You are on page 1of 118

Pemicu 4

Malangnya oh anakku
Kelompok 17
FK univ. Tarumanagara

Kelompok 17
• Aditiawan 405100260
• Guntur alam budiman 405100288
• Patricia lestari 405110007
• Santi iskandar 405110081
• Joseph mario lakonage 405110125
• Della kartika wijaya 405110156
• Muhamad bima juliansyah 405110159
• Stephen wijayanto 405110198
• Dharma jaya hartono 405110223
• Jeremy willy henry 405110235
• Jochebet irene 405110249

Malangnya oh anakku
Seorang perempuan 28 tahun dibawa suaminya ke praktek pribadi dokter
spesialis kandungan dengan riwayat telah menikah selama 2 tahun, melakukan
hubungan suami istri dgn normal, tidak pernah keguguran, namun sampai saat
ini belum hamil juga. Pasien mengeluh sering mengalami nyeri di daerah
panggulnya sejak 1 tahun lalu namun hilang timbul. Akhirnya pasien di diagnosa
menderita radang daerah panggul dan diobati. Setelahdiobbati akhirnya pasien
berhasil hamil. Tetapi saat hamil 15 minggu, pasien mengalami perdarahan serta
nyeri perut kemudian dibawa ke ugd RS dan didapat hasil pemeriksaan :
Pemeriksaan fisik : pasie tampak pucat TD 90/60 mmHg, TN 120x/menit,suhu
aksila 36,8°C
Pemeriksaan dalam :tidak ada pembukaan serviks,tidak teraba jaringan,uterus
teraba agak membesar, adneksa tidak dapat dinilai (pasien kesakitan)
Pemeriksaan inspekulo : terlihat perdarahan pada OUE , fluksus (+)
Apa yang dapat kita pelajari dr kasus diatas?

Unfamiliar terms
• Adnexa : jaringan yang berada disekitar
rahim,tuba fallopi/ ovarium
• Fluksus : ?

Rumusan masalah
• Bagaimana hub penyakit dgn riwayat
infertilitas?
• Apa penyebab radang panggul/PID?
• Mengapa terjadi perdarahan dan nyeri perut?
• Interpretasi pemeriksaan fisik,vt,dan
inspekulo?

Curah pendapat
• PID  radang di tuba  mengenai sikatriks  terjadi
perlengketan  ovum dan sperma tak bisa bertemu 
infertilitas
• PID  radang di tuba  gangguan motilitas tuba
• PID  radang di tuba  terjadi perubahan ph 
terbentuk ASA  sperma mati
• Penyebabnya bisa karena infeksi berulang,trauma,efek
smaping dr alat kontrasepsi, atau infeksi saluran kemih
• Kemungkinan KET, mola hidatidosa, dan Abortus.

.

dll • MM abortus .abses tuboovarium.servisitis. Learning objective • MM infertilitas • MM PID  salphingitis.

LO 1 MM INFERTILITAS .

teratur Infertilitas primer Keadaan dimana pasutri belum pernah hamil sama sekali. sekunder . ( dan tidak sedang menggunakan kontrasepsi) Sanggama Hubungan badan sbnyk 2-3x seminggu. Infertilitas Keadaan pernah hamil. Definisi Infertilitas Keadaan dimana pasutri dgn sanggama teratur selama min 1 tahun belum juga memperoleh kehamilan.

> 40 thn: 70 % infertil. • Infertilitas yg disebabkan o/ pria 35-40 % sedangkan o/ wanita 40-50 %. Prevalensi • Menurut Guttmacher: Wanita di antara umur 16-20 thn: 4. . 10-20 % sebabnya tdk jelas.3 % infertil. 35-40 thn: 31.5 % infertil.

Klasifikasi • Non Organik : – Usia – Frekuensi senggama : 2-3x seminggu – Pola hidup • alkohol • Merokok : rokok aktif atau pun perokok pasif • Berat badan : obesitas  infertil .

bakterial vaginosis . liang vagina terlalu sempit) • Vaginitis : adalah infeksi seperti klamidia trakomatis. nodul endrometrosis. keganasan vagina • Vaginismus: rasa nyeri saat penis melakukan penetrasi ke dalam vagina ( reflkes otot terlalu sensitif.• Organik – Vagina : • Dispareunia : nyeri saat melakukan senggama Penyebab : faktor infeksi : kandida. trikomonas faktor organik : vaginismus. GO. klamidia.

– Uterus : serviks. kavum uteri dan korpus uteri • Serviks : servisitis  kesulitan sperma untuk penetrasi ke dalam kavum uteri – Trauma pada serviks • Kavum uteri : kelainan uteri  ada septum kavum uteri  perubahan anatomi (perubahan vaskularisasi endometriu ) – Endometrosis : polip endometrosis • Miometrium : adenomiosis merupakan kelainan pada miometrium berupa susupan jaringan stroma dan kelenjar yg sangat menyerupai endometrium – Tuba: adanya sumbatan bisa karena infeksi atau endomrtriosis – Ovarium : gangguan pada ovulasi. kista ovarium no plastik .

Etiologi Infertilitas disengaja Suami: Istri: •Coitus interruptus •Menggunakan salep a/ obat •Condom •IUD •Sterilisasi (vasektomi) •Pil oral •Injeksi •Sterilisasi .

Infertilitas tidak disengaja Suami: Istri: •Gangguan spermatogenesis •Gangguan ovulasi. canalis servikalis. kelainan tuba. hypospadia. kelainan endokrin. (sprti: impotensi. . karena kelainan ovarium necrospermia) : mis karena a/ gangguan hormonal. sprti dlm vagina. penutupan duktus endometriosis. •Kelainan mekanis yg •Kelainan mekanis sehingga menghalangi sperma tdk dpt dikeluarkan ke pembuahan. oligospermia. stenosis deferens. mis (aspermia. ejakulasi dini. phimosis).

Infertilitas yg Kuman penyebab: brhubungan dgn • GO infeksi: • Non-GO • Chlamydia trachomatis • Ureoplasma urealitikum .

Epididimitissumbatan epididimis. prostatitissumbatan duct ejaculatorius.coli  pe↓ motilitas spermatozoa. •Candida albicans  azoozpermia. Patofisiologi infertilitas pd pria akibat infeksi •TBC  epididimitis & orkhitis  spermatogenesis ↓ & sterilitas. . astenozoospermia. tergantung penyebab. •GO epididimitis (penyebab umum)  menyerang cauda epididimis & proximal duct deferen  menimbulkan squale  obstruksi. & aglutinasi Analisis semen •Lekositospermia •Motilitas spermatozoa me↓ •Konsentrasi spermatozoa me↓ •% morfologi abN spermatozoa me↑ Terapi Antibiotik/antivirus. •Virus mumps  scra lgsg menyerang testis  –Kerusakan sel spermatogenik  azoospermia (irreversible) –Testis bengkak  nekrosis  atrofi testis •Epididimitis biasanya diikuti o/ vesikulitis & prostatitis. •E.

virus) Mikoplasma) – Sindrom Asherman  keadaan – Imunologis & idiopatik menempelnya • Ovarium: permukaan/mukosa uterus pasca Kista ovarii & Perlekatan kuretase OK kuret yg >>. – Endometritis (TBC. TBC. – Tumor hipogonadism – Pasca radang perlengketan. Lokasi etiologi infertilitas pd wanita • Axis hipotalamus-hipofisis. – Genetik • Serviks: – G3 ovarium – Stenosis serviks • Uterus: – Radang (Candida. • Tuba: ovarium: Sumbatan. mis – Menopause OK GO. OK: – Tumor hipofise – Endometriosis – Keadaan hipogonadotropik. Trichomonas. – Myoma uteri .

.anatomis sal reproduksi (co/ stenosis tuba. Kegagalan implantasi OK – Kelainan kromosom hipermotilitas organ reproduksi. Kualitas ovum/oosit jelek: hambatan spermatozoa: perkembangan pd meiosis I/II  oosit – Infeksi tdk dpt dibuahi. – Infeksi yg dpt membunuh embrio 5. G3 ovulasi  anovulasi 6. – Kel. G3/hambatan pertemuan ovum & 2. Kegagalan perkembangan lebih lanjut embrio/janin setelah implantasi. Keadaan yg dpt – Peristaltik organ reproduksi merusak/membunuh meningkat spermatosit/ovum 7. Mekanisme terjadinya infertilitas 1. btk uterus abN) 3. Embrio/blastosis tdk berkembang 4.

Pemeriksaan VT: pembentukan progesteron menimbulkan perubahan2 pd sel2 superfisial. Pemeriksaan hormon sprti estrogen & pregnandiol . Pemeriksaan lendir serviks: adanya progesteron  lendir serviks menjadi lebih kental. c. Pencatatan suhu basal dlm suatu kurva: siklus ovulatoar  suhu basal bersifat bifasis. Sesudah ovulasi  terjadi kenaikan suhu basal disebabkan pengaruh progesteron. Pemeriksaan ovulasi: a. d. Pemeriksaan & pengobatan 1. b.

Fk. 2.psikogenik. 3. . SSP: tumor. peny kronis. disfx hipofisis. Fk. fk. disfx. Fk. peny metabolis.• Sebab-sebab gangguan ovulasi: 1. Ovarial: tumor-tumor. disfx hipotalamus. Intermediate: gizi.

Pil oral. terapi pengganti hormon. c. maka dpt diusahakan: a. operasi. b.• Pengobatan: tergantung etiologi. Kalau terdpt disfx kel. maka pembuatan gonadotropin hipofisis dihambat. Karena pil oral mengandung estrogen & progesteron. Terapi pengganti hormon: FSH & LH.hipofisis. maka dpt berupa diet. Merangsang hipofisis utk membuat FSH & LH dgn memberikan Clomiphen .

Bentuk abN : 25% Pria yg fertil spermatozoanya : 60 juta/cc atau > subfertil : 20-60 juta/cc steril : 20 juta/ cc atau < Sebab kemandulan pd pria: gizi. .2. kelainan traktus genitalis. Pemeriksaan sperma Ejakulat yg normal sifatnya sbb: Volume : 2-5 cc Jumlah spermatozoa : 100-120 juta/cc Pergerakan : 60% dari spermatozoa msh bergerak selama 4 jam stlh dikeluarkan. disfx hipofisis. peny metabolis.

perlu diperiksa 17 ketosteroid. • Terapi: 1. Hormonal: Testosteron . Human Menopausal Gonadotropin (khasiatnya sprt FSH). Gestyltesto (kombinasi gestyl yg bersifat gonadotropin & testosteron). Operatif . merokok & minum alkohol dikurangi. 3. & biopsi testis. istirahat yg cukup. Umum: higienis umum. gonadotropin dlm urine.• Utk penilaian lbh lanjut. pengobatan peny kronis & metabolik 2.

spermatozoa dpt hidup lebih lama. . Kentalnya lendir serviks Lendir cerviks yg cair lbh mudah dilalui spermatozoa. a. b. pH lendir serviks Lendir serviks bersifat alkalis dgn pH ± 9. Suasana menjadi asam pd cervicitis.proliferasi  lendir serviks agak cair krna pengaruh estrogen. Lendir serviks: keadaan & sifat lendir serviks sgt mempengaruhi keadaan spermatozoa.sekresi  lendir serviks lbh kental krna pengaruh progesteron. Pd stad.3. Pd stad. Pd suasana alkalis.

Berbagai kuman dlm lendir serviks dpt membunuh spermatozoa. . e. Dlm lendir serviks jg dpt ditemukan Ig yg dpt menimbulkan agglutinasi spermatozoa. Enzym proteolytik: trypsin & chemotrypsin mempengaruhi viscositas lendir serviks. d.c.

Sperma cukup baik .• Baik tdknya lendir serviks diperiksa dgn: 1. Sims huhner test: pemeriksaan lendir serviks dilakukan post coitum sekitar waktu ovulasi. Lendir serviks N . Estrogen ovarial cukup . Sims huhner yg baik menandakan: . Teknik coitus yg baik .

2. . 1 tetes lendir serviks diletakkan berdampingan dgn tetes sperma pd objekglass. • Terapi: estrogen a/ antibiotika. Kalau tdk ada invasi spermatozoalendir serviks kurang baik. Kurzrock miller test: dilakukan pd pertengahan siklus ovulasi kalau hasil Sims Huhner test kurang baik. dilihat apakah ada penetrasi spermatozoa.

Hal ini dpt kita ketahui dgn stetoskop yg diletakkan kiri a/ kanan uterus. btk dari lubang tuba & jika ada sumbatan  tmpt sumbatan jelas nampak. Pemeriksaan tuba – Pertubasi (insuflasi) secara Rubin: CO2 dimasukkan ke dlm cavum uteri & tuba. . Pd HSG disuntikan cairan kontras ke dlm uterus. tuba namapak sprti benang halus tanpa pelebaran. – Hysterosalpingografi (HSG): Dpt mengetahui btk cavum uteri. Kalau tuba patengas akan keluar dari ujung tuba. gas yg keluar menimbulkan bunyi yg khas.4. kemudian dibuat foto rontgen  kalau N maka batas2 cavum uteri rata.

Endometrium tdk bereaksi thdp progesteron 2. – Kuldoskopi: dpt melihat keadaan tuba & ovarium – Laparoskopi: dpt melihat keadaan genitalia interna & sekitarnya.sekresi. maka: 1. Pemeriksaan endometrium Pd hari pertama haid dilakukan mikrokuretase.sekresi. Endometrium N harus memperlihatkan gambaran histologik yg khas utk stad. Produksi progesteron kurang Terapi: progesteron & jika ada tanda2 infeksi  antibiotika . 5. Kalau tdk ditemukan stad.

Kelebihan estrogen 3. Hipertiroid 7. Hipogonadotropisme 2. Hipotiroid 6. Hiperprolaktinemia 5. Kelebihan androgen 4. Diabetes mellitus .Etiologi Infertilitas(pretestis) pada Pria (8%) 1.

Infeksi 6.Etiologi Infertilitas(testis) pada Pria (79. Varikokele 7. Genetik . Radiasi: 600-800 rad (berefek dg sterilitas permanen) 3. Tumor 8. Kriptorkhismus 2. Mumps orkhitis 4.9%) 1. Gonadotoksin 5.

Etiologi Infertilitas(di luar testis) pada Pria (12. Gangguan motilitas spermatozoa 2. Sumbatan saluran reproduksi .3%) 1.

Etiologi Infertilitas(Lain-Lain) pada Pria • Gangguan spermatogenesis • Gangguan transportasi spermatozoa dan kelenjar aksesori • Gangguan disfungsi ereksi • Gangguan ejakulasi • Gangguan sanggama dan fungsi spermatozoa .

true hermaprodite. dll. hipospadia. prostatitis. Faktor psikologi: impotensia 3. dll 6. Faktor endokrin: andorgen insensitivity. Faktor genetik: Klenifelter syndrome(xxy). . Faktor-Faktor Infertilitas pada Pria 1. orkhitis. hipogonadism. super male(xyy). trauma. Faktor urologi sdan infeksi: varikokele. epispadia. Faktor imunologis: ASA 2. dll 5. Faktor ultra struktur: kelainan membran akrosom 4. psudo hermaprodite.

Pemeriksaan umum(tensi. ASA. biopsi testis. Pemeriksaan khusus(analisa hormon. Diagnosis Infertilitas Pria 1. testis. dll) 2. nadi. dll) 3. Pemeriksaan laboratorium(kimia darah. anlaisa kromosom. dll) . analisis sperma. dll) 4. urine. Pemeriksaan fisik(skrotum.

Teknologi bantu reproduksi (fetilisasi in vitro): 1. Penanganan Infertilitas 1. FIV conventional 3. GIFT(Gamet Intra Fallopian Transfer) 2. ICSI(Intra Citoplasmic Sperm Injection( . Inseminasi intra uterine (dg teknik IBS atau IBD) 3. Obati sesuai penyebabnya 2.

Nilai N analisis sperma berdasarkan kriteria WHO Kriteria Nilai rujukan N Volume 2 ml atau lebih Waktu likuefaksi Dalam 60 menit pH 7.2 atau lebih Konsentrasi sperma 20 juta per mililiter atau lebih Jumlah sperma total 40 juta per ejakulat atau lebih Lurus cepat (gerakan yg progresif dalam 25% atau lebih 60 menit setelah ejakulasi) Jumlah antara lurus lambat dan lurus 50% atau lebih cepat Morfologi normal 30% atau lebih Vitalitas 75% atau lebih yg hidup Lekosit Kurang dari 1 juta per ml .

Terminologi dan Definisi Analisis Sperma Berdasarkan Kualitas Sperma Terminologi Definisi Normozoospermia Ejakulasi N sesuai WHO Oligozoospermia Konsentrasi sperma < drpd nilai rujukan WHO Astenospermia Konsentrasi sperma dg motilitas < drpd nilai rujukan WHO Teratozospermia Konsentrasi sperma dg morfologi < drpd nilai rujukan WHO Azospermia ⱡ didapatkan sel sperma dalam ejakulat Aspermia ⱡ didapatkan ejakulat Kristospermia Jumlah sperma sangat sedikit yg dijumpai setelah sentrifugasi .

Pemeriksaan Infertilitas Dasar di Pusat Pelayanan Kesehatan Primer Jenis Kelamin Jenis Pemeriksaan Waktu pemeriksaan Perempuan LH Fase Folikularis awal (hari ke 3-4) FSH TSH Prolaktin Pagi hari sebelum pukul 9 Testoteron Kecurigaan hiperandrogenisme SHBG Serologi rubela Walaupun sudah imunisasi Pap smear Lelaki Analisis sperma Sete.ah abstinensia 2-3 hari .

orkidopeksi Kemoterapi atau radioterapi Riwayat pembedahan urogenital Variokel Riwayat IMS . ovarium.Indikasi Rujukan ke Pusat Layanan Infertilitas Sekunder dan Tersier Jenis Kelamin Indikator rujukan Perempuan Usia>35 tahun Riwayat KE sebelumnya Riwayat kelainan tuba Riwayat pembedahan tuba. uterus dan daerah panggul lainnya Menderita endometriosis Gangguan haid seperti amenorea atau oligomenorea Hirsutisme atau galaktore Kemoth/ Lelaki Testis andesensus.

LO 2 Penyakit Radang Panggul (PID) .

parametria dan peritoneum panggul) • Kurang Lebih 15%  PID setelah tindakan biopsi endometrium. kuretase. histeroskopi dan insertsi AKDR • 85% lainnya  karena infeksi spontan pd perempuan usia reproduksi yg secara seksual aktif (N.• PID  Infeksi pd alat genital atas (endometrium. miometrium. Gonorrhoeae dan C. Trachomatis) . tuba fallopi. ovarium.

Trachomatis) • Pemakaian IUD/AKDR . Faktor Risiko PID • Banyak pasangan seks • IMS (o/ N. Gonorrhoeae dan C.

Gejala PID • Nyeri abdominopelvik (gejala paling sering) • Keluarnya cairan vagina atau perdarahan • Demam dan menggigil • Mual • Disuria .

Kriteria diagnosis • Nyeri gerak sekrviks • Nyeri tekan uterus • Nyeri tekan adneksa (ketiga dari gejala ini harus ada) .

3 C • Cairan servik atau vagina ⱡ N mukopurulen • Leukosit ↑↑↑ • LED ↑ • CRP ↑ • Dokumentasi lab infeksi serviks o/ N. trachomatis . Gonorrhoeae atau C. Kriteria tambahan diagnosis • Suhu oral >38.

Kriteria diagnosis PID paling spesifik meliputi: • Biopsi endometrium disertai bukti histoPA endometritis • USG transvaginal atau MRI  tubo menebal penuh berisi cairan dengan atau tanpa cairan bebas di panggul atau kompleks tubo-ovarial atau pemeriksaan Doppler menyarankan infeksi panggul (misal hiperemi tuba) • Hasil laparoskopi yg konsisten dengan PID .

crampy. Unsafe Sex. Diagnosa .Anamnesa • Wanita (menstruasi). Multiple sex partner. Nausea. • Pengguna IUD • Toxic Symptom of fever (>38C). Vomit. <25thn. Unaticipated Vaginal bleeding. • Severe Pelvic and Abdominal pain (dull. . bilateral. serta ada dyspareunia • Abdominal vaginal discharge. • Biasa timbul sekitar 10 hari setelah mens (N gonorrhea PID) • Umur muda saat berhubungan. constant) diperparah dengan pergerakan.

Diagnosa - PF
CDC menyarankan agar kriteria diagnose PID sebagai:
• semua wanita muda (aktif sex), dengan atau tanpa nyeri
pelvis dan abdominal bawah, tanpa tanda khusus
penyakit lain,
• PF ditemukan (min 1):
– Cervical Motion Tenderness
– Uterine Tenderness
– Adnexal Tenderness
• Demam (>38.3C)
• Duh Tubuh Vagina (mucopurulent)

• u/ pasien PID ringan atau sedang  RJ
Di rawat inapkan jk ada:
 Kedaruratan bedah (misal apendisitis)
 Pasien sedang hamil
 Pasien ⱡ memberi respon klinis thd AM oral
 Pasien ⱡ mampu mengikuti atau menaati pengobatan RJ
 Pasien menderita sakit berat, mual dan muntah atau
demam tinggi
 Ada abses tuboovarial

Th/ PID
• Tujuan:
 Mencegah kerusakan tuba (akibat: KE dan
infertilitas)
 Mencegah infeksi kronik
• Pemilihan Ab  sesuai dg organisme etiologik utama
(N. Gonorrhoeae dan C. Trachomatis) tetapi juga harus
mengarah pd sifat polimikrobial PID
• u/ PID ringan atau sedang  th/ parenteral paling tidak
selama 48 jam kemudian dilanjutkan dg th/ oral 24 jam
setelah ada perbaikan klinis

. Pemeriksaan Penunjang • Laparoscopic • Regular STI test • Pewarnaan Gram • Histopatologic exam: – Tanda Endometritis – Penebalan Tuba falopi • Gynecologic Ultrasound – Penemuan tubo-ovarian comple yang edema dan dilatasi striktur pelvis tanpa batas jelas .

Laparoscopy "Violin-string" adhesions of chronic Fitz-Hugh-Curtis syndrome. .

. finding is compatible with hydrosalpinx. Transabdominal USG Transabdominal ultrasonogram shows anechoic tubular structures in adnexa.

Endovaginal USG Endovaginal ultrasonogram reveals tubular structure with debris in left adnexa. finding is compatible with pyosalpinx. .

. Transabdominal USG Ultrasonogram shows markedly heterogeneous and thickened endometrium. finding is compatible with endometritis.

finding is compatible with tubo-ovarian abscess. Transabdominal USG Ultrasonogram reveals bilateral complex masses in patient who had pyometrium. .

finding is compatible with air in endometrium and endometritis. Additionally. bilateral complex masses are present. . Transabdominal USG Transabdominal ultrasonogram demonstrates echogenic region within endometrium with dirty shadowing. finding is compatible with tubo-ovarian masses.

finding is compatible with pyosalpinx. . Endovaginal Ultrasonogram Endovaginal ultrasonogram reveals tubular structure with debris in left adnexa.

DDx • Appendicitis • Ectopic Pregnancy • Septic Abortion • Hemorrhagic / Ruptured Ovarian cyst or tumor. • Twisted / Torsion Ovarian • Degeneration of a Myoma • Acute Enteritis • Adnexal Tumors .

maka kemungkinan pasien tersebut PID sangat tipis (umunya nyeri dibawah 7 hari). • Bila setelah mendapat pengobatan setelah 48-72 jam masih timbul gejala. maka disarankan melakukan laparoscopy untuk mencari penyebab lain. • Bila sakit lebih dari >3 minggu. DDx (2) • Pemeriksaan test kehamilan harus dilaksanakan untuk menghindari kemungkinan Ectopic Pregnancy. .

prognosis baik sangat mungkin terjadi. . • Bila infeksi awal berasal dari Rahim bagian bawah. tetapi efek oleh infeksi dapat menetap permanen. atau Ovarium maka dapat terjadi prognosis yang lebih buruk. • Bila infeksi mengenai tuba falopi. Prognosis • Umumnya PID dapat sembuh.

Prognosis (2) • 3 Principal Complication of PID: • Chronic Pelvic Pain • Infertility • Ectopic Pregnancy .

LO 3 abortus .

• Pengelompokan Abortus provokatus secara lebih spesifik: • Abortus Provokatus Medisinalis/Artificialis/Therapeutic : abortus yang dilakukan dengan disertai indikasi medik. 2. Dilakukan oleh tenaga kesehatan yang memiliki keahlian dan kewenangan untuk melakukannya (yaitu seorang dokter ahli kebidanan dan penyakit kandungan) sesuai dengan tanggung jawab profesi. hukum. 4. 3. 6. yang ditunjuk oleh pemerintah. Dilakukan di sarana kesehatan yang memiliki tenaga/peralatan yang memadai. Harus ada persetujuan tertulis dari penderita atau suaminya atau keluarga terdekat. Di Indonesia yang dimaksud dengan indikasi medik adalah demi menyelamatkan nyawa ibu. 5. psikologi). Syarat-syaratnya: • 1. Aspek Medikolegal • Abortus provokatus jenis abortus yang sengaja dibuat/dilakukan. . agama. Dokumen medik harus lengkap. Harus meminta pertimbangan tim ahli (ahli medis lain. Prosedur tidak dirahasiakan.

• Ada beberapa alasan wanita tidak menginginkan kehamilannya: • * Alasan kesehatan. * Masalah sosial. di mana ibu sendiri sudah enggan/tidak mau untuk punya anak lagi. * Alasan psikososial.• Abortus Provokatus Kriminalis. janin cacat. menambah anak berarti akan menambah beban ekonomi keluarga. Biasanya pengguguran dilakukan dengan menggunakan alat-alat atau obat-obat tertentu. * Kehamilan di luar nikah. * Selain itu tidak bisa dilupakan juga bahwa kegagalan kontrasepsi juga termasuk tindakan kehamilan yang tidak diinginkan. * Masalah ekonomi. di mana ibu tidak cukup sehat untuk hamil. . misalnya khawatir adanya penyakit turunan. * Kehamilan yang terjadi akibat perkosaan atau akibat incest (hubungan antar keluarga). aborsi yang sengaja dilakukan tanpa adanya indikasi medik (ilegal).

.Akibat Abortus Provokatus Kriminalis Pada ibu: • Perforasiàperdarahan dan peritonitis • Luka pada serviks uteri • Pelekatan pada kavum uteri • Perdarahan • Infeksi • Pada janin: • Kematian • Cacat fisik • Secara garis besar tindakan abortus sangat berbahaya bagi ibu dan juga janin yaitu bisa menyebabkan kematian pada keduanya.

• Abortus atas indikasi medik ini diatur dalam • Beberapa pasal yang terkait adalah : • * KUHP pasal 299. 7 tahun 1984 tentanf menghapus diskriminasi pada wanita. 348. 349 tentang larangan pengguguran kandungan. 23 tahun 1992. * UU RI No. • Pasal 77c : kebebasan menentukan reproduksi • Pasal 80 : dokter boleh melakukan aborsi yang aman. 346.Aspek Hukum dan Medikolegal Abortus Povocatus Criminalis • Abortus buatan atau abortus provokatus: • Abortus provocatus therapeticus. * UU RI No. 1 tahun 1946 menyatakan aborsi merupakan tindakan pelanggaran hukum. karena alasan yang sangat mendasar untuk melakukannya adalah untuk menyelamatkan nyawa ibu. . 347. pasal 15 : abortus diperbolehkan dengan alasan medis. * UU RI No.

Apabila ditinjau dari Human Rights (HAM) : o Setiap manusia berhak kapan mereka bereproduksi o RUU pasal 7 : berhak menentukan kapan dan jumlah reproduksi. o RUU Kesehatan pasal 63 .

• Penjelasan Pasal 7c KODEKI : Abortus Provokatus dapat dibenarkan dalam tindakan pengobatan/media • Pasal 10 KODEKI : Dokter wajib mengingat akan kewajibannya melindungi hidup tiap insane . • Bunyi lafal sumpah dokter : Saya akan menghormati setiap hidup insane mulai dari pembuahan.Aspek Etika Kedokteran • Bunyi lafal sumpah dokter : Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui dari pasien bahkan hingga pasien meninggal.

.

ETIOLOGI • Faktor genetik • Faktor lingkungan • Faktor anatomi • Faktor hormonal • Penyakit autoimun • Faktor hematologi • Infeksi .

PATOFISIOLOGI Perdarahan dalam desidua basalis Nekrosis jaringan sekitar Hasil konsepsi terlepas sebagian/seluruhnya Benda asing Uterus kontraksi .

• Pada kehamilan 8-14 minggu plasenta tidak dilepaskan sempurna  perdarahan. . • Pada kehamilan > 14 minggu yang dikeluarkan ialah janin kemudian plasenta. PATOFISIOLOGI • Pada kehamilan < 8 minggu hasil konsepsi keluar seluruhnya.

MACAM ABORTUS Perdarahan + Kehamilan < 20 M Dilatasi serviks Pengeluaran sebagian hasil konsepsi Pengeluaran komplit hasil konsepsi Pengeluaran hasil konsepsi terhalang os. Uteri eks IUFD (<20M) > 8M Abortus spontan >3x berturut2 Abortus + infeksi .

.

.

•Ostium uteri tertutup • ± 2 minggu : No sexual •hasil konsepsi masih •Uterus membesar sesuai activity Iminens dalam uterus. •Hasil konsepsi keluar uterus mengecil -> transfusi dari uterus perdarahan sedikit Kompletus •Berat janin < 500 g •hCG -> (+) hingga 7-10 hr setelah abortus . sama sekali •Spasmolitik • tanpa dilatasi serviks. •Mulas lebih sering & kuat •Pengeluaran hasil •Usia kehamilan < 20 M. •Anemia : sulfas ferosus. umur kehamilan •USG •hCG->(+) •Hasil konsepsi masih baik dalam kandungan •Perdarahan uterus. •Perdarahan ↑ konsepsi •Dilatasi serviks ↑. Pembesaran uterus sesuai umur kehamilan Gerak jantung janin masih jelas / mulai abnormal •Usia kehamilan < 20 M •Ostium uteri menutup. •hCG -> (+) •Kehamilan > 12 minggu : •hasil konsepsi masih •USG : (+) uterotonika Insipiens dalam uterus. •Mulas sedikit atau tidak •Tirah baring •usia kehamilan < 20 M.MACAM DEFINISI DIAGNOSA PENGELOLAAN ABORTUS •Perdarahan uterus .

MACAM DEFINISI DIAGNOSA PENGELOLAAN ABORTUS •Usia Kehamilan < 20 •Perdarahan -> dapat •Syok : NaCl fisiologik / M masif --> syok & tidak cairan Ringer + transfusi •Sebagian hasil berhenti sebelum sisa •Kuretase konsepsi telah keluar hasil konsepsi keluar •Uterotonika dari kavum uteri •VT : •Antibiotik •Masih ada yang Kanalis servikalis terbuka Inkompletus tertinggal Teraba jaringan dalam •Berat janin < 500 g kavum uteri / menonjol pada ostium uteri eksternum •Kematian janin •Bisa didahului tanda Usia kehamilan < 12 M. bila •Usia kehamilan < 20 M abortus imminens memungkinkan: •Janin tidak dikeluarkan •hCG --> (-) •Dilatasi serviks selama 8 M atau lbh •USG : •Kuretase Pengecilan uterus Usia kehamilan 12 – 20 M : ( > 14 M – 20M ) • Induksi (Oksitosin. Pg) Gambaran fetus yg tidak •Kuretase Missed ada kehidupan Hipofibrinogenemia : •> 4 M : •Transfusi darah segar atau hipofibrinogenemia fibrinogen Pascatindakan : •Uterotonika + Antibiotika .

MACAM DEFINISI DIAGNOSA PENGELOLAAN ABORTUS •Abortus spontan •Anamnesis Imunologik : • 3x atau lebih Keluhan banyak lendir dari •transfusi leukosit atau •Berturut-turut vagina heparin Inkompetensia Inkompetensia seviks : Etiologi : •Triwulan II : pembukaan •operasi pengecilan •Imunologik (sistem serviks tanpa disertai mules ostium uteri internum TLX) •Ketuban menonjol --> pecah (12M / >) •Inkompetensia serviks ↓ Habitualis •Idiopatik •Timbul mules Idiopatik •Pengeluaran janin •Perbaiki keadaan umum (hidup. sempurna internum uteri > 8mm •Istirahat cukup banyak •Jangan olahraga & koitus •Keluarnya hasil •Serviks membesar •Dilatasi serviks dengan konsepsi dari uterus •Di atas ostium uteri busi Hegar •Dihalangi ostium uteri eksternum teraba jaringan •Kuretase Abortus eksternum Servikalis •Berkumpul dalam kanalis servikalis .normal) •Pemberian makanan •Di luar kehamilan -> os.

MACAM DEFINISI DIAGNOSA PENGELOLAAN ABORTUS Infeksious : •Anamnesis •Perhatikan •Abortus keseimbangan cairan •Infeksi pada organ •Panas tinggi tubuh genitalia •Tampak sakit & lelah •Antibiotik (pre & pasca •Takikardia tindakan) Septik : •Perdarahan •Pembiakan darah & • (+) penyebaran /vaginam yg berbau getah serviks Infeksiosus. kuman atau toksin •Uterus membesar & •Kuretase ke dalam peredaran lembut •Uterotonika Septik darah tubuh •Nyeri tekan •Tetanus : injeksi ATS & (septikemia) atau •Leukositosis irigasi kanalis vagina/ peritoneum uterus dengan H2O2 (peritonitis) Sepsis & syok : ------> histerektomi total •Lelah •Panas tinggi •Menggigil •TD ↓ .

RUBELLA HERPES SIMPLEX TORCH CMV TOXOPLASMA .

TOXOPLASMA .

.

demam. blurred vision. MANIFESTASI KLINIK • Inapparent — subklinikal  biasanya asimptomatik • Apparent (10-20 %) — tidak spesifik – Generalised tox — flue like illness . blindness . korioretinitis. korioretinitis – Exanthematous tox — generalised maculopapular erythramatous patches – Ocular tox — nyeri di mata. photophobia. fatigue. generalised lymphadenopathy (retroperitoneal. liver and spleen enlargement) – Neurological tox — esefalopati. lemah. retinitis. scotoma ("blind spot"). malaise – Lymphatic tox — demam.

platelet. TOKSOPLASMOSIS KONGENITAL • Isolasi positif di plasenta menunjukkan infeksi neonatus • Diagnosis prenatal umumnya dilakukan pada usia kehamilan 14-27 minggu – Kordosentesis dengan tuntunan USG – Pembiakan darah janin – Pemeriksaan tambahan  enzim liver. leukosit dan limfosit .

KLASIFIKASI – Asimptomatik (inapparent) • 60% of infected • may suffer from Long Term Sequella up to 90 percent of infected babies appear normal at birth. seizures and other problems. Those who survive sometimes suffer from mental retardation. 80 to 90 percent will develop sight-threatening eye infections months to years after birth. • more likely if mother infected in 1st/2nd Trimester • Severe damage to fetus = stillbirth or abortion . jaundice (yellowing of the skin and eyes). an enlarged liver and spleen. These newborns often have severe eye infections. cerebral palsy. severely impaired eyesight. pneumonia and other problems. Some die within a few days of birth. About 10 percent will develop hearing loss and/or learning disabilities – Simptomatik • 40% of infected--About one in 10 infected babies has a severe Toxoplasma infection that is evident at birth.

a similar drug. PENATALAKSANAAN • DOC : Spiramycin / Pyrimethamine + Sulfadiazine • Treatment pyrimethamine (Daraprim) + sulfadiazine . To counter the possible effects of pyrimethamine on the bone marrow.trimethoprim-sulfamethoxazole • pyrimethamine plus folinic acid • dapsone + pyrimethamine • Treatment of Infected Newborns : Pyrimethamine and sulfadiazine  prevent or reduce the disabilities associated with toxoplasmosis . another drug called leucovorin (folinic acid) is given along with pyrimethamine • Prophylaxis  TMP-SMX .side effects( skin rashes and leukopenia ) • Spiramycin alone before 26 weeks – pyrimethamine + clindamycin or dapsone Clindamycin. is often substituted for sulfadiazine in patients with sulfa allergy NB : Pyrimethamine can cause low blood counts in some people.

hanya saja bercaknya sedikit lebih kasar • Trimester I  kelainan bawaan (sindrom rubella kongenital) • Kelainan bawaan  defek jantung. katarak. retinitis dan ketulian • Infeksi pada trimester I memberikan pilihan untuk aborsi • Kepastian infeksi dinyatakan pada konversi dari IgM negatif menjadi positif dan meningkatnya IgG secara bermakna • Kadar IgM dapat dibuktikan dengan darah tali pusat . RUBELLA • Dikenal sebagai german measles menyerupai campak.

TANDA & GEJALA • Maculopapular rash • Lymphadenopathy • Fever • Arthropathy (60% kasus) .

13-16 weeks deafness and retinopathy 15% after 16 weeks normal development. slight risk of deafness and retinopathy . Spontaneous abortion occurs in 20% of cases. FAKTOR RISIKO Preconception Minimal risk 0-12 weeks 100% risk of fetus being congenitally infected resulting in major congenital abnormalities.

Diabetes Mellitus. Transient low birth weight. meningoencephalitis. diabetes mellitis. haemolytic anemia pneumonitis. Many other abnormalities had been described and these are divided into transient. pulmonary valvular stenosis. thrombocytopenic purpura bone lesions. cataract. permanent and developmental. thyroid disorders. Heart Defects (peripheral pulmonary stenosis. severe myopia) Other Defects (microcephaly.CONGENITAL RUBELLA SYNDROME Classical triad consists of cataracts. Mental retardation. ventricular septal defect) Eye Defects (retinopathy. thyroid disorder . hepatosplenomegaly. and sensorineural deafness. hepatitis. patent ductus arteriosus. microopthalmia. heart defects. glaucoma. lymphadenopathy Permanent Sensorineural deafness. dermatoglyptic abnormalities Developmental Sensorineural deafness.

DIAGNOSIS Diagnosis of acute infection • Rising titres of antibody (mainly IgG) • Presence of rubella-specific IgM • ELISA .

IgM is usually absent or only present transiently at a low level . Typical Serological Events following acute rubella infection Note that in reinfection.

CMV • Termasuk golongan virus herpes DNA • Penularan berlangsung secara: – Horizontal melalui droplet infection dan kontak dengan air ludah dan air seni – Vertikal  proses infeksi maternal ke janin – Hubungan seksual .

PATOGENESIS • Infeksi primer ( asimtomatik dan simtomatik)  infeksi laten disertai multiplikasi virus  pd individu dng supresi imun krn HIV. obat2 an. atau keganasan  infeksi rekuren (reaktivasi/reinfeksi)  menekan limfosit sel T  stimulasi antigenik yg kronis .

non primer  ibu hamil dengan keadaan seropositif dan endogenus . Infeksi CMV pada kehamilan • Kehamilan < 16 minggu  kerusakan yg serius • Infeksi CMV kongenital : eksogenus ( primer  ibu hamil dng pola imunologik seronegtif.

hepatosplenomegali dan kalsifikasi intrahepatik . DIAGNOSIS • Diagnosis pranatal – Dilakukan pada ibu beresiko pada umur kehamilan 20 minggu – 70% kasus janin # terinfeksi – Terminasi kehamilan merupakan satu-satunya terapi intervensi jika terapi antiviral tidak memberikan hasil yang memuaskan – Dilakukan dengan PCR dan isolasi virus dari cairan ketuban dengan amniosentesis – USG  oligohidroamnion. ventrikulomegali serebral. gangguan pertumbuhan janin. mikrosefali. polihidroamnion. asites janin. hidrops non imun. kalsifikasi intrakranial.

PENATALAKSANAAN – Terapi diberikan guna mengobati infeksi CMV yang serius seperti retinitis. valaciclovir – Dapat dipertimbangkan terminasi kehamilan . cidofivir. esofagitis pada penderita dengan AIDS serta tindakan proflaksis untuk mencegah infeksi CMV setelah transplantasi organ – Pengobatan  ganciclovir. foscarnet.

HERPES SIMPLEX VIRUS .

Hepatitis dan HIV .

Hepatitis • Penilaian klinik : – Demam tinggi yang menetap hingga 2 mgg yang kemudian diikuti dengan ikterus – Mual. muntah. diare – Pem fisik : nyeri epigastrik dan hepatomegali – Reaksi imunologik terhadap antigen virus hepatitis • Transmisi ke janin dapat melalui transplacental. defisit cairan. dan kontak langsung . pusing. ASI. nafsu makan menurun.

Jenis Resiko Potensial Virus Ibu anak • Hepatitis B Hepatitis kronis Antigenemia persisten. glukosa dan curcuma rhizoma • Penatalaksanan neonatal • Upayakan partus pervaginam . Serologik • Diet rendah lemak. lakukan pem. neoplasma hepatoseluler primer •Hepatitis A Hepatitis berat Hepatitis neonatorum •Hepatitis C Perlemakan hati Subklinik hepatitis Tatalaksana • Rawat inap dan tirah baring • Isolasi pasien. Sirosis hepatis nekrosis hepatis. tinggi KH dan protein • Rehidrasi apabila terjadi defisit cairan • Berikan vit K.

HEPATITIS B • Infeksi akut  hepatitis fulminan  mortlaitas ↑ pd ibu dan janin • Dpt abortus dan PPP k/ g3 pembekuan darah ak/ g3 fungsi hati. • Fktr predisposisi penularan vertikal – titer DNA-VHB ↑ pd ibu (mkIn ↑titer mkin ↑ kmgknan bayi tertular) – infeksi akut pd Trim III – Persalinan lama – Mutasi VHB • Pencegahan – hindari hub sex dan pemakaian alat dr pengidap – Skrining HBsAg pd ibu hamil – Imunisasi  HBIG + vaksin HB – vaksinasi HB bg semua tenaga kesehatan . • Jk tjd penularan vertikal  60-90% mjd pengidap kronik VHB dan 30% mjd Ca hati dan sirosis hati pd 40-60thn kmd k/ pd bayi mslhnya tjd masa dewasa.

2. pascapersalinan  3.Titer DNA-VHB ↑ ibu hepatitis fulminan persalian ↑ pada ibu dan bayi. Pembekuan jangan dibiarkan lama.Persalinan lama dengan trauma sekecil 4. hati khususnya ibu dengan HBsAg+ Bayi : neonatus tidak •Menyusui bayi tidak menimbulkan masalah masalah  dewasa. . Infeksi Virus (Virus Hepatitis B) •Infeksi akut pada •Faktor predisposisi Penanganan: kehamilan : hepatitis penularan vertikal: •Pada infeksi akut VHB dan fulminan mortalitas 1.Mutasi VHB mungkin Ibu : menimbulkan •Pencegahan : •Pada ibu hamil dengan viral abortus dan 1.Infeksi akut pada tims 3 pervaginam usahakan 3.Imunisasi •Persalinan sebaiknya gg. darah akibat fs.Kewaspadaan universal Load ↑ HBIG atau terjadinya 2.Skrining HBsAg ibu lamivudin pada 1-2 bulan perdarahan hamil sebelum persalinan.

HEPATITIS VIRUS • Dua jenis hepatitis virus penting dalam pembahasan infeksi pada kehamilan : – Hepatitis B. penting karena jenis hepatitis ini berpotensi berkembang menjadi hepatitis fulminan (hepatitis berat) bila terjadi pada kehamilan. dianggap penting karena berpotensi transmisi vertikal ke janin. . maupun transmisi ke petugas medis – Hepatitis E.

Terjadi infeksi virus secara kebetulan (co-insidensi)  lebih sering terjadi .HEPATITIS VIRUS • Patofisiologi .Hepatomegali .BAK berwarna seperti air teh . ibu sudah menderita hepatitis virus  risiko mortalitas ibu meningkat • Tanda dan gejala .Sebelum hamil.sklera berwarna kuning (ikterik) .

SGPT dan bilirubin serum . meliputi – istirahat yang cukup – pemberian suplemen – obat anti viral (misal lamivudine pada hepatitis B) .SGOT.HEPATITIS VIRUS • Diagnosis .Pemeriksaan penanda virus • Prinsip pengobatan pasien hepatitis virus bersifat suportif.

hidrop nonimun • Varisela-Zoster – Trimester I => korioretinitis. hidronefrosis. atrofi korteks serebri. perdarahan pasca persalinan • Demam Dengue – Kematian janin intrauterin. pada saat persalinan terjadi trombositopenia . kelainan tulang dan kulit • Virus Hepatitis – Abortus. Infeksi Virus • Parvovirus – Dampak pada janin => abortus.

000 – 50.000 kopi RNA/ ml atau CD4 menurun drastis • Berikan nutrisi dengan nilai gizi yang tinggi. terutama konsentrasi virus 30. atasi infeksi opotunistik . HIV Gejala • Gangguan kekebalan tubuh Transmisi • Dari ibu ke janin • Transplasenter • Saat persalinan • ASI (jarang) Diagnosis • Pemeriksaan serologik dengan metode ELISA & Western Blot Pengobatan • Penapisan dilakukan sejak ANC • Lakukan terapi AZT sesegera mungkin.

partus preterm dan abortus spontan • Diagnosis  antibodi virus mulai dpt dideteksi kira2 3-6 bulan sesudah infeksi. Pemeriksaan konfirmasi menggunakan Western blot (WB) cukup mahal. • Kelainan pd janin  BBLR.Infeksi HIV dan AIDS • AIDS adalah sindroma dg gejala penyakit infeksi oportunistik atau kanker tertentu akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh o/ infeksi HIV • Transmisi HIV dari ibu kepada janin dapat terjadi intrauterin (5-10%). dan pascapersalinan (5-20%). . bayi lahir mati. saat persalinan (10-20%). sebagai pengganti melakukan 3 pemeriksaan ELISA sebagai tes penyaring memakai reageb & teknik berbeda.

denyut nadi. & suhu badan. Penisilin 10-20 juta IU & Streptomisin 2 g. Penatalaksanaan Di RS: • Rawat pasien di ruang khusus u/ kasus infeksi. TD. • Berikan Antibiotik IV. • Pasang Kateter Folley u/ pantau produksi urin. • Pantau ketat keadaan umum. • Infus cairan NaCl fisiologis atau RL disesuaikan kebutuhan cairan. kecepatan 6-8 liter per menit. • Oksigenasi bila diperlukan. .

• Perforasi – Dapat terjadi terutama pada uterus dalam posisi hiperretrofleksi. . • Syok – Syok pada abortus bisa terjadi karena perdarahan dan karena infeksi berat. KOMPLIKASI • Perdarahan – Perdarahan dapat diatasi dengan pengosongan uterus dari sisa konsepsi atau dengan tranfusi darah. – Jika ada tanda bahaya perlu dilakukan Laparotomi.

Kesimpulan kasus • Pasien mengalami perdarahan saat kehamilan (abortus imminens) .

kesimpulan .

. Saran • Lakukan pemeriksaan penunjang untuk mencari tahu etiologi ataupun penegakan diagnosis.