You are on page 1of 28

Disusun Oleh

:
Alfi Riski Nadira
(11111001)
Butet Dewi
(11111004)
Dzul Yudaen Ahmad (11111005)
Monalisa Samosir
(11111032)
Nila Nur kucowati (11111037)
Vina Dwi Astuti (11111052)
Wijy Swandani (11111053)

DEFINISI HIPOSPADIA
o Hipospadia adalah suatu kelainan bawaan dimana
meatus uretra eksternus terletak dipermukaan
ventral penis dan lebih ke proksimal dari tempatnya
yang normal pada ujung gland penis. (Duccket, 1986,
Mc Aninch, 1992)
o Hipospadia adalah suatu keadaan dimana terjadi
hambatan penutupan uretra penis pada kehamilan
miggu ke 10 sampai ke 14 yang mengakibatkan
orifisium uretra tertinggal disuatu tempat dibagian
ventral penis antara skrotum dan glans penis. (A.H
Markum,1991 : 257).

.

3. 2. ada beberapa faktor yang paling berpengaruh antara lain : 1. Hal ini biasanya terjadi karena mutasi pada gen yang mengode sintesis androgen. Gangguan dan ketidakseimbangan hormon Hormon yang dimaksud di sini adalah hormon androgen yang mengatur organogenesis kelamin (pria) atau bisa juga karena reseptor hormon androgennya sendiri di dalam tubuh yang kurang atau tidak ada.Penyebabnya sebenarnya sangat multifaktor dan sampai sekarang belum diketahui penyebab pasti dari hipospadia. Lingkungan Biasanya faktor lingkungan yang menjadi penyebab adalah polutan dan zat yang bersifat teratogenik yang dapat mengakibatkan mutasi. Namun. Genetika Terjadi karena gagalnya sintesis androgen. .

1992). Penyebab pasti cacat tidak diketahui tetapi diperkirakan terkait dengan pengaruh lingkungan dan hormonal genetik (sugar. Selanjutnya. yang akan menimbulkan obstruksi parsial out flow ingurin. Hal ini dapat mengakibatkan ISK atau hidronefrosis (kumor. Namun. jika dibiarkan tidak terkoreksi (Jean Weiler Ashwill. 1995).Hipospadia terjadi dari pengembangan tidak lengkap uretra dalam rahim. penempatan ventral pembukaan urethra bisa mengganggu kesuburan pada pria dewasa. 1997) . stenosis pembukaan dapat terjadi. Perpindahan dari meatus uretra biasanya tidak mengganggu kontinensia kemih.

.

Pada tipe ini. . KLASIFIKASI HIPOSPADIA Tipe hipospadia berdasarkan letak orifisium uretra eksternum/ meatus : 1. Pada tipe ini. kadang disertai dengan skrotum bifida. umumnya pertumbuhan penis akan terganggu. Pada tipe ini. 3. yaitu tidak adanya kulit prepusium bagian ventral. meatus terletak antara glands penis dan skrotum. meatus terletak pada pangkal glands penis. proksimal penile. Biasanya disertai dengan kelainan penyerta. Tipe Posterior Posterior yang terdiri dari tipe scrotal dan perineal. Tipe sederhana/ Tipe anterior Terletak di anterior yang terdiri dari tipe glandular dan coronal. dan pene-escrotal. sehingga penis terlihat melengkung ke bawah atau glands penis menjadi pipih. 2. Tipe penil/ Tipe Middle Tipe Middle yang terdiri dari distal penile. meatus uretra terbuka lebar dan umumnya testis tidak turun.

9. 8. Glans penis bentuknya lebih datar dan ada lekukan yang dangkal di bagian bawah penis yang menyerupai meatus uretra eksternus. fasia Buch dan korpus spongiosum tidak ada. yaitu jaringan fibrosa yang mengelilingi meatus dan membentang hingga ke glans penis. 6. Preputium (kulup) tidak ada dibagian bawah penis. 2. menumpuk di bagian punggung penis. Dapat timbul tanpa chordee. Sering disertai undescended testis (testis tidak turun ke kantung skrotum). . 4. Tunika dartos. bila letak meatus pada dasar dari glans penis. teraba lebih keras dari jaringan sekitar. Chordee dapat timbul tanpa hipospadia sehingga penis menjadi bengkok. Kadang disertai kelainan kongenital pada ginjal. MANIFESTASI KLINIS HIPOSPADIA 1. 3. 7. 5. Kulit penis bagian bawah sangat tipis. Adanya chordee.

pada proksimal anastomosis yang kemungkinan disebabkan oleh angulasi dari anastomosis. 3.1. . dimana tidak melakukan ereksi artifisial saat operasi atau pembentukan skar yang berlebihan di ventral penis walaupun sangat jarang. merupakan komplikasi yang sering dan digunakan sebagai parameter untuk menilai keberhasilan operasi. 5. Rambut dalam uretra. Striktur. 6. 2. Edema / pembengkakan yang terjadi akibat reaksi jaringan besarnya dapat bervariasi. yang biasanya dicegah dengan balut tekan selama 2 sampai 3 hari paska operasi. Fitula uretrokutan. terjadi pada pembentukan neouretra yang terlalu lebar. akibat dari rilis korde yang tidak sempurna. juga terbentuknya hematom / kumpulan darah dibawah kulit. atau adanya stenosis meatal yang mengakibatkan dilatasi yang lanjut. Residual chordee/rekuren chordee. 4. Divertikulum. yang dapat mengakibatkan infeksi saluran kencing berulang atau pembentukan batu saat pubertas.

(Kamus Keperawatan halaman 217). Kelainan ini terjadi pada laki-laki maupun perempuan. Ditandai dengan terdapatnya lubang uretra di suatu tempat pada permukaan dorsum penis. o Epispadias merupakan malformasi kongenital dimana uretra bermuara pada permukaan dorsal penis.( Kamus Saku Kedokteran DORLAN edisi 28 halaman 395). . DEFINISI EPISPADIA o Epispadias merupakan kelainan kongiental berupa tidak adanya dinding uretra bagian atas. tetapi lebih sering pada laki-laki.

.

ETIOLOGI EPISPADIA 1. 2. Dapat dihubungkan dengan faktor genetik. 2. Maskulinisasi inkomplit dari genitalia karena involusi menyangkut prematur dari sel intertisial . Idiopatik. lingkungan atau pengaruh hormonal.

.

batuk dan usaha yang berat). Selanjutnya. sehingga kedua bagian klitoris. dengan hanya satu dari 565. anak perempuan dengan epispadias selalu bocor urin stres (misalnya. dalam banyak kasus. Akibatnya. Mereka yang terpengaruh memiliki tulang kemaluan yang dipisahkan untuk berbagai derajat. leher kandung kemih hampir selalu terpengaruh. Hal ini menyebabkan klitoris tidak menyatu selama perkembangan. Biasanya. penis biasanya luas. namun anak laki-laki dengan epispadias. terletak di atas penis. PATOFISIOLOGI EPISPADIA Pada anak laki-laki yang terkena. penis dibagi dan dibuka.000 terpengaruh. dipersingkat dan melengkung ke arah perut (chordee dorsal). Dari posisi yang abnormal ke ujung. meatus terletak di ujung penis. Seolah-olah pisau dimasukkan ke meatus normal dan kulit dilucuti di bagian atas penis. membentuk selokan. Untungnya. perawatan bedah dini dapat menyelesaikan masalah ini. . Sedangkan epispadia pada anak perempuan jauh lebih jarang .

PATHWAY EPISPADIA .

LANJUTAN .

Balanica atau epispadia kelenjar 2. Derajat pemendekan lebih besar dengan meatus uretra terletak dititik variable antara kelenjar dan simfisis pubis. Uretra terbuka sepanjang perpanjangan seluruh hingga leher kandung kemih yang lebar dan pendek. Varian yang lebih parah dan lebih sering. Penopubica epispadia 6. Epispadia penis 4. Adalah malformasi terbatas pada kelenjar. . alur dari meatus di puncak kepala penis. 3. KLASIFIKASI EPISPADIA Tergantung pada posisi meatus kemih dapat diklasifikasikan ke dalam tiga bentuk: 1. 5. meatus terletak pada permukaan. Ini adalah jenis epispadia kurang sering dan lebih mudah ditangani.

Inkontinesia urin timbul pd epispadia penopubis (95%) dan penis (75%) karena perkembangan yang salah dari sfingter urinarius. Radiologis (IVP) 2. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK 1. Terdapat penis yg melengkung ke arah dorsal. Terdapat chordae 4. . tampak jelas pada saat ereksi 3. Uretra terbuka pada saat lahir. Terdapat lekukan pada ujung penis 5. USG system kemih-kelamin.MANIFESTASI EPISPADIA 1. posisi dorsal 2.

Dilakukan pada usia 1 ½ -2 tahun. yang populer adalah tunneling Sidiq-Chaula. dilakukan 1 tahap. serta Perbaikan untuk kosmetik pada penis. Dikerjakan 6 bulan setelah tahap pertama dengan harapan bekas luka operasi pertama telah matang. Teknik Horton dan Devine. Penutupan luka operasi menggunakan preputium bagian dorsal dan kulit penis 3. Tahap kedua dilakukan uretroplasti. Tahap pertama eksisi dari chordee dan bisa sekaligus dibuatkan terowongan yang berepitel pada glans penis. luka ditutup dengan flap dari kulit preputium dibagian sisi yang ditarik ke bawah dan dipertemukan pada garis tengah. Teknik tunneling Sidiq-Chaula dilakukan operasi 2 tahap: 2. 6 bulan pasca operasi. 4. Ada banyak variasi teknik. Setelah uretra terbentuk. PENATALAKSANAAN HIPOSPADIA & EPISPADIA PEMBEDAHAN Tujuan pembedahan : Membuat normal fungsi perkemihan dan fungsi sosial. Uretra dibuat dari flap mukosa dan kulit bagian punggung dan ujung penis dengan pedikel (kaki) kemudian dipindah ke bawah. Penis diharapkan lurus. tapi meatus masih pada tempat yang abnormal. . dilakukan pada anak lebih besar dengan penis yang sudah cukup besar dan dengan kelainan hipospadi jenis distal (yang letaknya lebih ke ujung penis). Teknik Horton dan Devine. 1. lalu dibuat pipa dari kulit dibagian tengah. Dibuat insisi paralel pada tiap sisi uretra (saluran kemih) sampai ke glans. saat parut sudah lunak.

Sikap pasien dengan  Kaji fungsi perkemihan adanya rencana  Adanya lekukan pada ujung pembedahan penis  Melengkungnya penis ke bawah Tingkat kecemasan dengan atau tanpa ereksi Tingkat pengetahuan  Terbukanya uretra pada ventral keluarga dan pasien  Pengkajian setelah pembedahan : pembengkakan penis.ASUHAN KEPERAWATAN HIPOSPADIA & EPISPADIA A. drainage. Pemeriksaan Fisik 2.Pengkajian 1. Mental  Pemeriksaan genetalia Sikap pasien sewaktu  Palpasi abdomen untuk melihat diperiksa distensi vesika urinaria atau pembesaran pada ginjal. . perdarahan. dysuria.

DIAGNOSA KEPERAWATAN HIPOSPADIA & EPISPADIA 1. Kurangnya pengetahuan orang tua berhubungan dengan diagnosa. . Kecemasan orang tua berhubungan dengan prosedur pembedahan 3. Nyeri berhubungan dengan proses pembedahan 2. prosedur pembedahan dan perawatan setelah operasi.

Bantu pasien mengidentifikasikan tidakan kenyamanan yang efektif dimasa lalu seperti distraksi. karakteristik dan faktor yang dapat menambah nyeri.  Tujuan : setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3x24 jam nyeri klien berkurang atau hilang  Kriteria hasil : skala nyeri klien berkurang. dan relaksasi meliputi tindakan sebagai berikut : . klien dapat menggunakan teknik non farmakologi  Intervensi Mandiri : 1. Lakukan penilaian terhadap nyeri. lokasi. RENCANA KEPERAWATAN HIPOSPADIA & EPISPADIA DX 1 : Nyeri berhubungan dengan proses pembedahan. 2.

Gunakan tindakan pengendalian nyeri sebelum nyeri menjadi kebih berat. Bantu klien untuk lebih berfokuspada aktivitas. Laporkan kepada dokter jika tindakan tidak berhasil. Ganti linen tempat tidur 5. Sesuaikan frekuensi dosis sesuai indikasi melalui pengkajian nyeri dan efek samping. Kelola nyeri pascabedah awal dengan pemberian opiat yang terjadwal. 10.4. Berikan perawatan dengan tidak terburu-buru 6. Eksplorasi perasaan takut ketagihan dalam pemenuhab analgesik. 9. Kolaboratif : 1. Libatkan klien dalam pengambilan keputusan 7. 2. . Gunakan pendekatan yang positif untuk mengoptimalkan respons klien terhadap analgesik. 8. 3. bukan pada nyeri dan rasa tidak nyaman.

DX 2 : Kecemasan orang tua berhubungan dengan status kesehatan dan prosedur pembedahan  Tujuan : setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 2x24 jam kecemasan klien dan keluarga berkurang. Kurangi stressor bagi keluarga. mampu menggunakan koping dengan baik. 3.  Kriteria hasil : Klien dan keluarga mampu mengungkapkan cara mengatasi cemas. Libatkan keluarga dalam mengambil keputusan tentang perawatan. . Bina hubungan saling percaya. 4.  Intervensi Mandiri : 1. Buat rencana penyuluhan dengan tujuan realistis. 2.

6. Berikan obat untuk menurunkan kecemasan bila perlu. 7. . Kolaborasi : 9.5. 8. Hargai pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya. Berikan penjelasan yang benar kepada klien dan keluarga tentang semua tindakan. Berikan reinforcement untuk menggunakan sumber coping yang efektif.

identifikasi kemungkinan penyebab. Kaji pengetahuan klien tentang penyakitnya. .DX 3 : Kurangnya pengetahuan orang tua berhubungan dengan diagnosa.  Intervensi Mandiri : 1. perawatan dan pengobatannya tanpa cemas.  Tujuan : setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 2x24 jam pengetahuan klien bertambah  Kriteria hasil : klien mampu menjelaskan kembali tentang penyakit. prosedur pembedahan dan perawatan setelah operasi. Jelaskan tentang proses penyakit. 2.

4. 5. Diskusikan perubahan gaya hidup yang mungkin digunakan untuk mencegah komplikasi.3. Kolaborasikan dengan dokter untuk memberikan penjelasan secara medis. . Jelaskan tentang program pengobatan dan alternatif pengobatan. Kolaboratif: 1. Diskusikan tentang terapi dan pilihannya.

2010.Lita. KamusKeperawatan Sumarwati. Newman. 2000.com. 2012. EGC: Buku Kedokteran. Joanne. Dorlan. Rosdiana. 2011. Nursing Interventions Classification (NIC) edisi 4.blogspot. Kamus Saku Kedokteran Dorlan Edisi 2008. dkk. Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 2009-2011. made. . dkk. Mosby Elsevien: LISA. Askep Hipospadia. Jakarta: EGC. Diakses tanggal 19 Oktober 2013 McCloskey. http://litamanampa.