You are on page 1of 22

TETANUS

Penyakit tidak menular yang terjadi
melalui pajanan spora dari bakteri
Clostridium tetani yang terdapat pada
tanah, saluran cerna hewan dan
permukaan serta substansi yang
terkontaminasi

Clostridium tetani • Bentuk batang. including peripheral motor end plates. sifat Gram positif anaerobik • Membentuk spora • Flagelata • Eksotoksin : tetanospasmin / toksin tetanus • Toxins act at several sites within the central nervous system. and brain. as well as in the sympathetic nervous system . spinal cord.

Taksonomi • Kingdom : Bacteria • Subkingdom : Posibacteria • Phylum : Firmicutes • Class : Clostridia • Order : Clostridiales • Family : Clostridiaceae • Species : Clostridium tetani .

E P I D • Tercatat sekitar 1 juta E kasus di seluruh dunia M I I • Mortalitas tergantung O akses tenaga kesehatan L O G .

E P I • Penyebab kematian pasien D tetanus terbanyak adalah E masalah semakin buruknya sistem kardiovaskuler paska M I tetanus ( 40%). dan kegagalan O pernapasan akut (45%) L • CFR tetanus neonatorum >60% O G . pneumonia I (15%).

.

Manifestasi Klinis • Trismus (lockjaw) • Opistotonus • Spasme otot • Risus sardonicus .

.

severitas berat dengan mortalitas 20-40%. severitas ringan dengan mortalitas 10%. severitas sangat berat dengan mortalitas >50% . 2-3. 5-6.severitas sedang dengan mortalitas 10-20%.Dakar score 0-1. 4.

. 9-18.Phillips score <9. dan >18. severitas berat. severitas ringan. severitas sedang.

• Generalized – Kekakuan otot maseter. ekstensi ekstremitas bawah • Localized Klasifikasi – Kekakuan di daerah terdapat berdasarkan luka. posisi dekortikasi. bahu.. biasanya ringan. gangguan pada otot ekstraokular . focal cranial neuropathy. punggung. disfagia. tempat toksin bertahan beberapa bulan dan sembuh sendirinya bekerja • Cephalic – Trismus.

serum aldolase meningkat . Gejala klinik : kejang tetanic. dysphagia. DIAGNOSIS • Dilakukan saat pasien istirahat : 1. Lab : SGOT. Adanya luka yang mendahuluinya ( biasanya sudah di lupakan) 3. cpk. risus sardonicus (sardonic smile) 2. trismus.

Sasaran Pengobatan • Menghilangkan sumber toksin • Menetralkan toksin yang tidak terikat • Mencegah spasme otot • Memberikan terapi pendukung .

Terapi Antibiotik • Penisilin parenteral – 10-12 juta unit/hari selama 10 hari – Membasmi sel vegetatif. eritromisin metronidazol – Bekerja menghambat dinding sel bakteri . sumber toksin – Pengganti penisilin : klindamisin.

Antitoksin • Globulin imun tetanus (TIG) – 3000-6000 unit IM – Menetralkan toksin yang tersirkulasi dan tak terikat pada luka – Paling baik diberikan sebelum membersihkan luka .

2mg/kg/h IV • Fenobarbital – 1mg/kg/h IM atau IV • Klorpromazin – 0.5mg/kh/6h IM. dimulai 2 jam setelah fenobarbital . Pengendalian spasme otot • Diazepam – 5-20mg/8h PO – 0.05-0.

menghindarkan aspirasi pada pasien dengan gejala trismus. kelainan penelanan atau disfagia . Perawatan pernapasan • Intubasi atau trakeostomi – Dengan atau tanpa ventilasi secara mekanik – Hipoventilasi akibat sedasi berlebihan atau laringospasme.

kemudian dosis booster 1 tahun kemudian – >7tahun dan dewasa : dosis ke 3 diberikan 6 bulan setelah dosis kedua dan tidak diperlukan dosis keempat – Imunisasi bertahan 5-10 tahun . Preventif • Imunisasi – Tetanus toxoid – Diberikan kepada bayi dan anak-anak bersama dengan vaksin pertusis dan toksoid difteri – <7 tahun : diberikan 3 dosis dengan rentang 1 bulan.

• Penatalaksanaan luka – Penting untuk lakukan debridemen untuk menyingkirkan jaringan nekrosis dan spora – Pasien dengan luka terbuka harus mendapatkan tetanus toxoid – Luka dengan risiko sedang dan tinggi harus diberikan TIG 3000-6000 unit IM .

ada sekali kejang umum Berat. bila tidak ada kejang umum Sedang. Prognosis • Di klasifikasikan berdasarkan keganasan : Ringan. kejang umum yang berat sering terjadi .

Komplikasi • Laringospasm • Kekakuan otot-otot pernapasan • Pneumonia • Rhabdomyolisis • Renal failure .