You are on page 1of 28

FARMAKOTERAPI TERAPAN

SISTEM RENAL DAN ENDOKRIN

KELOMPOK 3

HASTETI HUSNI (I4C017067)

KHOIRUN NIKMAH (I4C017095)

LUSI FAUZIAH (I4C017068)

NIARISA RUDI AGUSTIANI (I4C017061)

NIRMAYANI INDAH SARI (I4C017069)

SARAH NUR AZKIA (I4C017078)

SITI MIFTAHUL MUAWANAH (I4C017075)

YUANITA NOOR UTAMI (I4C017091)


Ny Darti berusia 66 tahun, BB
60 Kg. Keluhan saat MRS
badan lemes, mengantuk
terus, mual/muntah dan nyeri
diperut. Pasien menderita DM
dan CHF sejak beberapa
tahun yang lalu.
DIAGNOSA
DOKTER
Nama : Ny. Darti No RM : - Rg Rawat : -
Tgl MRS :
Tgl lahir/umur : 66 tahun BB : 60 kg TB : -
10/3/2018
Riwayat MRS : Badan lemes, mengantuk terus, mual/muntah dan nyeri
diperut
RDP : -
Diagnosis : DM, CHF, Dyspepsia, CKD DPJP : dr. MB, Sp. PD
Merokok:- batang/hari Kopi : - gelas/hari Lainnya :-
Alergi makanan : - Alergi obat : -

KELUHAN
Keluhan 10/3 11/3 12/3
Mual +++ +++ +++
Pusing +++ +++ +++
Lemas +++ +++ +++
Data Laboratorium :

1. Tanda-tanda Vital

Hasil pada bulan Februari 2018


Jenis Parameter
10/3 11/3 12/3

TD (120/80mmHg) 150/80 150/90 -

Suhu (36,5-37,5 ͦ C) Normal 36,5 36,3

Nadi (60-100 x/menit) Normal 90 80

Laju pernafasan (12-20 x/menit) Normal 20 16


2. Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan
Parameter Nilai Normal Satuan
10/3 11/3
GDS 76-110 mg/dL 340 175
Ureum 15-45 mg/dL - 87,5
Kreatinin 0,6-1,3 mg/dL - 6,52
Kalium 3,6-4,8 mmol/L - 4,8
Hb 12-16 g/dL - 12,1
Leukosit 3200-10000 /mm3 - 8580
Pemeriksaan Penunjang
Urin lengkap Warna: kuning muda, Glukosa
++500, Ph: 6,0, Eritrosit:
++100,Silinder Hialin: 10-15, Bakteri:
11-20
Terapi Saat di Rumah Sakit

Februari 2018
Nama obat Dosis
10/3 11/3 12/3
Inj Omeprazole 1 x 1 vial √ √ √
Inj Mecobalamin 1 x 1 ampul √ √ √
Inj Cefotaxim 2 x 1 gr √ √ √
Inj Paracetamol 2 x 1 gr √ √ √
Novorapid 3 x 6 UI √ √ √
Levemir 0 – 0 – 12 UI √ √ √
Inj Ondansentron 2 x 1 ampul √ √ √
Inj Ranitidin 2 x 1 ampul - - √
NaCL 0,9% 10 Tpm √ √ √
Diabetes Melitus (DM)

Diabetes melitus (DM) adalah penyakit


kronis di mana pangkreas tidak dapat Insulin adalah hormon yang dikeluarkan
memproduksi insulin secara cukup, atau oleh pankreas, tepatnya di beta cell.
di mana tubuh tidak efektif Hormon ini berfungsi untuk mentranspor
menggunakan insulin yang diproduksi, glukosa atau gula dari darah ke dalam sel
atau pun keduanya.

DM

Penurunan ringan kerja insulin mula-


Hyperglycaemia atau peningkatan kadar
mula bermanifestasi sebagai
gula dalam darah adalah satu efek utama
ketidakmampuan jaringan peka-insulin
dari diabetes yang tidak terkontrol dan
untuk mengurangi beban glukosa. Secara
dapat menjurus ke kerusakan serius
klinis, hal ini menimbulkan hiperglikemia
untuk sistem-sistem organ, khususnya
pascamakan (postprandial
sistem syaraf dan sistem pembuluh darah
hyperglycemia).
Diabetes tipe 1 (insulin-dependent diabetes) terjadi
karena adanya gangguan pada pankreas, menyebabkan
pankreas tidak mampu memproduksi insulin dengan
optimal. Pankres memproduksi insulin dengan kadar
yang sedikit dan dan dapat berkembang menjadi tidak
mampu lagi memproduksi insulin. Akibatnya, penderita
diabetes tipe 1 harus mendapat injeksi insulin dari luar

Diabetes tipe 2 merupakan penyakit diabetes


yang disebabkan karena selsel tubuh tidak merespon
insulin yang dilepaskan oleh pankreas . Diabetes tipe
2 dialami hampir 90% manusia di dunia, dan secara
umum penyakit ini adalah hasil dari berat badan
berlebih dan kurangnya aktifitas fisik

Diabetes gestational adalah diabetes yang


disebabkan karena kondisi kehamilan . Gejala
diabetes gestational mirip dengan gejala diabetes tipe
2. Diabetes gestational lebih sering terdiagnosa
melalui prenatal screening dari pada gejala yang
dilaporkan
J
A Gagal jantung (HF) adalah sindrom klinis
HF dapat dihasilkan dari apa saja
N progesif yang disebabkan oleh
ketidakmampuan jantung untuk
gangguan yang mengurangi pengisian
ventrikel (disfungsi diastolik) dan/atau
memompa cukup darah untuk memenuhi
T kebutuhan metabolisme tubuh.
miokardial kontraktilitas (disfungsi sistolik)

U
N
G

Hal ini menyebabkan hambatan vena CHF berawal dari disfungsi jantung kiri
pulmonari yang kemudian membuat yang disebabkan beban tekanan
bendungan pada paru-paru dan berlebihan sehingga kebutuhan metabolik
mengakibatkan edema paru.Beban meningkat. Peningkatan kebutuhan
ventrikel kanan (V.Ka) bertambah metabolik menyebabkan volume overload
menyebabkan hipertrofi ventrikel kanan yang abnormal pada jantung, cardiac
(V.Ka) sehingga mengakibatkan gagal output menurun sehingga menyebabkan
jantung kanan.Gagal jantung kanan dan beban pada atrium karena tekanan
kiri ini disebut dengan CHF. meningkat.
Kegagalan yang
berhubungan
dengan
abnormalitas
miokard
Kegagalan yang
disebabkan Kegagalan yang
abnormalitas berhubungan
perikardium atau dengan overload
efusi perikardium (hipertensi)
(tamponade)

KLASIFIKASI

Kegagalan yang
Kelainan berhubungan
kongenital dengan
jantung abnormalitas
katup

Kegagalan yang
disebabkan
abnormalitas
ritme jantung
(takikardi)
Klasifikasi gagal jantung berdasarkan kelainan struktural jantung atau
berdasarkan gejala yang berkaitan dengan kapasitas fungsional NYHA.
Berbagai mekanisme yang
mungkin mendasari meliputi
gangguan motilitas usus,
hipersensitivitas, infeksi,
ataupun faktor psikososial.

kumpulan gejala saluran


pencernaan atas meliputi Walaupun tidak fatal,
rasa nyeri atau tidak nyaman gangguan ini dapat
di area gastro-duodenum menurunkan kualitas hidup
(epigastrium/uluhati), rasa dan menjadi beban social
terbakar, penuh, cepat masyarakat.
kenyang, mual atau muntah.

DYSPEPSIA
KLASIFIKASI DYSPEPSIA

Dyspepsia fungsional (non-organik)


Postprandial distress syndrome (Rasa
penuh setelah makan yang mengganggu,
Dyspepsia organik (struktural) terjadi setelah makan dengan porsi
biasa, sedikitnya terjadi beberapa kali
Dyspepsia organic terdapat penyebab
seminggu, Perasaan cepat kenyang yang
yang mendasari, seperti penyakit ulkus
membuat tidak mampu menghabiskan
peptikum (Peptic Ulcer Disease/PUD),
porsi makan biasa, sedikitnya terjadi
GERD (GastroEsophageal Reflux Disease),
beberapa kali seminggu), Epigastric pain
kanker, penggunaan alkohol atau obat
syndrome (atau rasa terbakar yang
kronis
terlokalisasi di daerah epigastrium, Nyeri
timbul berulang, Tidak menjalar atau
terlokalisasi di daerah perut , Tidak
berkurang dengan BAB
Chronic Kidney Disease (CKD) adalah
Gagal ginjal kronik disebabkan oleh
penyakit penurunan fungsi ginjal
berbagai penyakit, seperti
yang progresif dan tidak dapat lagi
glomerolunefritis akut, gagal ginjal
pulih atau kembali sembuh secara
akut, penyakit ginjal polikistik,
total seperti sediakala (irreversible)
obstruksi saluran kemih,
dengan laju filtrasi glomerulus (LFG) <
pielonefritis, nefrotoksin, dan
60 mL/menit dalam waktu 3 bulan
penyakit sistemik, seperti diabetes
atau lebih, sehingga tubuh gagal
melitus, hipertensi, lupus
mempertahankan metabolisme dan
eritematosus, poliartritis, penyakit
keseimbangan cairan elektrolit, yang
sel sabit, serta amiloidosis
menyebabkan uremia

Patogenesis gagal ginjal kronik


Akibatnya, ginjal kehilangan melibatkan penurunan dan
kemampuan memekatkan urine. kerusakan nefron yang diikuti
Tahapan untuk melanjutkan ekskresi, kehilangan fungsi ginjal yang
sejumlah besar urine dikeluarkan, progresif. Total laju filtrasi
yang menyebabkan klien mengalami glomerulus (GFR) menurun dan
kekurangan cairan. Tubulus secara klirens menurun, BUN dan
bertahap kehilangan kemampuan kreatinin meningkat. Nefron yang
menyerap elektrolit. Biasanya, urine masih tersisa mengalami hipertrofi
yang dibuang mengandung banyak akibat usaha menyaring jumlah
sodium sehingga terjadi poliuri cairan yang lebih banyak.
Klasifikasi Penyakit Ginjal Kronik Atas Dasar Diagnosis Etiologi

Penyakit Tipe Mayor

Penyakit Ginjal Diabetes Tipe 1 dan 2


Diabetes

Penyakit Ginjal Non Penyakit Glomerular, Penyakit


Diabetes Vaskular, Penyakit
Tubulointerstisial, Penyakit Kistik

Penyakit Pada Rejeksi kronik, Keracunan Obat


Transplantasi (siklosporin/takrolimus), Penyakit
recurrent (glomerular), Transplant
glomerulopathy
Klasifikasi Stadium Chronic Kidney Disease CKD
GFR
Stadiu
Deskripsi Istilah Lain (ml/mnt/1,73
m
m2 )
Kerusakan ginjal
1 dengan GFR Berisiko >90
normal
Kerusakan ginjal
Insufisiensi ginjal
2 dengan GFR 60-89
kronik (IGK)
turun ringan
GFR turun IGK, gagal ginjal
3 30-59
sedang kronik
4 GFR turun berat Gagal ginjal kronik 15-29
Gagal ginjal tahap
5 Gagal ginjal akhir (End Stage <15
Renal Disease)
STRATEGI

S-O-A-P
SUBJECT (S)

PROBLEM MEDIK SUBJECT

DM -Mual,
-Pusing,
-Lemas
CHF dan CKD -Mual
-muntah
-pusing
Dyspepsia Mual, Muntah, Nyeri
Perut
Urine Lengkap Bakteri 11-20
Problem Medik Object (O) Assesment (A)

DM -GDS Evaluasi kebutuhan dan


10/3 340 mg/dL pemakaian pemberian
11/3 175 mg/dL insulin, untuk menurunkan
-Glukosa ++500 kadar glukosa darah pasien

Terapi:
-Insulin Novorapid
(3x6 ui)
-Insulin Levemir (0-0-12 UI)
CHF dan CKD Data lab : - Hitungan LFG
Kreatinin : 6,52 - Rekomendasi pemberian
Ureaum : 87,5 terapi tambahan untuk
CKD dan CHF
Terapi : - Evaluasi pemberian cairan
-Inj. Mecobalamin elektrolit pada pasien
1 x 1 ampul
Problem Medik Object (O) Assesment (A)

DYSPEPSIA Terapi : -Evaluasi efektivitas


-Inj. Omeprazol (1x1 vial) omeprazol untuk
-Inj. Ondansentron (2x1 mengatasi dispepsia pada
ampul) pasien.
-Inj. Ranitidin (2x1 ampul) -Evaluasi pemakaian injeksi
-Inj. Parasetamol (2x1 gr) ondansentron untuk atasi
mual muntah
-Evaluasi penggunaan
dosis, pemberian ranitidin
belum tepat dosis, dosis
pemberian berlebih.
-Evaluasi pemakaian
paracetamol untuk atasi
demam dan nyeri
(pemakaian jika demam
dan nyeri)
URIN LENGKAP Inj cefotaxime (2x1 gram) Evaluasi efektifitas
penggunaan inj
cefotaxime.
Problem Medik PLANNING

DM Rekomendasi cek GDS, GDP, Gula darah 2


jam setelah makan, Hba1c.

Edukasi pengaplikasian insulin pen pada


perawat dan pasien (keluarga pasien).

CHF dan CKD -Sebaiknya dilakukan Hemodialisis karena


GFR <15 yaitu 8,03 ml/mnt/1,73 m2
-Pemberian terapi kombinasi valsartan 1x 80
mg PO + furosemid 1 x 20 mg IV
-Monitoring kemungkinan terjadi interaksi
pemberian valsartan dan furosemid
-Monitoring jumlah intake dan output
kebutuhan cairan pasien.
-Rekomendasi pemeriksaan EKG
-Rekomendasi pemeriksaan foto troraks
-Rekomendasi : INJ. MECOBALAMIN
Digunakan bila perlu (prn).
Problem Medik PLANNING

DYSPEPSIA -Monitoring penggunaan injeksi Omeprazol


dan potensi ESO nya.
-Monitoring pemakaian ranitidin dan potensi
ESOnya
-Rekomendasi apabila dispepsia semakin
parah dilakukan endoskopi.

URIN LENGKAP -Rekomendasi alternatif lain tanpa


penggunaan adjustment dose bisa
direkomendasikan inj ceftriaxone (2x1 gram/
hari)
-Perlu dilakukan kultur bakteri urin lengkap
ALASAN PEMBERIAN TERAPI
• Pemberian omeperazole di indikasikan • Suplementasi mecobalamin
untuk pasien dispepsia, menurut jurnal yang merupakan analog
update on approaches to patients with vitamin B12 mampu
dyspepsia and functional dyspepsia pada meningkatkan regenerasi sel-
tipe nyeri epigastrium lini pertama terapi sel saraf. suplementasi
dispepsia menggunakan H2-Bloker dan
PPI. PPI yang digunakan ini seperti
mecobalamin dapat digunakan
omeperazale 2x20 – 40 mg. Terapi untuk penanganan neuropati
omeperazole untuk pasien dispepsia pada autonom maupun neuropati
saat dirumah sakit telah sesuai dengan perifer pada pasien DM atau
literatur yang tercantum. non-DM dengan gagal ginjal
OMEPRAZOL MECOBALAMIN kronik.

CEFOTAXIME PARACETAMOL

• Penggunaan injeksi cefotaxime perlu di •Pada kasus ini penggunaan parasetamol


evaluasi, dikarenakan injeksi untuk pasien CKD dapat digunakan untuk
cefotaxime memiliki adjustment dose, mengatasi nyeri ringan sampai sedang,
sehingga terjadi pengurangan dosis dan dengan atau tanpa adjuvant therapy.
tidak efektif, oleh sebab itu Akan tetapi, pada pemakaiannya hanya
saat pasien merasa nyeri dan demam saja.
direkomendasikan penggunaan firstline
Apabila pasien tidak merasa nyeri dan
antibiotik golongan sefalosporin demam, penggunaan parasetamol harus
generasi ke 3 dengan ceftriaxon segera dihentikan.
dantidak terdapat adjustment dose nya..
• pemakaian kombinasi obat tersebut paling banyak digunakan.
Penggunaan insulin kerja cepat (Novorapid)dikarenakan efeknya
yang dapat bekerja cepat, seringkali mulai menurunkan kadar
Insulin Novorapid glukosa darah 20 menit setelah penyuntikan. Namun efek insulin
dan Insulin kerja cepat hanya sebentar, karena itu diperlukan insulin kerja
Levemir panjang (Levemir) untuk membuat kadar glukosa darah menjadi
stabil sepanjang hari. Dengan pendekatan terapi tersebut pada
umumnya dapat diperoleh kendali glukosa darah yang baik
dengan dosis insulin yang cukup kecil

• Ondansetrond ipilih sebagai obat untuk mengurangi


mual dan muntah pada penderita dyspepsia
dikarenakan efek samping yang ditimbulkan lebih ringan
Ondansentron disbanding antiemetika yang lain diantaranya adalah
tidak menimbulkan efek samping ekstrapiramidal. Selain
itu aksi ondansetron sebagai anti emetika relative lebih
cepat dibanding obat lain

• Ranitidin merupakan jenis obat golongan antagonis


reseptor H2 mekanisme kerjanya memblokir histamin
pada reseptor H2 sel pariental sehingga sel pariental
tidak terangsang mengeluarkan asam lambung. Efek
Ranitidin
samping ranitidin sangat kecil dan obat ini tidak
menghambat sistem oksigenase fungsi campuran
didalam hati, dengan demikian tidak mempengaruhi
konsentrasi fungsi obat – obat lain
Infus NaCl 0,9%
Pemberian cairan untuk dewasa 25-35ml/kg BB
TPM = 25 ml x 60 kg = 1500 ml
TPM = 1500 ml x 20 tetes / 24 jam x 60 menit =30000/1440 = 20, 8 TPM
Yang diberikan RS 10 TPM

Maka kebutuhan cairan pada Membatasi input dan output


pasien ini harus dikurangi dari cairan pada pasien. Menurut
kebutuhan normalnya 25-35 penelitian Istanti, (2013)
Bedasarkan perhitungan secara
ml/kg yang bertujuan untuk pembatasan cairan merupakan
normal tpm yang dihasilkan 2
mencegah peningkatan kadar salah satu terapi yang diberikan
kali lebih besar dari pemberian
cairan dalm tubuh dan bagi pasien penyakit ginjal
yang diberikan di rs. Namun
mengurangi kerja ginjal dan tahap akhir untuk pencegahan,
hasil ini sebagai acuan
jantung. Edema yang sering penurunan dan terapi terhadap
sebagian, karena pada pasien
terjadi karenaperluasan cairan kondisi komorbid yang dapat
DM, CHF, CKD sering terjadinya
diruang interstinal yang memperburuk keadaan pasien.
penimbunan cairan yang
disebabkan penumpukan Na+ Jumlah cairan yang ditentukan
disebabkan adanya
dalam tubuhnya, maka dari itu untuk setiap harinya berbeda
peningkatan cairan.
baiknya cairan yang diberikan bagi setiap pasien tergantung
adalah cairan hipotonis contoh fungsi ginjal, adanya edema
NaCl 0,5 % dan haluaran urine pasien.
Valsartan PO + furesemid IV
First line therapy yang dianjurkan
untuk pasien diabetes mellitus
komplikasi gagal ginjal berdasarkan
guideline menggunakan ACEI atau Berdasarkan guideline menyatakan
ARB dikerenakan dapat mencegah bahwa kepada pasien yang gagal Golongan diuretic yang digunakan
atau mengurangi laju progresifitas jantung yang disertai dengan adalah furosemid untuk mengatasi
kerusakan ginjal menuju ke stadium overload cairan dan fungsional kondisi udema pada gagal ginjal
akhir dimana penggunaan ACEI diberikan diuretic (Yancy, 2013; (terutama jika dengan adanya gagal
mengalami respon intoleransi batuk Eshaghian, 2006). Diurerik jantung konggestif) disamping
dilihat dari mekanisme kerja ACEI bermanfaat untuk mengatasi retensi sebagai terapi kombinasi
dapat merangsang bradikinin dan cairan yang terjadi pada pasien penanganan hipertensi (putra ., dkk
dapat menyebabkan batuk, dengan gagal jantung. Diuretik ,2007). Furosemid juga paling
Golongan ARB lebih toleran dari berfungsi untuk menghambat banyak digunakan pada pasien CKD
ACEI dan menjadi pilihan terapi reabsorpsi dari natrium atau klorida stage 4 dan 5. Pemilihan obat sesuai
yang praktis. Penggunaan golongan (Felker, 2011). Diuretic merupakan dengan drug of choice yang aman
ARB terbukti efektif dalam satu-satunya obat yang digunakan digunakan untuk pasien gagal ginjal
peninggkatan beberapa aspek dalam terapi HF yang dapat secara kronik dengan hemodialisis adalah
disfungsi ginjal. Penurunan adekuat mengontrol resistensi furosemid + valsartan dengan
proteinuria dengan ARB juga terkait cairan pada tekanan darah 150/80 mmHg.
dengan piningkatan hasil HF(Fitria S., 2015)
kardiovaskuler salah satu obat yang
menunjukan efikasi dalam
managemen CKD adalah valsartan.