You are on page 1of 54

Jelaskan tipe primer dari irama yang membentuk

electroencephalogram (EEG).

Sebutkan penggunaan klinis utama EEG.

Meringkaskan karakteristik perilaku dan EEG dari masing-
masing tahapan gerakan nonrapid eye movement (NREM) dan
Talamus, rapid eye movement (REM) pada waktu tidur dan mekanisme
Korteks Serebri yang berperan
& Formasio
Retikularis Jelaskan pola tidur malamhari yang normal pada orang
dewasa dan variasi pola mulai dari lahir sampai usia lanjut.

Jelaskan regulasi diurnal sintesis melatonin dari serotonin di
dalam kelenjar pineal dan sekresinya ke aliran darah

Diskusikan irama sirkadian dan peran inti suprachiasmatic
(SCN) dalam pengaturannya.
AKTIVITAS LISTRIK OTAK
• Impuls sensorik => 3 / 4 saraf aferen => homunculus
sensoris => persepsi / lokalisasi sensasi individual.
• Persepsi / lokalisasi sensasi individual => otak (serebrum
dalam keadaa terjaga
• Pada mamalia => kondisi perilaku tidur dan jaga
• Tidur=> tidur nyenyak. tidur ringan, tidur REM.
• Terjaga: Kesadaran istirahat/santai dan kesadaran
perhatian terkonsentrasi.
• Keadaan jaga/tidur => berkolerasi pola aktivitas
listrik
• Keadaan jaga/ tidur => Umpan balik osilasi dalam
korteks serebral dan antara thalamus dan korteks
dan kemungkinan kemungkinan berperan sebagai
faktor-faktor penentu perilaku
• Terjaga => stimulasi sensorik oleh impuls
sensoris dan dari inti reticular otak tengah.
• Kegiatan ini memiliki fluktuasi ritmis sekitar
24 jam => irama sikardian

KORTEKS SEREBRI

• NEOKORTEK = ISOKORTEK
– ±90%
– 6 LAPISAN
– ± 1 – 10 MILIAR NEURON
• JUKSTALOKORTEK = KORTEK PENGHUBUNG
• ALOKORTEK = KORTEK PRIMITIF
– < 6 LAPISAN
– SISTEM LIMBIK
LAPISAN KORTEKS SEREBRI
I. Lapisan molekuler = pleksiform
• Sel saraf sedikit, banyak serabut saraf
II. Lapisan granuler eksterna
• Sel kecil (bentuk bervariasi) diselingi sel piramid
• Serabut terutama berorientasi ke permukaan
III. Lapisan piramid eksterna
• Sel piramid ukuran sedang, besar di sebelah dalam
IV. Lapisan granuler interna
• Sel granuler (Stelata) diantaranya terdapat serabut menuju permukaaan
(sel piramid)
V. Lapisan piramid interna
• Sel piramid ukurn sedang dan besar, dan Giant Betzs cells di girus
presentral
VI. Lapisan fusiform
• Neuron berbentuk spindle, bagian dalam bersatu dengan substansia alba
1. Sel Granuler (Stelata)
– Akson pendek => interneuron intrakortek
– Eksitasi => Glutamat
– Inhibisi => GABA
– Banyak di:
• Area sensoris => pengolahan informasi tinggi
• Area asosiasi => aktivitas analisis tinggi
2. Sel piramid
• Sel paling besar
3. Sel fusiform
2 dan 3: - aksonnya panjang dan besar
- transfer impuls ke MS dan bagian otak lain
Saraf pada lapisan otak yang berfungsi untuk transfer impul
 Serabut asosiasi => antar area kortek hemisfer sama
 Serabut komisura => antar area kortek antar hemisfer
 Serabut proyeksi => antar area kortek dengan bagian lain
SSP
Secara Umum:
o Aferen spesifik bermuara di lapisan IV
o Eferen ke batang otak dan MS berasal dari lapisan V
o Eferen ke talamus berasal dari lapisan VI
o Lapisan I, II dan III serabutnya adalah sebut asosiasi
KORTEKS SEREBRI
DIBEDAKAN:
ANATOMIS: LETAK DI BAWAH TULANG
KEPALA
–FRONTAL
–TEMPORAL
–PARIETAL
–OKSIPITAL
FUNGSIONAL
–SENSORIS
–ASOSIASI
–MOTORIS
• AREA SENSORIS RANGSANGAN LISTRIK
SUBYEK SADAR  SENSASI
RANGSANGAN LISTRIK PERIFER  POTENSIAL
AKSI DI AREA SENSORIS
• SENSORIS PRIMER=POS SENTRAL
GIRUS
– SOMATIK= BRODMAN 1, 2 DAN 3
– VISUAL = BRODMAN 17
– PENDENGARAN = BRODMAN 41 DAN 42
– PENCIUMAN = BRODMAN 28
• SENSORIS SEKUNDER= POSTERIOR DAN
INFERIOR UJUNG LATERAL SENSORIS SOMATIK
• AREA ASOSIASI  RANGSANGAN LISTRIK 
POTENSIAL AKSI DAN GERAKAN TIDAK
TIMBUL=AREA TENANG
• FUNGSI DIKETAHUI DARI:
– TINGKAH LAKU HILANG  AREA TRAUMA /
RUSAK
– RANGSANGAN PADA AREA SAAT PEMBEDAHAN
• AREA ASOSIASI PREFRONTAL
• AREA AOSIASI PARIETO-OKSIPITO- TEMPORAL
• AREA ASOSIASI LIMBIK
FUNGSI
• AREA SENSORIS PRIMER  PENGENALAN
SENSASI (SOMATIK, VISUAL PENDENGANRAN
DAN PENCIUMAN)
• AREA SENSORIS SEKUNDER  MEPERJELAS
FUNGSI AREA PRIMER
• AREA MOTORIS PRIMER  KONTRAKSI OTOT
SPESIFIK
• AREA MOTORIS SEKUNDER  GERAKAN KHAS
DAN TERENCANA
• AREA ASOSIASI  INTEGRASI
Thalamus
• Stasiun relai
• Semua informasi sensoris ke kortek sinap di thalamus (kecuali
informasi penciuman)
– Saaraf kranial 2 (optikus) langsung ke thalamus
– Saraf kranial lain mengirim serabut dari nuklei lebih rendah
baru ke thalamus
• Informasi sensoris akan:
– Merangsang kesadaran
– Impul juga di kirim ke pengatur reflek seperti serebelum dan
ganglia basalis untuk pengaturan gerakan dan keseimbangan
– Input Sensoris ke formasio retikularis berperan pada kesadaran
Thalamus dan Epithalamus
• Thalamus:
– Komponen utama diencephalon ( 4/5 bagian) .
– Pembentuk dinding ventrikel 3 otak
• Lateral geniculate nuclei:
– Pusat relay informasi visual.
• Medial geniculate nuclei:
– Relay informasi pendengaran.
• Intralaminar nuclei:
– Diaktifkan oleh beberapa modalitas sensoris
– Projeksi ke beberapa area kortek => keadaan
terjaga
• Epithalamus mengandung:
– Pleksus Choroideus tempat pembentukan CSF.
– Tempat beradanya kelenjar Pineal => melatonin.
Formasio Retikularis

– Jalinan nukleus dan serabut saraf yang
terdapat pada MO, Pon, midbrain

– Tempat beradanya reticular activating
system (RAS).
• Pembangkit aktivitas kortek serebri .
KESADARAN
• KEWASPADAAN/KESIAGAAN KONTINIU
TERHADAP DIRI DAN LINGKUNGAN
• DAPAT BERBICARA SECARA RUNUT
• ERAT HUBUNGANNYA DENGAN FUNGSI
FORMASIO RETIKULARIS DALAM
MENGENDALIKAN FUNGSI KORTEKS
MEKANISME PENGENDALIAN:
– CARA LANGSUNG
– CARA TIDAK LANGSUNG
CARA LANGSUNG
IMPUL KONTINIU DARI SISTEM PEMBANGKIT
RETIKULAR (RAS) PADA PONS DAN MIDBRAIN 
AREA BULBORETIKULAR (JUGA BERPERAN
MENGENDALIKAN TONUS OTOT)
IMPUL EKSITASI DARI RAS:
1 KE TALAMUS  KORTEKS
2 SUBKORTIKAL
JALUR 1 ADA 2 ARAH:
* IMPUL CEPAT DARI SEL-SEL BESAR RAS 
KORTEKS DALAM MILIDETIK (ASETIL KOLIN)
* IMPUL LAMBAT DARI SEL-SEL KECIL RAS 
SINAP NUKLEUS INTRALAMINAR DAN
RETIKULAR TALAMUS  KORTEKS DALAM
DETIK/MENIT/LEBIH LAMA
IMPUL EKSITASI
– DIPENGARUHI IMPUL KOLATERAL SENSORIS (SOMATIS,
VISUAL, AUDITORI DLL)
– IMPUL NOSISEPTI SANGAT MENINGKATKAN AKTIVITAS
RAS  STIMULASI KUAT KERJA OTAK
– PEMOTONGAN BATANG OTAK DI ATAS NUKLEUS
TRIGEMINUS  IMPUL EKSITASI HILANG
– DIPENGARUHI OLEH IMPUL UMPAN BALIK DARI
AKTIVITAS KORTEKS SEREBRI  MEMBANTU
MEMUSATKAN PIKIRAN DENGAN MENGHAMBAT
TRANSMISI IMPUL PADA SINAP I DI MEDIAL LEMNISKUS
SISTEM SPINOTALAMIKUS DAN DI NUKLEUS TRIGEMINUS
– AREA EKSITASI RAS DIHAMBAT OLEH AREA INHIBISI
(VENTROMEDIAL MEDULA OBLONGATA0 MELALUI SARAF
SEROTONERGIK
CARA TIDAK LANGSUNG
• MELALUI PELEPASAN NEUROMODULATOR EKSITASI
DAN INHIBISI KE JARINGAN OTAK
• DAPAT MENGENDALIKAN AKTIVITAS OTAK DALAM
WAKTU LAMA
• NORADRENALINDARI LOKUS SERULEUS PON DAN
MIDBRAIN  EKSITASI/INHIBISI
• DOPAMIN  INHIBISI GANGLIA BASALIS, EKSITASI
BAGIAN OTAK LAINNYA(ASAL SARAF SUBSTANSIA
NIGRA PUTAMEN DAN KAUDATUS
• SEROTONIN  INHIBISI DIENSEFALON DAN SEREBRUM
(ASAL SARAF NUKLEUS RAFE VENTROMEDIAL
BATANG OTAK) BERPERAN DALAM PROSES TIDUR
TIDUR
SIKLUS TIDUR - JAGA =>
VARIASI SIKLIS KESADARAN THD
LINGKUNGAN
Tidur tidak hanya sekedar hilang kesadaran thd lingkungan,
=> proses faal aktif :
* Aktivitas saraf dari batang otak ke korteks
dibutuhkan pada saat tidur
* aktifitas otot scr umum tdk berkurang
* pd tahap ttt konsumsi O2 otak >> normal
* ingatan pd mimpi yg dialami
Tidur dibagi 2 tipe (gambaran EEG, tingkah laku) :
1. Tidur gelombang lambat (NREM)
2. Tidur paradoksial (REM)
Ad 1. NREM terdiri dari 4 tahap :
a. Tahap 1, tidur ringan, EEG: A , F 
b. Tahap 2, EEG  gel : A ±50µv, f 10-14/”
c. Tahap 3, EEG  F , A
d. Tahap 4, EEG f paling rendah, A besar = tidur
dlm gel, lambat ritmis  sinkron
– tonus otot sering berubah
– f denyut jatung, f napas dan tek darah:  ringan
– mimpi jarang. Kec mimpi buruk
– mudah dibangunkan
Ad 2. REM
a. EEG :
* f gelombang cepat, A rendah
* irregular
*  EEG jaga
b. Gerakan aktif bola mata  paradoksial
– aktivitas otot rangka dihambat, kec otot bola mata dan
otot respirasi
– kontrol fungsi homeostatik dihambat
– suhu tubuh ditekan mendekari suhu basal
– f denyut jantung, f napas dan tek darah tidak teratur
– sering mengalami mimpi (refleksi pikiran saat jaga)
– sulit dibangunkan, mudah terbangun sendiri
TIDUR
• Diawali tidur NREM tahap 1 IV, ± 80’
• Diikuti tidur REM ± 20’
• Sepanjang malam (saat tidur) tahapan berlangsung
scr siklis
• Mendekati pagi (jelang bangun REM lbh lama,
NREM thp 4 tdk ada
• Pd bayi REM lebih lama
• Pd orang tua REM dan thp 4 NREM pendek
• Individu waktu tidur pendek, REM dan NREM
tahap 4 lebih lama
REM = tidur paling dlm krn :
* Bangun perlu rangsangan sangat kuat
* Dlm siklus REM = thp terakhir sblm berulang
Siklus jaga - tidur dikontrol melalui interaksi :
1. Sistem jaga  RAS
2. Sistem tidur : NREM pusat inhibisi MO,
REMpusat inhibisi dan RAS parsial
Siklus normal bisa berubah fase jaga dominan  individu
lebih mudah untuk tetap terjaga walaupun dorongan fase
tidur muncul.
Fase jaga dpt dipertahankan dg rangsangan pada individu
(individu susah utk tidur / ada suasana gaduh)
TEORI TIDUR
~ Pasif krn kelelahan SSP (RAS)
~ Kuat dugaan tidur proses aktif aktifitas RAS melemah,
aktifkan pusat tidur utk menghambat RAS
Rangsangan area ttt pd otak  tidur :
1. Nukleus Raphe (ventral pons-MO) akson 
serotonin  inhibisi SSP  tidur
2. Sebagian nukleus soliterius (daerah sensoris
visceral pon dan MO, bila dirangsang tidur (bila
raphe normal)
3. Rangsangan pd hipotalamus anterior (daerah
suprasiasmatikus) dan bbrp nukleus talamus  tidur
Tidur keadaan tdk sadar, dpt dibangunkan  rangsangan
sensoris dari luar

Koma keadaan tdk sadar yg tdk dpt dibangunkan dg
rangsangan dari luar.
Faktor pendorong tidur
~ I kali ditemukan 1912  CSF anjing tidur merangsang
tidur anjing normal
~ Ada kemungkinan tidur terjadi krn rangsangan pusat
tidur oleh bahan kimia pembangkit tidur (peptida
muramil) yg terkumpul saat bangun
~ ditemukan bahan kimia CSF saat tidur yang berperan
dalam respon imun  tidur untuk meningkatkan respon
imun (orang sakit cendrung ridur)
KELAINAN TIDUR
• Somnabulisma: Tidur berjalan
– Dahulu dikira sebagai manifestasi dari aksi mimpi
– Mimpi pada tahap tidur REM, somnabulisma pada tidur
dalam (NREM tahap 4)
– Dapat melakukan aktiviras motoris normal tertento
– Mata terbuka
– Sering pada anak-anak
• Narkolepsi:
– Keinginan tidur tiba-tiba saat aktivitas normal
• Sleep apnea:
– terbangun karena gangguan bernapas  otot saluran
udara relaksasi  penyempitan saluran udarai
Narcolepsy

• Clinical symptoms: the narcoleptic tetrad
– excessive sleepiness during the day
– cataplexy
• abrupt loss of muscle tone, without loss of awareness
– sleep paralysis
• muscle paralysis of sleep
– hypnagogic hallucination
ELEKTRO ENSEFALOGRAPH (EEG)
Rekaman aktivitas listrik sekelompok saraf possinap
Bentuk dan intensitas dipengaruhi:
– Letak elektroda pencatat
– aktivitas di area pencatatan
Pada Manusia:
– Gelombang alpha: saat istirahat mata tertutup
• f 8 - 13/detik. Amplitudo  50 v
• terekam jelas di daerah oksipital, bisa parietal/frontal
• diduga hasil aktivitas talamo-kortikal nonspesifik yang
mengatifkan miliaran saraf kortikal tiap gelombangnya
– Gelombang beta: mata dibuka/diberi rangsangan
• f > 13/detik, Amplitudo 25 - 50 v
• Perekaman biasanya di daerah parietal/frontal
– Gelombang teta: terutama pada anak-anak
• f 4 - 7/ detik
• direkam di daerah parietal/temporal
• pada dewasa ddapatkan saat stres
– Gelombang delta:
- Terjadi saat tidur lelap
- Pada bayi
- Ditemukan adanya gangguan otak serius
-Pada hewan percobaan didapatkan setelah pemotongan
hubungan talamo-kortikal
• f < 3.5/detik
Placement of electrodes of
polysomnographic measurement

33
MEKANISME PEMBENTUKAN EEG
Potensial EEG terutama berasal dari massa dendrit yang
terdapat pada lapisan I dan II korteks, badan selnyaberada
pada lapisan lebih dalam
Bila perubahan potensial terjadi pada sel lapisan dalam:
– Hipopolarisasi  dalam sel (+)  elektro tonus ke ujung
dendrit  ekstra sel (+) meningkat  EEG potensial (+)
– Hiperpolarisasi  dalam sel (-)  elektro tonus ke ujung
dendrit  ekstrasel
(-) meningkat  EEG potensial (-)
Bila perubahan potensial terjadi pada sel sebelah luar
(lapisan II&III): aktivitas sel presinap  sel possinap
(dendrit)  langsung mempengaruhi potensial ekstrasel
– Hipopolarisasi sel  luar sel (-) EEG potensial (-)
– Hiperpolarisasi sel  luar sel (+)  EEG potensial (+)
PENGGUNAAN EEG
• Diagnosa klinis ganguan otak  EEG khas
– Epilepsi (aktivitas tak terkontrol SSP)
– Ganggua lokal pada otak mis hematom subdural EEG
lokal irregular, gelombang lambat
– EEG 2 hemisfer relatif sama  gangguan dapat dilihat
dari perbandingan EEG area identik
• Membedakan tipe/tahapan tidur
• Penentuan legal kematian otak: Kriteria
– Aktivitas listrik serebrum (-)  EEG datar
– Reflek mata (-)
Circadian Rhythms

• Humans, like all mammals, have a 24 hour
biological “clock”
– If people are placed in an environment without
any access to daylight, to clocks, or to other
markers of time, they follow an activity/rest
cycle of about 24.5 hours
• Shown by Nathaniel Kleitman in a study in
Mammoth Cave, Kentucky
Genetics of Biological Clocks

• Multiple genes are known to be involved in
the clock
– per (period)
– tim (timeless)
• per and tim both have circadian rhythms
• enter nucleus at night and shut off clock
– clock
• starts production of per and tim in nucleus
Entrainment

• A zeitgeber or timing signal, can reset the
clock
– Sunrise is one signal
• Changing the time of day of the signal can
alter the timing of the biological process
Nathaniel Kleitman (1895-1999)

• Kleitman showed
people have a
biological “clock”
• Revolutionized study
of sleep
• With Aserinsky,
discovered REM sleep
in 1953
Control of Cycles

• Sleep/wake cycle and the suprachiasmatic
nucleus (SCN)
– lesions of SCN eliminate sleep/waking cycle
• REM/NREM cycle and the pontine reticular
formation
Circadian Rhythms

• Organisms have their own endogenous
biological clock

• Circadian rhythms are affected by endogenous
and exogenous factors

• Exogenous time setters – “Zeitgebers” light
more potent than cultural/social cues
Suprachiasmatic Nucleus
• Locus of biologic rhythmicity

• Neurons have circadian rhythmicity that is
intracellular in origin

• Genes coding for the clock function have
been identified
SCN Control of Circadian Rhythm
Biological Rhythms
• Biological processes related to sleep are influenced
by the circadian rhythm and other biology rhythms.
Homeostatic factors (factor S) and circadian factors
(factor C) are both interact to determine the timing
and quality of sleep.

48
Circadian Rhythms

• Circadian Rhythm is one of the several intrinsic body rhythms modulated
by the hypothalamus. The suprachiasmatic nucleus sets the body clock to
24 hours and is modulated by light exposure. The retino-hypothalamic tract
allows light cues to directly influence the suprachiasmatic nucleus.

• Circadian rhythm allows the brain to regulate periods of rest during sleep
(equivalent to battery re-charging) and periods of high activity during the
wakefulness (equivalent to battery discharging). The nadir of the rhythm is
in the early morning. The downswing in circadian rhythm after the apex in
early evening is thought to initiate sleep and maintain sleep overnight for
full restoration by preventing premature awakening. The morning upswing
then facilitates awakening and acts as a counterbalance to the progressive
discharge of wake neuronal activity, enabling cognitive function
throughout wakefulness.

49
Other Biological Rhythms
• The hypothalamus controls the body temperature cycles. Body temperature
will increase during the course of the day and decrease during the night.
The temperature peaks and troughs are thought to mirror the sleep rhythm.
People who are most alert late in evening have body temperature peaks
later in the evening compared to those who are most alert early in the
morning.

• Melatonin secretion by the pineal gland controlled by the suprachiamastic
nucleus is light-modulated. It is secreted maximally during the night.
Prolactin, testosterone, and growth hormone also demonstrate circadian
rhythms, with maximal secretion during the night. Melatonin influences
sleep timing by modulating the amplitude of circadian signal and neuronal
firing [1]. Melatonin has multiple functions throughout the body, including
regulation of immune function, hormone secretion, reproductive rhythms.

50
Kelenjar pineal, sebuah struktur kecil berbentuk kerucut
tengah otak mengeluarkan hormon melatonin.
Meskipun melatonin telah ditemukan pada tahun 1959
namun para peneliti baru berhasil mengungkapkan
berbagai fungsinya akhir=akhir ini.
Salah satu peran melatonin yang telah diterima
secara luas adalah membantu menjaga irama sirkadian
tubuh sesuai siklus terang-gelap.
• Melanopsin , suatu protein yang terdapat di sel ganglion
rerina khusus (1% -2%)adalah reseptor untuk cahaya
yang menjaga tubuh tetap sinkron dengan waktu
eksternal.
• Sel ganglion retina ini memberi petunjuk kepada
kelenjar pineal tentang ada tidaknya cahaya dengan
mengirim sinyalnya melalui traktus
retinohipotalamikus ke SCN => kelenjar pineal .
• Ini adalah cara utama jam internal dikoordinasikan
dengan waktu 24 jam sehari.
Melatonin adalah hormon saat gelap=>
Sekres meningkat hingga 10 kali lipat selama malam
hari dan kemudian rurun ke kadar rendah selama
siang hari. Fluktuasi sekresi melatonin, selanjutnya
membantu menyamakan irama biologis tubuh
dengan sinyal siang-malam eksternal.
• Meiatonin menginduksi tidur alami tanpa efek samping
• Menghambat GnRH, => Pubertas mungkin dipicu oleh penurunan
sekresi melaronin.
• Pada sebagian spesies fluktuasi musiman sekresi meiatonin =>
penting perkembangbiakan, migrasi, dan hibernasi musim.
• Melatonin digunakan dalam percobaan klinis untuk mengontrol
kehamilan => kadar tinggi hormon ini menghentikan ovulasi.
Kontrasepsi pria menggunakan melatonin => X produksi sperma .
• Melatonin merupakan antioksidan yang sangat efektif, suatu alat
pertahanan terhadap radikal-radikal bebas yang merusak sistem
biologis.
• Bukti mengisyaratkan bahwa melatonin dapat memperlambat
proses penuaan, mungkin dengan membersihkan
radikal bebas atau melalui cara lain.
• Melatonin meningkatkan imunitas dan telah dibuktikan melawan
sebagian dari penyusutan timus, sumber limfosit T yang berkaitan
dengan usia pada hewan percobaan.