You are on page 1of 14

LUPUS

DISUSUN OLEH:
1. DINA NURIMROATIN (1304015127)
2. HELDA KRISTIANA (1704015314)
3. MAZIYYA MUSLIMAH (
4. MELLINDA PERMATA SARI (1704015101)
5. RACHMAT FAUZIE (1304015415)

Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka


Fakultas Farmasi Dan Sains
PENGERTIAN
Lupus adalah penyakit peradangan (inflamasi)
kronis yang disebabkan oleh sistem imun atau
kekebalan tubuh yang menyerang sel, jaringan, dan
organ tubuh sendiri. Penyakit seperti ini disebut
penyakit autoimun.
Lupus dapat menyerang berbagai bagian dan
organ tubuh seperti kulit, sendi, sel darah, ginjal,
paru-paru, jantung, otak, dan sumsum tulang
belakang.
JENIS – JENIS LUPUS
1. Lupus eritematosus sistemik (systemic lupus erythematosus/SLE)
Lupus ini terjadi secara menyeluruh (sistemik) pada tubuh
penderita dan merupakan jenis lupus yang paling sering terjadi.
Dinamakan lupus sistemik dikarenakan terjadi pada berbagai
organ, terutama sendi, ginjal, dan kulit. Gejala utamanya adalah
inflamasi kronis pada organ-organ tersebut.
2. Lupus eritematosus kutaneus (cutaneous lupus
erythematosus/CLE)
Merupakan manifestasi lupus pada kulit yang dapat berdiri
sendiri atau merupakan bagian dari SLE. CLE dapat dibagi
menjadi tiga jenis, yaitu acute
cutaneous lupus erythematosus (ACLE), subacute cutaneous lupus
erythematosus (SCLE), dan chronic cutaneous lupus
erythematosus (CCLE).
JENIS – JENIS LUPUS
3. Lupus akibat penggunaan obat
Beberapa jenis obat dapat menimbulkan gejala yang terlihat mirip
dengan gejala lupus, pada orang yang tidak menderita SLE. Akan
tetapi jenis lupus ini bersifat sementara dan akan menghilang
dengan sendirinya beberapa bulan setelah berhenti mengonsumsi
obat yang memicu gejala lupus tersebut. Beberapa jenis obat yang
dapat menyebabkan lupus jenis ini, antara
lain metildopa, procainamide, D-penicillamine (obat untuk mengatasi
keracunan logam berat), serta minocycline (obat jerawat).
4. Lupus Eritematosus Neonatal
Lupus eritematosus neonatal merupakan jenis lupus yang terjadi
pada bayi baru lahir. Lupus neonatal diakibatkan oleh autoantibodi,
yaitu anti-Ro, anti-La, dan anti-RNP. Ibu yang melahirkan anak yang
menderita lupus eritematosus neonatal belum tentu mengidap lupus.
Biasanya lupus eritematosus neonatal hanya terjadi pada kulit dan
akan menghilang dengan sendirinya. Namun pada kasus yang
jarang, lupus neonatal dapat menyebabkan congenital heart block,
yaitu gangguan irama jantung pada bayi baru lahir. Kondisi ini
dapat diatasi dengan cara memasang alat pacu jantung.
5.
FAKTOR RESIKO TERJADINYA SLE
1. Faktor genetik
2. Faktor resiko hormon
3. Sinar UV
4. Imunitas
5. Obat
6. Infeksi
7. Stress
8. Lingkungan
TANDA DAN GEJALA
 Kulit yang mudah gosong akibat sinar matahari
 Sering merasa lemah, kelelahan berlebihan, demam
dan pegal-pegal
 Pada kulit, akan muncul ruam merah yang
membentang di kedua pipi, mirip kupu-kupu.
Kadang disebut (butterfly rash)
 Luka di mulut dan lidah seperti sariawan
 Nyeri pada sendi-sendi. Sendi berwarna
kemerahan dan bengkak. Gejala ini dijumpai pada
90% odapus
PATOFISIOLOGI
 SLE terjadi akibat terganggunya regulasi
kekebalan yang menyebabkan peningkatan
autoantibodi yang berlebihan.
 Pada SLE, peningkatan produksi autoantibodi
diperkirakan terjadi akibat fungsi sel T supresor
yang abnormal sehingga timbul penumpukan
kompleks imun dan kerusakan jaringan.
DIAGNOSIS LUPUS
 Pemeriksaan Laboratorium
• Penghitungan sel darah
lengkap (complete blood count). Penderita lupus
dapat mengalami anemia sehingga dapat diketahui
melalui pemeriksaan sel darah lengkap. Selain
terjadinya anemia, penderita lupus juga dapat
mengalami kekurangan sel darah putih atau trombosit.
• Analisis urine. Urine pada penderita lupus dapat
mengalami kenaikan kandungan protein dan sel darah
merah. Kondisi ini menandakan bahwa lupus
menyerang ke ginjal.
• Pemeriksaan ANA (antinuclear
antibody). Pemeriksaan ini digunakan untuk
memeriksa keberadaan sel antibodi tertentu dalam
darah dimana kebanyakan pengidap SLE memilikinya.
Sekitar 98% penderita lupus memiliki hasil positif jika
DIAGNOSIS LUPUS
• Pemeriksaan imunologi. Di antaranya
adalah anti-dsDNA antibody, anti-
Sm antibody, antiphospholipid
antibody, syphilis, lupus
anticoagulant, dan Coombs’ test.Pemeriksaan
imunologi tersebut merupakan salah satu kriteria
dalam penentuan diagnosis SLE.
• Tes komplemen C3 dan C4. Komplemen adalah
senyawa dalam darah yang membentuk sebagian
sistem kekebalan tubuh. Level komplemen dalam
darah akan menurun seiring aktifnya SLE.
DIAGNOSIS LUPUS
 Pemindaian
1. Ekokardiogram. Ekokardiogram berfungsi
sebagai mendeteksi aktivitas jantung dan
denyut jantung menggunakan gelombang
suara. Kerusakan katup dan otot jantung pada
penderita lupus, dapat diketahui melalui
ekokardiogram.
2. Foto rontgen. Lupus dapat menyebabkan
peradangan pada paru-paru, ditandai dengan
adanya cairan pada paru-paru. Pemeriksaan
Rontgen dapat mendeteksi adanya cairan
paru-paru tersebut.
PENCEGAHAN
1. Hindari stress
2. Menjaga agar tidak langsung terkena sinar
matahari
3. Mengurangi beban kerja yang berlebihan
4. Menghindari pemakaian obat tertentu
PENGOBATAN LUPUS
1. Obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS). Nyeri sendi atau otot
merupakan salah satu gejala utama SLE.
2. Kortikosteroid. Dapat mengurangi peradangan dengan cepat
dan efektif. Obat ini biasanya diberikan oleh dokter jika
penderita SLE mengalami gejala yang parah atau sedang
aktif.
3. Hydroxychloroquine. Selain pernah digunakan untuk menangani
malaria, obat ini juga efektif untuk mengobati beberapa
gejala utama SLE, seperti nyeri sendi dan otot, kelelahan, dan
ruam pada kulit. Dokter umumnya akan menganjurkan konsumsi
obat ini untuk jangka panjang. Tujuannya adalah untuk
mencegah terjadinya serangan gejala yang parah, mencegah
aktifnya penyakit, dan mencegah munculnya komplikasi yang
lebih serius.
PENGOBATAN LUPUS
4. Obat Imunosupresan. Cara kerja obat ini adalah dengan
menekan sistem kekebalan tubuh. Ada beberapa jenis
imunosupresan yang biasanya diberikan dokter,
yaitu azathioprine, mycophenolate,
mofetil, cyclophosphamide, dan methotrexate.
Imunosupresan akan meringankan gejala SLE dengan
menghambat kerusakan pada bagian-bagian tubuh yang
sehat akibat serangan sistem kekebalan tubuh
5. Rituximab. Jika obat-obat lain tidak efektif bagi
penderita SLE, dokter akan menganjurkan rituximab. Obat
ini awalnya dikembangkan untuk menangani kanker,
seperti limfoma. Tetapi rituximab terbukti efektif untuk
menangani penyakit autoimun, seperti SLE
dan rheumatoid arthritis.