You are on page 1of 34

SISTEM KEWASPADAAN DINI

UNTUK INTERVENSI GIZI BURUK

<5%

5-19.9%

20-29.9%

>=30%

PREVALENSI GIZI KURANG DAN BURUK
DI INDONESIA (SUSENAS 1989-2003)

40 37.5
35.6
35 31.6
29.5
30 26.4 24.7 26.1 27.3 27.5
25
20
15 11.6 10.1
7.2 8.1 7.5 8 8.55
10 6.3 6.3
5
0
1989 1992 1995 1998 1999 2000 2001 2002 2003

kurang pemanfaatan sumberdaya masyarakat Pengangguran . Dampak KURANG GIZI Penyebab Makan Penyakit Infeksi langsung Tidak Seimbang Sanitasi dan Air Penyebab Tidak Cukup Pola Asuh Anak Bersih/Pelayanan Tidak langsung Persediaan Pangan Tidak Memadai Kesehatan Dasar Tidak Memadai Kurang Pendidikan . Politik . ( nasional ) dan Sosial . inflasi . kurang pangan dan kemiskinan Akar Masalah Krisis Ekonomi. Pengetahuan dan Keterampilan Pokok Masalah Kurang pemberdayaan wanita di Masyarakat dan keluarga .

Perilaku Status Kesehatan Genetik/keturunan & Gizi Pelayanan Kesehatan Gambar. Bagan Bloomm .

Contoh: Hubungan penyakit menular dengan status gizi Gizi diare pnemonia meninggal .

Contoh: Hubungan Sakit - Faktor Risiko Pangan Gizi imunitas diare campak pengobatan meninggal .

berarti menurunkan kematian bayi dan balita Malaria ISPA 5% 19% Diare 19% Gizi kurang Campak 54% 7% Lainnya 32% Perinatal 18% Sumber: WHO. 2002 . Menurunkan kejadian gizi kurang.

MASA “EMAS” DAN KRITIS Kehamilan & Pertumbuhan Janin Pertumbuhan Bayi & Anak Pertumbuhan otak Membangun Membangun berat Untuk Mencapai Tinggi dan Berat badan optimal tinggi badan badan potensial potensial (rapid increase in (rapid increase in cell size) cell number) Butuh gizi mikro & protein Dibutuhkan seluruh zat gizi Butuh Kalori (makro dan mikro) secara seimbang Konsepsi 20 mg LAHIR 2 TAHUN .

Ascobat Gani . PRIORITAS INTERVENSI PADA “EMAS” DAN KRITIS Investasi terlambat . Investasi tepat waktu Mutu SDM rendah 100% 80% Surat Al Baqarah ayat 233 “Para ibu hendaklah menyusukan anak- anaknya selama dua tahun penuh. yaitu ASI & bagi yang ingin menyempurnakan MP-ASI penyusuan” lahir 6 bl umur 2 th 5 th Sumber: FKM-UI.

5 -1 -1. POLA STATUS GIZI BALITA ANAK INDONESIA (SUSENAS 2003) 1.5 -2 Umur (bulan) .5 0 z-score BB/U 0 4 8 12 16 20 24 28 32 36 40 44 48 52 56 60 -0.5 1 Kota Growth Faltering Desa 0.

KAITAN SKG dengan SKPG dan SEN SURVEILLANS SKPG SKG EPIDEMIOLOGI NASIONAL .

PELAKSANAAN SURVEILANS GIZI No Jenis Kegiatan Sasaran Frekuensi 1. SKD dan KLB gizi buruk Balita Rutin 3. Survei GAKY Kecamatan 5 tahun sekali . Pemantauan konsumsi gizi Rumah tangga 3 tahun sekali 6. Pemantauan konsumsi garam beryodium 1. Pengukuran IMT Orang dewasa 3 tahun sekali perkotaan 7.Desa 6 bulan seklai 2. Pemantauan pertumbuhan di posyandu Anak balita Setiap bulan 2.Kabupaten Setiap tahun (Susenas) 8. Pemantauan status gizi Balita 1 x setahun 4. Gangguan pertumbuhan pada anak usia Anak sekolah dasar 5 tahun sekali masuk sekolah (TBABS) 5.

Bulan penimbangan di posyandu Plot BB di KMS Ditimbang Ke posyandu Tumbuh baik Naik Lakukan Tidak Bagaimana BB tindakan naik anak ? Dinilai perkembangan Lakukan BB-nya BGM Konfirmasi .

SKDN) • BGM . Penyelidik-an Kajian daan dan dan Penangan Epidemiol terhadap kemungkinan kesiap. penanggulang an kasus ogi siagaan an KLB Gizi Terjadi KLB buruk KLB Pencegahan Sumber data: • Laporan penyakit Surveilan • Data PSG • Data Cakupan ketat (imunisasi. Sistem kewaspadaan dini KLB Gizi Buruk Penyeli dikan KLB Peringatan dini Kewaspa.

Jumlah kasus gizi buruk yang ditemukan dan ditangani .Teridentifikasinya kasus gizi buruk pada Balita . Langkah-Langkah Pelaksanaan Program 100 Hari Khusus Kewaspadaan Gizi Melalui Pemantauan Status Gizi • Target : .Tertanggulanginya kasus-kasus gizi buruk • Indikator: .Berfungsinya mekanisme surveilans terutama Pemerintah Pusat dan Daerah .

5 juta balita yang tersebar di seluruh propinsi • Selama 14 tahun terakhir (Susenas 1989-2003) prevalensi gizi buruk tidak menurun akibat masih tingginya kemiskinan.5 % atau 1. Fakta Yang Ada • Prevalensi Gizi Buruk 8. • Identifikasi Gizi Buruk:  Pemantauan pertumbuhan balita melalui penimbangan balita di posyandu  Sistem Kewaspadaan Dini dan KLB Gizi Buruk  Pemantauan Status Gizi kecamatan .

• Pemantauan status gizi tingkat kecamatan belum dilaksanakan di semua Kabupaten • SKD dan KLB Gizi buruk menjadi terlambat • Perlu upaya identifikasi dan penanggulangan gizi buruk yang cepat dan tepat .Lanjutan ……… Fakta Yang Ada • Cakupan penimbangan balita di posyandu hanya 45% (Susenas 2001).

7 JUTA GANGGUAN TINGKAT MASYARAKAT) PERTUMBUHAN . RASIONAL FAKTA: .GIZI KOMPREHENSIF PDDK INDONESIA (KADARZI) MENDERITA KURANG 2020 GIZI (MAKRO+MIKRO) 2005 2009 2015 .45% HARI BALITA GIZI BAIK KABINET IND. BERSATU UNTUK SEMUA .3.PERKIRAAN 100 JUTA * PERB.POSYANDU: 100 MENJANGKAU +/.5 JUTA GIZI KURANG (LANGKAH AWAL PERBAIKAN “SISTEM” .5 JUTA GIZI BURUK BULAN TIMBANG BALITA .1.

Identifikasi siapa.Kunjungan rumah untuk balita yang tidak ke posyandu 2. berapa. dimana balita yang BGM 3. Upaya konkrit yang harus dilakukan: 1. Konfirmasi balita BGM oleh petugas puskesmas untuk menentukan balita gizi buruk . Mengintensifkan bulan timbang balita di posyandu mencakup 18 juta balita (contoh: Jawa Barat operasi timbang semua balita) .Penimbangan dilakukan di posyandu .

Konfirmasi balita BGM oleh petugas puskesmas untuk menentukan balita gizi buruk 5.Lanjutan…… Upaya konkrit yang harus dilakukan: 4. Balita gizi buruk dirujuk dan ditangani sesuai dengan tatalaksana gizi buruk di puskesmas dan di rumah sakit 6. Lakukan penyelidikan epidemiologi gizi pada daerah dengan kasus gizi buruk .

Koordinasi lintas sektor untuk pencegahan gizi buruk 8. LSM. Intensifkan pelaksanaan SKD KLB gizi buruk 9. manajemen MP-ASI. masyarakat.Lanjutan…… Upaya konkrit yang harus dilakukan: 7. APBD. swasta. dll) Dana PKPSBBM : Rujukan RS Revitalisasi Posyandu Yankesdas di Puskesmas . Sumber dana semua alternatif yang ada (dekonsentrasi.

000 BALITA GIZI BURUK TINGKAT BERAT YANG PERLU DIRAWAT: 175000 x 120 HARI x Rp 40.5 JUTA BALITA GIZI BURUK TERSEBAR DI SELURUH INDONESIA YANG HARUS DISELAMATKAN: 1.- • 175.000.000. KEBUTUHAN BIAYA • 1.- • SUMBER BIAYA YANG TERSEDIA HANYA UNTUK GIZI KURANG DAN GIZI BURUK (BAYI 6-11 BULAN DAN ANAK 12-24 BULAN) DARI GAKIN – PEMBERIAN MP-ASI 90 HARI .000.000. 1.000 (DI PUSKESMAS) = Rp.000 (PERAWATAN RS) = Rp 840.5 JUTA x 120 HARI x Rp 10.000.000.800.

KW-SPM KABUPATEN RS KABUPATEN (287) PUSKESMAS (>7000) PELAYANAN GIZI KECAMATAN POSYANDU. Standarisasi PUSAT DINAS KESEHATAN RS PROVINSI PROVINSI Fasilitasi. Penyuluhan POS DESA MASYARAKAT Suplementasi (250. HIRARKI UPAYA PERBAIKAN GIZI RUJUKAN NASIONAL Regulasi. Bimtek DINAS KESEHATAN PROGRAM.000Pos) Fortifikasi KUNJUNGAN INDIVIDU – ANGGOTA KELUARGA Penyuluhan RUMAH Pemberdayaan . POLINDES.

Lumbung Pangan Masyarakat Dasar KELUARGA MISKIN Intervensi 6. RUMAH SAKIT Sembuh tidak perlu PMT SISTEM KEWASPADAAN PANGAN DAN GIZI . .Raskin Pulih PMT Pemulihan emergency Konseling Gizi buruk 1. Pola asuh ibu & anak punya Penyuluhan gizi 2. Pemantauan pertumbuhan balita Supplementasi gizi 3. Gizi seimbang dan Semua Gizi Buruk penganekaragaman pangan balita Ditimbang (D) Tanda-tanda INFEKSI c. perlu Pemberian Makanan tambahan (PMT) 2. Bantuan pangan darurat: jangka . Pemanfaatan pekarangan KMS Gizi Kurang 4. PUSKESMAS Tanda-tanda sakit Sembuh. Penyuluhan/konseling Gizi: jangka a. Hanya ASI saja 0-6 bulan & menengah/ Makanan Pendamping ASI panjang (MP-ASI) > 6 bln-24 bln (masa emas) b. Peningkatan Daya Beli Pelayanan Kes 5.PMT balita. BAGAN INTERVENSI GIZI SISTEM KEWASPADAAN PANGAN DAN GIZI ( Lintas Sektor ) Usaha Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK) POSYANDU SELURUH KELUARGA Anak sehat BB Naik (N) Intervensi 1. ibu hamil Panti Pemulihan Gizi pendek.

. Kec. BB : 5.5 kg.1 Kg Marasmus (+ ISPA) Intervensi selama 9 bulan: Perawatan + PMT: Rp 3000/hari BB menjadi 10. L. Abang. Bekasi Fitria – Umur 18 bulan (Juli 1999).Kasus Gizi Buruk.

LAMPIRAN .

Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) 1998 2003 • Total Goitre Rate (TGR) 9.5% 31.2 % 23.30% ( juta) juta) Jumlah kurang gizi 37.Gizi Buruk 6.17% ( juta) 2002 19. HASIL PENCAPAIAN PROGRAM PERBAIKAN GIZI MASYARAKAT No Indikator Tahun Prev Tahun Prev 1. BBLR 2000 10-14 % 2003 10-14 % (+ 450.47%( juta) 8.3% (5 juta) 55.0% (1. Balita kurang energi protein .8 % 11.3% (3.Gizi Kurang 1989 31.45% 3.3 juta) 3. 4 bln 1997 52% 2002 27. Cakupan Menyusui ASI eks.1 % • Kec endemik berat+sdg (Prop) 29.8% 2002 32.000 bayi/th) bayi/th) 2.1% Susu formula (kendala) 1997 10.3 % (Kab) 4. - Serum Retinol < 20ug/dl 10 juta balita .7 .5% • Kec endemik berat+sdg 23. Kurang Vitamin A Balita 1992 50 % .000 (+ 450.

1% 26.5 % . Anemia Gizi Besi 1995 2001 .Balita 1995 3.9 % - 6. Gizi lebih .9 % 40.9 % - .5 % 26.Dewasa 48.Dewasa 1996 21 % . HASIL PENCAPAIAN PROGRAM PERBAIKAN GIZI MASYARAKAT (lanjutan) No Indikator Tahun Prev Tahun Prev 5.Balita 40.9 % .Lansia 57.5 % 47.Remaja Puteri 57.Bumil 50.2 % 2002 .Wanita Usia Subur 39.0 % .1 % .

pusat penelitian. Sistem Surveilans Epidemiologi Nasional merupakan tatanan prosedur penyelenggaraan surveilans epidemiologi yang terintegrasi antara unit-unit penyelenggara surveilans dengan sumber- sumber data. meliputi tata hubungan surveilans epidemiologi antar wilayah Kabupaten/Kota. pusat kajian dan penyelenggara program kesehatan. laboratorium. Propinsi dan Pusat .

ikan). Pelaporan dan Diseminasi informasi DIAGNOSA BANDING · Gangguan saluran cerna dengan diare dan atauDinas mual Kesehatan muntah. Kadar IgE lebih dari 30u/ml pada Usulan/rekomendasi Analisis dan umumnya perencanaan program menunjukkan bahwa penderita interpretasi penyajian adalah atopi. kapuk. misalnya : stenosis pilorik. keganasan dengan Masyarakat obstruksi. kacang. Informasi · IgE total dan spesifik: harga normal IgE total adalah 1000u/l sampai umur 20 tahun. · Darah tepi : bila eosinofilia 5% atau Melakukan perubahan 500/ml condong pada alergi. Sektor terkait defisiensi enzim. atau alergen tertentu makanan seperti susu. peptic disease . Hirschsprung. tepung O Carasari rumput. debu rumah. dilakukan selama 3 minggu sebelum SISTEM SURVEILANS GIZI dilakukan provokasi. telur. cystic fibrosis. Periksaan Penunjang · Uji kulit : sebagaidata: Pengumpulan pemerikasaan penyaring (misalnya dengan alergen hirup O Sarana Keshatan seperti tungau. atau mengalami infeksi parasit atau keadaan depresi imun seluler. Hitung yang dibutuhkan leukosit 5000/ml disertai neutropenia 3%Pengumpulan sering ditemukan pada alergi makanan. galaktosemia. bulu O Masyarakat kucing.

2003 50 40 % <-2SD BB/U 30 20 10 0 0-3 4-6 7-11 12-17 18-23 24-35 >=36 Kelompok Umur (bulan) 1995 1999 2003 . 1999. PREVALENSI GIZI KURANG PADA BALITA SUSENAS 1995.

.Gizi Kurang Pada Balita < 10 % 10-19 % 20-29 % > 29% 1.Micronutrient . Xxxxxx xxxxxx xxxxxx 5. Suplementasi gizi . Pelayanan gizi Xxxxxx xxxxxx xxxxxx xxxxxx 7. MATRIKS KEGIATAN INTERVENSI GIZI MENUJU KADARZI 2020 Kondisi Daerah Berdasarkan INTERVENSI GIZI Prev. Pendidikan Gizi Xxxxxx Xxxxxx Xxxxxx Xxxxxx 4. . Fortifikasi bahan makanan Xxxxxx xxxxxx xxxxxx xxxxxx 6. Pemberdayaan Keluarga Xxxxxx xxxxxx xxxxxx Xxxxxx 3. Pemantauan Pertumbuhan xxxxxx xxxxxxx xxxxxxx Xxxxxx 2. Surveilens gizi Xxxxxx xxxxxx xxxxxx xxxxxx . xxxxxx .PMT Xxxxxx .

UU 22. 2000 Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom Kewenangan Pemerintah : (Pasal 2 ayat 3 Bidang Kesehatan poin J ) • Surveilans epidemiologi serta pengaturan pemberantasan dan penanggulangan wabah. 25. 1999  PP. penyakit menular dan KLB Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom : (Pasal 3 ayat 5 Bidang Kesehatan poin d) • Surveilans epidemiologi serta penanggulangan wabah penyakit dan KLB .