You are on page 1of 60

Filariasis

R. Wahyuningsih
Departemen Parasitologi FKUKI
23 Juni 2014
Filariasis
Limfatik: elefantiasis Non Limfatik: ocular loaiasis
Penyebab dan vektor
No. Parasit Vektor Penyakit
1. W. bancrofti Culex LF
2. B. malayi Mansonia LF
Anopheles/
3. B. timori LF
Mansonia
Simulium River
4. O. volvulus flies Blindness
5. L. loa Chrysops flies S/c swellings

6. M. perstans Culicoides Serous cavity


7. M. streptocerca Culicoides ”
8. M. ozzardi Culicoides ”
Wuchereria dan Brugia
FILARIASIS LIMFATIK
Filariasis limfatik
• Filariasis limfatik disebabkan nematoda yang
hidup dalam sistim limfatik manusia.
• Diderita oleh > 120 juta orang di 73 negara
yang terletak di daerah tropik dan sub-tropik:
– Asia,
– Afrika,
– Pasifik Barat,
– Sebagian Karibia dan Amerika Selatan
Penyebab di Indonesia
• W. bancrofti
• B. malayi
• B. timori

di perkotaan maupun pedesaan


Penularan
• Melalui gigitan vektor nyamuk
• Mikrofilaria yang terhisap saat nyamuk menggigit
manusia akan berkembang menjadi larva infektif (L3)
• Bila nyamuk menggigit manusia bentuk infektif akan
memasuki tubuh dan mengakibatkan filariasis
• Dari kulit L3 akan menuju saluran limfa dan
berkembang menjadi cacing dewasa (sexually
dimorphic) yang hidup selama 5–8 tahun
• cacing dewasa kawin, menghasilkan jutaan mikrofilaria
(Mf) yang dilepas ke sirkulasi
• Orang tersebut menjadi sumber penularan
Resiko infeksi
• Orang yang tinggal di daerah endemis
• Gigitan nyamuk berulang kali selama ber
bulan2 atau bertahun2
• Turis dengan kunjungan singkat resikonya
rendah

Mansonia

Tempat perindukan
Tanda dan gejala
• Umumnya tanpa gejala meskipun terjadi perusakan sistim limfatik oleh
oleh cacing dewasa
• Setelah bertahun-tahun, sebagian kecil kecil pasien mengalami kerusakan
sistim limfatik yang mengakibatkan pembengkakan pada tungkai,
payudara dan genitalia
• Kelainan kronik menyebabkan disabilitas berkepanjangan
• Pembengkakan dan menurunya fungsi ekstrimitas (pergerakan terbatas)
memudahkan infeksi:
– infeksi kulit dan saluran limfe: pengerasan dan penebalan kulit  elefantiasis
– Infeksi dapat dicegah dengan kebersihan pribadi yang baik
– Masalah seks
• Laki-laki menderita hidrokel (pembengkakan skrotum), oleh W. bancrofti.
Perempuan pembesaran payudara
• tropical pulmonary eosinophilia syndrome, terutama di Asia.
– Batuk
– Sesak napas
– Mengi (wheezing)
– Eosinofilia dan IgE tinggi disertai Ab anti filaria
elefantiasis
Periodisitas
• Merujuk saat MF keluar ke dalam sirkulasi; secara
berkala MF keluar ke dalam sirkulasi perifer
• Periodisitas
– Nokturnal: siang hari densitas MF sangat rendah, yang
secara bertahap jumlahnya meningkat saat senja
sampai tengah malam
– Diurna MF muncul terutama di siang hari
• Periodisitas penting untuk diagnosis; saat
pengambilan darah harus sesuai dengan
periodisitas
Diagnosis of Lymphatic Filariasis

• Berdasarkan gejala klinis


• Pemeriksaan laboratorium:
– Menemukan MF dalam darah tepi
– Serologi:
• Antibodi
• Antigen
Diagnosis Laboratorium

Menemukan mikrofilaria di darah tepi


a) sediaan darah tebal: 2-3 tetes darah ujung
jari diwarnai dengan Wright Giemsa atau
JSB-II
b) filtrasi membran: 1-2 ml darah vena disaring
dengan membran ukuran pori 3µm
c) DEC provocative test (2mg/Kg): setelah
minum DEC, Mf akan masuk darah tepi di
siang hari dalam waktu 30 - 45 menit.
Immuno Chromatographic Test (ICT):
• Deteksi antigen:
– Card test
– ELISA
– Antigen dalam sirkulasi: baku emas untuk infeksi
W. bancrofti infection.
– Spesifisitas dan sensitivitas tinggi
– Mendeteksi antigen pada pasien amikrofilaremi
dan kelainan kronik seperti lymfoedema,
elefantiasis.
Diagnosis
• Quantitative blood count (QBC):
mengidentifikasi MF, cepat namun tidak sebaik
sediaan apus darah tepi
• Ultrasonografi:
Ultrasonografi dengan amplitudo 7,5 atau 10 MHz
dapat memperlihatkan lokasi dan gerakan cacing
dewasa WB pada sistem limfatik skrotum pasien
asimptomatik disebut sebagai “Filaria dance sign”.
diagnosis
• Lymphoscintigraphy:
struktur dan fungsi sistem limfatik dapat dinilai
dengan setelah dimasukkan radio-labelled albumin
atau dekstran.
• radiografi
TPE: penebalan interstitial dan bercak nodular difus.
• Haematologi : eosinofilia
Pengobatan
• Tujuan utama pengobatan adalah membunuh
cacing dewasa
• Di-ethyl carbamazin (DEC):
– MF
– Cacing dewasa
– Tidak boleh diberikan pada pasien onkoserkiasis
• Ivermectin
– MF
Faktor sosial dan lingkungan

• Urbanisasi (perkotaan) , kemiskinan,


industrialisasi, buta huruf dan sanitasi
• Iklim: Temperatur 20-300C & kelembaban 70%
• Perkembangan parasit dalam tubuhn nyamuk
bergantung pada:
– Tempat perindukan
– Umur nyamuk
– Sistim drainage air perkotaan dan pedesaan
Pencegahan
• Hindari gigitan nyamuk
• Nyamuk vektor filaria biasanya menggigit saat
senja hingga fajar
• Tidur dalam kelambu
• Pergunakan baju yang menutupi tubuh
dengan baik
• Repellent
e.c W. bancrofti
FILARIASIS BANCROFTI
W. Bancrofti – mikrofilaria
anterior posterior

sediaan darah tebal:


• bulat tumpul di bagian anterior, runcing di bagian kaudal
• lekuk tubuh halus
• sarung berwarna pucat
• Tidak ada nukelus terminal
Daur hidup W. bancrofti
Vektor

• Culex (C. annulirostris, C. bitaeniorhynchus, C.


quinquefasciatus, and C. pipiens);
• Anopheles (A. arabinensis, A. bancroftii, A. farauti, A.
funestus, A. gambiae, A. koliensis, A. melas, A. merus,
A. punctulatus and A. wellcomei);
• Aedes (A. aegypti, A. aquasalis, A. bellator, A. cooki, A.
darlingi, A. kochi, A. polynesiensis, A. pseudoscutellaris,
A. rotumae, A. scapularis, and A. vigilax);
• Mansonia (M. pseudotitillans, M. uniformis);
• Coquillettidia (C. juxtamansonia)
e.c. B. malayi dan B. timori
FILARIASIS MALAYI & TIMORI
Daur hidup B. malayi
Vektor
• Genus Mansonia dan Aedes.

Telur Mansonia
B. malayi
B. timori

Mikrofilaria B. timori pada sediaan darah tebal pasien dari Indonesia, pw.
Giemsa and pembesaran 500x.
Courtesy of Dr. Thomas C. Orihel, Tulane University, New Orleans, LA.
Identifikasi molekular

Dapat dilakukan dengan berbagai metode, namun kesemuanya berdasarkan identifikasi DNA
Mengurangi infeksi baru
• Global Programme for the Elimination of Lymphatic
Filariasis (GPELF)- eliminasi LF pada 2020 dengan
memutus rantai penularan (http://www.filariasis.org)
• Daerah endemik W. bancrofti atau Brugia spp.:
– diethylcarbamazine (DEC)
– albendazole (Glaxo-SmithKline)
• Daerah enedmik O. volvulus
– Kombinasi ivermectin (Merck) + albendazole
– obat bersifat mikrofilarisidal dan tidak ditujukan untuk
cacing dewasa sehingga tidak memperbaiki kondisi
penderita filariasis kronik
– Menurunkan “kesediaan” minum obat
Dasar manifestasi klinis (limfedema)
• Cacing dewasa di saluran & kelenjar limfe merangsang
sistim kekebalan namun histologis tidak tampak inflamasi,
kecuali bila cacing mati (obat atau spontan)
• Terbentuk granuloma; ditandai demam dan limfangitis
retrograd (nyeri dan bengkak) selama ± 1 minggu dan
pasien immobil.
• Awal kondisi kronik disertai fibrosis terutama pada orang
yang memiliki predisposisi genetis yaitu orang yang sistim
imunnya tidak menurun (downregulated) bahkan
meningkat/terstimulasi
• Dilatasi saluran limfe hampir selalu ditemukan pada
penderita FL:
– Daerah skrotal lelaki dewasa yang terinfeksi W. bancrofti (Brugia
tidak pernah menghuni daerah skrotal)
Dasar manifestasi klinis (limfedema)
• Dilatasi saluran limfe - cacing dewasa hidup; gejala awal
yang merangsang sistim kekebalan.
• Sebagian MF di fagositosis (antigen) merangsang imunitas
adaptif yang melepaskan pro-inflammatory cytokines dan
molekul yang merangsang lymphangiogenesis
• Antigen berasal dari:
– Cacing
– Wolbachia (endosymbionts)
– Pemberian doxycycline mengurangi kadar faktor
lymphangiogenesis plasma
• Dilatasi saluran limfe berakibat transport limfe (+ gravitasi)
dari perifer terganggu hingga mudah infeksi dan bengkak
(luka kecil sering tak diketahui)
endosymbiotic bacteria Wolbachia
• Rickettsiales
• Ditemukan pada:
– hypodermis jantan dan betina
– oocytes, embryos dan larva
– W. bancrofti, Brugia spp. & O. volvulus
• Target pengobatan
• Antigenik: cacing mati melepaskan banyak
antigen termasuk bakteri Wolbachia
Wolbachia (merah)

Bakteri Wolbachia pada Brugia betina,


terkumpul pada daerah hipodermal dan uterus
M. Taylor – Liverpool, UK
Toleransi neonatus
• Dilahirkan ibu mikrofilaremik biasanya
manifestasi klinis jarang
• Elefantiasis/kronik di daerah endemis
dipengaruhi oleh
– transmission
– ko-infeksi
– genetik
Dampak sosial LF
• hydrocoele dan lymphoedema
• Kesulitan bekerja, beban ekonomi
• Kesulitan berinteraksi dengan lingkungan
• Mobilitas rendah
• Ditolak lingkungan
• Kesulitan hubungan seksual (keluarga)

Wijesinghe et al., Filaria J. 2007, 6:4 doi:10.1186/1475-2883-6-4


Causa: Loa loa

LOAIASIS
epidemiologi
• Afrika Barat dan Tengah
– Sudan
– Uganda.
– Angola.
• 3 - 13 juta orang terinfeksi
Loaiasis
• Loiasis, = African eye
• Ditularkan: gigitan vektor (berulang kali)
deerflies (mango flies /mangrove flies) genus
Chrysops.
• Eye worm = Calabar swellings = itchy swellings
(angioedema lokal )
• Daerah endemis penting diketahui karena
loaiasis membatasi program pemberantasan
onkoserkiasis and LF.
Loaiasis: transmisi
• Chrysops menggigit siang hari; saat menggigit MF dari pasien terbawa dan hidup
dalam abdomen lalat. Setelah 7 - 12 larva mencadi infektif dan siap ditularkan.

• Dalam tubuh manusia cacing menjadi dewasa dalam 5 bulan, hidup di jaringan sub
kutan dan di otot somatik (sp 17 tahun). Betina memproduksi ribuan MF yang akan
bermigrasi ke sistem limfatik – paru dan dilepas ke sirkulasi sekitar tengah hari

• Klinis: umumnya asimptomatik


– Klinis tersering: Calabar swellings (non piting edema, pada sendi dan tungkai, gatal ) dan
cacing di mata (<1 minggu/jam, migrasi, kongesti, gatal, nyeri dan peka terhadap cahaya,
umumnya tidak menyebabkan kerusakan)
– cacing dewas bergerak di bawah kulit.
– Eosinofilia
– Infeksi kronik: kerusakan ginjal krn deposit kompleks cacing (jarang)
– Peradangan kelenjar limf., pembengkakan skrotum
– Infiltrat paru dan cairan pada paru, jaringan parut pada jantungle.
Tempat perindukan:

Semi akuatik
Daur hidup
Diagnosis
• Diagnosis sulit bila konsentarsi Mf darah
rendah.
• Eye worm, Calabar swellings, eosinopilia:
• Identifikasi cacing dewasa terhadap cacing
yang dikeluarkan dari kulit atau mata.
• MF dalam darah: jam 10-14.00
• deteksi antibodi
Terapi

• DEC (Mf dan dewasa)


– Dapat menyebabkan peradangan pada otak
• Albendazole: MF.
Pencegahan

• DEC 300mg seminggu sekali


• Mencegah gigitan insekta
Causa: O. volvulus
ONKOSERKIASIS-RIVER BLINDNESS
Penyebaran onkoserkiasis (WHO)
River blindness: klinis
• Kematian MF:
– Toksik terhadap mata dan kulit
– Kulit: Gatal dan gatal yg luar biasa, kelainan yang
disebut "leopard" skin & "lizard" skin
– Lesi mata: kronik irreversible The death of
microfilariae is very toxic to the skin and the eye,
producing terrible itching and various eye
manifestations (lesions). After repeated years of
exposure, these lesions may lead to irreversible
blindness and disfigurative skin diseases sometimes.
Onkoserkiasis: gejala klinis

Leopard skin

Buta
Lizard skin
Dampak sosial
• Afrika Barat: 50% lelaki > usia 40 tahun buta
karena parasit ini.
• Orang meninggalkan derah tepi sungai yang
subur ke daerah yang kurang subur:
• Kerugian ekonomi sekitar 30 juta dolar
Onkoserkiasis
O. volvulus

Blackfly/Simulium

Mikrofilaria
Tempat perindukan:

Afrika: Sungai yang mengalir deras


diagnosis
• skin snip biopsy: mencari MF (mikroskopis)
atau
• PCR (sensitif)
• Nodul kulit: cacing dewasa I
• Slit lamp: MF di mata
• Serologi : deteksi anti bodi

fotografi: B. Nutman, MD, Laboratory of Parasitic Diseases, NIAID, NIH


pengobatan
• Ivermectin:
– Mikrofilaria
– 150 mcg/kg oral dosis tunggal tiap 6 bulan
• Doksisiklin:
– makrofilaria
– 200 mg oral/hari selama 6 minggu
Sumber
• CDC: dari berbagai situs
• WHO: dari berbagai situs
• Gambar: dari berbagai situs
TERIMA KASIH