You are on page 1of 24

TRAUMA VASKULER

PENDAHULUAN

• Trauma vaskuler dapat melibatkan pembuluh
darah arteri maupun vena. bentuk lesi vaskuler
tergantung dari penyebab atau mekanisme
trauma yang terjadi. dapat berupa lubang kecil.
robek dengan atau tanpa bagian yang hilang
disamping ini bisa pula terjadi trauma dari luar yang
hanya menyebkan robekan dari intima.
KLASIFIKASI TRAUMA ARTERI

• Trauma tajam
• Trauma tumpul
• Tindakan diagnostik dan penanganan kedokteran
dapat menimbulakan keruskan arteri penyebab
tersering adalah pungsi arteri,pengunaan cateter
untuk diagnostik
• Trauma pembuluh darah akibat kompresi yg
disebabkan oleh fraktur pada tulang
TRAUMA TAJAM

• Trauma tajam di bedakan menurut beratnya
cedera yaitu :

• Derajat 1 yaitu robekan pada adventita dan media
tanpa menembus intima

• Derajat 2 yaitu robekan parsial sehingga dinding
arteri juga terluka.

• Derajat 3 yaitu pembuluh darah terputus total
GAMBAR . DERAJAT ARTERI DAN TANDA KLINIS
PERLUKAAN TAJAM ARTERI
TRAUMA TUMPUL

• Derajat 1 yaitu robekan tunika intima

• Derajat 2 yaitu robekan tunika intima dan tunika media
disertai hematoma dan thrombosis dinding arteri

• Derajat 3 yaitu merupakan kerusakan seluruh lapisan
arteri diikuti dengan tergulungnya tunika intima dan
media ke dalam lumen serta pembentukan thrombus
pada tunika adventitia yang utuh.
DIAGNOSIS TRAUMA ARTERI

Empat langkah utama dalam menegakkan diagnosis :
1. Anamnesa riwayat trauma : jenis, waktu kejadian, mekanisme
2. Pemeriksaan fisis

-Perdarahan, warna kulit, pembengkakan tungkai
-Suhu, pulsasi perifer
3. Pemeriksaan penunjang : arteriografi , ultrasonik doppler,
ultrasonik duplex

8
Arteriografi umumnya tidak perlu jika operasi
eksplorasi memberikan hasil yang nyata
Iskemik perifer, pertimbangkan adanya :
1. Kompresi arteri oleh fraktur, hematom fraktur atau kons-
triksi “band” sirkumferens
2. Spasma arteri ( keadaan yang jarang terjadi )

3. Tanda-tanda sistemik seperti pada keadaan syok

Setiap tindakan konservatif hanya terbatas sampai 3 - 4 jam,

bila tidak ada kemajuan perlu segera tentukan status vaskular

melalui saturasi perifer, ultrasonik doppler atau invasif

arteriografi atau tindakan operasi eksploratif ( Vollmar, 1980 )

Jika diagnosis arteri tidak segera dibuat,
sampai fungsi gerak menjadi lemah, maka terapi menjadi
terlambat dan dapat mencelakakan
PEMERIKSAAAN PENUNJANG

• Pemeriksaaan penunjang juga dibutuhkan pemeriksaan
penunjang lainnya untuk mendiagnosis trauma arteri,
misalnya pemeriksaan Doppler. Pemeriksaan ini dilakukan
pada pasien dengan pulsasi distal yang tidak teraba dan
ABI< 0,9.3,5

• Pemeriksaan penunjang lainnya adalah Color-flow duplex
(CFD) Ultrasonografi

• Angiografi digunakan sebagai pemeriksaan gold standar
karena dapat mengevaluasi luasnya trauma, sirkulasi
distal, dan perencanaan operasi
MANIFESTASIS KLINIS

• Perdarahan external

• Tanda2 iskemik

• Hematom berdenyut

• Perdarahan internal disertai tanda tanda syok
TRAUMA ARTERI

• TRAUMA ARTERI
• a. carotis

• a. vertebralis

• aorta thorakalis

• aorta abdominalis

• a. mesenterika

• a.renalis

• a. femoralis
TRAUMA VASKULAR PADA
EKSTREMITAS

13
PENATALAKSANAAN AWAL

• Sesuai protokol ATLS :

- Airway

- Breathing

- Circulation

14
HENTIKAN PERDARAHAN

1. Kompresi digital dengan jari-jari tangan pada bagian
proximal untuk arteri perifer
2. Bebat tekan aseptik pada tempat arteri yang terluka
3 Untuk pembuluh darah besar seperti aorta dilakukan
pengontrolan sumber perdarahan dengan cara traksi
memakai balloon kateter Fogarty atau menggunakan
klem atraumatis

15
Cara kompresi digital, balloon kateter Fogarty ,dan klem
atraumatis untuk mengontrol perdarahan pada aorta
atau arteri besar 16
Beberapa metode yang digunakan untuk mengontrol
perdarahan. Dari kiri –kanan double applied, klem
metalik kecil, kateter balon, klem atraumatik
17
Lateral suture
repair

VENA AUTOLOG
Patch
&PROSTETIK
angioplasty
SINTETIK

TEKNIK VENA AUTOLOG
Interposition
REKONSTRUKSI &PROSTETIK
ARTERI graft
SINTETIK

End-to-end
anastomosis

Ligasi
18
LATERAL SUTURE REPAIR

• Rekonstruksi ini dilakukan untuk luka minimal, dan
ketika dilakukan perbaikan tidak akan
mengganggu ukuran dari lumen, dan tidak
memberikan kelainan pada pemeriksaan Dopler
atau penurunan pulsasi 3
PATCH ANGIOPLASTI

• Teknik ini sangat penting dan berguna pada prosedur darurat
untuk trauma vascular. Digunakan untuk luka yang lebih besar
dan mempunyai defek vascular untuk mencegah stenosis. Di
sisi lain, patch ini berguna untuk menghindari penyempitan
arteri dengan diameter <5 mm
• (lihat di bawah).
INTERPOSITION GRAFT

• Diperlukan jika pembuluh darah tidak dapat diperbaiki kembali

dengan kerapatan yang semestinya. Untuk menjembatani cacat

dalam arteri maka digunakan metode interposisi. Pada arteri yang

lebih besar seperti arteri iliaka, dan aorta, sebuah sintetis prostesis

dapat digunakan.
END-TO-END ANASTOMOSIS:

• dilakukan pada kerusakan parah dari segmen
arteri, end to end anastomosis dilakukan jika
memungkinkan.
LIGASI ARTERI

• Ligasi arteri dilakukan jika seluruh teknik diatas tidak
memungkinkan atau tidak dapat dilakukan. Hal ini
dilakukan untuk mengurangi tingkat morbiditas.
KOMPLIKASI

• Infeksi
• Trombosis
• Stenosis
• Fistula Arteriovena
• Sindrom Kompartemen

24