You are on page 1of 29

TONSILITIS DIFTERI

OLEH :
KELVIN AIDIL FITRA

PEMBIMBING :
dr. Elfahmi, Sp.THT-KL

BAB I
PENDAHULUAN
• Difteri adalah suatu penyakit bakteri akut terutama menyerang tonsil,
faring, laring, hidung, selaput lendir, kulit serta kadang-kadang
konjungtiva atau genitalia. Penyakit ini ditandai dengan pembentukan
pseudomembran pada kulit dan atau mukosa. yang disebabkan oleh
Corynebacterium Diphteriae.
• Makalah ini akan membahas mengenai penyakit tonsillitis difteri yang
diharapkan dapat bermanfaat nantinya bila menemui kasus ini di tempat
praktek sehingga dapat mendiagnosis dan memberikan tatalaksana yang
tepat.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA .

ANATOMI .

TONSIL PALATINA • Dibatasi oleh: • Lateral : M. palatofaringeus • Superior : Palatum mole • Inferior : Tonsil lingual . palatoglosus • Posterior : M. konstriktor faring superior • Anterior : M.

Pada umumnya adenoid akan mencapai ukuran maksimal antara usia 3-7 tahun kemudian akan mengalami regresi. serta kompleks tuba Eustachius – telinga tengah – kavum mastoid pada bagain lateral. • Ukuran adenoid bervariasi pada masing-masing anak. berbatasan dengan kavum nasi dan sinus paranasalis pada bagian anterior. TONSIL FARINGEAL (ADENOID) • Adenoid terletak pada dinding posterior nasofaring. .

UKURAN TONSIL MENURUT THANE & CODY T1 T2 T4 T3 .

limfosit T. sel plasma dan sel pembawa IgG . FISIOLOGI TONSIL Sistim imun kompleks yang terdiri atas : Sel M (sel membran) Makrofag Sel dendrit APCs Sel limfosit B.

TONSILITIS DIFTERI .

Bakteri dapat disebarkan melalui percikan air liur akibat batuk. bersin atau berbicara. • Didapat melalui kontak dengan karier atau seseorang yang sedang menderita difteri. DEFENISI • Difteri tonsil faring adalah radang akut pada tonsil sampai mukosa faring yang disebabkan kuman corynebacterium diphtheriae. . Yang sering ditemukan pada anak berusia kurang dari 10 tahun dan frekuensi tertinggi pada usia 2-5 tahun walaupun pada orang dewasa masih mungkin menderita penyakit ini.

ETIOLOGI • Corynebacterium diphteriae • Bakteri Gram positif • Hidup di saluran nafas bagian atas yaitu hidung. faring dan laring. .

PATOFISIOLOGI .

trakea dan bronkus badan lemah dapat menyumbat saluran nafas. laring. tidak nafsu makan bercak putih kotor meluas ke palatum molle. nasofaring. nadi lambat nyeri menelan . MANIFESTASI KLINIS GEJALA UMUM GEJALA LOKAL demam subfebris tonsil membengkak nyeri kepala (bull neck) atau disebut juga Burgermeester’s hals. uvula.

.

.• Gejala akibat eksotoksin : miokarditis sampai decompensatio cordis. mengenai saraf kranial menyebabkan kelumpuhan otot palatum dan otot- otot pernafasan.

DIAGNOSIS Gambaran klinis Pemeriksaan Mikrobiologi : Corynebacterium diphteriae .

PENATALAKSANAAN .

-Bila kultur (-)/Schick test (-) bebas isolasi Bila kultur (+)/Schick test (-) pengobatan carrier Bila kultur (+)/Schick test anti toksin diphtheria (+)/gejala (-) + penisilin Bila kultur (-)/Shick test (+) toksoid (imunisasi aktif) . ISOLASI DAN KARANTINA Anak yang telah mendapat imunisasi dasar diberikan booster dengan toksoid diphtheria.

dijaga agar nafas tetap bebas serta dijaga kelembaban udara dengan menggunakan nebulizer. • Bila tampak gelisah. • Khusus pada diphtheria laring. PENGOBATAN Umum • Istirahat ± 2 minggu • Pemberian cairan serta diet yang adekuat. . iritabilitas serta gangguan pernafasan yang progresif indikasi tindakan trakeostomi.

KHUSUS Anti Difteria Serum (ADS) • Pemberian ADS secara intravena dilakukan secara tetesan dalam larutan 200 ml dalam waktu kira-kira 4- 8 jam. • Perlu dimonitor terjadinya reaksi hipersensitivitas lambat (serum sickness). . • Pengamatan terhadap kemungkinan efek samping obat/reaksi dilakukan selama pemberian antitoksin dan selama 2 jam berikutnya.

Antibiotik • Untuk menghentikan produksi toksin.000-100. . • Bila terdapat penyulit miokardiopati toksik. • Penisilin prokain 50.000 IU/BB/hari selama 7-10 hari • Bila alergi bisa diberikan eritromisin 40 mg/kg/hari Kortikosteroid • Penderita dengan gejala obstruksi saluran nafas bagian atas.

PENGOBATAN CARRIER • Pengobatan yang dapat diberikan adalah penisilin oral atau suntikan. . Mungkin diperlukan tindakan tonsilektomi/adenoidektomi. atau eritromisin selama satu minggu.

atau terdapat komplikasi kardiopulmonal • Abses peritonsiler yang tidak respon terhadap pengobatan medik dan drainase • Tonsilitis yang menimbulkan kejang demam • Tonsil yang akan dilakukan biopsi untuk pemeriksaan patologi . gangguan tidur. disfagia berat. TONSILEKTOMI Indikasi Absolut • Pembesaran tonsil yang menyebabkan sumbatan jalan napas atas.

Indikasi Relatif • Terjadi >3 kali infeksi tonsil pertahun • Halitosis akibat tonsilitis kronik yang tidak ada respon terhadap pengobatan medik • Tonsilitis kronik atau berulang pada pembawa streptokokus yang tidak membaik dengan pemberian antibiotik. • Timbul komplikasi berupa Rhinitis dan Sinusitis yang kronis • Terjadi Otitis Media Efusi/Supuratif . kuman resisten terhadap β-laktamase.

KONTRAINDIKASI -Gangguan perdarahan -Risiko anestesi yang besar atau penyakit berat -Anemia -Infeksi akut yang berat -Asma -Tonus otot yang lemah -Sinusitis -Albuminuria -Hipertensi -Rinitis alergika -Demam yang tidak diketahui penyebabnya .

otot mata untuk akomodasi. KOMPLIKASI • Laringitis difteri • Miokarditis dapat mengakibatkan payah jantung atau dekompensasio kordis. • Kelumpuhan otot palatum molle. suara parau dan kelumpuhan otot-otot pernafasan • Albuminuria sebagai akibat dari komplikasi ke ginjal. otot faring serta otot laring sehingga menimbulkan kesulitan menelan. .

karena makin muda umur anak prognosis makin buruk. pasien dengan tonsillitis difteri tanpa komplikasi yang berespon baik terhadap pengobatan memiliki prognosis yang baik. . • Keadaan umum penderita. misalnya prognosisnya kurang baik pada penderita gizi kurang • Ada atau tidaknya komplikasi • Secara umum. PROGNOSIS • Prognosis tergantung kepada • Virulensi kuman • Lokasi dan perluasan membrane • Kecepatan terapi • Status kekebalan • Umur penderita.

Yang sering ditemukan pada anak berusia kurang dari 10 tahun dan frekuensi tertinggi pada usia 2-5 tahun walaupun pada orang dewasa masih mungkin menderita penyakit ini. KESIMPULAN • Tonsilitis difteri adalah radang akut pada tonsil sampai mukosa faring yang disebabkan kuman corynebacterium diphtheriae. . Meskipun difteri sudah jarang di berbagai tempat di dunia tetapi kadang-kadang masih ada yang terkena penyakit ini.

ketepatan diagnosis. tidak berspora. dan perawatan umum. kecepatan pengobatan. status imunisasi. Antibiotok penisilin dan eritromisin sangat efektif untuk kebanyakan strain C. Dasar dari terapi ini adalah menetralisir toksin bebas dan eradikasi C. diphtheria. • Prognosis umumnya tergantung dari umur.• Penyebab dari penyakit difteri ini adalah C diphtheriae yang merupakan kuman gram (+). virulensi kuman. ireguler. lokasi dan penyebaran membran. tidak bergerak. diphtheriae dengan antibiotik. .