You are on page 1of 14

INTERPRETASI ANALISA DATA

KUANTITATIF
Kelompok 8
Desi Trisari NIM 15-116
Nurintan Kurnia NIM 15-121
Siti Aldina NIM 15-124
Isa Rahayu NIM 15-233
Lilik Maesaroh NIM 15-340
Kecemasan
Kasus : Seorang peneliti ingin mengetahui bagaimana pengaruh
hipnoterapi terhadap kecemasan (skor kecemasan) pada atlet
bulutangkis antara kelompok intervensi (mendapat hipnoterapi) dan
kelompok kontrol (tidak ada perlakuan)
Judul : Pengaruh hipnoterapi terhadap kecemasan (skor kecemasan)
pada atlet bulutangkis
Pertanyaan Penelitian: “Apakah terdapat perbedaan rerata kecemasan
(skor konsentrasi) antara kelompok intervensi (mendapat hipnoterapi)
dan kelompok kontrol (tidak ada perlakuan)?”

Hipotesis :
 Ha: terdapat perbedaan rerata kecemasan antara kelompok
intervensi dan kelompok kontrol
 Ho: tidak terdapat perbedaan rerata kecemasan antara kelompok
intervensi dan kelompok kontrol
Data set 1(Mann-Whitney test)
Tabel 2.1 Distribusi Rerata Kecemasan (Skor Konsentrasi) Antara Kelompok
Intervensi (Mendapat Hipnoterapi) Dan Kelompok Kontrol (Tidak Ada
Perlakuan)

Hipnoterap Rerata Standar Standar P value Jumlah


i kecem Deviasi Error respond
asan (SD) (SE) en

Hipnoterapi 21,95 10,760 0,887 0,000 147

Tidak 67,54 18,766 1,849 103


hipnoterapi

Sumber : Data Primer


2018
Data set 2 (Independent samples test)
Tabel 2.2 Distribusi Rerata Kecemasan (Skor Konsentrasi) Antara Kelompok
Intervensi (Mendapat Hipnoterapi) Dan Kelompok Kontrol (Tidak Ada Perlakuan)

Hipnoterapi Rerata Standar Standar P value Jumlah


kecema Deviasi Error (SE) responden
san (SD)
Hipnoterapi 20,84 7,750 0,639 0,000 147
Tidak 71,29 13,040 1,285 103
hipnoterapi
Sumber : Data Primer 2018
Dapat disimpulkan bahwa skor kecemasan responden yang diberi
hipnoterapi lebih rendah daripada skor kecemasan responden yang tidak diberi
hipnoterapi. Berdasarkan nilai p value 0,000<0,005 menunjukkan bahwa terdapat
perbedaan rerata kecemasan antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol.
Sehingga hipnoterapi baik untuk menurunkan kecemasan pada atlet bulutangkis
Data Kelas B
Tabel 1.1 Rerata responden berdasarkan tinggi badan
dan berat badan (n=40)
No Variabel Mean SD
1 Tinggi Badan 158,90 5,719
2 Berat Badan 53,53 8,376
Sumber : Data primer
2018
Hasil uji menunjukkan bahwa, rerata tinggi
badan di mahasiswa di kelas B yaitu 158,90 dengan
standar deviasi 5,719 sedangkan rerata berat badan
dari 40 mahasiswa tersebut adalah 53,53 dengan
standar deviai 8,376
Data Kelas B
Tabel 1.2 Distribusi Frekuensi responden berdasarkan jenis kelamin dan
agama
No Variabel Jumlah
Jenis kelamin N Prosentase (%)

a. Perempuan 34 85
b. laki-laki 6 15
Total 40 100
Agama
Islam 40 100
Total 40 100
Sumber : Data primer 2018
Perempuan dalam kelas B lebih banyak dibandingkan
dengan laki-laki yaitu sebanyak 85 b%(34 orang), sedangkan laki-
lakinya 15 % (4 orang. Sedangkan untuk agama mahasiswa di kelas B
yaitu 100% islam
Dengan menggunakan Zung Self-Rating Anxiety
Scale (SRAS) skor kecemasan 20-44 dianggap ringan, skor
45-59 kecemasan sedang, 60-74 kecemasan berat, dan 75-
80 kecemasan panik. Dapat disimpulkan bahwa skor
kecemasan responden yang diberi hipnoterapi lebih
rendah (21.95, berada dalam rentan kecemsan ringan )
daripada skor kecemasan responden yang tidak diberi
hipnoterapi (67.54 ,berada dalam rentan kecemasan berat .
Berdasarkan nilai p value 0,000<0,005 menunjukkan
bahwa terdapat perbedaan rerata kecemasan antara
kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Sehingga
hipnoterapi baik untuk menurunkan kecemasan pada atlet
bulutangkis.
Obesitas
Kasus : Seorang peneliti ingin mengetahui hubungan
antara olahraga (olahraga/tidak olahraga) dengan
obesitas (obesitas/tidak obesitas)
Judul : Hubungan antara olahraga dengan obesitas
Pertanyaan Penelitian: “Apakah terdapat hubungan
antara olahraga dengan obesitas?”
Hipotesis:
Ha: Terdapat hubungan antara olahraga dengan
obesitas
Ho: Tidak terdapat hubungan antara olahraga
dengan obesitas
Tabel 3.1 Distribusi Menurut Kegiatan Olahraga dan Kejadian Obesitas
Olahraga Obesitas Total OR P
Obesitas Tidak obesitas (95% Value
CI)

N % N % N %
Tidak 35 35 15 15 50 50 3,5 0,003
olahraga
Olahraga 20 20 30 30 50 50
Jumlah 55 55 45 45 100
Sumber : Data Primer 2018
Hasil uji statististik diperoleh p value =0,003 maka dapat disimpulkan
Terdapat hubungan antara olahraga dengan obesitas. Responden yang tidak olahraga
dan mengalami obesitas lebih tinggi (35%) , daripada responden yang olahraga dan
mengalami obesitas (20%). Or 3,5 artinya, tidak olahraga mempertinggi kejadian
obesitas sebesar 3,5x daripada responden yang berolahraga
Tabel 3.2 Distribusi Menurut Kegiatan Olahraga dan Kejadian Obesitas
Olahraga Obesitas Total OR P
Obesitas Tidak obesitas (95% Value
CI)
N % N % N %
Tidak 25 45 2 4 27 49 3,4 0,252
olahraga
Olahraga 22 40 6 11 28 51
Jumlah 47 85 8 15 55 100
Sumber : Data Primer 2018
Hasil uji statististik diperoleh p=0,252 maka dapat disimpulkan tidak terdapat
hubungan antara olahraga dengan obesitas. Responden yang tidak olahraga dan
mengalami obesitas sebanyak 45% (25 orang), responden yang olahraga dan obesitas
40% (22 orang). Or 3,4 artinya, tidak olahraga mempertinggi kejadian obesitas sebesar
3,4x daripada responden yang berolahraga
Kepatuhan
Kasus : Seorang peneliti ingin mengetahui bagaimana pengaruh edukasi
suportif terhadap kepatuhan medikasi (skor kepatuhan medikasi) pada pasien
hemodialisis
Judul : Pengaruh edukasi suportif terhadap kepatuhan medikasi pada pasien
hemodialisis
Pertanyaan Penelitian : “Apakah terdapat perbedaan rerata skor kepatuhan
medikasi (skor kepatuhan medikasi) pada pasien hemodialisis sebelum dan
sesudah terapi edukasi suportif?”
Hipotesis
 Ha: terdapat perbedaan rerata skor kepatuhan medikasi pada pasien
hemodialisis sebelum dan sesudah terapi edukasi suportif
 Ho: tidak terdapat perbedaan rerata skor kepatuhan medikasi (skor
kepatuhan medikasi) pada pasien hemodialisis sebelum dan sesudah terapi
edukasi suportif
Data set 1 (Uji Wilcoxon)
Tabel 4.1 Distribusi rata-rata skor kepatuhan medikasi pada pasien
hemodialisis responden sebelum dan sesudah terapi edukasi suportif

N Variabel n Rerat Perbe 95% P


o a ± SD daan lower upper value
Mean
1 Pretest 103 20,16± 48,34 18,70 21,61 0,000
7,448
2 posttest 103 68,50± 68,50 73,60
13,048

Sumber : Data Primer 2018


Berdasarkan hasil uji statistik didapatkan hasil bahwa rata-rata
nilai kelompok posttest lebih tinggi daripada kelompok pretest , dengan
perbedaan rata-rata 48,34. nilai p value 0,000 < 0,005, artinya terdapat
perbedaan rerata skor kepatuhan medikasi pada pasien hemodialisis
sebelum dan sesudah terapi edukasi suportif
Data Set 2 (Uji Paired sample T-test
Tabel 4.2 Distribusi rata-rata skor kepatuhan medikasi pada pasien
hemodialisis responden sebelum dan sesudah terapi edukasi suportif

N Variabel n Rerat Perbe 95% P


o a ± SD daan lower upper value
Mean
1 Pretest 103 21,93± 46,6 19,36 24,50 0,000
13,136
2 posttest 103 68,53± 65,00 72,07
18,097

Sumber : Data Primer 2018


Berdasarkan hasil uji statistik didapatkan hasil bahwa rata-rata
nilai kelompok posttest lebih tinggi daripada kelompok pretest (21,93),
dengan perbedaan rata-rata 46,6 antara kelompok pretest dan posttest, nilai
p value 0,000 < 0,005, artinya terdapat perbedaan rerata skor kepatuhan
medikasi pada pasien hemodialisis sebelum dan sesudah terapi edukasi
suportif
TERIMAKASIH