You are on page 1of 110

DISKUSI KOLPOSKOPI

TIM ONKOLOGI JUNI 2018

S
Outline

S Terminologi atau hasil pelaporan Pap smear

S Manajemen hasil Pap smear abnormal

S Manajemen lesi prakanker serviks (berdasarkan hasil PA)

S Indikasi dan cara konisasi

S Cara pemeriksaan kolposkopi dan terminologi kolposkopi
abnormal serta kriterianya
TERMINOLOGI ATAU HASIL PELAPORAN
PAP SMEAR
Terminologi Pap Smear

Nomenklatur Interpretasi/Perubahan Sel Epitel Skuamosa
Pelaporan
Klasifikasi Kelas I: Sel Kelas II: Kelas III: Kelas IV: Kelas V:
Papanicolaou Normal Inflamasi Curiga malignansi Sangat kuat curiga Malignansi
malignansi

Klasifikasi Normal Inflamasi Displasia Displasia Displasia Karsinoma Kanker
Displasia ringan sedang berat in situ
Klasifikasi NIS Normal Atipia NIS 1 NIS 2 NIS 3 Kanker
(Richart)
Klasfikasi Normal ASCUS LSIL HSIL Kanker
Bethesda
Sistem Pelaporan Menurut Papanicolaou

Klasifikasi Papanicolaou (1943)
S Kelas I : Tidak ditemukan sel atipik atau sel abnormal
S Kelas II : Sitologi atipik tetapi tidak ditemukan keganasan
S Kelas III : Sitologi sugestif tetapi tidak konklusif keganasan

S Kelas IV : Sitologi sangat sugestif keganasan

S Kelas V : Sitologi konklusif keganasan
Sistem Terminologi Pelaporan Deskriptif (Reagan 1953)

S Negatif (tidak ditemukan sel ganas)
S Inkonklusif (sediaan tidak memuaskan)
S Displasia (ditemukan sel diskariotik)
S Positif (ditemukan sel ganas)
Sistem Pelaporan Terminologi Neoplasia (Richart 1967)

S Normal

S Atypia

S NIS 1 (displasia ringan)

S NIS 2 (displasia sedang)

S NIS 3 (displasia berat-karsinoma in situ)

S Karsinoma
Sistem Pelaporan Terminologi Bethesda
(The New Bethesda System)

Objektif Pelaporan bersifat
S Memfasilitasi komunikasi S Komunikasi efektif

S Evaluasi adekuasi S Mempermudah korelasi

S Diagnostik deskriptif S Mempermudah penelitian

S Data yang dapat dipercaya
TBS 2001
MANAJEMEN HASIL PAP SMEAR
ABNORMAL
SITOLOGI Papsmear
PAPS

Paps Normal Low Grade SIL
Karsinoma Invasif

High Grade SIL
SITOLOGI ABNORMAL

Sel Skuamosa
ASCUS
Lesi intraepitel derajat rendah
NIS 1 / Displasia ringan
Lesi intraepitel derajat tinggi
NIS 2 / displasia sedang
NIS 3 / displasia tinggi
NIS 3 / karsinoma insitu
Karsinoma Sel Skuamosa
SITOLOGI ABNORMAL

SEL GLANDULER
AGUS
Lesi intraepitel glanduler
Adenokarsinoma insitu
Adenokarsinoma endoserviks
Adenokarsinoma ekstrauterina
Adenokarsinoma yang tidak dapat
ditentukan asalnya
44
MANAJEMEN LESI PRA KANKER SERVIKS
(BERDASARKAN HASIL PA)
PENGOBATAN LESI PRA-KANKER SERVIKS

• HPV : Observasi
Medikamentosa
Destruksi : Krioterapi
Elektrokauterisasi
Elektrokoagulasi
Laser
Eksisi

• Displasia ringan ( NIS 1 ) : Observasi
Destruksi
Eksisi

• Displasia sedang (NIS 2 ) : Destruksi
Eksisi: Diatermi loop

• Displasia keras (NIS 3 ) : Destruksi
55
Eksisi : Konisasi, histerektomi
S
Bagaimana bila didapatkan pelaporan hasil
Tes Pap LGSIL/LIS derajat rendah ?
LGSIL dahulu dilaporkan / sepadan dengan
- Pap III (Papaniculaou)
- Displasia ringan (Reagan)
- NIS (CIN) I (Richart)

Penatalaksanaan LGSIL
1. Follow up Tes Pap 4-6 bulan
2. Langsung dilakukan kolposkopi , bila didapatkan lesi
dilakukan biopsi terarah untuk pemeriksaan patologi anatomi

S
Follow-up hasil sitologi LGSIL tanpa kolposkopi

LGSIL
Ulang Tes Pap
4-6 bulan

Bila hasil Tes Pap Bila hasil
ulang  abnormal/ Tes Pap
SIL normal

Setelah 3 kali
Kolposkopi normal  Tes Pap
annual
Bagaimana bila didapatkan pelaporan hasil
Tes Pap HGSIL/LIS derajat tinggi ?

HGSIL dahulu dilaporkan/sepadan dengan
- Pap III-IV (Papaniculaou)
- Displasia sedang/berat/Ca in situ (Reagan)
- NIS(CIN) II dan III (Richart)

Penatalaksanaan  Langsung dilakukan kolposkopi
untuk biopsi terarah

Hasil Tes Pap HGSIL/NIS II/III  BUKAN merupakan diagnosis untuk dilakukan
tindakan definitif.
S
HGSIL

Kolposkopi

Bila kolposkopi Bila kolposkopi tampak
memuaskan  biopsi lesi dan tidak
terarah untuk memuaskan 
pemeriksaan patologi dilakukan tindakan
anatomi konisasi / LLETZ
ABNORMAL TES PAP
Kolposkopi
Memuaskan Tidak memuaskan

ASCUS HGSIL
ASCUS HGSIL LGSIL
LGSIL
Lesi (-)/ Konisasi
Biopsi (-) & Cold knife/
Biopsi lesi kuret endoserviks loop eksisi/
laser CO2
Ulang kolposkopi
dan pap smir 6-12 bln

HPV/NIS 1 NIS 2 NIS3 Karsinoma

Observasi/ Terapi Terapi Terapi
terapi seperti Krioterapi/ laser vaporasi/ Histerektomi/
NIS 2 laser vaporasi/ loop eksisi Radikal histerektomi/
loop eksisi biopsi konisasi & terapi radiasi
histerektomi

Pemeriksaan pap smir dan kolposkopi dlm 3 bl
Bagaimana bila didapatkan pelaporan hasil
Tes Pap AGUS ?

AGUS  suatu lesi gelanduler/sel kolumner dari endoservik.
Dahulu dilaporkan sebagai Sel Glanduler Atipik

Penatalaksanaan AGUS
Langsung dilakukan kolposkopi untuk biopsi terarah

S
INDIKASI DAN CARA KONISASI
KONISASI SERVIKS

EKSISI berbentuk KERUCUT atau SILINDER dari
serviks uteri yang mencakup ZONA TRANSFORMASI
dan semua atau sebagian dari KANALIS
ENDOSERVIKALIS
Definisi

• Konisasi serviks ialah pengeluaran sebagian serviks
sedemikian rupa sehingga bagian yang dikeluarkan
berbentuk kerucut (konus), dan kanalis servikalis menjadi
sumbu kerucut

• Tujuan: Diagnostik dan Terapi.
KONISASI SERVIKS

TUJUAN
• DIAGNOSIS DEFINITIF
• MENYINGKIRKAN Invasiveness
• Terapi KONSERVATIF NIS / lesi pra kanker serviks

S
Wright TC Jr, Massad LS, Dunton CJ, Spitzer M, Wilkinson EJ, Solomon D. 2006 consensus guidelines for the management of women with cervical intraepithelial
neoplasia or adenocarcinoma in situ. J Low Genit Tract Dis. 2007 Oct. 11(4):223-39. ne]
INDIKASI KONISASI

Rujukan sitologi
Hasil kolposkopi yang tidak menunjukan HSIL dengan
HSIL rujukan sitologi dan
memuaskan pada kolposkopi yang
kolposkopi tidak
konfirmasi biopsi pada memuaskan dan baik tidak
memuaskan
derajat NIS apapun ada identifikasi NIS atau
hanya NIS 1

Positif endoserviks
sampling (misalnya, Lesi mikroinvasif pada
neoplasia dari setiap biopsi serviks
grade)

The American Society for Colposcopy and Cervical Pathology (ASCCP) Guidelines. 2006.
http://www.asccp.org/consensus/cytological.shtml
Konisasi Serviks

KONTRAINDIKASI RELATIF

Bleeding Pasien terpapar < 12 minggu
Kelainan serviks
diathesis/Koagul dengan setelah
meragukan
opati diethylstilbestrol melahirkan

Pasien dengan
Hipermenore Serviks pendek alat pacu Servisitis berat
jantung

S
Wright TC Jr, Massad LS, Dunton CJ, Spitzer M, Wilkinson EJ, Solomon D. 2006 consensus guidelines for the management of women with cervical intraepithelial
neoplasia or adenocarcinoma in situ. J Low Genit Tract Dis. 2007 Oct. 11(4):223-39. [Medline]
Konisasi Serviks

KONTRAINDIKASI ABSOLUT

• KEHAMILAN
• KARSINOMA SERVIKS INVASIF
• TIDAK KOMPETEN

S
Wright TC Jr, Massad LS, Dunton CJ, Spitzer M, Wilkinson EJ, Solomon D. 2006 consensus guidelines for the management of women with cervical intraepithelial
neoplasia or adenocarcinoma in situ. J Low Genit Tract Dis. 2007 Oct. 11(4):223-39. [Medline]
Informed Consent

S
Informed Consent = Persetujuan
Pasca Penjelasan

Komplikasi /
Diagnosis Pilihan Terapi
Efek Samping

Prognosis Follow Up

Soderstrom RM, Brill AI. Principles of electrosurgery as applied to gynecology. Rock JA, Jones HW 3rd. Te Linde's operative gynecology.
10th ed. Philadelphia (PA): Lippincott Williams & Wilkins; 2008. 280-297.
Risiko dan Komplikasi Tindakan

Perdarahan
Perdarahan Stenosis
pasca
intraoperatif serviks
operasi

Luka bakar Nyeri post
Infeksi
atau laserasi tindakan

Inkompetensi
Kekambuhan
serviks
Soderstrom RM, Brill AI. Principles of electrosurgery as applied to gynecology. Rock JA, Jones HW 3rd. Te Linde's operative gynecology.
10th ed. Philadelphia (PA): Lippincott Williams & Wilkins; 2008. 280-297.
Pra-prosedur

S
S
PERSIAPAN PRA-PROSEDUR

Tidak melakukan
douche, berhubungan
Pertimbangkan untuk
seksual, menggunakan
Pembatasan makan dan menghentikan obat-
tampon, atau
minum sebelum tindakan obatan rutin (diabetes
menggunakan obat-
atau pengencer darah)
obatan vagina sebelum
prosedur

Mengosongkan kandung
Obat penghilang nyeri
kemih dan usus

Soderstrom RM, Brill AI. Principles of electrosurgery as applied to gynecology. Rock JA, Jones HW
3rd. Te Linde's operative gynecology. 10th ed. Philadelphia (PA): Lippincott Williams & Wilkins;
2008. 280-297.
PERSIAPAN OPERATIF

S
PERALATAN

S Electrosurgical generator/unit (ESU)

S Loop electrodes dengan ukuran yang sesuai dan elektroda bola untuk fulgurasi

S Electrode handle dan patient return electrode (grounding)

S Nonconductive speculum dengan smoke evacuator

S Smoke evacuator dilengkapi dengan penyaring virus dan penyaring bau yang memadai

S Colposcope dengan magnifikasi rendah (4 - 7.5×)

S Nonsterile gloves
Kim JH, Park JY, Kim DY, Kim YM, Kim YT, Nam JH. The role of loop electrosurgical excisional
S Asam asetat (5%) procedure in the management of adenocarcinoma in situ of the uterine cervix. Eur J Obstet Gynecol
Reprod Biol. 2009 Jul. 145(1):100-3.
PERALATAN

S Larutan lugol S Vaginal sidewall retractor

S Cotton balls dan aplikator besar S Kevorkian endocervical curette

S Ring forceps S Monsel's paste

S Peralatan anestesi (syringe, needle, and S Formalin 10% untuk fiksasi sampel histologi
anesthetic)
S Kontrol perdarahan : 12-inch needle holder dan
S Vaginal sidewall retractor 2-0 Vicryl suture, vaginal pack

S Meja pemeriksaan dengan tinggi disesuaikan

Kim JH, Park JY, Kim DY, Kim YM, Kim YT, Nam JH. The role of loop electrosurgical excisional
procedure in the management of adenocarcinoma in situ of the uterine cervix. Eur J Obstet Gynecol
Reprod Biol. 2009 Jul. 145(1):100-3.
PROSEDUR

Melakukan informed Anjurkan pasien untuk
Siapkan pasien consent (penjelasan mengkonsumsi NSAID 1
sebelum prosedur: prosedur dan surat sampai 2 jam sebelum
persetujuan tindakan) prosedur dilakukan.

Waktu terbaik :
Posisi litotomi segera setelah
yang nyaman menstruasi
berakhir

Kim JH, Park JY, Kim DY, Kim YM, Kim YT, Nam JH. The role of loop electrosurgical excisional procedure in the management of adenocarcinoma in situ of the uterine cervix. Eur J Obstet Gynecol Reprod Biol. 2009 J
145(1):100
Kyrgiou M, Tsoumpou I, Vrekoussis T, et al:The up-to-date evidence on colposcopy practice and treatment of cervical intraepithelial neoplasia: the Cochrane colposcopy and cervical cytopathology collaborative group (
group) approach.. Cancer Treat Rev 2006; 32: pp. 5
PROSEDUR
Memasang return electrode
Pasien diminta untuk tidak grounding pad ke paha pasien, Masukkan spekulum non-
bergerak, batuk, atau dan menghubungkan pad ke konduktif ke dalam vagina,
mengubah posisi selama ESU (atau menempatkan dan menghubungkannya
prosedur eksisi berlangsung. "antena plate" di bawah dengan evakuator asap.
pinggul).

Injeksi 0,5 - 1,5 ml lidokain 2% Oleskan larutan asam asetat,
dengan epinefrin 1: 100.000 Oleskan larutan lugol pada untuk memeriksa serviks
intraservikal (submukosal) serviks dengan bola kapas atau dengan kolposkop, dan
pada area jam 3, 6, 9 dan 12 aplikator besar. mengidentifikasi semua lesi
(total 2 sampai 6 mL) dan zona transformasi.

Pilih loop electrosurgical dengan Pilih pengaturan daya yang
ukuran yang tepat. tepat untuk ESU.

Kim JH, Park JY, Kim DY, Kim YM, Kim YT, Nam JH. The role of loop electrosurgical excisional procedure in the management of adenocarcinoma in situ of the uterine cervix. Eur J Obstet Gynecol Reprod Biol. 2009 J
145(1):100
Kyrgiou M, Tsoumpou I, Vrekoussis T, et al:The up-to-date evidence on colposcopy practice and treatment of cervical intraepithelial neoplasia: the Cochrane colposcopy and cervical cytopathology collaborative group (
group) approach.. Cancer Treat Rev 2006; 32: pp. 5
MEMILIH PENDEKATAN YANG TEPAT
BERDASARKAN UKURAN DAN LOKASI DARI LESI NIS

Untuk lesi kecil terbatas pada ectocervix (LEEP):

Pilih loop elektroda dengan lebar 1,5-2,0 cm dan kedalaman 0,8 cm.

Tempatkan loop beberapa millimeter di lateral tepi lesi NIS, dan lakukan uji coba
untuk memastikan bahwa area bebas.

Tahan loop di atas permukaan, mengaktifkan loop, dan kemudian mendorongnya
tegak lurus, secara bertahap, ke dalam jaringan dengan kedalaman sekitar 4 mm.

Sambil mendorong loop lebih dalam ke stroma serviks untuk kedalaman penuh 8
mm, melalui kanalis endoservikalis.
Kim JH, Park JY, Kim DY, Kim YM, Kim YT, Nam JH. The role of loop electrosurgical excisional procedure
in the management of adenocarcinoma in situ of the uterine cervix. Eur J Obstet Gynecol Reprod Biol.
2009 Jul. 145(1):100-3.
MEMILIH PENDEKATAN YANG TEPAT
BERDASARKAN UKURAN DAN LOKASI DARI LESI CIN

Untuk lesi yang lebih besar terbatas pada ectocervix (LLETZ):

Melakukan eksisi bagian tengah lesi menggunakan loop elektroda
dengan lebar 2 cm.

Kemudian, eksisi NIS yang tersisa, dengan tambahan TZ, lebih
dangkal menggunakan loop elektroda yang sama. Atau, jaringan
yang tersisa menggunakan elektrokoagulasi dan ball electrode.
Kim JH, Park JY, Kim DY, Kim YM, Kim YT, Nam JH. The role of loop electrosurgical excisional procedure
in the management of adenocarcinoma in situ of the uterine cervix. Eur J Obstet Gynecol Reprod Biol.
2009 Jul. 145(1):100-3.
Memeriksa serviks dan
Setelah spesimen telah saluran endoserviks untuk Jika diperlukan, aplikasikan
dipotong, ditempatkan di memastikan bahwa semua lebih banyak asam asetat ke
dalam wadah formalin dan nonstained (dengan Lugol) kanalis endoservikalis dengan
dikirim ke laboratorium dan semua epitel acetowhite kapas berujung.
(AWE) telah dieksisi.

Lakukan ECC diatas dasar Ulangi eksisi, sampai tidak
Hentikan titik perdarahan.
eksisi. ada AWE.

Oleskan pasta Monsel jika
Menulis laporan operasi
diperlukan
Kim JH, Park JY, Kim DY, Kim YM, Kim YT, Nam JH. The role of loop electrosurgical excisional procedure
in the management of adenocarcinoma in situ of the uterine cervix. Eur J Obstet Gynecol Reprod Biol.
2009 Jul. 145(1):100-3.
MANAJEMEN POST PROSEDUR

ANJURKAN PASIEN KONTROL

• Menghindari vaginal intercourse, • 2 sampai 6 minggu setelah prosedur.
douching
• Penggunaan tampon, dan olahraga • 2 minggu
berat (terutama angkat berat) • Membantu menentukan apakah
dihindari selama 3 minggu. pembatasan, seperti coitus, dapat
• Kembali JIKA : dihentikan.
• terjadi perdarahan yang signifikan > • 6 minggu
2 minggu • Untuk memastikan tidak adanya NIS
• adanya gumpalan darah besar residual atau berulang
• discharge berbau busuk/nyeri
panggul yang signifikan.
S
Mossa MA, Carter PG, Abdu S, et al:A comparative study of two methods of large loop excision of the transformation zone.. BJOG 2005; 112: pp. 490.
Kim JH, Park JY, Kim DY, Kim YM, Kim YT, Nam JH. The role of loop electrosurgical excisional procedure in the management of adenocarcinoma in situ of the uterine cervix. Eur J Obstet Gynecol Reprod Biol. 2009 Jul. 145(1):100-3. [Medline].
MANAJEMEN POST PROSEDUR

FOLLOW UP I FOLLOW UP II
• Periksa stenosis serviks • Rencanakan
• Memotivasi pasien untuk • Evaluasi pemeriksaan sitologi
melakukan gaya hidup sehat ulangan : bulan ke-6 & 12
dan mengurangi risiko seperti • Tes DNA HPV untuk yang risiko
tinggi : bulan 6-12
tidak merokok.
• Kombinasi dari sitologi & kolposkopi
: bulan 6 & 12.
• Tempat lokasi konisasi biasanya
sembuh dalam 6 minggu.
S
Mossa MA, Carter PG, Abdu S, et al:A comparative study of two methods of large loop excision of the transformation zone.. BJOG 2005; 112: pp. 490.
Kim JH, Park JY, Kim DY, Kim YM, Kim YT, Nam JH. The role of loop electrosurgical excisional procedure in the management of adenocarcinoma in situ of the uterine cervix. Eur J Obstet Gynecol Reprod Biol. 2009 Jul. 145(1):100-3. [Medline].
CARA PEMERIKSAAN KOLPOSKOPI DAN
TERMINOLOGI KOLPOSKOPI ABNORMAL,
SERTA KRITERIANYA
OUTLINE

S Introduction
S Instrument
S Indication

S Principle

S Advantage

S Disadvantage
1. INTRODUCTION
KOLPOSKOPI  PROSEDUR TANPA NYERI , TIDAK PERLU ANESTESI

KECUALI DILAKUKAN BIOPSI AKAN MENIMBULKAN RASA KRAM

MEMAKAN WAKTU PEMERIKSAAN DAN BIOPSI + 15 MENIT
KOLPOSKOPI
ALAT DIAGNOSTIK VISUAL
INDIKASI : BILA DIDAPATKAN HASIL IVA, TES PAP, SERVIKOGRAFI,
SPEKULOSKOPI ABNORMAL DAN DNA HPV POSITIF

MEMUASKAN BILA SAMBUNGAN SKUAMOKOLUMNER DAN SELURUH
ZONA TRANSFORMASI TAMPAK

EVALUASI LESI PADA SERVIKS , VAGINA DAN VULVA

SARANA DIAGNOSTIK UNTUK BIOPSI TERARAH
 KOLPOSKOPI
 alat bantu yang tidak dapat dipisahkan sebagai
bagian untuk mengevaluasi pasien dengan hasil
tes PAP ABNORMAL
 dapat langsung mengidentifikasi daerah
lesi yang mencurigakan dari servik untuk
dilakukan biopsi terarah
TES PAP ?

- ALAT SKRINING
LESI PRAKANKER DAN
INFEKSI HPV
- BUKAN ALAT DIAGNOSIS

- FALSE NEGATIF 5 - 50%

- FALSE POSITIF 3 - 15%
2. INSTRUMEN KOLPOSKOPI
Instrumen Kolposkopi

KOLPOSKOP :
MIKROSKOP BINOKULER
BERTENAGA RENDAH
PEMBESARAN 4 - 40 KALI
DENGAN CAHAYA
UNTUK MENVISUALISASI
SERVIKS
VAGINA
VULVA
Instrumen Kolposkopi

S Spekulum vagina
S Spekulum serviks
S Forsep biopsi
S Kuret endoserviks
S Bahan kimia
Bahan Kimia & Habis Pakai

S Cairan NaCL

S Asam asetat 3% -5%

S Lugol

S Albothyl – Ag Nitrat – Monsel

S Topikal – lokal anestesi

S Bahan habics pakai
KOLPOSKOP
Alat yang didisain 
Mendapatkan pembesaran
gambaran suatu obyek secara
memadai sesuai kebutuhan
Terdiri dari sepasang binokuler
atau satu seri lensa yang terpasang pada sistim penyangga.

S
Instrumen Kolposkopi
OPTIK
- Jarak fokus lensa obyektif
jarak lensa obyek dengan jaringan target
(jarak kerja antara alat kolposkop dengan
spekulum vagina)
Jarak fokus 250-300 mm
Jarak fokus 300 mm memudahkan operator
Jarak fokus 250 mm cukup untuk biopsi
tetapi tidak untuk peralatan terapi 
cryosurgery, CO2 laser surgery LEEP
Pembesaran ( Zoom)

Kemampuan pembesaran 4 X sampai 25 X
-12 X atau 16X  cukup memadai
- 5 X atau 10X  kelebihan dari
segi klinis
Pembesaran rendah memudahkan dalam
melakukan
- pemeriksaan serviks menyeluruh
- upaya pengumpulan hasil biopsi terarah
- penilaian saat melakukan tindakan terapetik

Pembesaran tinggi (20X atau 40X)
kurang bermanfaat secara klinis
pengamatan lebih cermat
Pengatur Fokus
- Eyepieces
pembesaran 10X atau 20X
terpenting jarak intraokuler harus
disesuaikan dengan pemeriksa 
mudah dan nyaman
-Penerangan  2 sumber cahaya kolposkop

1. Lampu pijar 6-12V/30-50W
2. Lampu halogen Tungsten 
sinar terang
kolpofotografi /videokolposkopi

S
- Perlengkapan Kolposkopi

Peralatan fotografi (Kolpofotografi)
Videokolposkopi
Viewing eyepiece (teaching arm)

- Meja Periksa

> garis pandangan mata setinggi perineum
> posisi pasien setengah duduk dan dapat
memandang pemeriksa
> meja dapat diatur sesuai kebutuhan untuk
mendapatkan posisi paling menguntungkan melihat
anatomi genitalia interna bervariasi
3.INDIKASI KOLPOSKOPI

1. Adanya temuan positif dari pemeriksaan skrining,
tes Pap, IVA, dan HPV-DNA.
2. Lesi serviks yang mencurigakan.
3. Ditemukan Ca invasive pada pemeriksaan sitologi.
4. Temuan sitologi yang tidak memuaskan.
5. Infeksi HPV onkogen
6. Aceptopsitivity pada VIA
7. Positif inspeksi visual dengan Lugol Yodium
INDIKASI KOLPOSKOPI
Keputusan merujuk pasien  KOLPOSKOPI

 berdasarkan hasil tes pap abnormal

Hasil tes Pap bukan merupakan DIAGNOSIS !!!

Diperlukan biopsi terarah  HISTOPATOLOGI

Hasil SITOLOGI-KOLPOSKOPI-HISTOPATOLOGI

 TERAPI DEFINITIF
Komunikasi dan
Bahasa yang sama
Sitologi

Klinikus/Kolposkopi Patologi Anatomi
Dampak merujuk pasien untuk Kolposkopi dengan
tes Pap abnormal

Pada kasus abnormal minor  overload/cost

Pada pasien  faktor psikologi, faktor kecemasan

Indikasi Sitologi

Lesi Intraepitel Sel Skuamosa Derajat rendah

(Infeksi HPV dan Displasia ringan/NIS1)

Lesi Intraepitel Sel Skuamosa Derajat Tinggi

(Displasia sedang/NIS2 sampai karsinoma insitu/NIS3)

Kecurigaan Karsinoma sel skuamnosa / Adenokarsinoma Invasif

Persisten tes Pap abnormal minor (ASCUS)

Atypical glanduler (AGUS)
KEBERHASILAN TERAPI
ADEKUAT LESI PRAKANKER
DAN INFEKSI HPV

100 %
4. Prinsip Penilaian Kolposkopi

Yang harus diperhatikan

S Epitel skuamosa

S Epitel kolumner

S Sambungan skumokolumner (SSK)

S Zona transformasi

S Lesi neoplastik, luas, ukuran dan derajat
Cara Mudah Menghapal Langkah Kolposkopi
(Dr.dr.Laila N.,SpOG(K), Dr.dr.Junita I.,SpOG(K))
1. Carilah Fokus pada Serviks
2. Tentukan/identifikasi SCZ apakah memuaskan
atau/tidak
3. Identifikasi Abnormalitas yang ditemukan
White Epithel
Punktasi
Mozaik
Atipical Vessel
DASAR GAMBARAN KOLPOSKOPI

Dibentuk oleh susunan epitel
(filter yang tidak berwarna)
dan stroma
(obyek yang berwarna merah)
Gambaran Kolposkopi Normal

• Pemeriksaan memuaskan diseluruh TZ dan diluar TZ
• Tidak dijumpai adanya kelainan
Konsep
”kolposkopi memuaskan”

S Seluruh zona transformasi
dapat dilihat
S Seluruh epitel skumosa, epitel
kolumner, SSK dapat dilihat.
S Seluruh lesi dapat dilihat baik
batas proksimal maupun
distal
S Sebelum membuat laporan hasil
kolposkopi tentukan apakah
pemeriksaan ini :

S Memuaskan (satisfactory = adequate)

S Tidak memuaskan (unsatisfactory =
unadequate)
Prinsip Diagnostik Kolposkopi

• Kontur permukaan

• Batas lesi

• Lesi keputihan

• Kecepatan perubahan aceto-white

• Gambaran pembuluh darah & jarak interkapiler

• Pembuluh darah atipik
TERMINOLOGI KOLPOSKOPI (ifcpc 1990)

 KOLPOSKOPI NORMAL

Original epitel skuamosa

Epitel kolumnar

Zona transformation

 ABNORMAL KOLPOSKOPI
Zona transformation atipik
Kanker invasiv

 UNSATISFACTORY COLPOSCOPIC FINDINGS
Skuamokolumnar tidak terlihat

 Ditemukan lesi lain
KOLPOSKOPI

Advantage:

• SENSITIFITAS 87 - 99,8 %
• SPESIFISITAS 35 - 87 %
• SARANA DIAGNOSTIK YANG AKURAT
• SARANA TERAPEUTIK
Disadvantage:

• MEMERLUKAN LEARNING
CURVE
• ALAT MAHAL
Terima Kasih
Kesimpulan

S Penguasaan pengetahuan mengenai
S Anatomi, Histologi termasuk epitel, stroma dan
corak pembuluh darah serviks serta proses
dinamik epitelisasi dan metaplasia skuamosa
sampai terbentuknya zona transformasi
S Instrument , elektrosurgey, prinsip dan
interpretasi kolposkopi
1

Normal Colposcopic Findings
Cervix
 Squamous epithelium (Ectocervix)

 Columnar epithelium (Endocervix)

 Squamocolumnar junction (SCJ)

Ectocervix : Hard. Squamous Cel

Endocervix : Soft. Columnar Glandu
Normal nulliparous cervix.
Columnar epithelium (A) surrounded by
squamous epithelium (B).
Border between two epithelial types is the
SCJ (C).

Pictures were taken from
Shafi.M and Nazeer. S. Colposcopy A Practical Guide. Second edition. Cambridge
University Press. 2012.
Normal cervix in parous woman.
Cervical os appears slit-like.

Normal cervix with cervical ectropion.
Columnar epithelium (A) and squamous
epithelium (B), cervical canal (C).
Large cervical ectropion.
Large area of columnar epithelium (A) exposed and surrounded by squamous
epithelium (B).
2

Abnormal Colposcopic
Findings
Punctation
Definition

 Vertical single loop intraepithelial
capillaries viewed end on in a demarcated
area

 Etiology

 Normal vascular pattern

 Abnormal modification of existing vascular
architecture

 Arises from the normal original columnar
epithelial angioarchitecture
Colposcopic Appearance

 Red dots usually seen within an area of
acetowhite epithelium

 Variable with increasing severity of disease

 Increasing caliber of dot from fine to coarse

 Increasing intercapillary distance
Coarse Punctation

Coarse punctation before & after application of acetic acid
Mosaic
 Intra epithelial capillaries encompassing
blocks or buds forming a mosaic, tile or
“chicken wire” pattern

 May be normal or abnormal modification of
existing vascular architecture

 Red, tile-like grid usually viewed within
acetowhite epithelium

 Fine or coarse caliber

 Variable intercapillary distance with
increasing severity of neoplasia
Mosaic: Differential and Significance

 May be seen in the normal variant of fetal metaplasia (congenital t-zone)

 Represented in any level of neoplasia

 May be observed in benign tissue (not aceto-white)

 Caliber and intercapillary distance predict the severity of disease
Atypical Vessels
 Superficial blood vessels exhibiting bizarre variation
in caliber, course and branching pattern

 Develop in response to tumor angiogenesis factor
(TAF)

 Result in chaotic, rapidly proliferating vessels
attempting to nourish rapidly in neoplastic tissue

 Lack systematic, uniform branching

Atypical
vessels pattern
Atypical Vessel: Differential and
Significance
 Associated with cancer until proven otherwise

 May be observed in areas of immature metaplasia

 Colposcopically directed biopsy is mandatory
Leukoplakia

 Usually benign

 May obscure an underlying
neoplasia

 Therefore, all patches observed
before application of acetic acid
must be biopsied

Hyperkeratosis ( Leukoplakia)
Preclinical invasive Carcinoma

Early invasive cancer: note the raised
irregular mosaics with umbilication (a),
breaking mosaics (b), surface
irregularity & the atypical vessels after
the application of 5% AA
Invasive Cervical Cancer

Note the irregular surface contour
Atypical with mountains & valleys
Vessels
pattern appearance with atypical blood
THANK YOU