You are on page 1of 45

Definisi dan Klasifikasi Rinitis

• Menurut WHO-ARIA (Allergic Rinitis its Impact on
Asthma), rinitis alergi merupakan suatu peradangan
yang diperantarai oleh Imunoglobulin E (IgE) yang
terlibat menyebabkan suatu peradangan alergi bila
terpapar kembali oleh alergennya.
• Rinitis alergi merupakan suatu penyakit inflamasi pada
mukosa hidung yang disebabkan oleh reaksi alergi pada
pasien yang sebelumnya sudah tersensitisasi dengan
alergen yang sama serta dilepaskannya mediator-
mediator kimia pada saat terpapar kembali dengan
alergen tersebut
Jom FK Volume 2 No.2 Oktober 2015
Klasifikasi rinitis alergi berdasarkan terdapatnya gejala:
• Intermitten, bila gejala terdapat: Kurang dari 4 hari per
minggu Atau bila kurang dari 4 minggu
• Persisten, bila gejala terdapat: Lebih dari 4 hari per minggu
Dan bila lebih dari 4 minggu
Berdasarkan beratnya gejala:
• Ringan, jika tidak terdapat salah satu dari gangguan sebagai
berikut:
Gangguan tidur
Gangguan aktivitas harian
Gangguan pekerjaan atau sekolah
• Sedang-berat, bila didapatkan salah satu atau lebih gejala-
gejala tersebut diatas
Bagian Ilmu Kesehatan Telinga Hidung
Tenggorok Bedah Kepala dan Leher
Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
Epidemiologi
RISKESDAS 2103
CDK-252/ vol. 44 no. 5 th. 2017
• Menurut International Study of Asthma and
Allergies in Children (ISAAC, 2006), Prevalensi
rinitis tertinggi di Nigeria (lebih dari 35%),
Paraguay (30-35%) dan Hongkong (25-30%)
• Di Indonesia, dikutip dari Sundaru,
menyatakan bahwa rinitis alergi yang
menyertai asma atopi pada 55% kasus dan
menyertai asma atopi dan non atopi pada
30,3% kasus
Gejala klinis
GEJALA PADA ANAK

• Hidung gatal • Allergic shinner
• Bersin berulang • Allergic crease
• Beringus cair dan ingus • Allergic sallut
berwarna jernih • Lacrimasi
• Cairan hidung yg jernih
• Hidung tersumbat
hilang timbul bersifat
irreversibel
Patofisiologi dan Etiologi
IMUNOPATOGENESIS

penyakit inflamasi yang diawali dengan tahap
sensitisasi dan diikuti dengan reaksi alergi.

Reaksi alergi terdiri dari 2 fase :
• immediate phase allergic reaction/ reaksi alergi fase cepat (RAFC)
• Late phase allergic reaction/ reaksi alergi fase lambat (RAFL)
1. Tahap sensitisasi
2. Tahap Provokasi (second response)

Terpapar alergen yang sama diikat oleh IgE di sel mast

degranulasi / pecahnya sel mediator

melepaskan PGD2, LTD4, LTC4, bradikinin, sitokin, histamin

 Histamin merangsang reseptor H1 rasa gatal pada hidung
pada ujung saraf medianus dan bersin-bersin

mukosa & sel goblet mengalami hipersekresi rinorea

vasodilatasi sinusoid hidung tersumbat
ETIOLOGI
 Interaksi antara lingkungan dengan predisposisi genetik
 Berdasarkan cara masuknya allergen dibagi atas:

1. Alergen Inhalan; yang masuk bersama dengan udara pernafasan
2. Alergen Ingestan; yang masuk ke saluran cerna
3. Alergen Injektan; yang masuk melalui suntikan atau tusukan.
4. Alergen Kontaktan; yang masuk melalui kontak dengan kulit atau
jaringan mukosa
Faktor resiko rinitis
• Penyakit atopi lain • Pajanan asap dapur
• Riwayat atopi dalam • Pajanan asap rokok
keluarga • Memelihara kucing atau
• Polusi udara anjing
• Konsumsi paracetamol • Obesitas
dan aspirin • Lingkungan dg
• Kebersihan kelembapan tinggi
Anamnesis
Identitas • Faktor memperingan
 Riwayat penyakit  Riwayat penyakit dahulu
sekarang  Riwayat penyakit keluarga
• Keluhan utama  Riwayat kebiasaan pribadi
• Onset
• Lokasi
• Kualitas
• Kuantitas
• Kronologis
• Faktor memperberat
Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan faring
• dinding posterior faring tampak granuler
dan
• edema (cobblestone appearance), serta
dinding lateral faring menebal. Lidah
tampak seperti gambaran peta
 Inspeksi
(geographic tongue).
• Perhatikan adanya allergic salute, yaitu
gerakan pasien menggosok hidung • Pada pemeriksaan rinoskopi anterior :
dengan tangannya karena gatal. 1. Mukosa edema, basah, berwarna pucat atau
Wajah kebiruan (livide), disertai adanya sekret encer,
• Allergic shiners yaitu dark circles di sekitar tipis dan banyak. Jika kental dan purulen
mata dan berhubungan dengan biasanya berhubungan dengan sinusitis.
vasodilatasi atau obstruksi hidung. 2. Pada rhinitis alergi kronis atau penyakit
• Nasal crease yaitu lipatan horizontal granulomatous, dapat terlihat adanya deviasi
(horizontal crease) yang melalui setengah atau perforasi septum.
bagian bawah hidung akibat kebiasaan 3. Pada rongga hidung dapat ditemukan massa
menggosok hidung keatas dengan tangan.
seperti polip dan tumor, atau dapat juga
• Mulut sering terbuka dengan lengkung ditemukan pembesaran konka inferior yang
langit-langit yang tinggi, sehingga akan
menyebabkan gangguan pertumbuhan dapat berupa edema atau hipertropik. Dengan
gigi-geligi (facies adenoid). dekongestan topikal, polip dan hipertrofi
konka tidak akan menyusut, sedangkan edema
konka akan menyusut.
• . Telinga, mata dan orofaring
– Dengan otoskopi perhatikan
adanya retraksi membran
timpani, air-fluid level, atau
bubbles. Kelainan mobilitas dari
membran timpani dapat dilihat
dengan menggunakan otoskopi
pneumatik. Kelaianan tersebut
dapat terjadi pada rinitis alergi
yang disertai dengan disfungsi
tuba eustachius dan otitis
media sekunder.
– Pada pemeriksaan mata
• Akan ditemukan injeksi dan
pembengkakkan konjungtiva
palpebral yang disertai dengan
produksi air mata
Pemeriksaan penunjang
• Hitung IgE  Uji kulit alergen penyebab
Yng lebih bermakna namun tidak dapat dicari secara invivo
selalu dikerjakan adalah tes IgE • Ada beberapa cara, yaitu uji
spesifik dengan RAST (Radio intrakutan atau intradermal
Immunosorbent test) atau ELISA yang tunggal atau berseri (Skin
(Enzyme linked immuno assay). End-point Titration/SET), uji
• IgE total > 200 IgE RAST untuk cukit (Prick Test), dan uji gores
alergen –alergen dengan (Scratch Test).
tingkat skor 1+ s/d 4+. • . SET dilakukan untuk alergen
inhalan dengan menyuntikkan
alergen dalam berbagai
konsentrasi yang bertingkat
kepekaannya.
• Keuntungan SET, selain
alergen penyebab, juga derajat
alergi serta dosis inisial untuk
desensitisasi dapat diketahui.
Skin prick test
Tatalaksana medika mentosa &
non medika mentosa
Nasal irigation / cuci hidung
Gunakan :
• NaCl 0,9%.
• NaCl 3% untuk orang
baru selesai operasi.

Non medikamentosa
Operatif
• Pada orang dengan
hipertrofi concha
• Kelainan anatomi
• Anak dg palastoskis
Komplikasi Rinitis
Definisi Rhinosinusitis

Peradangan mukosa hidung dan
sinus paranasal
Etiologi dan patofisiologi
Etiologi Rhinosinusitis

Virus
Rhinosinusitis bisa terjadi setelah suatu infeksi
virus pada saluran pernafasan bagian atas

Bakteri
Didalam tubuh manusia terdapat beberapa jenis
bactery yang dalam keadaan normal tidak
menimbulkan penyakit

Jamur
Aspergillus merupakan jamur yang bisa menyebabkan
Rhinosinusitis pada orang – orang tertentu
Edem
Gangguan
ventilasi Mukus dan
benda asing
Gangguan KOM terperangkap
Gangguan
bersihan mukosa
Pertautan
antarmukosa

Pergerakan silia Ostium Rinosinusitis
berkurang tersumbat kronis

Rinosinusitis
Tekanan negatif
akut

Rinosinusitis non Transudasi
Menetap Tumbang Bakteri
bakterial cairan (serosa)
Manifestasi klinis
Manifestasi Klinis Rhinosinusitis

• Demam, lesu, gejala fokal (hidung
Gejala tersumbat, rinorea kental berbau,
PND, halitosis, sakit kepala berat,
Subjektif nyeri di sinus, nyeri alih)

• Tanda peradangan
Gejala • RA: muosa konka hiperemis,
edem, pus
Objektif • RP: PND
Polip hidung
Polip Nasi
definisi
Polip Nasi
etiologi
Polip Nasi
patofisiologi
Polip Nasi
gejala klinis
Edukasi dan prognosis
Edukasi

• Hindari alergen
• Jaga kebersihan
• Menjaga nutrisi seimbang agar daya tahan
tubuh baik
•BONAM
PROGNOSIS