You are on page 1of 16

Epilepsi

Di susun oleh kelompok 10 :
Arif Jafar Sidik KHGA 15048
Elva Riani KHGA 15061
Farid Firdaus KHGA 15065
Triani Heriyanty KHGA 15081

para orang tua bahkan bayi yang baru lahir (Utopias. Sebagian besar epilepsi dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti : adanya trauma kelahiran.2008).tumor otak. Epilepsi dapat menyerang anak-anak. orang dewasa. .sirkulasi gangguan metabolisme.trauma kepala dan penyakit-penyakit saat kehamilan (epilepsi simtomatis) Namun beberapa jenis epilepsi tidak diketahui dengan jelas penyebabnya dan diduga karena faktor genetik (epilepsi idiopatik).Infeksi. yang bersifat reversibel dengan berbagai etiologi .Pengertian Epilepsi adalah gangguan kronik otak dengan ciri timbulnya gejala- gejala yang datang dalam serangan-serangan. berulang-ulang yang disebabkan lepas muatan listrik abnormal sel-sel saraf otak. Epilepsi adalah sindroma otak kronis dengan berbagai macam etiologi dengan ciri-ciri timbulnya serangan paroksismal dan berkala akibat lepas muatan listrik neron-neron otak secara berlebihan dengan berbagai manifestasi klinik dan laboratorik.gangguan.

dan perdarahan intra uterin  Kelainan kongenital seperti kromosom abnormal  Gangguan metabolik seperti hipoglikemi  Infeksi Susunan Saraf Pusat seperti meningitis 2.Md.Berdasarkan hasil EEG dan gejala yang ditemukan. epilepsi dapat diklasifikasikan menjadi beberapa jenis yaitu : (Kariasa. .Yang digolongkan dalam jenis petit mall. 1997)  Kejang umum.  Kejang parsial. epilepsi dapat digolongkan menjadi beberapa jenis (Harsono.ED. Digolongkan menjadi kejang parsial sederhana dan kejang parsial kompleks. Kelompok 6 bulan – 3 tahun Selain oleh penyebab yang sama dari kelompok di atas pada umur ini dapat juga disebabkan oleh adanya kejang demam yang biasanya dimulai pada umur 6 bulan. grand mall. .1996) : 1. Bila dikaitkan dengan kelompok usia yang terpapar. Kelompok Usia 0 – 6 bulan  Kelainan intra uterin  Kelainan selama kehamilan misal asfeksia. Faktor lain yang mempengaruhi adalah adanya cedera kepala. FIK UI.

5. . setelah tindakan operasi.3. 4. parasit dan abses otak yang frekuensinya meningkat sampai 23%. tumor otak dan infeksi. Kelompok usia muda Tersering karena cedera kepala. Kelompok anak-anak sampai remaja Dapat disebabkan oleh Infeksi virus. Kelompok usia lanjur Karena gangguan pembuluh darah otak. bakteri. diikuti oleh trauma dan degenerasi cerebral.

hiponatremia. Epilepsi Sekunder (Simtomatik) • Faktor herediter. • Faktor genetik seperti pada kejang demam • Kelainan congenital otak seperti atropi. sedangkan bila kedua orang tuanya epilepsi maka kemungkinan anaknya epilepsi menjadi 20%-30%. hipoklasemia. hipernatremia • Infeksi seperti radang yang disebabkan virus atau bakteri pada otak dan selaputnya seperti toksoplasmosis. hipoglikemia. meningitis . agenesis korpus kolosum • Gangguan metabolic seperti hipoglikemia. hipoparatiroidisme.Etiologi 1. seperti neurofibromatosis. Epilepsi Primer (Idiopatik) Faktor genetik dimana bila salah satu orang tua epilepsi (epilepsi idiopatik) maka kemungkinan 4% anaknya epilepsi. 2.

valium). klorpropamid. kelelahan fisik. barbiturat. perubahan hormonal (hipoglikemia). gangguan emosional. .Faktor precipitasi atau faktor pencetus atau yang mempermudah terjadinya gejala epilepsi : • Faktor sensoris seperti cahaya yang berkedip-kedip (fotosensitif). bunyi-bunyi yang mengejutkan. obat-obatan tertentu (fenotiazin. dan lain-lain. penyakit infeksi. air. • Faktor sistemis seperti demam. kurang tidur. • Faktor mental seperti stress.

Patofisiologi .

Foto ronsen kepala. 2. Sel Darah Merah. Glukosa. Magnetoensefalogram. Pemantauan video EEG 24 jam. Kadar obat pada serum. Punksi lumbal.Manifestasi Klinik 1. MRI. Tergantung lokasi dan sifat Fokus Epileptogen 4. Dapat mengalami Aura Pemeriksaan Diagnostik Elektrolit. (Rencana Asuhan Keperawatan :262) . Klinik dapat berupa kejang-kejang. Kelainan gambaran EEG 3. gangguan kesadaran atau gangguan penginderaan. Wada. Positron emission tomography. Scan CT. Elektroensefalogram.

. mka di samping pemberian obat anti-epilepsi diperlukan pula terapi kausal. Pengobatan epilepsi meliputi pengobatan medikamentosa dan pengobatan psikososial.  Pengobatan medikamentosa Pada epilepsi yang simtomatis di mana sawan yang timbul adalah manifestasi penyebabnya seperti tumor otak.Penatalaksanaan Tujuan pengobatan adalah mencegah timbulnya sawan tanpa mengganggu kapasitas dan intelek pasien. Pasien harus patuh dalam menjalani pengobatannya sehingga dapat bebas dari sawan dan dapat belajar. Pasien diberikan penerangan bahwa dengan pengobatan yang optimal sebagian besar akan terbebas dari sawan.  Pengobatan Psikososial. radang otak. gangguan metabolic. bekerja dan bermasyarkat secara normal.

2 mg/kgBB diazepam dengan kecepatan 5 mg/menit sampai maksimum 20 mg. Diazepam harus diikuti dengan dosis rumat fenitoin. kimia darah.Penatalaksanaan status epileptikus a) Lima menit pertama • Pastikan diagnosis dengan observasi aktivitas serangan atau satu serangan berikutnya. intubasi bila perlu bantuan bentilasi. Jika serangan masih ada setelah 5 menit. atur posisi kepala dan jalan nafas. c) Menit ke-10 hingga ke-20 • Pada dewasa: berikan 0. • Tanda-tanda vital dan EKG. • Pasang jalur intravena dengan NaC10. berikan 50 ml glukosa 50% bolas intravena (pada anak: 2 ml/kgBB/glukosa 25%) disertai 100 mg tiamin intravena. koreksi bila ada kelaianan. hematology dan kadar OAE (bila ada fasilitas dan biaya). b) Menit ke-6 hingga ke-9 • Jika hipoglikemia/gula darah tidak diperiksa. .9%. dapat diulangi lagi. • Beri oksigen lewat kanul nasal atau masker. periksa gula darah.

Bila apne. anestasia umum dengan pentobarbiatal. .d) Menit ke 20 hingga ke-60 • Berikan fenitoin 20 mg/kgBB dengan kecepatan <50 mg/menit pada dewasa dan 1 mg/kbBB/menit pada anak. berikan bantuan ventilasi (intubasi). Jika status menetap. e) Menit setelah 60 menit • Jika status masih berlanjut setelah fenitoin 20 mg/kg maka berikan fenitoin tambahan 5 mg/kg sampai maksimum 30 mg/kg. Jika status menetap. berikan 20 mg/kg fenobarbital intravena dengan kecepatan 60 mg/menit. monitor EKG dan tekanan darah selama pemberian. midazolam atau propofal.

pengukuran. Identitas klien dan penanggungjawab Pengkajian yang dilakukan meliputi identitas klien dan penanggungjawabnya. pasien atau keluarga biasanya ketempat pelayanan kesehatan karena klien yang mengalami penurunan kesadaran secara tiba-tiba disertai mulut berbuih. maupun berdasarkan atas kebutuhan dasar manusia. Asuhan keperawatan pada kasus epilepsi Pengkajian Pengkajian dilakukan secara komprehensif dengan berbagai metode pengkajian seperti anamnesa. dokumentasi dan pemeriksaan fisik. Klien atau keluarga mengeluh anaknya atau anggota keluarganya sering berhenti mendadak bila diajak bicara . observasi. Kadang-kadang klien / keluarga mengeluh anaknya prestasinya tidak baik dan sering tidak mencatat. teknik persistem. Metode pengkajian yang digunakan untuk mengoptimalkan hasil yang diperoleh meliputi beberapa cara diantaranya head to toe. Keluhan Utama Untuk keluhan utama.

penggunaan obat. • Status kesadaran dan nilai kesadarannya. dan stress emosional. Deskripsi spesifik dari kejang harus mencakup beberapa data penting meliputi : • Awitan yakni serangan itu mendadak atau didahului oleh prodormal dan fase aura. stroke. gangguan tidur. • Durasi kejang berapa lama dan berapa kali frekuensinya. hiperventilasi. cedera kepala. Pada riwayat perlu dikaji faktor pencetus yang dapat diidentifikasikan hingga saat ini adalah : demam. • Aktivitas motorik mencakup apakah ekstrimitas yang terkena sesisi atau bilateral. kelemahan fisik. dimana mulainya dan bagaimana kemajuannya. Ini dapat dimengerti karena riwayat kesehatan terutama berhubungan dengan kejang sangat membantu dalam menentukan diagnosa. Riwayat ini akan dirunjang dengan keadaan fisik klien saat ini.Riwayat Penyakit Fokus pengkajian yang dilakukan adalah pada riwayat kesehatan dan pemeriksaan fisik. Apakah klien dapat dibangunkan selama atau setelah serangan ? .

baal atau semutan. • Faktor pencetus seperti stress emosional dan fisik. tidak berguna. kelemahan. halusinasi dll). prodormal(pusing.• Distrakbilitas. Hal ini sangat penting untuk membedakan apakah yang terjadi pada klien benar epilepsi atau hanya reaksi konversi. muntah. lemas. salivasi dan perdarahan dari mulut. Apakah pada saat serangan gigi klien tertutup rapat atau terbuka. waham. apakah klien dapat memberi respon terhadap lingkungan. rendah diri dan takut. periode post iktal atau lupa terhadap semua pristiwa yang baru saja terjadi. Klien merasa malu. • Masalah yang dialami setelah serangan paralisis. • Aktivitas tubuh seperti inkontinensia. • Data Subyektif : adanya keluhan tentang faktor pencetus. letih dan bingung. mengeluh adanya gangguan proses pikir. . badan nyeri. Merasakan adanya seperti tersambar petir (fase aural). disfagia. ngantuk. • Keadaan gigi. Data Bio-psiko-sosial-spiritual • Data yang sudah dikaji sebelumnya dengan menggunakan berbagai metode yang valid selanjutnya dikelompokkan secara umum menjadi data subyektif dan obyektif. disfasia cedera komplikasi.

Data Obyektif : adanya gerakan tonik. hilang kesadaran sesaat. gerakan ekstrimitas terkedut bilateral. hilang kesadaran beberapa lama. penurunan respon terhadap lingkungan. sering diam beberapa saat bila sedang diajak bicara. pupil mengalami perubahan ukuran selama serangan. klonik. tonik-klonik. inkontinensia. kejang terjadi beberapa detik hingga beberapa menit. agresif. pasien terjatuh. kontraksi involunter unilateral. kejang biasanya mulai dari tempat yang sama setiap serangan. bibir berbusa. perdarahan dari mulut. .

d kemungkinan yang terjadi.d stress akibat epilepsi • Harga diri rendah b. gerakan involunter dan kejang • Isolasi sosial b.gelisah.d gangguan kondisi kesehatan • Hambatan mobilitas fisik b.d perubahan perkembangan • Kerusakan memori b. Diagnosa keperawatan yang biasa muncul pada pasien yang mengalami epilepsi adalah • Ketidakefektifan bersihan jalan nafas b. perubahan pola interaksi sosial • Defisiensi pengetahuan b. gangguan sensori perceptual • Ansietas b.d resiko tingkat kesadaran. Rencana Asuhan Keperawatan Diagnosa Keperawatan Rencana Keperawatan diawali dengan penyusunan diagnosa keperawatan. obstruksi trakeobronkial • Ketidakmampuan koping keluarga b.d spasme pada jalan napas.d kurangnya informasi penatalaksanaan kejang .d gangguan neurologis • Resiko cidera b.d penurunan kendali dan masa otot.