You are on page 1of 32

Etika Kedokteran dan Kriteria Malpraktek dalam Kaitannya dengan

Hukum

Novia Yosephin Nirigi (102011332)


Caturya Windy Cita (102012054)
Albert (102012060)
Jennifer Tannus (102012155)
Felix Winata (102012156)
Vatiana Satyani (102012275)
Fanly (102012362)
Yuviani (102012424)
Veronica Hodianto (102013482)

KELOMPOK E3
Skenario 8
• Dr. A, seorang dokter umum yang sedang praktek di tempat praktek
prbadinya, didatangi oleh pasiennya seorang laki-laki muda yang datang
dengan keluhan batuk. Setelah diperiksa dokter mendiagnosis TBC. Dr. A
memberikan resep dan menyarankan pasien untuk di suntik. Dr. A
menjelaskan bahwa ia akan memberi pasien suntikan streptomisin, dan
pasien setuju untuk di suntik di daerah bokong. Tak lama setelah di
suntik pasien mengeluh pusing dan pandangannya gelap dan tak lama
kemudian pasien tidak sadarkan diri. Lalu ketika diperiksa tekanan daran
pasien 80/50 mmHg dan nadi lemah 150x/menit. Dr. A langsung
menelpon ambulan dank karena panik ia tidak tahu apa yang harus
dilakukan. Setelah ambulans sampai di tempat praktek dr. A, ternyata
pasiennya sudah meninggal.
TBC
• Et/ Mycobacterium tuberculosis
• G/ batuk > 2-3 minggu, sesak dan sakit dada, batuk darah,
nafsu makan menurun, demam dan keringat malam, lemah
• Dd/ kanker paru, pericarditis, pneumonia, bronchiectasis
• PP/ pemeriksaan dahak SPS, foto thorax, kultur dahak, uji
resistensi obat.
Kejadian tidak diharapkan (adverse event)
1. Hasil perjalanan penyakit yang tidak dapat dihentikan
2. Merupakan risiko yang tidak dapat diketahui atau dibayangkan
sebelumnya (unforeseeable risk)
3. Merupakan risiko yang sudah dapat diketahui namun dapat diterima
oleh pasien (foreseeable but accepted)
4. Akibat dari kegagalan dokter melaksanakan pelayanan yang layak
(kelalaian)
5. Hasil dari kesengajaan
Penyebab Pasien Meninggal
 Malpraktek

 Akibat yang Tidak Terduga (Unforseeable Risk)


1. Alergi obat
2. Syok Anafilaktik

 Akibat dari Penyakitnya


Alergi Obat
• Reaksi obat yang memerlukan sensitisasi (pernah kontak)
• Sering ditemukan, sulit untuk ditentukan, tidak terduga, dan sulit
untuk ditanggulangi
• Muncul 7-10 hari setelah pemberian pertama terus menerus
• Sering terjadi pada reaksi serum sickness yang disebabkan oleh
penisilin
• Pada anamnesis tanyakan riwayat alergi
• Lakukan tes kulit
• Sediakan obat darurat alergi seperti adrenalin dalam spuit
Syok Anafilaktik
• Pernapasan cepat
• Kulit hangat
• Denyut jantung > 100
x/menit
• Tekanan sistolik < 100
mmHg
• Tekanan diastolik sangat
rendah
• Penurunan kesadaran
• Kegagalan multi organ
• Bronkokonstriksi dan
edema laring
• Kematian dalam waktu
beberapa menit sampai
beberapa jam.
Penanganan
• Segera baringkan penderita dengan kaki lebih tinggi
• Berikan adrenalin 1:1000 IM sebanyak 0,3-0,4 ml
• Pantau tekanan darah
• Ulangi pemberian adrenalin dengan dosis yang sama setiap 5-10 menit sampai
tekanan darah sistolik 90-100 mmHg
• Bila terdapat henti napas, berikan napas buatan
• Bila terjadi henti jantung, lakukan kompresi jantung luar
• Selama resusitasi apabila pasien belum sadar, berikan adrenalin 0,5-1 mg IV
atau endotrakeal, Na bikarbonat 1-2 mEq/kg IV, dan larutan 10 CaCl2 500 mg IV
• Hidrokortison 100 mg atau deksametason 5-10 mg IV/IM
• Tidak dikirim ke rumah sakit apabila pasien masih dalam keadaan gawat,
apabila terpaksa dilakukan, pengiriman perlu dikawal dokter sendiri
Akibat Perjalanan Penyakit
• Syok hipovolemik, disebabkan oleh kehilangan volume intravaskular,
yaitu kehilangan darah, plasma atau cairan tubuh.
• Syok kardiogenik, akibat dari dekompensasi jantung, yaitu gagalnya
fungsi jantung sebagai pompa, aktivitas pompa jantung yang melemah.
• Syok septik, berhubungan dengan infeksi sistemik atau endotoksomia.
Penyebab paling sering adalah bakteriemia dan organisme enterik gram
negatif yaitu E. coli, Klebsiella, Enterobacter, Proteus, Pseudomonas, dll.
• Syok spinal, terjadi akibat adanya cedera medulla spinalis dengan
vasodilatasi perifer
• Syok obstruktif, dapat timbul sekunder akibat obstruksi mekanis dari
aliran balik vena ke jantung seperti pada tamponade jantung
Malpraktek
• Mal berasal dari kata Yunani, yang berarti buruk. Praktik
atau praktek berarti menjalankan perbuatan yang
tersebut dalam teori atau menjalankan pekerjaan
(profesi).

• Malpraktik kedokteran menurut WMA (World


Medical Association) tahun 1992, adalah “medical
malpractice involves the physician’s failure to
conform to the standard of care for treatment of the
patient’s condition, or lack of skill, or negligence in
providing care to the patient, which is the direct
cause of an injury to the patient”
Malpraktek
Adalah tindakan dalam profesi kedokteran yang dilakukan salah ,tidak tepat, melanggar UU dan
KODEKI

2 hal penting dalam profesi kedokteran : standar profesi medik dan informed consent

Pasal 29 tahun 2004 – mengatur tentang praktik kedokteran

Profesi kedokteran berkaitan dengan Etika dan Hukum


Informed consent
Suatu pernyataan yang diberikan oleh pasien

• Sebelum memberi persetujuan pasien wajib mendapatkan informasi tentang


tindakan medis, pengobatan, diagnosis, resiko jika dilakukan / tidak dilakukannya
tindakan medis tersebut, prognosis, maupun komplikasi.
• Pernyataan dapat tertulis atau secara lisan

Pasal yang mengaturnya:


• Pasal 2 PerMenKes No. 585/Men.Kes/Per/IX1989, semua tindakan medis yang
dilakukan pada pasien harus ada persetujuan.
• Pasal 11 BAB IVPerMenKes No. 585, pasien tidak sadar, tidak ada pendamping
(keluarga), keadaan gawat darurat, butuh tindakan segera, tidak perlu persetujuan
dari siapapun
Etika Kedokteran
• Etika  ilmu pengetahuan tentang azaz
Prinsip dasar etika kedokteran :
akhlak (tentang baik dan buruk , benar
dan salah). 1. Autonomy  hak pasien untuk tahu
• Beneficence dan Malefincence bila apa yang akan di lakukan pada tubuh
dilakukan dengan benar menggambarkan nya. (hak menentukan nasib sendiri,
kompetensi klinik “informed consent”)
• Autonomy dan justice menggambarkan 2. Beneficencesemua penyedia pel.kes
niat, sikap dan perilaku dokter yang harus memberikan yang terbaik kepada
menyampaikan kompetensi klinik secara pasien, setiap situasi dan kondisi
manusiawi, hal itu merupakan ciri dipertimbangkan secara individu.
kompetensi etik 3. Non maleficence “pertama tidak
membahayakan”. Dokter tidak boleh
merugikan pasien.
4. Justice pel.kes diberikan secara adil
Hukum kedokteran

• Dulu  pasien nurut dengan apa • Didalam hukum dokter wajib


yang dokter nasehatkan, dan dokter melakukan pertolongan gawat
katakan darurat. Seperti :
• Sekarang  pasien mengerti dan – Penanganan syok,
mulai menuntut hak dan kewajiban – Patah tulang,
berdasarkan keadilan hukum . – Kesakitan,
• Kedudukan dokter dan pasien adalah – Perdarahan
sama atau sederajat di hadapan • Sanksi pun akan diberikan kepada
hukum yang melanggarnya
• Hukum kedokteran ada yang pidana
dan ada yang perdata
Hak pasien Kewajiban pasien
• Hak atas informasi medik • Wajib memberi informasi medik yang
• Hak memberikan persetujuan tindakan selengkap-lengkapnya tentang
penyakitnya
medik
• Wajib menaati petunjuk dan nasehat
• Hak untuk memilih dokter dan rumah dokter
sakit • Wajib memenuhi aturan pada sarana
• Hak atas rahasia medik kesehatan
• Hak untuk menolak perawatan atau • Wajib memberi imbalan jasa kepada
pengobatan serta tindakan medik dokter
• Hak atas second opinion • Wajib berterus terang  terutama jika
merasa tidak puas dengan pel.
• Hak atas mengetahui isi rekam medis Medisnya
• Wajib menyimpan rahasia pribadi
dokter (jika mengetahuinya)
Kewajiban dokter
• Menurut UUNo. 29/2004 pasal 51 • Menurut KODEKI ada 4 kewajiban
tentang praktik kedokteran: dokter:
– Memberi pel. Medis sesuai standar – Kewajiban umum
profesi, standar prosedur operasional, – Kewajiban terhadap pasien
dan sesuai kebutuhan pasien – Kewajiban terhadap teman sejawat
– Wajib merujuk pasien ke dokter atau – Kewajiban terhadap diri sendiri
dokter gigi lain jika tidak dapat melakukan
suatu tindakan
– Merahasiakan segala sesuatu tentang
pasien, walapun pasien telah meninggal
– Melakukan pertolongan darurat
– Menambah ilmu pengetahuan dan
mengikuti perkembangan ilmu
kedokteran
Hak dokter
1. Melakukan praktik kedokteran 6. Hak atas kebebasan pribadi
setelah mendapat SID dan SIP 7. Hak untuk merasa tentram dan
2. Memperoleh informasi yang bener aman ketika bekerja
dan lengkap dari pasien atau 8. Hak untuk mengeluarkan surat-surat
keluarga pasien tentang penyakitnya keterang dokter
3. Bekerja sesuai standar profesi 9. Menerima imbalan jasa
4. Menolak tindakan medik yang 10. Menjadi anggota perhimpunan
bertentangan dengan etika, hukum, profesi
agama, dan hati nurani 11. Hak untuk membela diri
5. Menolak pasien yang bukan bidang
spesialisasinya, kecuali keadaan
gawat darurat
Konsep 4D Aspek Hukum Malpraktik
1. DUTY 1. Penyimpangan dari standar profesi
2. Derilection of Duty medis
3. Damage 2. Kesalahan yang dilakukan oleh dokter
4. Direct caution (kesengajaan atau kelalaian)
3. Kerugian yang ditimbulkan (materil-non
materi, fisik, maupun mental)
Kategori Malpraktik
1. Criminal Malpractice • Contoh :
– Pasal 378 KUHP , menipu pasien
(sesuai dengan hukum – Pasal 290 KUHP, tindak pelanggaran
pidana) kesopanan
– Pasal 322 KUHP, membocorkan
Intentional (disengaja) rahasia medik
• Professional Misconducts – Pasal 359,360,361 lalai sehingga
Lack of skill (kecorobohan) menyebabkan kematian atau luka-
luka
Neglience (kelalaian)
• Malfeasance
• Misfesance
• Nonfeasance
Kategori Malpraktek
2. Civil Malpractice 3. Administrative Malpractice
(sesuai dengan hukum perdata)  Campur tangan pemerintahan
- Belaku prinsip “barangsiapa dalam membuat ketentuan-
merugikan, ganti rugi “ ketentuan dibidang kesehatan
- Hubungan dokter dan pasien ada 2  Terjadi apabila dokter atau tenaga
hal : kesehatan lain melakukan
- Berdasarkan perjanjian pelanggaran terhadap hukum
- Berdasarkan hukum Administrasi Negara yang berlaku

1. Pelanggaran hukum administrasi


tentang kewenangan praktek
kedokteran
2. Pelanggaran administrasi
mengenai pelayanan medis
Malpraktek perdata (civil malpractice)
• Tidak melakukan apa yang menurut kesepakatan wajib
dilakukan.
• Melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib
dilakukan tetapi terlambat melaksanakannya.
• Melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib
dilakukan tetapi tidak sempurna dalam pelaksanaan dan
hasilnya.
• Melakukan apa yang menurut kesepakatannya tidak
seharusnya dilakukan.
Undang-Undang
• No 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran
• Tujuan : agar dapat memberikan perlindungan kepada
pasien, mempertahankan dan meningkatkan mutu pelayanan
medis dan memberikan kepastian hukum kepada masyarakat,
dokter dan dokter gigi

• No 23 tahun 1992 (Kesehatan) : “setiap orang berhak atas


ganti rugi akibat kesalahan atau kelalaian yang dilakukan
tenaga kesehatan”
• Pasal 359 KUHP
Barang siapa karena kesalahan (kealpaannya) menyebabkan orang lain mati, diancam
dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana kurungan paling lama satu
tahun

• Pasal 360 KUHP


(1). Barang siapa karena kealpaannya menyebabkan orang lain mendapat luka-luka berat,
diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau kurungan paling lama satu
tahun
(2). Barang siapa karena kesalahannya menyebabkan orang luka sedemikian rupa sehingga
orang itu menjadi sakit sementara atau tidak dapat menjalankan jabatannya atau
pekerjaannya sementara, dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya sembilan
bulan atau hukuman kurungan selama-lamanya enam bulan atau hukuman denda
setinggi-tingginya Rp. 4.500
Pembuktian Malpraktek
Cara langsung
Oleh Taylor membuktikan adanya kelalaian memakai tolok ukur adanya 4 D yakni:
1. Duty (kewajiban)
• Adanya indikasi medis
• Bertindak secara hati-hati dan teliti
• Bekerja sesuai standar profesi
• Sudah ada informed consent
2. Dereliction of Duty (penyimpangan dari kewajiban)
3. Direct Cause (penyebab langsung)
4. Damage (kerugian)

Cara tidak langsung


 doktrin res ipsa loquitur
• Fakta tidak mungkin ada/terjadi apabila dokter tidak lalai
• Fakta itu terjadi memang berada dalam tanggung jawab dokter
• Fakta itu terjadi tanpa ada kontribusi dari pasien dengan perkataan lain tidak
ada contributory negligence
Pencegahan Malpraktek
• Senantiasa berpedoman pada standar pelayanan medik dan standar
prosedur operasional
• Bekerja secara profesional, berlandaskan etik dan moral yang tinggi
• Ikuti peraturan perundangan yang berlaku, terutama tentang kesehatan
dan praktik kedokteran
• Jalin komunikasi yang harmonis dengan pasien dan keluarganya dan
jangan pelit informasi baik tentang diagnosis, pencegahan dan terapi
• Tingkatkan rasa kebersamaan, keakraban, dan kekeluargaan sesama
sejawat dan tingkatkan kerja sama tim medik demi kepentingan pasien
• Jangan berhenti belajar, selalu tingkatkan ilmu dan keterampilan dalam
bidang yang ditekuni
• Tidak menjanjikan atau memberi garansi akan keberhasilan
upayanya, karena perjanjian berbentuk daya upaya bukan
perjanjian akan berhasil.
• Sebelum melakukan intervensi agar selalu dilakukan informed
consent.
• Mencatat semua tindakan yang dilakukan dalam rekam medis.
• Apabila terjadi keragu-raguan, konsultasikan kepada senior atau
dokter.
• Memperlakukan pasien secara manusiawi dengan
memperhatikan segala kebutuhannya.
Sanksi Disiplin jika melanggar Etik
Kedokteran
• Peringatan tertulis
• Rekomendasi pencabutan surat
tanda registrasi atau surat izin
praktek
• Kewajiban untuk mengikuti
pendidikan atau pelatihan di
institusi pendidikan kedokteran
atau kedokteran gigi
Kesimpulan
1. Dokter A telah melakukan
tindakan malpraktek 
neglience (kelalaian)
malfeasance (melakukan
tindakan medis tanpa indikasi
yang benar sehingga
menyebabkan kematian

Dihukum penjara selama-lamanya 5 tahun


atau kurungan selama-lamanya 1 tahun
Terima Kasih 