You are on page 1of 34

Psikofarmakoterapi

 Obat-obat psikofarmaka memiliki efek utama
terhadap proses mental disusunan saraf pusat spti :
- Proses berpikir
- perasaan dan fungsi motorik atau
- perilaku
Berdasarkan efek klinis dibagi 4 :
1. Antipsikotik
2. Antidepresan
3. Antiansietas( cemas)
4. Antimanik/mood stabilizer
Anti Psikotik
 Sering disebut neuroleptik,
 Major tranquiliser (sedasi/mengantuk berat)

Klasifikasi :
Berdasarkan rumus kimia :
- Fenotiazin mis : Chlorpromazine
Potensi rendah
- Non fenotiazin mis : Haloperidol
Potensi tinggi.
 Berdasarkan cara kerja terhadap reseptor dopamin :
- Dopamin reseptor antagonis (DA) tipikal
(Antipsikotik generasi I) mis : Haloperidol/CPZ dll
- Serotonin dopamin antagonis (SDA) atipikal
(antipsikotik generasi II)
mis : Risperidone,clozapine, olanzapine,quetiapine,
dan aripiprazole.
Efek Samping.
- Efek samping :
* Neurologis : Akatisia, distonia akut dan
parkinsonism (acute extrapyramidal syndrome),
* Non neurologis : Sindroma neuroletik maligna(SNM)
 kondisi emergensi krn bisa mengancam
kehidupan.
 Kondisi sangat menakutkan dan tidak nyaman bagi
pasien.
 Biasa terjadi pada minggu pertama pengobatan
dengan antipsikotik tipikal.
- Kondisi akut mengancam kehidupan .
- Antipsikotik  stop
- Terapi simptomatik (perhatikan keseimbangan
cairan/monitor vital sign).
- Perlu kerjasama dengan bagian terkait seperti :
interna.
Sindroma Neuroleptik Maligna.
Gejala utama :
- rigiditas, hiperpireksia, gangguan sistem saraf otonom
dan delirium.
- Febris tinggi dapat mencapai 41 oC
- Rigiditas  kaku seperti pipa
- Peningkatan tonus otot myonecrosis
- Sistem otonom : hipertensi/hipotensi, takikardia dll.
- Kesadaran berfluktuasi sampai delirium , kejang dan
koma.
- Mulut keringhaus.
Parkinsonism :
- Kumpulan gejala tdd :
* bradikinesia, rigiditas,fenomena roda bergerigi,
tremor, muka topeng, postur tubuh kaku,jalan spt
robot dan drooling (tremor kasar ditangan spt
membuat pil)

8
 Akatisia
- Secara subyektif dirasakan penderita :
perasaan tidak nyaman, gelisah dan merasa harus
selalu menggerak-gerakkan tungkai.
- Pasien sering menunjukkan kegelisahan dengan
gejala-gejala kecemasan dan atau agitasi.

Distonia Akut
- Terjadi kekakuan dn kontraksi otot secara tiba-tiba.
- Otot-otot : leher, lidah, muka dan punggung.
- Mungkin terjadi krisis occulogyric atau opistotonus
Prinsip pengobatan
 Prinsip :
- Terapi inisial
- Terapi pengawasan
- Terapi pemeliharaan

TERAPI INISIAL
- Diberikan setelah diagnosis ditegakkan
- Mulai dosis anjuran dinaikkan perlahan-lahan dalam
waktu 1-3 minggu.
- Dosis optimal dicapai untuk mengendalikan gejala
 TERAPI PENGAWASAN.
- Dosis optimal dipertahankan selama 8-10 minggu
sebelum masuk ketahap pemeliharaan.

 TAHAP PEMELIHARAAN
- Pertimbangkan dosis diturunkan secara bertahap
sampai dosis minimal tanpa menimbulkan
kekambuhan.
- Berlangsung jangka panjang tergantung perjalanan
penyakit.
- Beberapa bulan - tahun
 Konsensus , kondisi aku pertama kali  2 tahun ;
 Kronis beberapa kali kambuh sampai 5 tahun
bahkan seumur hidup (riwayat agresif berlebih).

PENATALAKSANAAN EFEK SAMPING
Parkisonism :
- Trihexyphenidil (artane)
- Benztropin (congentin)
- Sulfas atropin
- Diphenhidramin.
Diberikan jika efek samping muncul.
ANTIDEPRESAN.
- Mengendalikan gejala depresi.
- Bisa juga untuk gangguan cemas dll.

Klasifikasi.
1. trisiklik : - Imipramin ( tofranil)
- Amitriptilin (laroxyl)
2. Tetrasiklik : - Maprotilin (ludiomil)
- Mianserin (Tolvon)
3. MAOI (Monoamine oxydase Inhibitor)
- Moclobemide (Aurorix)
4. SSRI (selective serotonin reuptake inhibitor)
- Sertralin (Zoloft)
- Fluoxetine (Prozac)
- Fluvoxamine (Luvox)
- Paroxetine (Seroxat)
- Escitalopram (Cipralex).
5. SNRI (Serotonin norepinefrin reuptake inhibitor).
- Venlafaxine (efexor XR)
- Duloxetine (Cymbalta)
CARA KERJA.
- Meningkat seroronin pasca sinaps.
- Trisiklik/tetrasiklik  tidak selektif
- SSRI  selektif terhadap neurotransmiter serotonin
(5HT2).
- MAOI bekerja dipresinaps menghambat enzim
yang memecah serotonin seoronin
celah/pascasinaps bertambah
- SNRI  Menghambat reuptake serotonin dan
norepinefrin
Normal

Depresi
Synaptic Cleft

Presynaptic Postsynaptic
Neurone Neurone

Reuptake Neurotransmitter
pump
Receptor
Efek Samping.
Tergantung jenis obat :
Antara lain : hipotensi, gangguan jantung, alergi dll.

PRINSIP PENGOBATAN.
- Mulai dosis rendah dosis terapetik.
- Efek terapi tampak minggu ke2-3.
- Pada minggu pertama perlu + benzodiazepine efek
cepat memberi rasa nyaman
- Terapi pemeliharaan (remisi+cegah kekambuhan)
minimal 6 bulan , ttpi bisa sampai 3-5 tahun)
 ANTIANSIETAS.
- Mengatasi kecemasan.
- Memiliki efek sedasi, relaksasi otot, amnestik dan
antiepileptik.
- Pemakaian sangat luas dan sering terjadi penyalah
gunaan.

Klasifikasi:
1. Benzodiazepin ,
- Diazepam (valium)
- Bromazepam (lexotan)
- Lorazepam (Ativan).
- Alpazolam (Xanax)
- Clobazam (Frisium)
2. Gliserol.
- Meprobamat
3. Barbiturat
- Fenobarbital
CARA KERJA.
- Selektif reseptor GABA (Gamma-aminobutyric acid
A).
- Ion Cl masuk kedalam selhiperpolarisasi neuron
menhambat pelepasan transmisi neuronal
EFEK SAMPING.
- Ngantuk
- Sakit kepala
- Disartri
- Ataksia
- Napsu makan meningkat
- Mudah terjadi toleransi dan dependensi
- Gejala putus zat jika dihentikan mendadak.
ANTIMANIK (MOOD STABILIZER).
- Mempertahankan stabilitas suasana perasaan.
- Terutama mencegah munculnya manik pada ggn
bipolar.
Klasifikasi :
1. Garam lithium .
Lithium carbonat .
2. Lain –lain :
- Carbamazepine : - tegretol
- Asam valproat : - depakene
- Natrium divalproate : - depakote

27
CARA KERJA.
- Efek belum dapat dijelaskan tetapi lithium bermanfaat
untuk gangguan bipolar episode manik.
Efek samping :
- Jendela terapetik sangat kecil.
- Kadar 1,5 mEq/l toksik terhadap ginjal.
- Efek samping : tremor halus, diare dan muntah-
muntah, rasa lelah dan vertigo dll
TERAPI KEJANG LISTRIK (ECT).
Indikasi antara lain:
- Depresi berat
- Skizofrenia katatonik dll.

Metode
- Memberikan aliran listrik pada otak melalui 2
elektrode dibagian temporal kepala.
- Akan timbul kejang-kejang .
30
psychosomatic medicine 31
33
34