You are on page 1of 47

II.

FAKTOR KIMIA
DI TEMPAT KERJA

Direktorat Bina Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Tahun 2017

Peraturan Perundangan
1. UU. No.1 tahun 1970, tentang Keselamatan
Kerja.
2. Permenakertrans No.13/MEN/X/2011,
tentang NAB Faktor Fisik dan Faktor Kimia
di Udara Tempat Kerja.
3. TLVs & BEI ACGIH 2011
4. PEL OSHA
5. dll

Topik Bahasan

 Latar belakang timbulnya potensi bahaya faktor kimia
di tempat kerja.
 Pengenalan, pemahaman faktor kimia.
 Rute faktor kimia masuk ke dalam tubuh.
 Potensi bahaya faktor kimia pada proses operasi.
 Evaluasi / pengukuran faktor kimia di LK.
 Nilai Ambang Batas Faktor Kimia.
 Penilaian
 Pengendalian

BENTUK FAKTOR KIMIA

A. PARTIKEL
 DEBU
B. NON PARTIKEL

 UAP LOGAM  GAS

 ASAP  UAP AIR

 KABUT  PELARUT

 AEROSOL

Aktivitas produksi  Tenaga kerja  Mesin  Bahan/material  Lingkungan kerja .

Biologi. ergonomi dan psikologi 6 .POTENSI BAHAYA DI TEMPAT KERJA Faktor fisik. kimia.

 Efisiensi proses tidak 100 %. ceceran dan kebocoran bahan kimia di tempat kerja.Latar belakang timbulnya potensi bahaya faktor kimia di tempat kerja .  Bahan kimia sangat dibutuhkan oleh manusia untuk peningkatan mutu kehidupan.  Masih banyak bahan kimia yg digunakan belum diketahui sifat-sifat bahayanya.  Secara kualitatif dan kuantitatif.  Sering terjadi tumpahan. . . bahan kimia banyak di gunakan untuk keperluan proses produksi.  Akibatnya timbul potensi hazard kimia di tempat kerja. .

Konsekuensi yang dapat terjadi . emisi gas pd proses pembakaran. kegagalan fungsi peralatan. Terjadi pemaparan Faktor Kimia terhadap Lingkungan kerja dan Tenaga Kerja (karena : kebocoran pd sambungan. preparing & loading the raw materials. fitting & closure. . maintenance atau reparasi). Banyak tenaga kerja (nearly all workers) saat ini yang terpapar oleh faktor kimia di tempat kerja. Tindakan yg perlu dilakukan : Perluadanya penanganan terhadap bahan kimia sejak awal s/d akhir proses (mulai raw material s/d limbah yg di hasilkan) . Timbul risiko berupa accident. kronis). gangguan kesehatan pada tenaga kerja (akut. .

ILO • Chemical Suplier. • Literatur. • Diagram alir proses produksi (Flow chart diagram). • Walk Through Observation. • Medical Records. . . . . Chemical Safety Data Sheets (CSDS). • Label kemasan. Recognition of Chemicals Hazard • Hazard Information Material Safety Data Sheets (MSDS).

tekstil. digunakan untuk keperluan sbb:  Pertanian (pupuk. dll)  Farmasi (obat-obatan. pengawet)  Industri bahan kimia. . kosmetika)  Food Additive (penyedap rasa. penemuan jenis baru/tahun 1200 jenis (Amerika Utara). Bahan kimia secara global di produksi 400 juta ton per tahun. . pembasmi hama. . PENGGUNAAN BAHAN KIMIA . dll  Bahan bakar  Konstruksi  Laboratorium dll.

.

Compressed gas 9. Oxidation agents (oksidator) 6. Radioaktif . Reaktif terhadap air 7. Explosive (mudah meledak) 5. Flammable (mudah terbakar) 2. Toxic (beracun) 3. Klasifikasi Bahan Kimia  Berdasarkan sifat bahayanya : 1. Corrosive (korosif) 4. Reaktif terhadap asam 8.

Simbol hazard kimia .

.

Klasifikasi bahan kimia berdasarkan wujudnya 1. uap Padatan Cairan . Gas. Padat (solids) 2. Cair (liquids) Debu Gas uap 3.

Non partikulat Catatan  Partikulat : Titik cairan atau debu yang berukuran halus. berpotensi berada cukup lama di udara. . Klasifikasi Faktor Kimia Berdasarkan Bentuknya 1. mempunyai kecepatan jatuh rendah. diameter 0.  Non partikulat : . dapat berdifusi mengisi seluruh ruangan. wujud dapat di rubah dengan merubah suhu dan tekanan. tidak kelihatan dan berdifusi mengisi seluruh ruangan.02 – 500 mikron.Uap : bentuk gas dari zat yg dalam keadaan normal berbentuk cair.Gas: zat yg tidak mempunyai bangun sendiri. Partikulat 2. .

.  Kabut / mist (butiran halus yang terbentuk pada proses penyemprotan cairan). pada proses pembakaran yg tidak sempurna).  Asap (partikel karbon < 0. Yang tergolong partikulat :  Debu (partikel padat yang terjadi karena kekuatan mekanis atau alami).5 µm bercampur dengan senyawa Hidrokarbon.  Fume (terjadi pada proses peleburan logam).

rasio panjang : lebar adalah 3 : 1. panjang min. 5 µm dan max. 4. Klasifikasi Debu 1.5 – 4 µm) 2. Debu Thoracic (5 – 10 µm). Serat (bentuk karakteristik. 100 µm) . Debu Inhalabel (> 10µm – 100µm). 3.Debu Respirabel (0.

Debu di LK .

misalnya : debu. Injeksi .Rute Faktor Kimia Masuk ke Dalam Tubuh 1. uap. 2. 4. misalnya : gas. Ingestion (melalui mulut). liquid. misalnya : liquid. Absorpsi (melalui kulit). debu. 3. Inhalasi (melalui saluran pernafasan).

Where do the particles lodge? Inhalable -100μ Thoracic .4μ .10μ Respirable .

2. liquid. misalnya : debu. 3. Absorpsi (melalui kulit). Ingestion (melalui mulut). misalnya : liquid. Inhalasi (melalui saluran pernafasan). Rute Faktor Kimia Masuk ke Dalam Tubuh 1. debu. 4. misalnya : gas. Injeksi . uap.

4μ .Where do the particles lodge? Inhalable-100μ Thoracic .10μ Respirable .

Potensi bahaya faktor kimia pada proses operasi 1. Liquid Operation Painting Uap Benzen (v) Spraying Gas Methylene chloride(v) Cleaning Mist Trichloro ethylene (v) Pickling .

2. Hot Operation Tipe Proses Kontaminan Contoh Welding Uap Chromates (p) Chemical Reaction Gas Zn & senyawanya (p) Soldering Mist Mn & senyawanya (p) Melting Fume Oksida logam (p) Molding CO (g) Cadmium oxide (p) Lead (p) .

Pressurized Spraying .3. Solid Operation Tipe Proses Kontaminan Contoh Pouring Dust Semen Mixing Kuarsa (kristal silika bebas) Crushing Fiberglass 4.

5. Shaping Operation Tipe Proses Kontaminan Contoh Cutting Debu Asbestos Grinding Berylium Filling Zinc Milling Lead Moulding Sawing Drilling .

 Untuk perencanaan Alat Pelindung Diri yang sesuai. Evaluasi / Pengukuran Faktor Kimia di Lingkungan kerja Tujuan :  Mengetahui kadar dan jenis faktor kimia di udara tempat kerja.  Kesesuaian dengan standar yang ada (NAB faktor kimia / TLV) ???.  Sebagai dasar perencanaan penyediaan alat kendali atau menilai efektifitas alat kendali.  Sebagai data pendukung pada penyelidikan tentang “Penyakit Akibat Kerja”. .

direct reading. • Binatang percobaan • Alat deteksi (Detektor). • Pengambilan sampel (dianjurkan terutama untuk kadar yang rendah) dan • Analisis laboratorium . Cara Pengukuran Faktor Kimia di LK • Indera manusia (tidak dianjurkan).

Aktif sampling .Dekat Sumber Emisi . .Pasive sampling .Pada Tenaga Kerja (Personal). 6 jam). .  Titik pengukuran : .  Pada Breathing Zone  Tehnik pengukuran : . . AIHA. SNI.  Metoda : NIOSH.Area/Unit Kerja (umum) .Catatan :  Pengambilan sampel (sampling) di lakukan selama 8 jam kerja (NIOSH min.

3. Permissible Exposure Limit Occupational Safety and Health Administration (OSHA). . Threshold Limit Values (TLVs) for Chemical substances 2016 American Conference of Govermental Industrial Hygienist (ACGIH). 2.013/Menaker/2011. seperti : 1.PENILAIAN FAKTOR KIMIA DI LK Membandingkan kadar kontaminan di udara dengan standar yang berlaku. Nilai Ambang Batas (NAB) faktor kimia di udara tempat kerja SE.

Nilai rata-rata dgn mempertimbangkan waktu atau TLV-TWA (Thershold Limit Value -Time Weighted Average) untuk 8 jam kerja/hari. 3. jarak waktu pemaparan pertama dengan terpapar berikutnya harus lebih dari 60 menit. 2. NAB konsentrasi tertinggi (KTD) atauTLV-Ceilling (Konsentrasi tertinggi yang tidak boleh di lampaui setiap saat). Tiga Kategori NAB 1. . NAB pemajanan singkat yg diperkenankan (PSD) atau TLV-STEL (TLV-Short term Exposure Limit) untuk 15 menit (maks. 4x15 menit dalam 8 jam kerja per hari).

5 ppm 2.3 ppm .TLV-STEL 2.TLV-STE - . Benzena (Leukemia) .Contoh 1.TLV-TWA 0. Formaldehide (irritan.TLV-TWA - .5 ppm .TLV-Ceilling 0. cancer) .

Penilaian kontaminan di TWA udara LK (ppm) (ppm) Xylene 132 100 > NAB Methyl Etil 127 200 < NAB Keton N-Hexane 5 50 < NAB .Contoh Penilaian Faktor Kimia di LK Parameter Kadar NAB atau TLV.

Reaksi Alergi d. Asfiksiasi e. Karsinogen f. Efek Reproduksi g. Korosi b. Iritasi c.4. Racun Sistemik . POTENSI BAHAYA BAHAN KIMIA a.

terjadi kerusakan pada organ tubuh dlm jangka waktu yang lama atau menahun. terjadi kerusakan pada organ tubuh dengan pemaparan secara cepat. . Mis : Kulit terbakar.DAMPAK PEMAPARAN KIMIA  Akut ( accut ). pingsan.  Kronis. meninggal.

PEMANTAUAN KESEHATAN • Survailans kesehatan ((health survailans ) • Pemantauan biologik (biological monitoring ) .

 Konsep memiliki ruang lingkup health screening dan early diagnosis.  Diperlukan bila pengujian lingkungan/penilaian risiko melebihi batas aman atau NAB. didukung hsl pengujian lingk. .. SURVAILANS KESEHATAN  Diartikan sebagai pemeriksaan medik fisiologik secara berkala pd pekerja yg terpapar.  Prosedure : status kes. rekaman medik.

sampling. PEMANTAUAN BIOLOGIK Pengukuran dan penilaian berbagai bahan kimia dan metabolismenya dlm jaringan tubuh. > Belum semua ditentukan dosis internalnya. udara pernafasan atau kombinasi nya. analisa. Beberapa pertimbangan : > Merupakan dosis internal dlm tubuh. > Punya keterbatasan. . > Lebih dpt dipercaya dibanding external > Tdk menentukan diagnisis penyakit.

Pengendalian Faktor Kimia di LK 1. Secara Operasional  Eliminasi atau substitusi  Menentukan jarak penanganan  Ventilasi  Personal Protective Equipment (PPE)  Personal Hygiene .

Secara Organisasi  Menjaga kerapihan dan kebersihan  Melakukan monitoring LK  Melakukan pengamatan medis  Pengumpulan catatan  Melakukan edukasi / training  Label. SOP .2. MSDS.

.

Virus dan Protozoa. . Faktor Biologi  Microorganisme yang dapat berinteraksi dengan manusia adalah : Bakteri. Jamur.

Kontak di kulit. Inhalasi (pernafasan) 2. Digesti (pencernaan) 3. . Bahaya faktor Biologi : Menimbulkan infeksi akut/ kronis Parasit dalam tubuh. Menghasilkan toxin atau racun bagi tubuh. Menimbulkan iritasi CARA MASUK BIOLOGICAL AGENTS KE DALAM TUBUH 1. mata. Menimbulkan reaksi alergi. hidung dan mulut.

Gunakan alat pelindung diri .Gunakan peralatan yang bersifat melindungi dari bahaya kontak langsung (safety equipment and facility design) 2. Bekerja/teknik dengan azas kehati – hatian (carefully executed techniques) 4. PENGENDALIAN FAKTOR BIOLOGI 1.Peran pekerja dalam pengendalian bahaya di tempat kerja (worker initiated workplace controls) 3.

serangga. kutu. virus. semut. jamur. luka ataupun penyakit terhadap tubuh manusia. atau enzim yang dapat menimbulkan reaksi alergi. bakteri. protozoa. III. BAHAYA BIOLOGI POTENSIAL Setiap unsur-unsur kehidupan (biologi) seperti debu organik. • Bakteri • Infeksi virus HIV • Debu organis atau jamur pada kain • Butiran-butiran debu • Serangga 46 .