You are on page 1of 26

Asuhan

keperawatan
gerontik pada
sistem intergumen
Anggota
Anya Teffany Hermawan
Putri
Anggriala Simatupang
Dana Syabilla Dewi
Bagus Ade Wibowo
Pengertian Menua
• Menua (menjadi tua) adalah suatu proses menghilangnya
secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk
memperbaiki diri/mengganti dan mempertahankan fungsi
normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi
dan memperbaiki kerusakan yang diderita
( Constantinides, 1994).
Perubahan yang terjadi pada sistem intergumen

• Pada lansia, kulit akan mengeriput akibat kehilangan jaringan lemak,


permukaan kulit kasar dan berisisik karena kehilangan proses kreatinisasi,
serta perubahan ukuran dan bentuk-bentuk sel epidermis.
• Mekanisme proteksi kulit menurun, ditandai dengan produksi serum
menurun dan gangguan pigmentasi kulit.
• Kulit kepala dan rambut pada lansia akan menipis berwarna kelabu, rambut
dalam hidung dan telinga menebal.
• Berkurangnya elastisitas akibat dari menurunya cairan dan vaskularisasi.
• Pertumbuhan kuku lebih lambat, kuku jari menjadi keras dan rapuh serta
kuku menjadi pudar dan tidak bercahaya.
Herpes Zoester
 
1. Pengertian Herpes Zoester
Herpes Zoester adalah penyakit yang disebabkan oleh
infeksi Virus Varisela Zoester yang menyerang kulit dan
mukosa, infeksi ini merupakan reaktivasi virus yang terjadi
setelah infeksi primer.
2. Etiologi
• Herpes Zoester terjadi karena reaktivasi dari virus varicella ( cacar
air )
• Herpes Zoester disebabkan oleh virus varisela zoester.
Phatofisiologi

• Virus ini berdiam di ganglion posterior susunan saraf tepi


dan ganglion kranalis kelainan kulit yang timbul
memberikan lokasi yang setingkat dengan daerah
persarafan ganglion tersebut. Kadang virus ini juga
menyerang ganglion anterior, bagian motoric kranalik
sehingga memberikan gejala-gejala gangguan motoric.
Virus varisela zoester didapat saat seseorang terkena
cacar air dimana virus tinggal didalam sistem saraf dan
dapat aktif kembali bila pasien mengalami stress berlebih
atau penurunan daya tahan tubuh misalnya badan tidak
fit. Ini disebut reaktivasi virus.
Manifestasi klinis

• Pada Herpes zoester generalisata kelainan kulitnya


unilateral dan segmental ditambah kelainan kulit yang
menyebar secara generalisa berupa vesikel yang solitar
dan ada umbilikasi. Neurologi pasca herpetik adalah rasa
nyeri yang timbul pada daerah bekas penyembuhan. Nyeri
ini dapat berlangsung sampai beberapa bulan bahkan
bertahun-tahun dengan gradasi nyeri yang bervariasi. Hal
ini cenderung dijumpai pada usia lebih dari 40 tahun.
Pemeriksaan diagnostic
Pemeriksaan penunjang pada herpes zoester adalah :
• Tzanck Smear : mengidentifikasi virus herpes tetapi tidak
dapat membedakan herpes zoester dan herpes simplex.
• Kultur dari cairan vesikel dan tes antibody : digunakan
untuk membedakan diagnosis herpes zoester
• Immunofluororescent : mengidentifikasi varicella di sel kulit.
• Pemeriksaan histopatologik.
Penatalaksanaan
• Pengobatan topikal
• Terapi sistematik
Komplikasi
• 1. Neuralgia Pasca Herpes zoester (NPH)
• 2. Gangren superfisialis
• 3. Komplikasi mata
• 4. Herpes zoester diseminata/generalisata
• 5. Komplikasi sistemik
Psoriasis
• Psoriasis adalah penyakit yang penyebabnya autoimun,
bersifat kronik dan residif, ditandai dengan adanya
bercak-bercak eritema berbatas tegas dengan skuama
yang kasar, berlapis-lapis dan transparan, disertai
fenomena tetesan lilin, Auspitz dan Kobner ( Adhi
Djuanda, 2005).
Etiologi
Penyebab psoriasis sampai saat ini belum diketahui. Pada
sebagian pasien terdapat factor herediter yang bersifat
dominan. Selain itu factor imunologi juga berperan. Factor
fisik dikatakan mempercepat terjadinya residif.
Patofisiologi
• Pathogenesis terjadi psoriasis, diperkirakan Karena :
• Terjadi peningkatan “ turnover “ epidermis atau kecepatan pembentukkannya dimana pada kulit
normal memerlukan waktu 26-28 hari, pada psoriasis hanya 3-4 hari sehingga menggambarkan klinik
tampak adanya skuama dimana hiperkeratotik. Disamping itu pematangan sel-sel epidermis tidak
sempurna.
• Adanya factor keturunan ditandai dengan perjalanan penyakit yang kronik dimana terdapat
penyembuhan dan kekambuhan spontan serta predileksi lesinya pada tempat-tempat tertentu.
• Perubahan-perubahan biokimia yang terjadi pada psoriasis meliputi :
1. Peningkatan replica DNA
2. Berubahnya kadar siklik nukleotida
3. Kelainan prostaglandin dan prekursornya
4. Berubahnya metabolism karbohidrat
Manifestasi klinis
• Penderita biasanya mengeluh adanya gatal ringan pada
tempat-tempat predileksi, yakni pada kulit kepala,
perbatasan daerah tersebut dengan muka, ekstremitas
bagian ekstensor terutama siku serta lutut, dan daerah
lumbsakral. Kelainan kulit terdiri atas bercak-bercak
eritema yang meninggi (plak) dengan skuama di atasnya.
Eritema berbatas tegas dan merata. Skuama berlapis-
lapis, kasar dan berwarna putih seperti mika, serta
transparan. Pada psoriasis terdapat fenomena tetesan
lilin, Auspitz dan kobner.
Penatalaksanaan
Tujuan penatalaksanaan adalah untuk memperlambat
pergantian epidermis, meningkatkan resolusi lesi psoriatic
dan mengendalikan penyakit tersebut. Ada tiga terapi yang
standar: topikal, intralesi dan sistematik.
1. Terapi topikal
2. Terapi intralesi
3. Terapi sistemik
Komplikasi
1. Psoriasis Pustulosa
2. Psoriasis arthritis
3. Psoriasis eritodermia
Ulkus decubitus
• Dekubitus sering disebut ulkus dermal / ulkus decubitus
atau luka teka terjadi akibat tekanan yang sama pada
suatu bagian tubuh yang mengganggu sirkulasi
(harnawati, 2008).

• Dekubitus adalah kerusakan local dari kulit dan jaringan


di bawah kulit yang disebabkan penekanan yang terlalu
lama pada area tersebut (ratna kalijana. 2008)
Klasifikasi decubitus
1. Tipe normal
2. Tipe ateriosklerosis
3. Tipe terminal
Stadium dekubitus
Etiologi
1. Factor ekstrinsik
a) Tekanan dan jaringan di bawahnya tertekan antara
tulang dengan permukaan keras lainya, seperti tempat
tidur dan meja oprasi.
b) Gesekan dan pergeseran
c) Kelembaban
d) Kebersihan tempat tidur
Con’t
2. Factor intrinsic
a) Usia
b) Penurunan sensori persepsi
c) Penurunan kesadaran
d) Malnutrisi
e) Mobilitas dan aktivikas
f) Merokok
g) Temperature kulit
h) Kemampuan sistem kardiovaksuler menurun, sehingga perfusi kulit menurun.
i) Anemia dan hipoalbuminemia, beresiko tinggi terkena decubitus dan memperlambat
penyembuhanya.
j) Penyakit-penyakit yang merusak pembuluh darah juga mempermudah dan terkena
decubitus dan memperburuk decubitus.
Patofisiologi
• Immobile/terpancang pada tempat tidurnya secara pasif dan
berbaring lebih dari 2 jam, tekanan darah sacrum akan mencapai
60-70 mmHg dan daerah tumit mencapai 30-45 mmHg (normal:
tekanan daerah pada kapiler berkisar antara 16mmHg-33mmHg),
iskemik, nekrosis jaringan kulit. Selain factor tegangan, ada factor
lain yaitu : factor kulit misalnya gerakan meluncur ke bawah pada
penderita dengan posisi setengah berbaring. Factor terlipatnya
kulit akibat gesekan badan yang sangat kurus dengan alas tempat
tidur, sehingga seakan-akan kulit “tertinggal” di area tubuh
lainnya. (Heri Sutanto, 2008)
Manifestasi klinis
1. Tanda cidera awal adalah kemerahan yang tidak
menghilang apabila di tekan ibu jari.
2. Pada cidera yang lebih berat dijumpai ulkus di kulit
3. Dapat timbul rasa nyeri dan tanda-tanda sistemik
peradangan, termasuk demam dan peningkatan hitung
sel darah putih
Pemeriksaan diagnostik
• Kultur : pertumbuhan mikrooganisme tiruan atau
sel-sel jaringan.
• Albumin serum : protein utama dalam plasma dan cairan
serosa lain.
Penatalaksanaan medis
1. Perawatan luka decubitus
2. Terapi fisik, dengan menggunakan pusaran air untuk
menghilangkan jaringan yang mati.
3. Terapi obat : Obat antibacterial tropical untuk mengontrol
pertumbuhan bakteri Antibiotic prupilaksis agar luka tidak terinfeksi
4. Terapi diet
Agar terjadi proses penyembuhan luka yang cepat, maka nutrisi harus
adekuat yang terdiri dari kalori, protein, vitamin, mineral, dan air.