You are on page 1of 23

ABSES RETROFARING

ANATOMI
Anatomi dan Fisiologi

 Faring merupakan jalan masuk udara dari


hidung ke laring dan makanan dari mulut ke
esofagus. Faring dibagi menjadi 3 bagian
yaitu:
 Nasofaring
 Orofaring
 Laringofaring
 Pada faring, terdapat jaringan imfoid yang
terdiri dari:
 Tonsila palatina
 Tonsila faringealis (adenoid)
 Tonsila lingualis
 Lateral band di kanan dan kiri dinding faring
 Nodul – nodul limfoid
Keseluruhan inilah yang disebut cincin waldeyer
DEFINISI
 Abses retrofaring adalah
suatu peradangan yang
disertai pembentukan pus
pada daerah retrofaring.
Keadaan ini merupakan
salah satu infeksi pada
leher bagian dalam.
INSIDEN
 sering terjadi pada anak < 5 tahun. Pada usia tersebut ruang
retrofaring masih berisi kelenjar limfe (nodes of Rouviere),
masing-masing 2-5 buah pada sisi kanan dan kiri. Kelenjar
ini menampung aliran limfe dari hidung, sinus paranasal,
nasofaring, tuba Eustachius dan telinga tengah. Pada usia
diatas 6 tahun kelenjar limfa akan mengalami atrofi

 Kusuma H ( 1995 )  RSUD Dr. Soetomo Surabaya 57 kasus


infeksi leher bagian dalam , 3 orang ( 5,26 % ) menderita
abses retrofaring.
Etiologi

(1) ISPA menyebabkan limfadenitis retrofaring.


(2) Trauma dinding belakang faring oleh benda asing
seperti tulang ikan atau tindakan medis, seperti
adenoidektomi, intubasi endotrakea dan endoskopi.
(3) Tuberkulosis vertebra servikalis bagian atas dimana
pus secara langsung menyebar melalui ligamentum
longitudinal anterior.
(4) Infeksi TBC pada kelenjar limfe retrofaring yang
menyebar dari kelenjar limfe servikal.

8
KLASIFIKASI

AKUT KRONIS
Anak-anak
Dewasa
<5 tahun

Infeksi
ISPA
TBC
 Pada anak yang lebih tua atau dewasa terjadi sekunder akibat
dari penyebaran abses spatium parafaringeum atau gangguan
traumatik dari batas dinding faring posterior oleh trauma yang
berasal dari benda asing.
 Pada anak-anak  akumulasi pus antara dinding faring posterior
dan fasia prevertebra yang terjadi akibat supurasi dan pecahnya
nodi limfatisi pada jaringan retrofaring  Nodi-nodi ini terletak
anterior terhadap vertebra servikalis kedua dan pada anak-anak
yang lebih tua tidak ditemukan lagi.

10
DIAGNOSIS

1. Anamnesis
2. Pemeriksaan klinis
3. Laboratorium :
a. darah rutin : lekositosis
b. kultur spesimen ( hasil aspirasi )
4. Radiologis :
a. Foto jaringan lunak leher lateral
b. CT Scan
c. MRI
GEJALA KLINIS
ANAK DEWASA

• demam • Dari anamnesis  riwayat


• Sukar menelan, nyeri  rewel, tertusuk benda asing pada
tdk mau makn dinding posterior faring, pasca
• suara sengau tindakan endoskopi atau
adanya riwayat batuk kronis
• dinding posterior faring bengkak
& hiperemis • demam
• Limfadenopati unilateral • sukar dan nyeri menelan
• kekakuan otot leher (berat) • rasa sakit di leher
• air liur menetes • keterbatasan gerak leher
• obstruksi saluran nafas  sesak • dispnea
(sering pada hipofaring)
• Stridor (bila mengenai laring)
PEMERIKSAAN FISIK

 Pada pemeriksaan faring bisa menunjukkan


pembengkakan asimmetri pada dinding
orofaring posterolateral
 dinding posterior faring membengkak (
bulging ) dan hiperemis pada satu sisi.
 pada palpasi teraba massa yang lunak,
berfluktuasi dan nyeri tekan
 pembesaran kelenjar limfe leher ( biasanya
unilateral ).
PEMERIKSAAN PENUNJANG
 Laboratorium :
a. darah rutin : lekositosis
b. kultur spesimen ( hasil aspirasi )
 Radiologis :
a. Foto jaringan lunak leher lateral
Dijumpai penebalan jaringan lunak retrofaring ( prevertebra ) :
- setinggi C2 : > 7 mm ( normal 1 - 7 mm ) pada anak-anak dan
dewasa
- setinggi C6 : > 14 mm ( anak-anak , N : 5 – 14 mm ) dan > 22 mm
( dewasa, N : 9 – 22 mm )
Pembuatan foto dilakukan dengan posisi kepala hiperekstensi dan
selama inspirasi.
b. CT Scan
c. MRI
Foto jaringan lunak leher

Penebalan pada jaringan lunak retrofaring


CT SCAN
DIAGNOSIS BANDING

 Adenoiditis
 Abses peritonsil
 Abses parafaring
 Epiglottitis
 Croup
 Aneurisma arteri
 Tonjolan korpus
vertebra
Abses parafaring
PENATALAKSANAAN

AIRWAY DRUGS OPERATION

- Sniffing -Antibiotik (kombinasi


position Penisilin G dan -Aspirasi
Metronidazole )
- O2 -Simptomatik
Pus
- intubasi -perbaiki dehidrasi
endotrakea dan keseimbangan -insisi &
- trakeostomi /
elektrolit
-Anti TBC
drainase
krikotirotomi
INSISI ABSES

 Insisi dan drainase :


 Pendekatan intra oral (transoral) : untuk abses yang kecil dan terlokalisir.
 Pendekatan eksterna (external approach) baik secara anterior atau
posterior : untuk abses yang besar dan meluas ke arah hipofaring.
 Pendekatan anterior  membuat insisi secara horizontal mengikuti
garis kulit setingkat krikoid atau pertengahan antara tulang hioid
dan klavikula.
 Pendekatan posterior  melakukan insisi pada batas posterior m.
sternokleidomastoideus.
KOMPLIKASI

1. Massa itu sendiri : obstruksi jalan nafas


2. Ruptur abses : asfiksia, aspirasi pneumoni, abses paru
3. Penyebaran infeksi ke daerah sekitarnya :
a. inferior : edema laring , mediastinitis, pleuritis,
empiema, abses mediastinum
b. lateral : trombosis vena jugularis, ruptur arteri \
karotis, abses parafaring
c. posterior : osteomielitis dan erosi kollumna spinalis
4. Infeksi itu sendiri : necrotizing fasciitis, sepsis dan
kematian4
PROGNOSIS

 Prognosis baik apabila didiagnosis secara dini


dengan penanganan yang tepat dan komplikasi
tidak terjadi.
 Pada fase awal dimana abses masih kecil maka
tindakan insisi dan pemberian antibiotik yang
tepat dan adekuat menghasilkan penyembuhan
yang sempurna.
 angka mortalitas :
mediastinitis  40 - 50%
Ruptur arteri karotis  20 – 40%
trombosis vena jugularis  60%.