You are on page 1of 39

REFERAT

OBAT
ANTIPSIKOTIK
ATIPIKAL

OLEH:
Dwi Mishelia

PEMBIMBING:
Dr.Lucy M. Bangun Sp.KJ.
PENDAHULUAN
Antipsikotik Atipikal (AAP), yang juga dikenal sebagai antipsikotik generasi kedua (APG II ),
adalah kelompok obat penenang antipsikotik digunakan untuk mengobati kondisi jiwa.

Atipikal karena obat ini golongan obat ini sedikit menyebabkan reaksi ekstrapiramidal (EPS =
extrapyramidal symptom ) yang umum terjadi dengan obat antipsikotik tipikal (APG I)

Sejak ditemukan klozapin pada tahun 1990, pengembangan obat baru golongan atipikal ini
terus dilakukan. Hal ini terlihat dengan ditemukannya obat baru yaitu risperidon, olanzapin,
zotepin, ziprasidon dan blonanserin yang telah digunakan sebagai obat antipsikotik atipikal
baru di Jepang serta Korea.

Huafang L, Chen Y, Jianguo S, Fude Y, et. al., (2015).


TINJAUAN PUSTAKA

DEFINISI

Antipsikotik adalah sekelompok bermacam-macam obat yang menghambat


reseptor dopamin tipe 2 (D2)

Indikasi utama untuk pemakaian obat adalah terapi skizofrenia dan


gangguan psikotik lainnya.

Antipsikotik tipikal memblok reseptor D2, efektif untuk terapi gejala


positif (halusinasi, delusi), efek terbatas pada gejala negatif (afek tumpul,
menarik diri).

Antipsikotik atipikal afinitas tinggi terhadap reseptor 5-HT2A dan D2, efektif
untuk terapi gejala positif dan gejala negatif.
INDIKASI PENGGUNAAN

Sindrom Psikosis

Hendaya berat dalam Hendaya berat dalam


kemampuan daya menilai Hendaya berat dalam fungsi kehidupan sehari-
realitas (reality testing fungsi-fungsi mental, hari, bermanisfestasi
ability), bermanifestasi bermanifestasi dalam dalam gejala: tidak
dalam terganggunya gejala POSITIF dan gejala mampu bekerja, menjalin
awareness, judgment, NEGATIF hubugan sosial, dan
insight melakukan kegiatan rutin.
JENIS-JENIS ANTIPSIKOTIK

• Antipsikotik Generasi I (APG I) = Tipikal


(Dopamine D-2 receptor antagonist).
– Fenotiazine (low potency)
– Non Fenotiazine (high potency)

• Antipsikotik Generasi II (APG II) = Atipikal


(Serotonin-dopamine antagonist).
Dopamin Pathways

• Mesokortikal Pathways (Gejala


positif)
• Mesolimbik Pathways (Gejala
negatif)
• Tuberoinfundibular Pathways
(hiperprolaktinemia)
• Nigrostriatal Pathways
(EPS dan Tardive diskinesia)

Stahl SM. Psychopharmacology of Antipsychotic.United Kingdon : Martin Dunitz Ltd.2008.


Mekanisme kerja
Antipsikotik atipikal (AAP) mempunyai
mekanisme kerja melalui interaksi astara
serotonin dan dopamin pada ke 4 jalur dopamin
di otak. Hal ini menyebabkan efek samping EPS
lebih rendah dan efektif untuk mengatasi gejala
negatif
ANTIPSIKOTIK TIPIKAL ANTIPSIKOTIK ATIPIKAL

HANYA MEMBLOK RESEPTOR D2 MEMBLOK RESEPTOR D2 DAN


RESEPTOR 5HT2
Kerja obat AAP pada dopamin pathways

1. Mesokortikal pathways
AAP memblokade reseptor D2 dan reseptor
5HT2A shg terjadi keseimbangan dopamin dan
serotonin.
AAP pada mesokortikal lebih berpengaruh thd
reseptor 5HT2A drpd reseptor D2. akibatnya
jumlah dopamin yang dikeluarkan lebih banyak
shg defisit dopamin di mesokortikal berkurang
dan menyebabkan perbaikan gejala negatif
2. Mesolimbic pathways
AAP pada jalur ini lebih berpengaruh terhadap
D2 daripada 5HT2. Sehingga pada pada
keadaan ini AAP pada jalur ini berfungsi untuk
memperbaiki gejala positif. Pada keadaan
normal serotonin akan mengahmbat pelepasan
dopamin
3. Tuberoinfundibular pathways
AAP pada jalur ini lebih berpengaruh terhadap
reseptor 5HT2 daripada D2. Dopamin akan
menghambat pelepasan prolaktin sedangkan
serotonin akan meningkatkan pelepasan
prolaktin.

Akibat reseptor 5HT2 dihambat,menyebabkan


pelepasan dopamin meningkat sehingga
pelepasan prolaktin menurun.
4. Nigrostriatal pathways
AAP lebih berpengaruh terhadap reseptor
5HT2 daripada D2 sehingga dopamin yang
dilepas lebih banyak sehingga akan
mengurangi terjadinya kejadian EPS
Keuntungan AAP / APG II (antipsikotik
generasi II)
1. APG II lebih kecil menyebabkan terjadinya EPS
daripada APG I
2. APG II dapat mengurangi gejala negatif dan tidak
memperburuk gejala negatif seperti pada
pemberian APG I
3. APG II menurunkan gejala afektif dari skizofrenia
dan sering digunakan untuk pengobatan depresi
dan gangguan bipolar yang resisten
4. APG II menurunkan gejala kognitif pada pasien
skizofrenia
CLOZAPINE
Merupakan APG II yang pertama dikenal, kurang
menyebabkan EPS tidak menyebabkan tardive
diskinesia dan tidak terjadi peningkatan prolaktin.
Clozapine merupakan gold standard pada pasien
yang telah resisten terhadap antipsikotik lainnya.
Dibandingkan antipsikotik lain, clozapine menunjukan
efek dopaminergik rendah tetapi dapat mempengaruhi
fungsi dopamin pada jalur mesokortikal dan mesolimbik
yang berhubungan dengan fungsi emosional dan mental
yang lebih tinggi.
Clozapine efektif untuk mengontrol gejala-gejala psikosis dan
skizofrenia yang positif ataupun negatif. Efek yang
bermanfaat terlibat dalam waktu 2 minggu diikuti perbaikan
secara bertahap pada minggu-minggu selanjutnya.

Selain itu,resiko efek samping EPS yang sangat rendah obat


ini cocok untuk pasien yang menunjukan gejala EPS berat
bila diberikan antipsikosis lain. Namun karena clozapine
memiliki efek agranulositosis yang lebih tinggi, maka
penggunaannya dibatasi pada pasien resisten atau tidak
dapat mentolerasni antipsikosis lain. Pasien yang diberi
clozapine harus dipantau sel darah putih setiap minggu.
RISPERIDONE
Risperidone merupakan APG II dengan rumus kimia
benzosixazole yang diabsorpsi di usus dan tidak
dipengaruhi oleh makanan dan efek teurapetiknya terjadi
dalam dosis rendah dan pada dosis tinggi dapat terjadi
EPS.
Pemakaian risperidone yang teratur dapat mencegah
terjadinya kekambuhan dan menurunkan jumlah dan
lama perawatan sehingga baik digunakan untuk
pemeliharaan.
Risperidone dapat memperbaiki skizofrenia yang gagal
diperbaiki oleh APG I.
Metabolisme risperidone sebagian besar terjadi di hati oleh
enzim CYD 2D6 menjadi 9-hydroxiriperidone dan sebagian
besar oleh enzim CYP 3A4. hydroxiriperidone mempunyai
potensi besar terhadap reseptor dopamin. Eksresi utama oleh
urin.
Metabolisme risperidone dihambat oleh fluoxetine dan
paroxetine karena menghambat enzim CYP 2D6 sehingga
dosis yang diberikan dikurangi untuk mengindari toksik.
Metabolisme dipercepat dengan pemberian carbamazepin
karena menginduksi CYP 3A4 sehingga perlu peningkatan
dosis risperidone pada pemberian bersama carbamazepin
karena kadar dalam plasma rendah.
OLANZAPINE
Merupakan golongan dibenzodiazepine dan absorpsi tidak
dipengaruhi oleh makanan.
Waktu paruh dicapai dalam waktu 5-6 jam setelah pemberian
sedangkan dengan intramuskular dicapai dalam waktu 15-45 menit
dengan waktu paruh 30 jam sehingga pemberian cukup 1 kali
sehari.
Olanzapine dimetabolisme di sitokrom P450 CYP 1A2 dan 2D6.
metabolisme akan meningkat pada penderita yang merokok dan
menurun bila diberikan dengan antidepresan fluoxamine.
Afinitas lemah pada sitokrom P450 hati sehingga pengaruhnya
terhadap metabolisme obat lain reendah dan pengaruh obat lain
minimal terhadap konsentrasi olanzapine
Eliminasi waktu paruh dari olanzapine memanjang pada
penderita usia lanjut. Clearance 30% lebih rendah pda wanita
dibanding pria hal ini membedakan efektifitas dan efek
samping pada pria dan wanita sehingga perlu dosis yang lebih
rendah pada wanita. Clearance olanzapine meningkat 40%
pada perokok sehingga perlu dosis yang lebih.

Indikasi olanzapine untuk penderita skizofrenia dengan gejala


positive dan negative, episode manikdan pencegahan
kekambuhan gangguan bipolar.
QUETIAPINE
merupakan golongan dibenzodiazepine yang absorpsinya
cepat setelah pemberian oral. Konsentrasi plasma puncak
didapat setelah 1,5 jam setelah pemberian. Dimetabolisme di
hati pada pada jalur sulfoxidation dan oksidasi menjadi
metabolit tidak aktif dan waktu paruhnya 6 jam.

Quetiapine merupakan antagonis reseptor serotonin dan


dopamin. Clearance quetiapine menurun 40% pada usia lanjut
sehingga perlu dosis yang lebih rendah dan menurun 30%
pada penderita yang mengalami gangguan hati. Clearance
meningkat jika diberikan berbarengan dengan obat
fenitoin,carbamazepine dan ketakonazole.
Quetiapine dapat memperbaiki gejala positif, negtatif, kognitif
dan mood. Dapat juga memperbaiki gejala psikosis yang tidak
membaik dengan APG I. pemberian pertama denga
quetiapine perlu dilakukan titrasi dosis untuk mencegah
hipotensi postural. Dimulai dengan dosis 50 mg perhari
selama 4 hari kemudian dinaikan 100 mg perhari selama 4
hari kemudian 300 mg setelah itu dosis efektif 300-450
mg/hari.
ARIPIPRAZOLE
Antipsikotik generasi baru yang bersipat partial agonis pada
reseptor dopamin dan serotonin.
Aripiprazaole bekerja sebagai dopamin sistem stabilizer yang
artinya menghasilkan signal transmisi dopamin yang sama
pada keadaan hiper atau hipodopaminergik karena pada saat
hiperdopaminergik akan berikatan dengan reseptor dopamin
sehingga menggeser fungsi dopamin.
Ariprazole dimetabolisme di hati melalui isoenzim P450 pada
CYP 2D6 dan CYP 3A4 menjadi dehydro-ariprazole. Afinitas ini
mirip dengan ariprazole pada reseptor dopamin dan berada
pada plasma darah sebesar 40%.
Waktu paruh berkisar 75 jam sehingga cukup pemberian satu
kali sehari. Absorpsi manecapai kadar puncak dalam waktu 3-
5 jam setelah pemberian oral. Ariprazole sebaiknya diberikan
setelah makan terutama pada penderita dispespsia mual dan
muntah.
PRINSIP PENGOBATAN
“Start low, Go slow”
Mencapai optimal response with minimal side effect
• Onset efek primer (efek klinis) sekitar 2 – 4 minggu
• Onset efek sekunder (efek samping): sekitar 2 – 6 jam.
• Waktu paruh : 12 – 14 jam (pemberian obat 1-2 x perhari)

• Mulai dengan “dosis awal” sesuai dengan “dosis anjuran”, dinaikkan


setiap 2-3 hari  “dosis efektif” (mulai timbul peredaran Sindrom
Psikosis)  dievaluasi setiap 2 minggu dan bila perlu dinaikkan 
“dosis optimal”  dipertahankan sekitar 8-12 minggu (stabilisasi) 
diturunkan setiap 2 minggu  “dosis maintenance” 
dipertahankan 6 bulan sampai 2 tahun (diselingi “drug holiday” 1-2
hari/minggu)  tapering off (dosis diturunkan tiap 2-4 minggu) 
stop.

Muslim R. Panduan Praktis Penggunaan Klinis Obat Psikotropik.Edisi ketiga. Jakarta : Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK- Unika Atmajaya.Ba
b 3. 2007.
Lama Pemberian
• Untuk pasien dengan serangan Sindrom Psikosis yang “multi
episode”, terapi pemeliharaan (maintenance) diberikan paling
sedikit selama 5 tahun. Pemberian yang cukup lama ini dapat
menurunkan derajat kekambuhan 2,5 – 5 kali.
• Pada umumnya pemberian obat anti-psikosis sebaiknya
dipertahankan selama 3 bulan sampai 1 tahun setelah semua
gejala psikosis mereda sama sekali. Untuk “Psikosis Reaktif
Singkat” penurunan obat secara bertahap setelah hilangnya
gejala dalam kurun waktu 2 minggu – 2 bulan.
• Oleh karena itu pada penggunaan bersama obat anti-psikosis +
antiparkinson, bila sudah tiba waktu penghentian obat, obat
antipsikosis dihentikan lebih dahulu, kemudian baru menyusul
obat antiparkinson.
Muslim R. Panduan Praktis Penggunaan Klinis Obat Psikotropik.Edisi ketiga. Jakarta : Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK- Unika Atmajaya.Ba
b 3. 2007.
Spasme otot yang perlahan dan 1-5 hari Antikolinergik, antihistamine,
Distonia akut
terus-menerus: krisis, trismus,
protusi, opistotonus
Perasaan tidak nyaman, gelisah 5-60 hari Kurangi dosis atau ganti obat;
Akatisia
dan merasa harus selalu antihistamine atau propanolol
menggerak- gerakkan tungkai,
terutama kaki

Bradikinesia, rigiditas, macam- 5-30 hari Turunkan dosis atau ganti obat, jika
Parkinsonisme
macam tremor, wajah topeng, tidak bisa, dapat diberikan
suffling gait antikolinergik, dopamine
agonis, muscle relaxant
Sindroma Rigiditas, hiperpireksia, Beberapa hari, Hentikan obat segera; muscle
Neuroleptik berkeringat dan peningkatan nadi, bisa juga relaxant atau dopamine agonis
Maligna tekanan darah tidak stabil, beberapa dapat menolong, I-dopa 2x100 mg
peningkatan hitung sel darah minggu
putih, kreatinin fosfokinase,
enzim hati, mioglobin plasma, dan
mioglobinuria
Diskinesia Diskinesia mulut-wajah; Setelah Antikolinergik, benzodiazepin
tardif koreoatetosis atau distonia berbulan-bulan
meluas atau bertahun (memburuk dg penghentian)

Tremor periorl Obat antiparkinson sering


Tremor perioral pengobatan Bertahun-thn
sdrm kelinci menolong
Efek samping yang sering timbul dan tindakan mengatasinya

• Hipotensi Ortostatik pada waktu perubahan posisi tubuh (efek


alfa adrenergic blockade). Tindakan mengatasinya dengan injeksi
Nor- adrenaline (Nor-epinephrine) sebagai “alfa adrenergic
stimulator”. Berikan 1 ampul, 4 mg/4cc dalam infus 1000 ml
dextrose 5% dengan kecepatan infus 2-3cc/menit.
• Menimbulkan gejalan Ekstrapiramidal/Sindrom Parkinson.
Tindakan mengatasinya dengan tablet Trihexyphenidyl (Artane) 3-
4x 2 mg/hari, Sulfas Atropin 0,50-0,75 mg (IM).

Muslim R. Panduan Praktis Penggunaan Klinis Obat Psikotropik.Edisi ketiga. Jakarta : Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK- Unika Atmajaya.Ba
b 3. 2007.
Interaksi Obat

• Antipsikosis + Antipsikosis lain = potensi efek samping obat dan


tidak ada bukti lebih efektif (tidak ada sinergis antara 2 obat
anti-psikosis). Misalnya, Chlorpromazine + Reserpine =
potensiasi efek hipotensif.
• Antipsikosis + Antidepresan trisiklik = efek samping
antikolinergik meningkat (hati-hati pada pasien dengan hipertrofi
prostat, glaukoma, ileus, penyakit jantung).
• Antipsikosis + anti-anxietas = efek sedasi meningkat,
bermanfaat untuk kasus dengan gejala dan gaduh gelisah
yang sangat hebat (acute adjunctive therapy).

Muslim R. Panduan Praktis Penggunaan Klinis Obat Psikotropik.Edisi ketiga. Jakarta : Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa
FK-Unika Atmajaya.Bab 3. 2007.
Interaksi Obat

• Antispikosis + ECT= dianjurkan tidak memberikan obat anti-


psikosis pada pagi hari sebelum ECT (Electro Convulsive
Therapy) oleh karena angka mortalitas yang tinggi.
• Antipsikosis + antikonvulsan = ambang konvulsi menurun,
kemungkinan serangan kejang meningkat, oleh karena itu
dosis antikonvulsan harus lebih besar (dose-related). Yang
paling minimal menurunkan ambang kejang adalah obat anti-
psikosis Haloperidol.
• Antipsikosis + Antasida = efektivitas obat anti- psikosis menurun
disebabkan gangguan absorpsi.

Muslim R. Panduan Praktis Penggunaan Klinis Obat Psikotropik.Edisi ketiga. Jakarta : Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa
FK-Unika Atmajaya.Bab 3. 2007.
Pemilihan Obat
Pada dasarnya semua obat anti-psikosis mempunyai efek pri
mer (efek klinis) yang sama pada dosis ekivalen, perbed
aan terutama pada efek sekunder (efek samping ; sedasi, o
tonomik, ekstrapiramidal).
Anti-psikosis Mg. Eq Dosis (Mg/h) Sedasi Oto- Eks.Pir.
nomik

Chlopromazine 100 150 - 1600 +++ +++ ++

Thioridazine 100 100 - 900 +++ +++ +


Perphenazine 8 8 - 48 + + +++
Trifluoperazine 5 5 - 60 + + +++
Fluphenazine 5 5 - 60 ++ + +++
Haloperidol 2 2 - 100 + + ++++

Pimozide 2 2 - 6 + + ++
Clozapine 25 25 - 200 ++++ + -
Zotepine 50 75 - 100 + + +
Sulpiride 200 200 - 1600 + + +

Risperidone 2 2 - 9 + + +
Quetiapine 100 50 - 400 + + +
Olanzapine 10 10 - 20 + + +
Aripiprazole 10 10 - 20 + + +
ANTIPSIKOTIK ATIPIKAL
KESIMPULAN

• Keuntungan yang didapatkan dari pemakaian anti


psikotik atipikal selain efek samping yang minimal
juga dapat memperbaiki gejala negatif seperti
gangguan perasaan (afek tumpul, respons emosi
minimal), gangguan hubungan sosial (menarik diri,
pasif, apatis), gangguan proses fikir (lambat,
terhambat), isi pikiran yang stereotip dan tidak ada
inisiatif, perilaku yang sangat terbatas dan
cenderung menyendiri (abulia).
• Obat antipsikotik atipikal juga dapat memperbaiki
gejala yang berkaitan dengan kognitif dan mood
sehingga mengurangi ketidakpatuhan pasien akibat
pemakaian obat antipsikotik.
DAFTAR PUSTAKA
• Sinaga,RB. Skizofrenia dan Diagnosis Banding. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. 2007.
• Muslim R. Panduan Praktis Penggunaan Klinis Obat Psikotropik.Edisi ketiga. Jakarta :
Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika Atmajaya.Bab 3. 2007. Obat antipsikosis; p.14-22
• Huafang L, Chen Y, Jianguo S, Fude Y, et. al. Comparative study of the efficacy and
safety between blonanserin and risperidone for the treatment of schizophrenia in Chinese
patients: A double-blind, parallel-group multicenter randomized trial. Journal of Psychiatric
Research 69, Elsevier. 2015, p102-109.
• Meltzer HY, Matsubara S, Lee JC. The ratios of 5HT2 and D2 affinities differentiate atypic
and typical antipsychotic drugs. Psychopharmacol Bull. 1989; 25(3):390-2.
• Sadock BJ, Sadock VA. Kaplan & Sadock’s synopsis of psychiatry : Behavioral
sciences/clinical psychiatry.10 th edition. Philadelphia : Lippincott Williams and WOLTERS
Kluwer business.2007.Bab 13.Schizophrenia.;p.467-97.
• Maramis, Willy F. dan Maramis, Albert A. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. 2. Surabaya :
Airlangga University Press, 2009.
• Gan Sulistia, Arozal Wawaimuli. Antipsikosis. Buku Ajar Farmakologi dan Terapi. Jakarta :
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2007.p.161-5
• Stahl SM. Psychopharmacology of Antipsychotic.United Kingdon : Martin Dunitz Ltd.2008.
Bab 6. Beyond the serotonine-dopamine antagonism concept : how individual atypical
antipsychotic differ;p.63-96.
TERIMAKASIH
DI (Delirium Index)
• DI adalah kepanjangan dari Delirium Index, dan merupakan suatu alat untuk
mengukur tingkat keparahan dari gejala delirium.
• Pengukuran ini diadaptasi dari CAM (Confusion Assessment Method), yang terdiri
dari 10 gejala seperti
1. gangguan perhatian,
2. pikiran,
3. kesadaran,
4. orientasi,
5. memori,
6. persepsi,
7. dan aktivitas psikomotor.
• Setiap nilai dimulai dari skala nol (tidak ada) hingga tiga ( parah ), yang menggunakan
kriteria operasional pada setiap nilainya. Hasil ini akan dievaluasi dengan keadaan
pasien secara individu tanpa informasi tambahan dari anggota keluarga, perawat,
atau rekam medis pasien itu sendiri. Total nilai yang didapatkan dari DI ini adalah
21, dengan indikasi semakin tinggi nilai yang didapat menunjukan derajat
keparahan delirium yang semakin besar