB memiliki status gizi yang
sehari-hari. Karena masih banyak
kurang.
pasien tb yang asupan gizi nya
kurang.
Kesimpulan

 Penderita dalam penelitian ini ada 34 orang, di dalamnya termasuk pasien


yang pernah berobat tb, dan tersangka tb.

 Asupan gizi penderita penyakit Tuberkulosis Paru dibandingkan dengan


kebutuhan, termasuk kategori kurang.

 Seharusnya asupan protein lebih tinggi pada penderita tb, dalam penelitian
ini termasuk kategori sangat kurang.

 Status Gizi penderita dihitung menggunakan IMT termasuk dalam status gizi
kurang.
Saran

 Hasil dari kesimpulan diatas dapat diketahui bahwa asupan zat gizi pasien tb
perlu motivasi keluarga,

 Kepatuhan terhadap obat yang diberikan dan harus memperhatikan asupan


makanan.

 Terutama asupan zat gizi makro untuk mempertahankan status gizi penderita.

 Pemberian PMT pada pasien TB dari puskesmas.


Intervensi & Hasil Intervensi